Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
BAB 18: Kuil Lembah Hitam



Udara malam itu begitu dingin. Sang bulan yang muncul dengan wujudnya yang sempurna tampak menguasai langit dengan sinarnya. Angin yang berhembus begitu bersahabat hanya semilir menyentuh kulit.


Erick, Alberth, Thomas, yang saling terpana melihat kecantikan Renata saat memejamkan matanya yang indah dengan kulit putihnya yang bersinar, membuat mereka bertiga saling termakan cemburu.


Merasa tidak tenang meninggalkan Renata yang masih tertidur sendiri dan dengan perdebatan yang tak ada ujungnya akhirnya mereka bertiga sepakat bersama- sama menjaga Renata di dalam kamarnya.


Alberth duduk bersama Thomas di sofa tak jauh dari tempat tidur Renata dan Erick memilih berdiri lebih dekat dengan Renata.


Erick tidak pernah melepaskan pandangannya kepada Renata walaupun hatinya terbakar dan tidak rela melihat Alberth dan Thomas ikut memandangi kekasihnya.


Saat arah mata mereka beralih saling menatap dengan penuh kebencian satu sama lain. Tiba-tiba Renata terbangun dan membuat mereka bertiga terkejut.


" Renata, kenapa kau terbangun?? "


Thomas dengan cepat menghampiri Renata dan Erickpun secepat kilat berada didepan Thomas dan mereka saling memandang dengan dengan mata terbelalak


" Jangan pernah mendekatinya!! "


Ucap Erick sambil mendorong Thomas. Thomaspun mengepalkan tangannya ingin membalas Erick.


" Sudahlah, kalian berdua jangan ribut!....kenapa aku mencium bau darah,siapa yang terluka?? "


Renata mengamati tubuh Erick dan Thomas lalu beralih ke Alberth.


" Astaga...kau terluka Alberth? Kenapa kalian berdua hanya diam dan tidak membantunya?"


Renata merasa kesal dengan Erick dan Thomas lalu segera turun dari ranjangnya menuju kearah Alberth.


Tentu saja membuat raut wajah Alberth yang semula murung menjadi tersenyum melihat Renata menghampirinya.


" Alberth, kau terluka parah, aku akan mengobatimu, bukalah bajumu, Thomas ambilkan air dan handuk, panggilkan pelayan agar membantuku. "


Erick merasa marah melihat Renata menyentuh Alberth dan membuat matanya menjadi bersinar.


Dengan mengepalkan tangannya Erick memukul meja yang ada disebelahnya sampai hancur.


" brarrkkkk!!"


Renata hanya menghela panjang nafasnya dan melirik ke arah Erick tanpa memalingkan wajahnya dan tetap membantu Alberth.


Setelah Thomas datang membawa para pelayan untuk membantu Renata, Thomaspun juga merasa cemburu melihat kakaknya sendiri diperhatikan oleh Renata.


" Renata...kau jangan menyentuhnya aku ti.....( Erick belum selelsai mengucapkan kalimatnya)."


" Cukup Erick....dia terluka parah...bagaimana dia bisa melindungiku jika terluka!!"


" Mungkin sebaiknya para pelayan saja yang mengobati luka kakakku, kau sebaiknya beristirahat dan....( Thomas belum selesai mengucapkan perkataannya)."


" Diam Thomas.....!!, kalian berdua keluarlah, biar aku mengobati Alberth atau aku tidak akan mau berbicara dengan kalian lagi....sana keluar!!"


Renata berbicara dengan nada yang tinggi kepada Erick dan Thomas.


Merekapun akhirnya keluar dari kamar Renata dengan wajah seperti kilat yang menyambar Alberth. Alberth hanya membalasnya dengan tersenyum sinis.


" Kenapa kau menahannya Alberth, ini sangat parah, seharusnya kau bilang padaku sejak awal, aku akan mengobatimu."


Melihat Renata merawat lukanya, dan menyentuh kulitnya membuat Alberth sangat senang dan terus memandang Renata tiada henti.


" Sekarang berbaringlah dikamar sebelah istirahatlah disana, aku baik-baik saja, ada adikmu dan Erick yang menjagaku. "


Renata menarik Alberth tetapi Alberth menggelengkan kepalanya dan tidak mau pergi dari kamarnya.


" Ayolah, lukamu sangat parah, dan kamu demam."


Alberth tetap menggelengkan kepalanya.


" Alberth menurutlah pada Renata, demi kebaikanmu!!" telepati Erick.


"Baiklah, kamu berbaring disofa ini, pelayan tolong ambilkan air hangat dan handuk untuk mengompres kepalanya agar suhunya turun."


Alberth sangat senang Renata membelai kepalanya, tetapi badannya sangat panas dan menbuat Alberth menggigil.


" Alberth kamu sangat panas, badanmu menggigil, aku akan mengambil selimut. "


Renata dengan cepat memberikan selimut kepada Alberth tapi badannya masih tetap menggigil.


" Renata, apa yang akan kamu lakukan, jangannnn.!!" telepati Erick.


" Alberth aku akan memelukmu agar kamu tidak menggigil. "


" Apaaa, tidakkkkk, Renata jangan memeluknya" Erick berteriak diluar kamar.


Mendengar perkataan Erick,Thomas dengan cepat memasuki kamar tepat saat Renata hendak memeluk Alberth.


" Duuuuuuuarrrrrr!!! "


Tiba-tiba lampu yang berada diluar penginapan hancur oleh Erick karena kemarahannya kepada Alberth.


" Hentikan Erick, jika kamu melakukannya lagi aku bisa marah." telepati Renata.


Pagipun menjelang dan Alberth masih didalam dekapan Thomas, sementara Renata terbangun dari tidurnya segera melihat keadaan Alberth.


" Syukurlah kau sudah sembuh Alberth. "


Renata akhirnya keluar dari kamarnya mencari Erick yang sedang duduk termenung di salah satu pohon didepan penginapan.


" Erick, turunlah, bukankah kau mau


menemuiku. "


Erick dengan cepat berada dihadapan Renata dan memandangnya dengan dekat, sambil menahan amarah Erick lalu memalingkan wajahnya.


"Bersiaplah, kita harus segera pergi." ucap Erick.


Renata hanya menghela nafas dan kembali kekamarnya untuk bersiap.


Tak lama Renata keluar diikuti Alberth yang sudah membaik dan Thomas. Merekapun kemudian melanjutkan perjalanannya.


Akhirnya mereka sampai disebuah bukit yang hanya bisa dilalui oleh kuda untuk sampai dikuil lembah hitam. Itulah kenapa tuan Reynard mengutus Thomas untuk membawa kuda terbaiknya.


Setelah Renata keluar dari mobilnya, Alberth memberi isyarat kepada sopir untuk meninggalkan mereka dan kembali ke kediaman rumah Renata.


Diatas kuda Thomas mengarahkan tangannya agar Renata menaiki kuda bersama dia.


" Thomass tidak...Renata kau tidak perlu naik kuda bersama Thomas , aku bisa menggendongmu dengan cepat menuju kuil itu!!" ucap Erick sambil memandang Thomas dengan marah.


Alberth langsung menarik baju Erick dan menatapnya dengan marah.


" Ingat janjimu, jangan menyentuhnya!" telepati Alberth dan membuat Erick semakin marah.


" Kau juga mau menyentuhnya tadi malam, Alberth!!


Erick mendorong Alberth untuk menjauh. Merasa geram Alberth mengeluarkan sedikit kabut dari tubuhnya. Dan Erickpun matanya mulai bercahaya.


Melihat tingkah mereka berdua membuat Thomas menggelengkan kepalanya dan langsung mengangkat Renata kekudanya dan pergi dengan cepat menuju kekuil lembah hitam meninggalkan Erick dan Alberth.


Melihat Thomas sudah membawa Renata dengan kudanya menuju kekuil, Alberth memasukkan kabut hitamnya kedalam tubuhnya dan segera berlari menyusul Thomas.


Merasa kecolongan dengan Thomas membuat Erick geram dan melampiaskan amarahnya dengan menghancurkan semua batu- batu dan pohon disekitarnya.


" Duuuuuuuaaarrrrrrr!! "


" Aku benci kaliannnnnnnnn! "


Teriak Erick dan kemudian menyusul Renata dengan cepat.


" Secepat apa kudamu bisa mengalahkanku Thomasss!"


Sambil berlari secepat kilat Erick sudah menunggu Renata didepan kuil lembah hitam.


" Dasar vampir gila." Thomas berbicara pelan.


" Kau mengucapkan sesuatu Thomas?" Renata pura - pura tidak mendengar perkataan Thomas.


" Ahh tidak....aku tidak mengatakan apa- apa...mungkin suara angin."


Akhirnya kuda Thomas berhenti didepan gerbang kuil lembah hitam. Dan menurunkan Renata dari kudanya, secepat kilat Erick menangkap Renata.


Thomas dan Alberth menghampiri Erick dan mereka hendak saling beradu namun terhenti.


" Kenapa aku harus dikawal oleh tiga laki- laki yang sangat kekanak- kanakan....kalian sungguh tidak dewasa!!, silahkan saling bunuh dan biarkan aku menghadapi semua sendiri!!"


Renata menggelengkan kepalanya merasa kesal dengan segala keributan yang terjadi dan meninggalkan mereka bertiga.


Berjalan sendiri mendekati gerbang kuil yang besar dan kokoh dengan suasana yang sangat sunyi, sepi.


Terdapat pohon-pohon besar dan sangat tinggi berada disekelilingnya, seperti sebuah lingkaran yang mengitari kuil.


Tibalah Renata sampai didepan pintu utama kuil lembah hitam.


Pintu gerbang terbuka dari dalam dan perlahan mulai terlihat seorang biksu dengan wajah yang syahdu memakai jubahnya yang bersinar didampingi beberapa biksu disampingnya menyambut kedatangan Renata dengan tersenyum.


" Renata akhirnya kita bertemu, masuklah!!


" dan kalian bertiga tunggulah diluar. "