Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
BAB 44 : Semalam bersama Thommas



Pertempuran sengit terus terjadi antara Renata dan Tuan Besar.


Mereka saling menyerang dan merebutkan berlian merah yang berasal dari sinar kehidupan para hantu yang memiliki kekuatan yang luar biasa.


"Sialan, gadis ini selalu mendahuluiku."


"Tuan besar, tidak akan kubiarkan kau mengambilnya."


"Aku pasti akan mendapatkannya, Renata."


Renata terus berusaha mengambil berlian merah sedangkan Tuan besar dengan cepat mengarahkan pedangnya untuk menjauhkan tangan Renata yang hampir berhasil memegang berlian merah.


Akhirnya mereka saling mengeluarkan kekuatan mereka dengan dahsyat hingga lorong menjadi hancur berkeping-keping.


Renata memutar dan mengarahkan sinar merahnya kearah berlian merah.


Melihat serangan Renata, Tuan besar mengeluarkan listrik yang sangat dahsyat menangkisnya. Akhirnya kedua kekuatan beradu tiada henti.


******************************************


Sementara Thomas sangat kesal dikediaman Renata karena Alberth dan Renata tidak ada disana. Dan Ana semakin membuatnya frustasi.


"Lihatlah! laki-laki ini dari tadi mondar-mandir ga jelas. Hei..Thomas hentikan! kau membuatku pusing." Ana menghampiri Thomas dan memukul kencang dada Thomas hingga agak terpental.


"Apa? dasar anak kecil, tapi kekuatanmu besar juga."


"Udahlah aku mau pergi. Daripada melihat kamu tidak jelas begitu."


"Pergi? kemana Ana?"


"Minum."


"Minum?bukankah kamu dikuil tidak boleh minum. Dan kamu kan masih anak kecil."


"Aku bukan biksu Thomas. Dan aku bukan anak kecil."


Ana menghampiri Thomas dan menarik krah bajunya berbicara dengan dekat hingga membuat Thomas terkejut.


"Udahlah aku pergi dulu."


"Ana, aku ikut."


"Terserahlah."


Ana dan Thomas pergi dengan mobil menuju cafe bar yang berada dikota. Tidak sengaja komandan polisi yang melihat mereka ada disana.


"Kalian, aku melihat kalian waktu itu. Siapa kalian?"


"Kami? kamu siapa?"


Ana kembali bertanya dan setengah mabuk karena meminum banyak alkohol. Thomas disebelahnya menepuk jidatnya melihat tingkah Ana.


"Saya Thomas dan dia adikku Ana. Pergilah kamu polisi! biksu suci sudah menjelaskan semuanya."


"Adik?hahaha...aku bukan adikmu laki-laki berambut wanita." Ana menjawab dengan mabuk dan membuat Thomas semakin geram.


"Ana, hentikan!"


"Baiklah. Aku akan terus mengawasi kalian. Dan lihatlah dua orang dipojok itu." Komandan polisi menunjuk dua orang yang sangat mencurigakan dengan wajah pucatnya.


"Sialan, mereka vampir yang akan memangsa salah satu manusia disini."


"Vampir? aku sudah menduganya."


Tanpa berbicara Ana menoleh kearah dua pria yang duduk disudut bar dan dengan mabuk menghampirinya.


"Hai kalian, sangat tampan. Aku ingin tahu bagaimana rasanya mencium vampir."


Ana menarik salah satu vampir itu dan menciumnya dengan dalam lalu membawanya menuju keluar kesamping bar.


Melihat aksi gila Ana, Thomas terkejut hingga tidak bisa berucap dan komandan polisi mengeluarkan pistol dari sakunya dan dengan cepat mengikuti Ana keluar dari bar.


" Apa yang dia lakukan. Anak kecil itu pandai sekali merayu laki-laki. Sialan Ana..."


Thomas berlari mengikuti Ana.


"Ternyata vampir ganteng banget ya. Makanya Renata suka ama Erick."


Kedua vampir berebutan dengan Ana dan Ana akhirnya berdiri dengan sorotan matanya yang dingin dan mengepalkan kedua tangannya. Secara perlahan Ana mengeluarkan kedua pisau peraknya dan melompat menerkam kedua vampir itu dengan sekali tebasan hingga vampir itu mati menjadi abu dan memudar.



"Jangan bergerak!" komandan polisi mengarahkan pistolnya kearah Ana. Dan terkejut melihat Aksi Ana. Begitu juga Thomas sampai tidak mengedipkan matanya.


"Kamu wanita, hentikan!"


"Ohh.. pak polisi. Seharusnya kau berterima kasih padaku. Kenapa malah mau menangkapku?" ucap Ana sambil menahan mabuknya.


"Aku tidak akan menangkapmu nona. Kamu pasti murid biksu itu."


Thomas segera berlari menghampiri Ana dan memegangnya.


"Gadis bodoh, tidak pernah mabuk sekali mabuk memalukan seperti ini."


"Apaa...tidak pernah mabuk? hahaha kamu yang tidak pernah mabuk Thomm..."


"Baiklah, nona Ana sepertinya namamu. Dan kamu pemuda,sepertinya Thom namamu."


"Thomas namaku."


"Thommm...si tampan haha dan tidak pernah mabuk." Ana yang semakin tidak karuan dan Thom mendekapnya dengan erat.


"Lebih baik kau jaga nona ini, anak muda! Aku pergi dulu."


Komandan polisi kemudian pergi dan Thomas sangat geram dengan tingkah Ana.


"Anak kecil, kamu bilang apa barusan haaa..?"


"Anak kecil lagi. Bukankah tadi aku mencium pria tampan dan pucat. Sangat... tampan. Sepertinya aku mau mengikuti jejak Renata. Menikah dengan vampir."


"Tampan dari mana? jelek gitu. Udahlah ayo pulang!"


"Ehh...tidak aku masih mau minum dan bergoyang. Bye.."


Ana mendorong Thomas dan berlari masuk kembali kedalam bar.


Thomas dengan kesal mengikuti Ana dan ketika masuk sangat terkejut melihat Ana membuka jubahnya dan menari dengan seksi ditemani dengan pria.


"Hah..apa yang dia lakukan? dasar Ana."


Thomas menarik Ana dan menuju kembali kursinya.


"Ihhh..pulang sana! ganggu aja. Dasar laki-laki play boy tapi tidak bisa minum hahaha memalukan."


"Apaa...?tidak bisa minum? apa maksudmu gadis kecil?"



Thomas dengan cepat mengambil 1 botol bir besar dan meminumnya hingga habis.


"Apa?lima botol?baiklah."


Thomas kembali meminum 10 botol birr sekaligus dan tertawa kencang karena mulai ikut mabuk.


"Bagaimana hahaha..Thom tidak terkalahkan. Apalagi dengan gadis kecil sepertimu."


"Haha..baiklah ayo kita pulang? aku sudah puas."


Diluar bar Thomas dan Ana berjalan sempoyongan masuk kedalam mobil mereka karena sangat mabuk.


"Thom, kau bisa mengendarai mobil ini? haha..kau mabuk."


"Thom selalu bisa mengatasi semua. Haha..."


Akhirnya Thom mengendarai mobilnya dengan sangat kencang. Dan Ana hanya tertawa melihat Aksi Thom dan mereka berhenti dipinggir pantai yang gelap.


"Kita tidak bisa pulang dalam keadaan seperti ini Ana. Kita bisa kena marah ini...hahaha"


"Kamu Thom yang kena marah...haha. Aku pasti baik-baik saja. Siapa yang akan marah padaku?"


Ana dengan perlahan membuka jubahnya dan hanya menggunakan kaos ketat tanpa lengan dan celana hitam ketat. Tubuhnya yang seksi yang selama ini tidak pernah diperlihatkan, terlihat begitu mempesona.


Thomas melotot melihat Ana hingga tidak berucap.


"Thom, jagalah mobil ini!aku mau cari udara."


Thom begitu terkejut saat Ana membuka kaosnya dan melemparkannya ke wajah Thom. Thom memegangnya dan mencium aromanya yang harum.


Hanya menggunakan pakaian dalam dan masih memakai celana panjangnya yang ketat, Ana keluar dari mobil, berlari ke pantai sambil melompat-lompat dan berputar-putar .


"Apa yang dia lakukan? kenapa keluar berpakaian begitu? Dasar, gadis itu ternyata sudah menjadi wanita. Dan sangat cantik."


Thom berlari menghampiri Ana dengan jalan sempoyongan karena juga mabuk berat.


"Ana, masuklah kemobil jangan pakai begini! Dilihat orang bagaimana?"


"Haha..sana pergi! Hanya kamu yang melihatku Thom."


"Anaaaa....masuk!"


"Tidakkk.."


"Ahh..menyebalkan."


Thomas menarik Ana dan menggendong kepundaknya dan meletakkan dikursi belakang mobil.


"Haha..kamu kuat juga Thom. Sayang tidak pandai mencium wanita."


"Apaa..? banyak wanita yang sudah aku cium."


"Banyak? pembohong besarrr...haha...kau tidak pernah mencium wanita satupun dan aku tahu itu."


"Gadis menyebalkan."


Thom menutup pintu mobilnya dan meninggalkan Ana duduk sendiri dibelakang dan Thom duduk dikursi depan sambil memandang Ana lewat kaca spionnya yang terlihat sangat cantik dan molek.


Ana beberapa kali mengeliatkan tubuhnya yang molek.


Thom terdiam sejenak dan menahan mabuknya.


"Apa yang dia lakukan? Kenapa aku bergairah melihat dirinya? Ahh...aku tidak tahan lagi."


Thom melipat kursi depan mobilnya dan menuju kekursi belakang dan berada diatas Ana.


"Apa yang kamu lakukan Thom?" ucap Ana sambil memegang leher Thomas.


"Aku pandai mencium wanita."


"Buktikan Thom. Hahaha...argh..."


Thomas mendaratkan bibirnya ke bibir Ana dengan sangat bergairah.


Ana membalas ciuman Thomas dan mereka sama-sama terhanyut.


Tangan Thomas mulai menjelajah tubuh Ana . Tak terlepas gundukan gunung Ana yang sedari tadi menjadi pusat perhatian Thom seperti kupu-kupu yang meminum sari bunga dengan sangat cepat dan nikmat.


Thomas yang mencium seluruh tubuh Ana seperti lebah yang akhirnya menemukan madu dan menghisapnya hingga madu itu habis tidak tersisa.


Dengan rintihan Ana yang semakin kencang seperti suara kilatan petir yang menyambar dengan keras sampai ketelinga Thomas membuat Thomas semakin memanas dan akhirnya Thomas menyatukan tubuhnya seperti lahar yang semakin lama semakin panas dan keluar meletus menuju jalan lereng yang masih tertutup dan akhirnya tertembus hingga mengeluarkan warna merah.


Akhirnya Thomas dan Ana mendapatkan pelepasan hasrat yang meluap dan terpuaskan.


Pantai yang semula gelap perlahan terkena sinar matahari dan mulai menampakkan birunya air laut yang indah.


Sinar matahari yang mulai menembus kaca jendela mobil membangunkan Thomas dan Ana.


"Ahh...sakit sekali badanku. Apa? Thomas kenapa kamu tidur diatasku? Ahh..pusing sekali kepalaku."


Ana berusaha bergerak tapi tubuh Thomas yang sangat besar dan kekar tidak kuasa digeser Ana.


"Thomas, menyingkirlah! kamu sangat berat."


Ana sangat terkejut ketika melihat Thom tidur memegang gunungnya dengan tidak mengenakan sehelai pakaian apapun begitu juga dengan dirinya.


"Apa darah? ohh...kenapa harus terjadi menyebalkan? Thomassss...(berteriak)bangunlah!"


Thomas dengan terkejut membuka matanya dan memegang kepalanya yang pusing.


"Ahh...Ana kamu ribut sekali."


Thomas membuka matanya dengan lebar melihat Ana dibawahnya dengan tanpa menggunakan busana begitupun dengan dirinya.


"Ana...apa ini?A..apa kita tadi malam?ahh..."


Thomas segera berdiri dan mengambil pakaiannya dan keluar dari mobil.


Ana bergegas memakai pakaiannya dan mereka berdua masuk kembali kedalam mobil.


"Thomas, kamu sudah mengambil mahkotaku menyebalkan..(Plak)"


Ana menoleh kearah Thomas disebelahnya dan menamparnya.


"Bukankah kita sama-sama mabuk Ana?" dengan memegang pipinya dan memandang sinis Thomas menjawab Ana.


"Jangan sampai ada yang tahu kejadian ini! jelas Thomas."


"Aku juga menyarankan seperti itu. Ingat mulutmu harus kamu jaga Ana!"


"Dan Thomas, kamu kurang memuaskanku tadi malam. Belajarlah Thomas! Play boy tapi tidak bisa memuaskan gadis kecil."


"Apaa...?" Thomas geram dan memukulkan tangannya dikemudinya.


"Ayo pulang cepat! Ingat Thomas, rahasia!haha...payah dalam bercinta." ucap Ana dengan tertawa sinis.


"Gadis menyebalkan." Thomas sangat geram dengan perkataan Ana dan mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang.


"Aku akan melakukannya lagi dan membalasmu Ana, tunggu saja..." ucap Thomas dalam hati dengan tersenyum sinis memandang Ana.