Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
BAB 27: Lamaran



"Erick"


Hanya kata itu yang keluar dari mulut Renata. Matanya yang sayu menatap sang pujaan hati. Namum mata itu berpaling lurus mengikuti langkahnya menuju keluar dari gerbang kuil diikuti biksu suci.


" Mau kemana kau Renata? Biksu katakan padaku mau kemana kalian...kenapa dengan Renata?( Thomas)


"Jika kalian ingin tau, kalian boleh mengikutinya tapi jangan membuat keributan"


Erick langsung melesat, Alberth dan Thomas mengikuti Renata dibelakang biksu suci.


"Renata, sepertinya kau butuh waktu untuk menenangkan dirimu. Kita akan memulai latihanmu esok hari. Istirahatlah di pondoknya Ana. Dan kalian bertiga jangan mengganggunya"


Biksu suci kembali ke dalam kuil.


Renata hanya bisa mengangguk dan langsung masuk ke podok Ana.


" Ehhhh...kalian bertiga mau apa...ingat kata biksu kalian tidak boleh mengganggunya jadi kalian tidak boleh masuk...tunggu saja diluar.. braakkk".


Ana menutup pintu dan menghalangi Alberth, Thomas dan Erick saat mereka hendak ikut masuk ke pondok ana.


Beberapa jam kemudian matahari mulai menyembunyikan wujudnya dan langitpun mulai berubah berwarna jingga dan hitam.


" Ceklek..." ( suara pintu terbuka)


Renata berjalan keluar dari pondok, matanya masih sayu.


Renata duduk di teras dan memandang bulan yang sangat indah.


Tampak pantulan cahaya bulan di mata Renata membuat matanya bersinar kemerahan.


Ketiga pengawal Renata hanya bisa mengikuti dan memandang keindahan matanya.


"Renata apa yang kau pikirkan saat ini"(Alberth dalam hati)


"Kakak kenapa dia menangis, aku akan menghampirinya"


"Jangan pernah kau lakukan itu Thomas"


"Vampir gila minggir jangan menghalangiku"


"Apaa hahaha, sedikitpun kau tidak akan pernah bisa menyentuhnya camkan itu"


"Mata buram akan aku congkel matamu dasar makhluk jelek"


"Rambut wanita menggelikan!!"


Disaat Erick dan Thomas beradu Alberth diam-diam mendekat menemui Renata.


"Renata, apa yang terjadi? jangan menangis aku sangat sedih melihatnya"(ucap Alberth dalam hati)


Alberthpun hampir memegang Renata dan ingin memeluknya.


Erick dengan cepat menghalanginya.


Dan Thomaspun marah kepada kakaknya.


"Apa yang kau lakukan Alberth ingat janjimu!"


"Kakak, jangan pernah menyentuhnya, kita tidak pernah mengingkari janji! "


"Aku tidak akan memaafkan kamu Alberth jika kau melanggarnya!"


Alberthpun merasa kebingungan dan memegang kepalanya langsung berbalik meninggalkan mereka dan duduk dibawah pohon dengan menundukkan kepalanya.


"Kakak, sadarlah jangan lakukan itu...kita harus bersabar".


"Haha kali ini kau berotak rambut wanita"


"Dasar vampirrr..... Hahhh"


Thomaspun menahan kemarahannya dan pergi menjauh.


"Erick sudah cukup aku akan menepati janjiku"(telepati Alberth)


Erickpun menjawab dengan tersenyum sinis dan tetap berada didepan Renata yang masih terdiam dan mengeluarkan air mata.


" Apa yang kalian lakukan ? Sudah kukatakan jangan mengganggunya....ayo Renata masuklah kau harus istirahat dan kalian tidurlah diluar ini bantal dan tikar kalian bisa tidur diterasku"


Renatapun menuruti perkataan Ana dan masuk kepondok.


Saat hendak sampai ke pintu, Renata berbalik dan menatap Erick.


"Istirahatlah sayang...aku akan menunggumu disini"


Erick mengatakan dengan batinnya kepada Renata.


Sinar cahaya mentari mulai perlahan-lahan menyinari bumi dan ternyata Renata tidak menutupkan mata sejak semalaman.


Alberth dan Thomaspun terjaga semalaman memikirkan perubahan Renata.


"Renata, kenapa denganmu, aku Alberth Renata, kenapa kau tidak memandangku sedikit saja" (ucap Alberth dalam hati)


"Kakak apakah ini pengaruh kekuatan yang muncul dengan dirinya? biksu suci pernah mengatakan jika kekuatannya muncul dia hanya akan ingat dengan satu orang saja. Apakah berarti itu Erick? sialan tidak akan kubiarkan! "


Alberth menepuk punggung Thomas dan menggelengkan wajahnya.


"Renata, aku menunggumu, kau semakin cantik aku suka jika kau tidak melihat kedua kakak adik itu"


Erick tertawa sendiri sambil menatap Thomas dan Alberth.


"Erick apa yang kamu tertawakan, aku akan menjambak rambut ubanmu!!"


"hahah, rambutt?bagaimana jika aku yang menjambak rambutmu yang selalu berantakan, menggelikan kayak wanita saja kamu"


"Kurang ajar akan aku.... "


Alberth dengan cepat menarik Thomas dan memandangnya dengan marah akhirnya Thomas terdiam.


Telepati Alberth dan Erick


"Erick pikirkan kehidupan Renata hentikan jauhilah dia, kamu tidak pantas dengannya!! "


Erick akhirnya mendekati Alberth dan keduanya saling menatap dengan emosi.


"Hahah, apa maksudmu, menggelikan adik dan kakak sama saja, lalu siapa yang pantas dengannya, kamuu atau sirambut panjang! "


" Jangan pernah memancing kemarahanku Erick!! "


"karena kau vampir, dan kau adalah makhluk buas!! "


"masih ingatkah aku sudah berkali-kali menghisapnya!!"


"Kau harus menolaknya Erickkkk!!"


"Tapi Renata yang memaksakuuuuuu! "


"Tetap kau harus menolaknyaaa, kalian belum terikaaattt, dan tidak akan pernahh, mengertilahhh!! "


"Apa maksudmu terikatt, bagaimana mungkin aku bisa menolak wanita yang aku cintaaaiiii jawabbb!! "


"Kalian belum terikat dan tidak akan pernah terikat"


"Hentikaaannnn, aku akan membunuhmu Alberth hahhhh..."


Ketika Erick marah dan mengangkat salah satu tangannya biksu Suci datang menghampirinya.


"Salam buat kalian, hmm bisakah jernihkan pikiran kalian berdua, Renata akan berlatih mengendalikan kekuatannya, mari kita bantu dia"


"Baik biksu Suci, tapi entahlah dengan vampir satu ini"(telepati Alberth dengan biksu suci)


"Erick, ada kabut hitam didalam tubuhmu, ulurkan tanganmu"


Erickpun mengulurkan tangannya dan biksu suci dengan kekuatannya mengeluarkan semua kabut hitam dari tubuhnya dan membuat Erick semakin kuat dan segar.


"Terima kasih biksu aku tidak akan melupakan hal ini, aku berhutang nyawa"


"Hmm, tidak ada kebaikan yang mengharapkan imbalan, kebaikan adalah keiklasan dan kedamaian dihatimu adalah balasannya"


"Biksu kenapa harus menolongnya dia musuh kita"(Alberth bertelepati kepada biksu)


"musuh adalah kawan jika kalian meniadakan perselisihan. Kalian pasti sangat lapar kan? Ana sudah menyiapkan kalian makanan, dan ada darah segar untukmu Erick, tadi penduduk disekitar sini menyembelih ternaknya dan Ana meminta darah ternak itu untukmu."


" ayo kalian makanlah! Kalian pasti lapar bertengkar terus sepanjang malam membuatku tidak bisa tidur saja...sungguh menyebalkan"


Ana mengantarkan nampan berisi makanan dan teh ke teras kemudian memberikan teko berisi darah segar ke Erick.


Setelah itu kembali membantu Renata untuk bersiap memakai baju besinya.


Setelah selesai bersiap dan sarapan Renatapun keluar dari pondok tanpa menatap ketiga pengawalnya dan langsung menuju kesebuah bukit untuk berlatih mengendalikan kekuatannya bersama para biksu.


Renata menggunakan kekuatannya dan mencoba mengendalikannya.


Badannya yang semula biasa berubah lebih berotot dan kuat bahkan dia bisa melompat dengan tinggi.


Sekali tebasan pedangnya mampu membuat pohon- pohon terbelah.


Bahkan Renata mampu mengalahkan beberapa biksu yang menyerangnya hanya dengan beberapa pukulan dari kepalan tangannnya.


Melihat perubahan Renata Erick sangat senang dan tersenyum. Tetapi tidak untuk Alberth dan Thomas.


"Hahaha, sekarang lihat Thomas kekuatannya lebih hebat darimu, bagaimana kau melindunginya, justru kau yang akan dilindungi wanita, memalukan"


"Ericccck, jangan pernah memancing kemarahanku kulit hantuuuu!! "


"Erick hentikannn! cukup kau mengganggu Renata! (Alberth bertelepati kepada Erick)


Disaat mereka bertiga saling memaki, Renata tiba-tiba berteriak dan mengeluarkan cahaya api yang sangat besar hingga membuat tanah bergetar.


Udara yang semula semilir berubah menjadi angin kencang yang ganas.


"Biksu apa yang terjadi"(Telepati Alberth)


Erickpun dengan cepat berjaga disekitar Renata.


Kekuatan Renata yang meluap perlahan- lahan mereda dan masuk kembali kedalam tubuhnya.


Biksu Suci tersenyum melihatnya.


"Renata sudah bisa mengendalikan kekuatannya"


"Apaa"(telepati Alberth)


Saat kekuatan Renata sudah menghilang kembali ke tubuhnya, Renata perlahan membuka matanya, Renata terdiam dan memandang kearah Erick.


Erick terkejut dan berdiri tegak dengan nafas yang terdengar keras dan mata Erick bercahaya sangat terang membalas tatapan Renata.


Renata berjalan semakin lama semakin cepat menghampiri Erick dan langsung menciumnya dengan dahsyat begitupun dengan Erick yang selama ini ditahannya.


Akhirnya Erick menggendong Renata dan membawanya pergi secepat kilat dan mereka menghilang.


"Ericccccckkkkkkk, apa yang kamu lakukannn kurang ajarrr"(Thomas)


"Biksu kenapa seperti ini"(Telepati Alberth)


"Hentikan! kalian harus menerimanya, mereka berdua ditakdirkan bersama, mereka adalah cinta biru dan rudolf yang terpisahkan, tiada yang bisa merubah takdir, relakan dia, kalian harus membantunya tanpa membawa perasaan apapun"


Mendengar perkataan sang biksu,Thomas terjatuh lemas dan kembali berdiri kemudian berlari mengambil kudanya dan menungganginya dengan sangat kencang dan pergi jauh.


Sementara Alberth hanya memandang dengan tatapan kosong dan mengucapkan salam kepada biksu Suci kemudian pergi meninggalkan kuil.


Erick begitu erat mendekap Renata dan membawanya sampai kesebuah mercusuar dan mereka saling berpelukan meluapkan kerinduan.


"Renata kenapa lama sekali aku tidak bisa menahannya, jangan menangis lagi hentikan air matamu"


"Maafkan aku Erick, aku hanya sedih melihat masa laluku"


"Aku akan selalu berada disisimu Renata gadis kecil"


"Jangan...aku sekarang bukan gadis kecil.. awas ya"


"Kamu gadis kecil yang menggairahkan"


Merekapun saling berpandangan dan Erick membelai lembut rambut Renata.


Nafas Erick mulai tak terkendali. Renata tersenyum dan langsung mencium Erick hingga Erick sudah tidak bisa menahan gairah vampirnya lagi, tetapi Erick teringat dengan ucapan Alberth bahwa dirinya harus terikat jika ingin melakukannya dengan Renata.


"Hah Terikat"(ucap Erick dalam hati)


Erickpun menghentikan ciuman Renata dan membelainya. Kemudian Erick membawa Renata ke tingkat atas mercusuar sehingga sang rembulan terlihat lebih jelas keindahannya.


"Renata, maukah kau menikahiku"


"Erick"