
Beberapa saat di perjalanan, Thomas dan Ana terdiam dengan pikiran masing-masing yang menerawang kejadian semalam. Semakin mengingatnya, jantung Thomas semakin berdetak kencang. Sedangkan Ana sesekali menatap Thomas dan tersenyum sinis.
" Apa yang kau pikirkan ,Thomas? Jangan bilang kalo kau membayangkan tubuhku sekarang! " Ana sengaja memancing Thomas.
" Apa maksudmu? Aku bahkan tidak mengingat kejadian semalam."
" Hahaha...bukannya kau sangat bergairah? Sepertinya kau harus banyak belajar cara memuaskan wanita. Bahkan ciumanmu terasa sangat kaku, hahaha."
"Ana gadis kecil, awas ya akan aku buktikan ciuman mautku. Dan akan aku balas kau nanti."
Ana semakin tertawa dan mendekatkan wajahnya di telinga Thomas sambil berbisik.
"Membalasku? dalam mimpi. Coba saja kalo berani!..hahaha."
Bunyi rem mobil berdecit sangat kencang sempat mengagetkan Ana. Thomas mendadak menghentikan mobilnya yang berlaju kencang memasuki jalan setapak di tengah hutan. Tanpa aba-aba, Thomas langsung menarik Ana dan menindihnya dengan menarik kursi hingga ke belakang.
" Apa yang mau kau lakukan Thomas?"
" Aku hanya ingin membalasmu."
Bibir Ana menjadi tujuan bibir Thomas. Dengan nafas yang terengah Thomas kembali menikmati tubuh Ana seperti malam sebelumnya. Ana yang awalnya mencoba mendorong tubuh Thomas, perlahan menikmati cumbuan Thomas dan berusaha menandinginya. Dan terjadilah persaingan pertempuran tubuh diantara keduanya, siapa yang lebih mampu memuaskan lawan bercintanya.
Dengan nafas yang tidak beraturan setelah keduanya mencapai puncak pelepasan hasrat, mereka bersama-sama mengenakan kembali pakaian mereka tanpa saling berpandangan mesra layaknya pasangan yang dimabuk cinta. Bahkan Ana langsung bersandar di kursi dan memejamkan matanya dengan cuek. Sedangkan Thomas menyalakan kembali mobilnya dan melirik Ana dengan sinis.
"Hentikan lirikanmu Thom!dan cepat kemudikan mobil ini."
"Kamu menyebalkan Ana."
"Apa? menyebalkan? bukankah kau tadi menikmatinya Thomas. Tapii...."
Thomas kembali terkejut dan melebarkan matanya kearah Ana.
"Kali ini okelah caramu tadi dari pada kemaren hahaha..."
"Gadis kecil menyebalkan. Awas saja jika aku tiba-tiba melakukannya lagi padamu."
"Ahahah...lakukan dengan lebih Thomas."
Ana yang semakin menyebalkan, membuat Thomas yang akhirnya tersenyum.
Sepanjang perjalanan Ana tertidur dan Thomas semakin memandangnya.
"Ana kamu sangat cantik kalau tidur."
Thomas mengemudikan mobilnya dan sesaat memandang Ana dan membelai rambutnya.
*******************************************************
Renata dan Tuan Besar vampir masih bertarung dengan hebat memperebutkan berlian merah. Renata yang hampir berhasil mengambil berlian merah, dengan cepat ditampis oleh Tuan Besar.
"Renata, aku tidak akan membiarkanmu mengambil berlian itu. Rasakan ini...."
Tuan besar melompat dan menyerang Renata dari belakang hingga hampir mengenainya. Dengan cepat Renata menghindar dan membalas Tuan Besar.
"Tuan Besar, aku pun tidak akan membiarkanmu mengambilnya! Ini milikku."
"Tidak bisa! ini milikku Renata, hanya..milikku."
Kali ini Renata berlari dan mengarahkan pandangan matanya ke arah Tuan Besar dengan mengeluarkan cahaya merah yang mematikan. Tuan Besar merasa tubuhnya terasa panas hingga perhatiannya sedikit teralih dan membuat serangannya meleset.
"Apa ini kekuatannya semakin hebat dan bisa melukaiku. Aku tidak boleh kalah. Aku harus menahan dengan kabut hitamku. Rasakan ini."
Renata mengambil kesempatan untuk melompat mendekati berlian merah walaupun harus tertahan dengan kabut hitam yang mengikat tubuhnya.
"Tinggal sedikit lagi aku harus melawan kabut hitam ini. Haaaaahhh.....(berteriak)"
Saat itu satu jari Renata tanpa disadari berhasil menyentuh berlian merah dan seketika tubuh Renata mengeluarkan cahaya merah yang sangat dahsyat.
"Aaaaaaa........duarrr"
Bahkan Tuan Besarpun tidak bisa mengatasi kekuatan Renata yang begitu dahsyatnya hingga membuat tanah bergetar.
"Apa ini? Sialan, gadis itu kekuatannya luar biasa tidak seperti dugaanku. Kalau begini aku bisa kalah."
Tuan besar berdiri dengan memegang pedang kabut hitamnya untuk menahan dirinya agar tidak terpental dari kekuatan Renata.
"Gadis itu sudah hampir membuatku kalah. Ini tidak bisa aku biarkan."
Berlian merah yang semula diam, setelah tersentuh jari Renata menjadi berputar dengan cepat dan menuju kearah Renata. Dengan sigap Renata manangkapnya dan akhirnya berlian merah jatuh kedalam genggamannya.
"Akhirnya berlian ini kudapatkan. Aku akan menemui biksu suci segera."
Renata langsung meninggalkan Tuan Besar yang masih menahan tubuhnya dengan pedang kabut hitam miliknya, dan langsung pergi menuju kuil lembah hitam.
"Tidaaakkkk......aku akan mengambilnya kembali, Renata. Aku akan segera membangkitkan pasukanku dan menjadikan bumi ini sebagai kerajaan vampir."
Tuan besar meninggalkan lorong SMA Erlion dengan cepat. Dan berencana menghidupkan pasukan vampirnya.
Saat berlari menuju kuil lembah hitam, Renata berhenti dan menatap kastil Erlion.
"Erick...cintaku..."
"Erick..hentikan sayang jangan lakukan itu! kau bisa terbunuh."
Melihat Erick yang tubuhnya dipenuhi luka, membuat Renata semakin marah dan melakukan telepati dengan Erick.
"Erick, aku akan membebaskanmu segera. Tunggulah aku!"
"Renata, aku tidak bisa berpisah denganmu, aku tersiksa. Renata aku membutuhkanmu."
"Jangan pernah melukai dirimu, Erick! Hentikan! Sayang dengarkan aku akan memjemputmu bersabarlah."
"Renata, berhati-hatilah! jaga dirimu dengan baik-baik! Aku mencintaimu Renata."
"Aku juga mencintaimu, Erick."
Renata kembali berlari menuju ke Kuil Lembah Hitam.
"Aku harus segera menuju Kuil Lembah Hitam secepatnya."
Saat itu Alberth sedang bertemu dengan Erin, dia merasakan sesuatu yang terjadi dengan Renata dan berusaha melakukan telepati kepadanya.
Telepati dengan Renata.
"Renata, berhentilah! Renataaa.....tolong berhentilah!"
Alberth terus melakukan telepati kepada Renata yang berlari secepat angin menuju Kuil Lembah Hitam.
"Alberth...itukah kau."
"Iya ini aku Renata berhentilah!"
Mendengar telepati Alberth, Renata menghentikan langkahnya dan membalas telepati Alberth.
"Alberth, bantulah aku! Erick tertangkap, di kurung dikastil Erlion. Tuan besar menginginkannya, Alberth. Bantulah aku!"
"Renata aku akan membantumu. Tenangkanlah dirimu. Dimana kamu sekarang?"
"Aku harus meñuju Kuil Lembah Hitam, untuk membawa berlian merah yang berhasil aku dapatkan. Hanya Biksu suci yang tahu apa yang harus aku lakukan dengan berlian ini, Alberth."
"Tunggulah aku disana, aku akan segera menemuimu. Berhati-hatilah Renata!"
"Aku tunggu kedatanganmu, Alberth."
Erin menatap Alberth dengan keheranan karena melihat wajah Alberth yang seolah diam, namun berbicara dengan seseorang.
"Alberth, dengan siapa kau berbicara?" Erin menghampiri Alberth dan menepuk pundaknya.
Alberth menghampiri Erin dan memandangnya. Alberth melakukan telepati dengan Erin.
"Erin, apa yang kau mau dariku?"
Erin terkejut dan mendekati Alberth.
"Aku akan memberikan semuanya padamu, Erin."
"Aku tidak mengerti maksudmu Alberth."
"Erin , kau mau diriku kan? Kau akan memilikiku seutuhnya, Erin. Bukankah itu yang kau mau dariku?"
Erin tersenyum bahagia dengan pernyataan Alberth. Dengan perlahan Erin meraih tangan Alberth dan menyentuhnya.
"Benarkah, Alberth? kau akan memberikan semuanya kepadaku?"
"Iya Erin, diriku milikmu seutuhnya. Tapi ada syaratnya, Erin. Ku harus membantu aku membebaskan Erick. Kakakmu terkurung dikamarnya, di Kastil Erlion."
Erin melepaskan tangannya dan menatap Alberth dengan kesal hingga mata abh-abunya bercahaya.
"Jadi karena gadis itu kau menyerahkan dirimu ,Alberth?"
Alberth mendekati Erin dan menyentuhnya. Alberth menatap lembut Erin dengan tersenyum.
"Jika Erick selalu disebelah Renata, aku akan bebas kemanapun aku mau, Erin. Tapi jika Erick tidak kita bebaskan, aku harus berada disebelah Renata untuk menjaganya. Bagaimana ?"
Erin menghela nafasnya dan menghampiri Alberth.
"Baiklah Alberth, aku akan membantu Erick. Dan jangan melupakan janjimu ,Alberth."
"Aku selalu menepati janjiku, Erin."
Renata akhirnya sampai di Kuil Lembah Hitam. Dengan wajah yang menyejukkan, Biksu Suci sudah menuggunya didepan gerbang.
"Renata selamat datang. Masuklah anakku!"
"Biksu tolonglah aku. Erick ditahan dikastil Erlion."
"Pasti aku akan membantumu Renata."
"Aku mendapatkan berlian merah biksu."
"Besuk kau akan menjadi Renata Red Eyes." ucap biksu dengan tersenyum.