Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
BAB 42 : Berlian Merah



"Renata, berlian merah lorong ketiga dari tiga lorong apa maksudmu?"


"Hanya aku yang mengetahuinya Erick, dan bagaimana caraku menjelaskanmu?"


"Ehh..jika cemberut cantik banget istriku" Erick menarik Renata dan memeluknya.


"Renata, aku tidak mau kau terluka. Aku sangat khawatir." ucap Erick dalam hatinya yang tidak mau terlihat gelisah didepan Renata.


******************************************


Disuatu taman yang berada di Sma Erlion, Cahaya biru dan tuan besar mengenang pertemuan mereka dimasa lalu.


Tuan besar yang semula berwujud hitam dan mengerikan, seketika dengan sentuhan cahaya biru berubah menjadi vampir tampan dan bercahaya.



" Erlion, masih ingatkah kau denganku? Aku biru." Cahaya Biru menampakkan wujudnya sebagai wanita yang bercahaya.



"Biru aku mencintaimu."


Tuan besar dengan perlahan menyentuh cahaya biru yang perlahan menampakkan wujudnya sebagai manusia.


"Biru aku sangat merindukanmu, jangan pernah kau tinggalkan aku sendirian, aku tersiksa."


"Aku tidak pernah meninggalkanmu Erlion, aku selalu ada didekatmu."


"Aku sangat mencintaimu biru kau pujaan hatiku."


"Apakah kau ingat kita dulu sering bercanda ditaman ini Erlion? kau sangat lucu saat itu selalu membuatku tertawa dan bahagia."


"Kau sangat cantik waktu itu biru, wajahmu merona saat tertawa membuatku sangat bahagia."


"Aku juga sangat bahagia waktu itu Erlion, dan tentunya wajah tampanmu selalu membuat semua gadis saat itu berbunga-bunga dan aku memiliki banyak sekali musuh Erlion."


"Aku tidak peduli dengan siapapun biru, hanya kau wanita yang mengisi hidupku selamanya."


"Kau laki-laki yang sangat baik Erlion."


"Terimalah ini biru sebagai tanda cintaku padamu." Tuan besar bersujud kepada biru dan memberikan bunga biru bercahaya.



"Kau mencintaiku Erlion?"


"Aku sangat mencintaimu biru, dan kau harus mencintaiku biru."


"Jika kau mencintaiku, maukah kau mengabulkan permintaanku, Erlion?"


" Apapun akan aku kabulkan biru."


"Bebaskan Rudolf dan hilangkan dendammu."


"Apa! kau memang tidak berguna! kau membujukku agar bisa kembali dengan Rudolf?"


"Erlion! itu tidak benar! aku bersungguh-sungguh, bahkan dalam cahaya ini aku akan selalu berada didekatmu Erlion."


"Hahahahaha....cahaya biru, aku akan mengambil semua. Rudolf dan semua keturunannya harus mati ditanganku. Setelah itu kau harus menjadi milikku dalam bentuk apapun!"


Tuan besar kembali mengeluarkan cahaya listrik dari tubuhnya, dan berubah menjadi sangat mengerikan.



Cahaya biru secara perlahan dengan deraian air mata berubah kembali menjadi cahaya.


"Aku akan menyimpan cahayamu biru untuk menghiasi kamarku. Hahahaha..."


Tuan besar meraih cahaya biru dan memegangnya. Dengan secepat kilat Tuan Besar membawa biru kekastil Erlion.



******************************************


Pattinson dengan tubuhnya yang semakin pucat berusaha menyembuhkan dirinya yang terluka parah akibat pertarungan dengan para biksu dan terkena cahaya merah Renata.


"Sialan, aku sudah meminum darah segar ini tapi aku tidak juga berhasil menyembuhkan diriku.


Dikamarnya, Erin melihat keadaan Pattinson dengan mata batinnya dan segera memanggil Felishia.


"Felishia, masuklah cepat!"


Felishia dengan sigap menghampiri Erin dan membungkuk didepannya.


"Ada perlu apa nona, apa yang bisa aku bantu?"


"Pattinson sangat terluka dan bisa mati."


"Apa nona! Pattinson?"



Erin berjalan dan menuju mejanya lalu menuangkan darah dari botol kedalam gelasnya yang mewah.


"Temuilah dia! sembuhkanlah dan ambillah hatinya Felishia! Pergilah sekarang!"


" Baik nona."


Felishia segera pergi menuju kamar Pattinson dan Erin dengan tersenyum tipis meminum darah segar didalam gelasnya.


"Aku sudah membayarkan hutang budimu Felishia karena kesetiaanmu padaku selama ini"


Dikamarnya Pattinson merintih kesakitan dan semakin pucat hingga tubuhnya terjatuh dilantai kamarnya.


" Pattinson!"


Felishia dengan cepat menarik Pattinson dan menidurkannya diranjang.


"Felishia apa yang kau lakukan? pergilah!"


"Pattinson, sudahlah bagaimana aku bisa pergi melihatmu dalam keadaan seperti ini."


"Apa yang akan kau lakukan Felishia?"


"Tentu saja menyembuhkanmu Pattinson, sekarang hisaplah aku Pattinson jangan melawanku! nyawamu bisa terancam."


Akhirnya Pattinson menarik Felishia dan mendekatkan bibirnya keleher Felishia.


Dengan cepat Pattinson menghisap darah Felishia dan mulailah gairah vampir Pattinson yang meluap dan tidak bisa ditahannya lagi.


Tangan yang mulai merobek semua pakaian Felishia dan menjelajahi tubuhnya membuat naluri vampir Felishia juga meluap.


Naluri vampir mereka akhirnya menjadi lahar yang semakin memanas dan dengan perlahan laharpun menyatukan dirinya dengan gunung yang akhirnya meletus dengan dahsyatnya hingga isi lahar dengan cepat keluar masuk kedalam sebuah lereng.


Akhirnya Pattinson mulai sembuh dari lukanya. Kulitnya yang pucat dan goresan-goresan yang menutupi tubuhnya mulai menghilang.


Wajahnya kembali segar dan bercahaya. Felishia disebelahnya dengan rambut terurai menatap Pattinson dengan tersenyum.


Mata Pattinson yang semula selalu memperlihatkan wajah dinginnya berubah menjadi tatapan lembut kepada Felishia.



Dihampirinya Felishia dengan perlahan dan dipegangnya tengkuk Felishia dan Pattinson kembali mencium Felishia dengan lembut dan belaian yang menghampiri rambut Felishia dari salah satu tangan Pattinson.


"Aku sekarang milikmu Felishia, kau menjadi kekasihku." ucap Pattinson yang terus mencium Felishia dan ketika Felishia membalas ciumannya, Pattinson tidak kuasa menahan gairahnya lagi dan mereka akhirnya menyatukan tubuh mereka kembali.


Edward yang mengetahui kebersamaan mereka saat hendak melakukan panggilan kepada Pattinson melalui pikirannya, sangat marah dan membuang semua gelas hingga pecah dan berserakan dilantai.


"Pattinsoonn....!"


Edward berteriak dan berjalan mondar-mandir sangat kesal dan kecewa.


"Kurang ajar! aku ingin menjadikanmu salah satu Erlion tapi kau menghianatiku!"


Disaat Edward sudah membuat seluruh isi kamarnya hancur, Delichia datang menenangkan Edward.


"Suamiku hentikan! sudahlah! Erin yang bersalah dalam hal ini, dia sudah menolak Pattinson."


"Tapi dia menghianatiku Delichia!"


"Yang terpenting Pattinson sudah sembuh dari lukanya. Dia pengawal kita yang terhebat. Sekarang yang terpenting keturunan Rudolf harus hancur. Ayo Tuan Besar menunggu kita!"


Diruangan yang sangat gelap dan mengerikan Tuan Besar akhirnya meminum darah yang disediakan Edwind saat itu.


"Kurang ajar! gadis sialan dan para biksu yang selalu menggangguku!bahkan aku tidak bisa menikmati darah manusia segar satupun saat ini!"


"Prang...."


"Kakak, kita bisa membalasnya segera. Tenanglah aku akan menyediakan darah segar setiap hari."


"Aku hanya mau darah dari manusia yang hidup adikku. Bisakah kau memberikannya kepadaku?"


"Aku akan memberikan apapun itu kakak."


"Kau memang adikku yang sangat aku andalkan Edwind."


Disaat Tuan Besar dan Edwind berbicara, Edward dan Delichia beserta Erin datang keruangannya.


"Tuan besar Erlion selamat datang." mereka membungkuk dihadapan tuan besar.


"Ahh....keponakanku Edward dan istrinya, dan lihatlah vampir yang sangat cantik dan menyedihkan ini cucuku. Lalu dimana cucuku yang terhebat itu?"


"Selamat datang kakek, semoga kakek bisa membantuku mengatasi kesedihanku. Karena ayahku melanggarnya."


"Hahahaha....pasti cucuku aku akan menjadikan dia milikmu. Lihat saja nanti."


"Terima kasih kakek."


Sambil berjalan Tuan Besar menatap cahaya biru yang diletakkan disebuah tempat yang terbuat dari kaca berbentuk persegi yang diletakkan diatas mejanya.


" Kamu tahu Edward! hati tidak bisa dipaksakan begitu juga dengan anak kembarmu."


"Sekarang Pattinson sudah menemukan hatinya biarkanlah dia!"


"Baik paman aku selalu mengingat itu."


"Dan kau Delichia menantu yang sangat cantik melahirkan anak yang luar biasa dan cinta mereka yang luar biasa selalu membuatmu kesal. Hahaha..."


" Selamat datang paman."


"Edwind, aku ingin bertemu dengan Erick! Bawalah dia kepadaku! Aku hanya membenci Rudolf bukan Erlion."


" Baik kakak akan aku bawa Erick kehadapan kakak segera."


"Hahaha...malam ini Erick dan gadis sialan itu akan mengambil sesuatu yang aku butuhkan dan kita akan mencegahnya. Hahaha...tanpa mereka sadari sudah membantuku."


"Edward, jangan kau lukai Erick, dia adalah cucu kesayanganku. Akan aku buat dia berpisah dengan gadis sialan itu. Ingat itu Edward!"


" Baik paman."


"Malam ini Erick akan berada disini dihadapanku. Hahahahaha......"


******************************************


Diruangannya Erick berusaha menahan Renata menuju Sma Erlion.


"Sayang, bisakah kita nanti saja pergi kesana?kenapa harus malam ini Renata"


"Aku harus segera mengambilnya Erick, sebelum terlambat dan malam nanti kita harus segera mengambilnya."


"Tapi aku masih merindukanmu Renata. Ayolah Renata sayang!"


Erick masih berusaha merayu Renata dan memeluknya dengan erat.


"Erick, kita sudah seharian melakukannya! tidakkan itu sudah cukup sayang. Jangan menahanku Erick!"


Erick hanya terdiam dan berusaha menyembunyikan kegelisahannya.


"Aku merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi Renata."


"Tidak akan terjadi apapun Erick percayalah padaku sayang."


Renata memegang pipi Erick dengan kedua tangannya dan menatapnya dengan lembut.


"Aku mencintaimu Renata, jika kita berpisah aku tidak akan sanggup dan tersiksa."


"Aku pastikan kita tidak akan berpisah Erick, aku akan selalu berada didekatmu sayang."


Renata akhirnya mendaratkan bibirnya kebibir Erick dan menciumnya dengan lembut. Erick semakin mendekap Renata seakan mereka akan berpisah.


"Renata aku tidak akan bisa berpisah sedikitpun denganmu"


Disaat malam tiba Renata dan Erick menuju Sma Erlion.


Para hantu sudah menunggunya didalam ruangan Erlion.


" Renataa.....ikuti kami....."


Dengan suara lirih para hantu memanggil Renata untuk mengikuti petunjuk dari tangan para hantu yang mengarahkan jalan kepada Renata dan Erick mengikutinya dari belakang.


"Akhirnya kita sampai Erick, lorong ketiga dari tiga lorong."


"Renata berhati-hatilah."


Renata mengambil batu segitiga dari telapak tangannya. Sejak Renata menemukan batu segitiga merah itu, seketika itu tiba-tiba batu segitiga merah berubah menjadi cahaya dan masuk kedalam telapak tangan Renata.


Batu itu keluar dan memutar masuk kedalam batu besar yang menjulang diantara tiga lorong.


"Akhirnya aku menemukanmu berlian merah."


Disaat Renata dan Erick akan memasuki lorong ketiga ternyata Erlion, Edwind, dan Edward sudah berdiri dibelakang mereka.


"Haha...terima kasih gadis sialan kau sudah membantuku menemukan berlian merah."


"Erlion..! sialan!"