
Hari berganti terang embun masih menetes di kelopak bunga- bunga mawar yang akan bermekaran. Suara merdu kicauan burung bersautan dengan nyaring seakan memanggil nama Renata untuk membangunkannya. Ranata pun terbangun dan menggeliat lalu tersenyum.
" Hari ini akhirnya datang juga aku harus segera bergegas. "
Renata segera melompat dari kasurnya dan melihat ada sekelebat cahaya disertai angin kencang dari jendelanya.
Renata tersenyum dan mengetahui itu pasti Erick.
Mengingat perjanjian Erick dengan Alberth, Renata segera menutup tirai jendelanya.
Saat dia berbalik tirainya terbuka lagi, lalu Renata menutupnya lagi, dan terbuka lagi begitu seterusnya.
Renata mendekali jendelanya dan memperlihatkan wajahnya yang cemberut dengan menyilangkan tangannya didada.
Tiba-tiba bunga bercahaya dan syal biru milik Renata diwaktu kecil dan juga jepit empat bunga putih yang selalu dipakainya ketika bertemu Erick dulu berada di depan matanya.
" Pakailah putri, kau akan terlihat sangat cantik. " ucap Erick melalui telepatinya.
Renata hanya tersenyum dan menutup kembali tirai jendelanya.
Renata seperti biasa mengerjakan rirual mandinya bersama para pelayannya.
Selesai mandi Renata menuju meja riasnya. Memakai bedak tipis dan mengoleskan liptik berwarna merah jambu.
Para pelayan sibuk mengeringkan rambutnya. Setelah kering Renata mengambil alih sisirnya dan menyuruh para pelayan untuk meninggalkannya.
Dia ingin menata sendiri rambutnya. Renata kemudian menyisir rambutnya dan menjepitkan jepit rambut pemberian Erick.
Tirai jendelanya kembali terbuka disertai angin lembut berbau harum dan bunga mawar putih yang terbang menghampiri Renata. Dengan tersenyum bahagia Renata mengambil bunga pemberian Erick.
Telepati erick dan Renata
" Harum sekali Erick. "
Sambil mencium bunga pemberian Erick, Renata tersenyum memandang keluar jendela kamarnya.
" Seharum tubuhmu, putri. "
Erickpun membalas dan membuat Renata merona.
" Erick, ingat janjimu kepada Alberth, kamu hanya bisa memandangku."
" Kamu cantik sekali kekasihku, segeralah keluar biar aku bisa memandangmu. "
Erick hingga tidak mengedipkan matanya melihat kecantikan Renata dari jauh dengan penglihatannya.
" Jika aku keluar, kau harus menahan nafasmu, aku bisa mendengarnya dari sini. "
Renata menggoda Erick dan justru membuat Erick semakin senang.
"Hmmmm, sekarang kau menggodaku putri, cepatlah aku menunggumu. "
"Tok... Tok.... Tok..." suara ketukan pintu Renata.
"Renata apakah kau sudah siap, kami semua menunggumu dibawah. "
Ucap Elena ibu Renata.
" Iya ibu, aku segera datang."
Renata kemudian keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju kebawah.
" Cucuku seperti biasa, kamu cantik sekali, mata ungumu yang indah seperti sepasang berlian yang memancarkan cahaya, kakek harap kau akan baik-baik saja cucuku. "
Sambil memeluk Renata dan membelai rambutnya tuan Reynard Rudolf sangat mengkhawatirkannya. Tapi tidak ada pilihan ini satu-satunya jalan menyelamatkan semuanya sebelum tuan besar bangkit.
" Ibu ingin sekali menemanimu, tapi mereka semua melarang ibu, rasanya hati ibu tersiksa anakku. "
Kemudian ayah Renata menghampirinya dan ikut memeluk Renata.
" Selain Alberth dan Thomas, kata kakekmu salah satu Erlion terkuat akan ikut menjagamu walaupun ayah sempat tidak setuju dan berdebat semalaman dengan kakekmu tetapi sepertinya itu jalan terbaik untukmu. Jangan lupa selalu mengabari kami Renata, bibi Aelin antar Renata masuk kedalam mobilnya. "
Dengan wajah yang sangat sedih dan melepaskan pelukannya akhirnya ayah Renata merelakan anaknya pergi menuju mobilnya untuk melakukan perjalanan kekuil lembah hitam.
" Aku akan menjaga diriku, lagipula ada tiga pria hebat disisiku, jangan mengkhawatirkan aku, ibu, ayah, kakek". Renata tersenyum kepada mereka.
Setelah melakukan pertarungan dengan Erick, Alberth dengan berat hati memberitahu Erick agar dirinya ikut melakukan perjalanan dan melindungi Renata menuju kuil lembah hitam. Walaupun Alberth sangat tidak setuju tetapi karena ini perintah tuannya yang tidak bisa dibantah akhirnya menyetujuinya.
Renata berjalan keluar dari Rumahnya. Dia melihat Alberth dan Thomas berdiri didepan menunggunya.
Mata kedua kakak beradik membelalak seketika begitu melihat kecantikan Renata yang begitu mempesona bagi kaum adam hingga tidak bisa mengedipkan mata mereka walau hanya sedetik saja.
Saat mata mereka berdua asyik memandang Renata tiba-tiba ada angin kencang yang menutup mata mereka.
Beberapa detik kemudian mereka membuka mata dan tidak mendapatkan Renata berada didepan mereka lagi. Tiba- tiba klakson mobil berbunyi.
" Dinn...dinn...."
Thomas dan Alberth beralih kearah mobil dan mendapatkan Renata sudah duduk berada di jok belakang mobilnya.
Erick yang membawa Renata secepat kilat ke dalam mobil dengan memegang bagian tubuh Renata yang terbungkus pakaian sehingga dia tidak menyentuh kulit Renata dan tidak melanggar perjanjiannya. Erick tidak suka ada laki- laki lain memandang kekasihnya.
" Apa kalian pikir aku akan membiarkan kalian memandanginya". Kata Erick kepada kedua kakak beradik.
Alberth dan Thomaspun hanya terdiam dan memperlihatkan wajah yang sangat marah dengan sorotan mata setajam pisau yang diarahkan kepada Erick, dan Erick membalas dengan senyuman sinis.
Awalnya Thomas juga tidak menyetujui Erick ikut serta, tetapi atas perintah Tuan Reynard dan demi keselamatan Renata akhirnya Thomas luluh dan mengikuti perintahnya.
Alberth melangkah mau memasuki mobil Renata dan tiba-tiba Erick menghalanginya.
" Kenapa kau harus masuk ."
Ucap Erick dan membuat Alberth terlihat marah.
Kemudian Renata membuka kaca jendela mobilnya.
" Alberth harus menjagaku didalam, Erick tolong jangan menghalangi.Thomas akan mengendarai kudanya mengikutiku dari luar, sementara kamu bisa berlari secepat kilat dan berjagalah didepan, sudahlah ayo jangan membuang waktu. "
Renatapun menutup kembali jendela mobilnya dengan kesal. Erick tetap menghalangi Alberth dan memberi isyarat agar Albert duduk dikursi depan disebelah sopir. Alberth masuk dan duduk di kursi depan dengan senyuman yang sinis.
Mobil Renatapun berjalan dengan kencang sementara diluar Thomas mengendarai kudanya dengan gagah dan Erick secepat kilat mendahului mobil Renata untuk mengamankan jalan yang akan dilalui mobil Renata .
Sementara itu suruhan Pattinson untuk menghalangi mereka menuju kuil lembah hitam sudah menunggu didepan untuk menghadang mereka.
Ketika Erick berada jauh didepan tiba- tiba menghentikan langkahnya dan melihat para pengawal terbaik Erlion sudah bersiap untuk membunuh mereka.
" Gawat, ada musuh didepan, Alberth hentikan mobilnya aku akan bertarung dengan mereka, Thomas bantulah aku.!"
Erick dengan cepat mengabari Alberth, seketika itu Albert memerintahkan sopir untuk menghentikan mobilnya, dan Thomas melaju cepat dengan kudanya menyusul Erick untuk membantunya.
Renata hanya duduk diam dengan mata yang sudah memerah dikursi belakang mobilnya.
Dengan tenang menyuruh Alberth untuk tetap melanjutkan mobilnya berjalan.
" Jangan hentikan mobilnya Alberth, berjalanlah terus. "
Alberth mengernyitkan dahinya merasa heran lalu menuruti permintaan Renata dan terus berjalan.
" Mereka mengirim pasukan kabut hitam kelemahanku. "
Ucap Erick yang bersiap-siap mengeluarkan pedang cahayanya.
Alberthpun segera keluar dari mobil dan siap bertarung, dan Thomaspun sudah mengeluarkan rantai api dari Gelangnya.
Para pasukan kabut hitam dengan cepat berlari seperti kilat dan mengeluarkan pedang hitam lalu menyerang Erick, Alberth, Thomas dari segala arah.
Dengan cepat Erick menangkis dari segala arah dan menebaskan pedangnya hingga menjatuhkan kepala beberapa pasukan dan merubah mereka menjadi debu.
Alberthpun melompat tinggi menebaskan pedang hitamnya hingga kepala pengawalpun terpenggal. Sementara Thomas dengan rantai apinya bisa langsung membunuh 5 pasukan sekaligus.
Melihat pasukannya terkalahkan, dari kejauhan Pattinson sangat kesal dan melemparkan pedang anginnya kearah jendela mobil Renata dan segera ditangkis oleh Albert tapi ada satu pengawal yang sedang terkapar dan menarik kaki Alberth sehingga pedang Pattinson menggores bahu Alberth.
Pedang yang berhasil melukai Albert terpental dan dengan segera Thomas melemparkan rantai apinya dan menghancurkan pedang itu sebelum sampai ke tanah. Erick merasa marah dan berlari secepat kilat mengejar pattinson.
Merasa serangannya tidak berhasil Pattinson segera berlari bersama pasukannya. Tentu saja kekuatan mereka tidak sebanding dengan Erick yang sudah menghadang mereka. Erickpun langsung menebas pasukan yang tersisa dan menyisakan Pattinson seorang diri.
" Tuan Erick, aku adalah kaummu seharusnya anda berpihak kepada kami". Pattinson berbicara sambil katakutan.
" Siapapun yang ingin menyakiti Renata akan aku hancurkan". Erick berteriak
" Ini adalah akhirmu pattinsonnnn..." . Erick mengarahkan pedangnya ke kepala Pattionson.
" Erick, hentikan!! " ucap Renata.
" Kenapaaaa, aku harus membunuhnyaa, Renataaaaa!!! " teriak Erick sambil menahan serangannya.
" Jangan bunuh dia Erickk.... bawalah kepadaku. Selama ada dirimu Pattinson tidak akan melukaiku. Kau tidak perlu kawatir sayang ".
Akhirnya Erick memukul Pattinson hingga tersungkur dan menarik kepala Pattinson lalu menyeretnya membawa dihadapan Renata.
Renata sudah menunggu dan berdiri di depan mobilnya didampingi Thomas dan Alberth.
Erick melempar Pattinson di depan Renata berjarak lima meter. Lalu mengarahkan pedang nya di leher Pattinson agar dia tidak bisa bergerak.
" Pattinson, bilang tuanmu, jika ingin darahku pergilah kekuil lembah hitam dan mintalah padaku, aku akan menunggu. Sudah biarkanlah dia ayo kita lanjutkan perjalanan kita. "
Dengan wajah yang sangat dingin Renata dan ketiga pelindungnya pergi meninggalkan Pattinson yang terluka parah.
Saat mobil Renata sudah berlalu jauh kemudian Renata berkata kepada Albert.
" Kita beristirahat dulu di penginapan yang sudah disiapkan oleh kakekku".
Alberth menganguk dan memberi insyarat kepada sopir. Alberth sekali- kali mengamati wajah Renata yang selalu dingin dikaca spion depan mobil, kadang Alberth tersenyum sendiri mengagumi kecantikan Renata.
Saat Albert memandang Renata, tiba-tiba salah satu lampu penerangan jalanpun meledak menandakan Erick sedang marah, tetapi Alberth tidak peduli.
" Apa kau akan menghancurkan semua lampu- lampu itu? Kau tidak bisa mengatur mataku untuk menatapnya...hahaha". Telepati Albert kepada Erick.
" Aku tidak peduli...akan ku congkel matamu jika kau menatapnya lagi." Erick mengancamAlbert.
" Coba saja....aku akan memotong tanganmu dengan pedangku sebelum kau melakukannya". Alberth tidak mau kalah dengan Erick.
" Aku akan cabik- cabik kamu dan.... ( erick belum selesai mengucapkan perkataannya)
" Sudahhh....cukup...kalian seperti anak kecil saja. Jika kalian terus bertengkar aku yang akan menghajar kalian....kau dengar itu Erick".
Tanpa mereka sadari Renata ikut mendengarkan telepati Albert dan Erick ketika tanpa sengaja melihat wajah Albert yang berubah serius seakan menahan marah membuatnya penasaran. Dan tentu saja keduanya langsung terdiam.
Sedangkan Thomas diluar dengan kudanya selalu menatap tajam Erick.
Akhirnya mereka sampai dipenginapan yang sudah disediakan kakeknya dan bermalam disana. Erickpun berhenti tepat di depan mobil renata dan Kuda Thomas langsung dihampiri oleh pelayan yang sudah disiapkan.
Sewaktu Alberth membukakan pintu mobil dan memanggil Renata ternyata didalam Renata tertidur pulas, Alberthpun mau menggendong Renata dan hendak membawanya ke kamar. Dengan secepat kilat Erick menarik Alberth dan marah.
" Ingat janjimu Alberth, jangan pernah menyentuhnya!! "
Sambil mendekatkan wajah marahnya ke Alberth Erick mengingatkan janji mereka.
Alberthpun menarik kerah baju Erick tidak mau kalah. Mereka beradu pandang mempertahankan keinginan masing- masing.
Thomas menggelengkan kepalanya dan dengan santai melewati mereka dan mengambil Renata lalu menggendongnya dengan cepat masuk kedalam kamar penginapan.
" Thomasssss, ini berlaku juga untukmuuu!! "
Erick berteriak. Sementara Thomas sudah membaringkan Renata ketempat tidurnya.
" Lalu siapa yang membawanya masuk!!, sudahlah sekarang kita harus berjaga jangan ada keributan!! "
Thomas menarik Erick mengajaknya keluar dari kamar karena takut membangunkan Renata.
Sementara itu dikuil lembah hitam biksu suci sudah menunggu kedatangan Renata.
" Persiapkan semuanya....Renata sudah dekat. "
" Baik, biksu suci. "
Para pelayan segera melakukan tugasnya masing- masing.