Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
BAB 4 : Pertemuan Erick dan Renata



Thomas masih merasa marah kepada Erick yang selalu mendekati Renata. Wajahnya yang selalu tersenyum berubah menjadi murung penuh emosi.


"Thom, sudahlah jangan marah! Mari kita pergi dari sini!" Renata yang berusaha mereda kemarahan Thom kepada Erick.


Sambil berjalan, Renata terheran melihat semua siswa dan guru memandanginya dengan wajah pucat dan tanpa ekspresi. Segala keanehan yang terjadi membuat Renata merasa frustasi.


"Thom, aku harus kekamar mandi. Ayo antar aku!" Renata menarik tangan Thom menunju kamar mandi didepannya.


"Ayo, aku akan mengantarmu kesana!" Thom dengan menggandeng tangan Renata hendak ikut masuk kedalam kamar mandi.


"Thomas, apa kamu tidak bisa membaca tulisan ini khusus wanita? Kenapa ayah dan ibu menyekolahkanku disekolah ini? Bukankah ini sekolah hantu? Iyakan? Wajah mereka persis seperti hantu dan penuh hal mistis disekolah ini." Renata menggerutu di depan Thomas.


"Hahaha, tapi siswanya tampankan seperti aku?.. hahaha" Thom kembali menarik tangan Renata dan hendak ikut masuk kekamar mandi.


"Thomas, apa kamu wanita? sudahlah, tunggu diluar!" Renata melepaskan tangannya dan mendorong Thom keluar dari kamar mandi.


"Ayolah Renata, aku tidak akan mengintip! Ahh, kenapa gadis mungil ini dengan mudah mengaturku?" Akhirnya Thom menyerah dan meunggu Renata diluar pintu kamar mandi.


"Apa yang dia pikirkan sampai mau masuk kesini? Semua ini membuat aku semakin pusing saja."


Di dalam kamar mandi, Renata tiba-tiba melihat kupu-kupu yang sangat indah.


"Wah, indah sekali kupu-kupu ini. Darimana asalnya? Hah, jendela ini tiba-tiba terbuka. Wow, indah sekali diluar sana. Biarkan saja Thom menunggu, aku mau mengikuti kupu-kupu ini."


Renata memanjat jendela dan keluar dari kamar mandi. Dengan berlari, Renata mengikuti kupu-kupu yang terbang menuju ke sebuah taman yang sangat indah penuh dengan bunga mawar merah dan harum.


"Wahhhhh, indah dan harum. Hah, apa itu bunga bercahaya?" Renata dikejutkan oleh bunga bercahaya yang berasal dari atas pohon yang sangat tinggi.


"Ahh, tinggi sekali pohon ini. Aku tidak peduli, aku akan tetap memanjatnya dan mengambil binga itu. Pasti Alberth akan sangat senang saat aku memberikannya waktu pulang nanti."


Renata dengan hati-hati memanjat pohon yang tinggi itu dan berusaha meraih bunga bercahaya.


"Haduh, ini terlalu tinggi. Aku akan tetap berusaha menggapainya." Saat Renata berusaha menggapai bunga itu, tiba-tiba kakinya tergelincir dan terjatuh dari pohon itu.


"Aaarrghhh, toloonggg!" Tubuhnya yang terjatuh seketika ditangkap oleh seseorang sebelum menyentuh tanah.


"Kamu tidak apa-apa, mata ungu?" Erick menangkap tubuh Renata dan sekarang Renata berada didekapannya.


"Kamu mau bunga itu, putri?" dengan mendekatkan wajahnya, Erick membuat Renata tersipu malu dan menganggukkan kepalanya.


Erick menurunkan Renata dari gendongannya, lalu secepat kilat Erick mengambil bunga bercahaya yang ada diatas pohon itu, dan memasangkan ketelinga Renata.


"Bunga ini sangat cantik dan bercahaya seperti mata ungumu, putri." Erick memegang tangan Renata dan mencium punggung tangannya.


"Aku harus kembali. Thom emm, maksudku Thomas, dia ada disana menungguku." Jantung Renata berdetak kencang hingga tidak bisa berbicara dengan benar didepan Erick.


"Aku tahu tempat yang sangat indah, disana penuh dengan bunga bercahaya. Kamu mau lihat putri?" Erick menarik Renata dan ingin mengajaknya pergi.


"Hah, adakah tempat seperti itu, Erick? Aku mau lihat." Renata menarik jubah Erick dan meminta untuk mengajaknya.


Dengan senyum yang mengembang, Erick menggendong Renata dan secepat kilat membawa Renata pergi.


"Sebelumnya Thom selalu memegang erat tanganku dan berlari, sekarang Erick menggendongku dan berlari cepat sekali. Kenapa semua harus berlari?"


Erick tersenyum mendengar Renata menggerutu sendiri, dan membuat wajah Renata memerah tersipu malu hingga menyembunyikan wajahnya di dada Erick yang kekar.


"Nah, diatas sana kamu bisa melihat bunga bercahaya." Erick melompat dengan cepat dan sampai diatas dahan pohon yang sangat besar hampir seukuran manusia. Renata menutup matanya sambil menahan nafas karena ketakutan.


"Heii, bukalah matamu putri! Ada Erick disini, jangan takut!" Erick berusaha menenangkan Renata yang ketakutan dan menurunkan Renata dari gendongannya.


"Injaklah dahan ini, jangan takut!" Erick memegangi Renata agar tetap aman diatas pohon yang sangat tinggi itu.


"Indahnya bunga bercahaya, kupu - kupu, air terjun dan suara burung, ternyata ada seperti ini didunia ini."


Renata yang sangat bahagia melihat pemandangan dari atas pohon yang tinggi. Dirinya tidak menyadari Erick memeluknya dari belakang. Ketika Renata menoleh kesamping, wajah tampan Erick tersenyum padanya.


"Ayo ikut aku! Akan aku tunjukkan tempat rahasiaku disana." Erick kembali menggendong Renata dan melompat dengan cepat menuju tempat rahasianya.


Sampailah disebuah air terjun yang sangat indah dengan air yang sangat jernih hingga ikan dan bebatuan didalam air terlihat tampak jelas.


Erick berjalan masih dengan menggendong Renata, menembus air terjun yang didalamnya terdapat goa yang begitu indah. Terdapat bebatuan berwarna putih menggantung di atas seperti bongkahan es yang menetes. Dinding goa begitu halus dan lembab. Erick biasanya menghabiskan waktu di tempat ini jika ingin menyendiri. Kemudian Erick menurunkan Renata di tempat itu.


"Hanya orang special yang akan aku ajak kemari." Renata terkejut mendengar ucapan Erick.


"Special? Berarti akulah orang itu." ucap Renata dalam hati.


"Yah, kamu memang special." ucap Erick yang membuat Renata kembali terkejut.


"Hah, apa Erick? Aku tidak berbicara apa-apa. Bagaimana dia bisa mendengar aku berbicara dalam hati?" gumam Renata dan membuat Erick selalu tetsenyum.


Ketika Renata menyusuri tempat itu, dia dikejutkan oleh sebuah biola yang berada di salah satu sudut dan terdapat syal biru yang terikat dibiola tersebut.


"Erick, biola siapa ini? kamu bisa memainkannya? sepertinya biola ini tidak asing diingatanku." Erick mengambil biola itu dan memainkannya didepan Renata.


Renata terpana dengan keindahan alunan musik biola yang Erick mainkan, dan Renata terkejut melihat Erick meneteskan air mata ketika memainkan biola itu.


"Hah, kenapa dia menangis? Erick!" Renata dengan sedih melihat Erick meneteskan air matanya.


Tiba-tiba Erick berhenti memainkan biolanya dan mendekati Renata. Perlahan Renata melangkah kebelakang hingga punggungnya menyentuh dinding goa. Erick menatap dengan mata abu-abunya yang indah dan membelai Renata.Renata hanya terdiam dan merasakan jantungnya berdetak kencang luar biasa.


"Renata ayo, kita kembali! nanti Thom tampan marah kepadaku" Erick mengembalikan biola bersyal itu ditempat semula dan segera mengajak Renata keluar dari goa itu. Renata hanya terdiam dan pasrah mengikuti ajakan Erick.


"Thom, dia sangat baik, aku akan menjelaskan padanya nanti" Renata memuji Thom di depan Erick dan membuat Erick memperlihatkan wajah kesal.


"Erick, kamu akan menggendongku lagi?" sambil malu Renata bertanya kepada Erick.


"Kenapa? kamu tidak mau aku gendong?" dengan menggoda Erick membuat Renata malu.


Kemudian Erick kembali menggendong Renata.


"Jangan memuji orang lain lagi didepanku ya! Dan bunga ini dariku. Aku yang mengambilnya, jadi jangan diberikan kepada Alberth" dengan mendekatkan wajahnya, Erick membuat Renata tidak sanggup berkata-kata.


Dengan secepat kilat, Erick membawa Renata pergi kembali SMA Erlion


*********************************************


Sementara itu, Thomas sepertinya tidak sadarkan diri seperti ada yang membiusnya.


"Thomasssss, thomasssss, sadarlah!" tiba-tiba terdengar suara yang menyadarkan Thom dan dengan marah Thom hendak menghancurkan pintu kamar mandi.


Belum sempat Thom menghancurkannya, dia dikejutkan oleh suara wanita yang membuatnya semakin marah.


"Thomas, Thom sitampan, atau tepatnya Thomas sibodoh.. hahahahaha."


"Erin, hentikan! kamu membuat aku marah." Thom berteriak kepada Erin dan ingin mengeluarkan rantai apinya.


"Hahahaha, bodoh. Kamu sudah dibuat kakakku tidak sadar agar dia bisa pergi dengan gadis bodoh itu." dengan kesal Erin membalas Thom.


Erin adalah saudara kembar Erick yang sama-sama mempunyai sepasang mata berwarna abu-abu yang selalu ditemani pelayan setianya bernama Felishia.


"Erin, aku akan membunuhmu." Thom mengeluarkan rantai apinya dan tiba-tiba merasa terbakar tubuhnya dan kesakitan.


"Hentikan, Erin!" Erick tiba-tiba datang dan menurunkan Renata dari gendongannya dan menutup mata Erin dengan pedangnya agar tidak menyerang Thom.


"Apa ini? siapaa kalian? " Renata berteriak sambil memegang Thom dan kebingungan.


"Siapaaa kaliannnnn?"