
Puncak mercusuar dengan cahaya sinarnya yang menuju laut beradu dengan sinar rembulan tampak begitu indah.
Ombak yang menari-nari dengan suara deburannya seakan turut merasakan kebahagiaan dari sepasang kekasih yang saling mencinta.
Erick berlutut dihadapan kekasihnya.
"Renata maukah kau menikahiku? "
"Erick, apa aku tidak mendengar ucapkan yang keras"
"Renataaaaaaa, maukah kau menikahikuuuuu!!! "
"Iya Erick aku mau"
"Renata aku akan memberikan semua hidup dan nyawaku untukmu, jangan pernah meragukan itu, percayalah pada Erick"
"Aku mempercayaimu Erick"
Erick memeluk Renata dengan erat.
Malam itu mereka menahan gairahnya hingga pernikahan tiba.
Renata tampak bahagia dan terlelap di pangkuan Erick. Tangan Erick tak berhenti membelai rambut Renata dengan lembutnya.
"Aku akan bertelepati dengan Biksu Suci agar menikahkan kita, apapun yang terjadi kita harus menikah, kita sudah bersatu"
Telepati Erick dengan biksu Suci.
"Biksu Suci nikahkan kami, aku ingin terikat dengan Renata, aku mohon agar tidak ada yang bisa memisahkan kami lagi"
"Aku sudah mempersiapkan semuanya, kembalilah kekuil"
"Mempersiapkan semua, apa maksud biksu?"
"Ketika matahari tepat diatas kita,kembalilah ke kuil"
"Baik biksu terima kasih"
******************************************************
Sementara dirumah Renata, nyonya Elena menangis ketika mendapat kabar pernikahan putrinya dari biksu suci.
Nyonya Elena sangat keberatan jika putrinya harus menikah dengan vampir.
Ayah Renata dan pamannya berusaha menenangkannya.
"Tidakkk suamiku. Renata anakku satu-satunya hidupnya sudah penuh dengan bahaya kenapa harus menikahi mahkluk buas!! "
"Tenanglah istriku, bagaimanapun ini sudah takdirnya, kita harus menuruti perintah biksu suci dan ini adalah yang terbaik"
"Tidakk!! Aku tidak mau dan tetap tidak mau jika kau tidak menghalanginya aku yang akan melakukan!! "
"Elena tenanglah, paman akan menurutimu, dengan satu syarat, bagaimana"
"Apapun syarat itu akan aku lakukan paman, asalkan anakku lepas dari mahkluk buas itu"
"Baiklah batalkan saja pernikahan itu Reynald, biarkan Edwind Erlion mendekati Renata dan bertarung dengannya, mungkin Erick akan membenci Renata dan membiarkan kakeknya menyakiti putri kalian, bukankah itu kemauan Elena?"
"Paman apa maksudmu, aku ibunya tidak mungkin aku membiarkan anakku terluka! "
"Erick adalah Erlion terkuat. Jika Renata menikahinya dia akan selamat Elena"
"Tapi, dia tetap vampir paman, kenapa ini harus terjadi pada anakku"
"Istriku, Renata sangat mencintainya karena itulah dia mau menikahinya, jika kita memisahkan mereka hal buruk akan terjadi"
"Betul apa yang dikatakan Reynald, paling tidak Erlion terkuat ada dipihak kita"
"Apa yang harus aku lakukan sebagai ibunya? baik-baiklah kita akan berangkat, bibi Aelin ikutlah!"
Akhirnya Elena menyetujuinya dan mereka segera berangkat kekuil biksu suci.
*******************************************************
Sementara Thomas sangat kecewa dengan kenyataan yang harus dia hadapi.
Dengan menunggang kuda dan mengeluarkan air mata Thomas terus berlari tanpa tujuan dan terhenti disebuah bukit.Thomaspun turun dari kudanya dan berlutut.
"Tidaaaakkkkkk, kenapa kau lakukan itu Renata, aku benci sebuah takdir, aku harus merubahnya! "
Saaat Thomas meratap sedih tiba- tiba dia merasakan ada orang lain menuju tempatnya. Thomas segera bersembunyi dengan membawa kudanya.
Tak lama muncullah Edward dan Pattinson .
Thomas memperhatikan mereka dari tempat persembunyiannya.
"Pattinson, kamu tahu Erick tidak memihak kita, dia tidak bisa kita andalkan, jangan membuang waktu kita harus dengan cepat membangkitkan kakekku"
"Iya tuan tapi mendapatkan darah Renata sangatlah susah, kita harus memikirkan caranya, jelas Erick akan selalu berada didekatnya"
"Sialan anak itu membuatku pusing saja. bagaimana jika kita gunakan Erin? iya Erin satu-satunya cara agar membuat Erick terpisah dengan Renata sementara waktu"
"Erin? Kenapa harus dia, tidak bisakah menggunakan cara lain tuan?"
"Kenapa? Sepertinya kau menyukai anakku Erin, apakah itu benar Pattinson?"
"Tuan aku sangat menghormati nona Erin, pakailah cara lain bagaimanapun juga dia anakmu"
Hahaha, kau menyukainya Pattinson, mengakulah! ini hanya memancing saja. Jika kita membuat Erin kesakitan, pasti Erick juga akan kesakitan"
"Kenapa harus Erin!! "
"Jaga bicaramu.... aku tuanmu!! "
"Bagaimana dengan nyonya Delichia pasti akan sangat marah jika mengetahuinya"
"Aku akan membuatnya tertidur"
"Aku tetap tidak setuju tuan! "
"Hahaha aku akan membuat Erin lemas kekurangan darah, setelah itu kau bisa merawatnya . Berikan darahmu untuknya dengan begitu kau mungkin bisa mengambil hatinya"
"Apa maksud tuan"
"Sudahlah jangan berpura-pura, percayalah padaku hanya dengan cara ini kau bisa mengambil hatinya, lagipula aku tidak menyukai sibisu itu"
"Tunggu tuan...Sepertinya aku mencium darah manusia disini tuan, keluarlah aku tau kau mengamati kami"
Ternyata tanpa Thomas sadari dia berada di bukit Erlion tak jauh dari kastil Erlion
"Oh jadi kamu sirambut panjang Thomas, hahaha, musuh anakku Erick "
"Anak dan ayah sama saja tidak berotak! "
"Hentikan bicaramu, jangan berani menghina tuanku!"
"Hahaha, biarlah Pattinson nyawanya akan berakhir sebentar lagi, aku dengan mudah bisa membunuhnya"
"Justru aku yang akan membunuhmu, rasakan ini!! "
Thomas mengeluarkan senjata rantai apinya dan menyerang Edward tetapi kekuatan Edward lebih besar dan membuatnya terjerat rantainya sendiri.
"Hahah, gimana terkena senjatamu sendiri apakah sakit"
"Akan aaaakuu... Baalas kaaamu! "
Thomas merintih kesakitan dan Edward langsung mengarahkan tangannya mengeluarkan pedang kabut hitamnya ke tubuh Thomas. Tiba- tiba ada yang menangkas serangan Edward.
" Tang..tang..brakkk"
Alberth yang dari awal sengaja membuntuti adiknya menangkas pedang Edward dengan pedang kabut hitamnya. Dengan mengalihkan perhatian Edward dan pattinson, Alberth segera membawa Thomas pergi dengan kudanya.
"Kejar mereka Pattinson"
" Baik tuan"
Pattinson segera berlari mengejar kedua kakak beradik. Tiba- tiba Pattinson menghentikan langkahnya saat mendengar telepati Erin.
Erin mengetahui kedatangan Alberth diwilayahnya setelah Felishia memberitahukannya. Erin sangat terkejut saat ayahnya hendak menyerang Alberth.
Tentu saja Pattinson menuruti perintah Erin karena memang dia tidak pernah bisa menolak kehendak Erin karena rasa cintanya.Edward yang mengetahui anaknya ikut campur sangat marah
"Errrinnnnn, aku mendengarnyaaaa! "
"Ayah kau sudah berjanji tepati janjimu!! "
Akhirnya dengan kesal Edward kembali kekastilnya diikuti Pattinson.
*******************************************************
Pagi itu begitu cerah seakan mentari turut merayakan kebahagian kedua sejoli.
Sinarnya menggelitik mata Renata hingga membuatnya terbangun dipangkuan Erick.
Sungguh membahagiakan saat wajah tampan kekasihnya menjadi yang pertama dilihatnya pagi itu.
"Erick.. "
"Hah, gadis kecil sudah bangun, apakah tadi malam bermimpi tentangku? "
"iya aku bermimpi menikah dengan seseorang"
"Hah siapakah itu? Jika bukan diriku walaupun hanya mimpi aku akan membunuh laki- laki itu. Kau milikku disini ataupun di alam mimpi"
"Iya bunuhlah, laki-laki itu ada didepanku sekarang"
"Oh jadi kamu menggodaku gadis kecil"
"Kalau gitu aku tidak mau menikah"
"Apaaaa, kenapa!! "
"Karena aku masih kecil, tunggu aku besar"
"Haha, baiklah nona muda sekali lagi maukah kau menikahiku?"
"Aku pikirkan dulu"
Dengan cepat Erick menarik Renata dan mendekapnya erat, dan membisikkan ditelinga Renata.
"Waktu untuk berpikir sudah habis, sekarang aku memaksanya"
Erick menatap lembut Renata dan tak sanggup melihat bibir Renata yang begitu menggoda.
Diapun segera mencium dengan lembut dan semakin dalam.
Kemudian Erick menggendong Renata tanpa melepas ciumannya membawa menuju kuil.
Sesampai dikuil Erick baru melepaskan ciumannya.
" lihatlah sayang...ada yang ingin bertemu denganmu"
Erick menurunkan Renata dari gendongannya. Betapa terkejutnya Renata saat melihat kedua orang tuanya, kakek Reynard dan istrinya serta bibi Aelin bersama para biksu sudah menunggunya di depan kuil.
"Anakku Renata, ibu merindukanmu"
"Ibuu aku juga merindukanmu"
"Jadi kamu calon menantuku"
"Iya tuan Reynald, aku akan menjaga Renata dengan sangat baik percayalah padaku"
" Halo nyonya Elena aku Erick. Trimakasih sudah mengijinkanku menikahi putri anda"
" Apa aku punya pilihan?...ahhh tanganmu dingin sekali...ya tentu saja karena kau vampir....huff sepertinya aku butuh air minum suamiku".
Nyonya Elena meninggalkan Erick dan menarik Renata ikut dengannya setelah berjabat tangan dengan Erick. Renata hanya pasrah mengikuti ibunya.
"Kau harus terbiasa dengan sikapnya Erick...bagaimanapun juga dia ibu Renata".
" Tidak masalah tuan".
Dikamar yang sudah disiapkan oleh Ana.
Nyonya Elena segera mendandani Renata dengan gaun pengantin yang dulu ia pakai waktu menikah dengan ayah Renata.
" Anakku...hanya ini yang bisa ibu berikan padamu".
" Aku menyukainya ibu..terimakasih"
"Renata, ini ibu membuat sendiri selimut dan mantel untukmu. Ibu sudah menduga suamimu itu pasti badannya dingin sekali dan ternyata memang benar walaupun ibu terkejut melihat wajahnya sangat tampan. Kau benar- benar mempunyai selera seperti ibumu ini...hehe. Tapiiii.....tetap Ibu kawatir kau akan selalu kedinginan di dekatnya"
" Haha...iya ibu, Erick memang tampan seperti ayah kan. Dan aku tidak pernah kedinginan di dekat Erick. Ibukan tau tubuhku ini bisa mengeluarkan api dan tentu saja aku tidak......"
" Ahhh...sudah- sudah ibu tidak mau dengar. Kau tetap gadis kecil ibu apapun yang terjadi...kau mengerti....dan ingat ayahmu lebih tampan dari Erick"
" Hehe...baiklah ibuku tersayang"
Ana hanya tersenyum mendengar obrolan mereka.
" Nyonya Elena, renata, biksu sudah memanggil kita, yo kita kesana"
" Baiklah Ana....ahhhh kau sungguh cantik Renata ibu ingin menangis"
Renata akhirnya keluar dari kamar didampingi ibunya dan Ana, Renata menggunakan gaun putih yang indah.
Erick tentu saja tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Renata karena terpesona dengan kecantikan
Biksu suci segera melakukan ritual pernikahan dan akhirnya Erick dan Renata telah menjadi suami istri yang sah.
"Erick, sebagai ibunya tentu saja berat bagiku menerima semua ini, jika kau menyakitinya sedikit saja aku akan membunuhmu Erick"
"Elena, jaga emosimu! Renata sangat bahagia sekarang"
"Tapi paman aku akan benar melakukannya jika itu terjadi"
"Erick jagalah dan jangan sampai pasukan Erlion menyentuh cucuku, bisakah kau menepati janjimu"
"Iya Erick, camkan itu aku sebagai ayahnya akan sangat sedih jika hal buruk terjadi pada Renata"
"Aku akan menepati janjiku tuan nyonya"
Haripun menjelang malam Erick meminta ijin membawa Renata pergi kesuatu tempat.
"Tuan, nyonya ijinkan aku membawa Renata kesuatu tempat"
"Apa yang akan kamu lakukan dengannya! "
"Sudahlah Elena mereka sudah suami istri biarkanlah, baiklah jaga cucuku"
"ibu aku akan baik-baik saja"
Renatapun memeluk ayah, ibu dan kakek dan neneknya kemudian pergi dengan Erick.
" Tunggu Renata...kau melupakan sesuatu, ini bawalah mantel dan slimutmu ibu tidak mau kau kedinginan"
Nyonya Elena memberikan hadiahnya sambil melirik sinis ke arah Erick.
" Tapi ibu aku tidak memerlukannya"
" Terima kasih nyonya...hadiah dari anda bagus sekali tentu saja Renata dan aku akan membawanya...benar kan sayang"
" Baiklah ibu...kami akan membawanya"
Akhirnya Erick dan Renata pergi dengan membawa selimut dan mantel hadiah dari nyonya Elena. Sementara ayah Renata dan kakek Reynard menggeleng gelengkan kepalanya melihat sikap Elena.
" Biksu, bagaimana aku meyakinkan istriku agar bisa iklas menerima takdir anaknya?"
Biksu suci hanya tersenyum dan memberi pesan kepada nyonya Elena.
"Nyonya Elena, seorang ibu pasti sangat khawatir dengan anaknya, tapi biarkan takdirnya yang berbicara, yang dibutuhkan Renata saat ini adalah doa dari ibunya yang harus terus menyertainya"