Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
BAB 13 : Patah Hati



Sambil berlari kencang tanpa arah Alberth terus melangkahkan kakinya melewati bangunan kota yang berkerlap kerlip menerangi gelapnya malam.


Semakin lama kerlap kerlip itu semakin menjauh darinya hingga tak nampak satupun dan digantikan dengan kesunyian yang gelap dikelilingi pohon - pohon berakar besar dengan hanya ada suara burung hantu.


Albertpun tidak menyadari dimana dia berada sekarang. Kegelapan di sekitarnya seakan menggambarkan hatinya yang menghitam. Begitu terasa sakit seolah tertusuk tusuk oleh pedang hingga Albert berteriak sekuat tenaganya dengan suara yang hanya bisa dia keluarkan dalam hatinya.


Rasa sakit itu telah mengambil tenaganya hingga kakinya tidak kuat untuk melangkah lagi. Albertpun terduduk di atas tanah yang basah dengan kepalanya yang tertunduk. Entah berapa banyak air mata yang keluar dari matanya hingga membuatnya sayu.


Alberth menangis tiada henti dan berkali-kali mengepalkan dan memukulkan tangannya ketanah hingga bergetar dan retak.


Air hujan pun seakan merasakan sedihnya hingga mengguyurnya dengan deras. Dengan lunglai Alberth mencoba berdiri dan berjalan pelan masuk kedalam sebuah taman yang dengan sedikit penerangan dari sinar kunang- kunang yang berterbangan diatas bunga- bunga.


Albertpun menghentikan kakinya dan kembali terduduk dengan pikiran yang kosong . Suara hujan yang telah berhenti berganti dengan suara desiran angin dingin yang menusuk.


Sementara Erin dikamarnya sedang meminum darah dengan memandang luar jendela kamarnya.


" Tok..tok..maaf nona Erin bolehkah aku masuk?" Tanya Felishia sambil tergesa- gesa.


" Ada apa felishia...kenapa kau mengganguku? Bukankah sudah kukatakan aku ingin sendiri" jawab Erin dengan dingin.


Felishia yang memberanikan diri melawan perintah majikannya dengan menggangu waktu Erin, dengan cepat mengatakan sesuatu yang sangat penting.


" Nona, Alberth ada di taman yang sering nona datangi, dia sendirian kali ini."


Mendengar hal itu Erin melepaskan gelasnya dan segera berlari menuju taman. Ini kesempatan buatnya untuk bertemu dengan Albert. Rasa rindu terpendam yang sangat dia rasakan kepada Alberth akan segera terobati begitu yang dia pikirkan . Felishia pun mengikutinya dari belakang dengan membawa beberapa pengawal.


Sesampai ditaman itu Erin bersembunyi dibalik pohon menatap Alberth yang sedang sedih dan terus menangis. Wajah Erin tersenyum melihat Alberth yang kali ini ada didepannya seakan ini hanyalah mimpi. Erin terus menatap Alberth tanpa berkedip. Tubuhnya seakan berteriak ingin sekali memeluknya dan melepaskan rindunya.


" Apakah dia datang sudah menangis Felishia??, kenapa dia seperti itu? apa karena Renata menemui Erick??"


Erin dengan penuh penasaran bertanya kepada Felishia, masih dengan menatap Alberth.


" Benar nona, Alberth melihat tuan Erick bersama Renata" dan .....kemudian felishia menghentikan ucapannya.


" kenapa kau berhenti....katakan apa yang kau lihat!" Tanya Erin.


" Renata sudah menyerahkan dirinya kepada tuan Erick." Jawab felishia


Mendengar hal itu Erin tersenyum. Dia berfikir pasti Alberth tidak akan mau berharap kepada Renata lagi.


" Kakakku sangat tidak tahu diri, tapi biarlah selama menguntungkan untukku aku tidak akan peduli dengan siapapun asal aku bisa bertemu dan bersama Alberth. Tugasmu mengikuti mereka kamu lakukan dengan baik felishia, aku akan memberikanmu hadiah sebagai imbalannya."


Erin berkata kepada Felichia dengan senyuman sinisnya. Ternyata setelah Erin menemui kakaknya dia memerintahkan Felishia untuk mengikuti mengawasi Erick karena dia yakin Renata pasti akan datang membebaskannya.


" Untung aku tidak membebaskan kakakku saat itu , jika aku melakukannya mungkin saat ini aku tidak bisa bertemu dengan Alberth."


Erin yang terus memandangi Alberth akhirnya berencana untuk menghampirinya.


" Felishia berjagalah tapi jangan menampakkan dirimu, aku akan menghampiri kekasihku Alberth."


" Baik nona ."


Felishia dengan membungkukkan badannya meninggalkan nona Erin dan berjaga dibalik pohon bersama beberapa pengawal Erin.


Erin berjalan pelan memasuki taman itu kemudian menghampiri Alberth dan memanggilnya.


" Alberth, ini Erin, masih ingatkah kau kepadaku? aku Erin yang selalu bersamamu sewaktu kita sama-sama bersekolah musik dulu, aku yang selalu menyayangimu dan menemanimu dulu, kita selalu bersama berdua dan tertawa. Bahkan kita berciuman waktu itu ditaman ini tidakkah kau ingat aku Alberth."


Erin yang menghampiri Alberth dengan pelan dan berbicara padanya untuk mengingatkan kebersamaan mereka dimasa lalu yang tidak pernah terlupakan bagi Erin.


Alberth tiba-tiba mengangkat kepalanya yang awalnya tertunduk dan melihat kearah Erin dengan sorotan matanya yang sayu, dan kemudian Alberth berdiri berjalan menghampiri Erin lalu menariknya secara tiba-tiba dan mencium Erin.


Erin terkejut dan memejamkan matanya menikmati ciuman Alberth yang selama ini dia impikan.


Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi Erin. Ketika Erin menikmati ciuman Alberth, Erin terkejut saat Alberth melepaskan ciumannya dan kemudian memeluknya dengan erat, Albert memanggil dirinya dengan nama Renata melalui pikirannya dan tentu saja Erin yang bisa mendengar apa yang diucapkan Alberth didalam hatinya sangat kaget.


" Renata aku mencintaimu. jangan kau tinggalkan aku, aku mencintaimu Renata. "


Mendengar hal itu Erin mengeluarkan air mata dan mencoba melepaskan dirinya dari pelukan Alberth. Tapi alberth terus menahan pelukakannya hingga Erinpun dengan wajah yang penuh dengan kekecewaan menahan amarahnya hanya terdiam membiarkan Alberth terus memeluk dirinya walaupun Erin tau bahwa Alberth mengira dirinya adalah Renata. Setidaknya Erin bisa berada didekatnya dan merasakan aroma tubuh Alberth.


Secara perlahan Alberth melepaskan pelukannya dan tertunduk didepan Erin dengan pandangan yang kosong dan air mata yang terus mengalir tiada henti.


Pelan - pelan Albert menaikkan kepalanya dan membuka matanya dengan lebar, betapa terkejutnya saat melihat yang berada di depannya adalah salah satu keluarga Erlion.


Dengan tatapan penuh kebencian Alberth langsung mendorong Erin dengan kuat hingga Erin terpental.


Tanpa bisa mengeluarkan kata- kata Albert mengepalkan tangannya dan menatap dengan tajam kearah Erin.


Erin yang berteriak kesakitan hingga tubuhnya mengeluarkan darah berusaha untuk berdiri dan mencoba menghampiri Alberth kembali. Setelah dirinya semakin mendekat, Albert mendorongnya kembali hingga Erin terpental berkali-kali dan semakin terluka.


Melihat hal itu Felishia dan beberapa pengawalnya berusaha menghampiri Erin dan memerintahkan para pengawal untuk menghadapi Albert, tetapi Erin mencegahnya dan menyuruh Felishia pergi.


" Jangan ikut campur Felishia..pergilah" perintah Erin.


Alberth yang melihat Felishia beserta pengawalnya semakin marah dan menyerang mereka dengan kabut hitam kekuatannya.


Sebelum kekuatan Albert membesar dan menghabisi Felishia beserta para pengawalnya, Erin segera bertindak.


Erin menggunakan kekuatannya dengan memandang Alberth. Mata Erin seketika berubah menjadi abu muda yang bersinar dan dengan kekuatan pikirannya membuat Alberth terjatuh dan merintih kesakitan merasa terbakar.


Erinpun segera menyuruh Felishia dan para pengawalnya untuk pergi agar tidak terbunuh oleh Alberth.


" Alberth aku memang bukan Renata, tidakkah kau ingat kepadaku Alberth! " Erin yang masih berusaha mengingatkan Alberth tentang masa lalunya dengan Erin.


" Erin kenapa kau mau membunuh Renata, jika kau lakukan itu aku akan membunuhmu, sekarang pergilah dari sini!! jangan pernah menemuiku lagi kau bukan apa-apa bagiku!!! "


Ucap Alberth dalam pikirannya yang membuat Erin semakin meneteskan air matanya.


" Alberth, aku mencintaimu dan kau tahu itu, aku tidak akan membiarkan wanita manapun mendekatimu, aku akan membunuh mereka semua termasuk Renata, tidakkah kau sadar dia sudah menjadi milik Erick sekarang, dia sudah menyerahkan dirinya kepada Erick, sadarlah Alberth hanya aku wanita yang mencintaimu!!! " Erin dengan teriak dan terus mengeluarkan air mata berusaha membuat Alberth luluh hatinya.


Mendengar perkataan Erin malah membuat Alberth semakin marah dan menghancurkan semua yang ada disekelilingnya. Lalu Alberth mengeluarkan senjatanya kabut hitam tepat disebelah Erin.


" Erin, dengarkan aku kali ini baik-baik.... aku akan melepaskanmu, aku tidak mau mengingat masa lalu kita, ingatlah jika kamu menyentuh Renata walaupun hanya diujung kukunya aku akan membunuhmu dan semua keluargamu, ingat itu baik-baik Erin, aku hanya mencintai Renata!!"


Ucap Alberth dalam hatinya dan kemudian Alberth berlari cepat pergi meninggalkan Erin.


'' Tiiidaaaaakkkkk, aku membencimu Renataaaaa!! Kenapa kau harus ada diantara aku dan Alberth!!"


"Alberth aku mencintaimu...kembalilah."


Erin berteriak dan tertunduk dibawah dengan kedua tangan yang memegang tanah sambil mengepal. Air matanya terus menetes disertai rasa sakit didadanya yang teramat dalam.


" Felishiaaaaaa, carilah Renata dan bunuhlah dia sekarang, cepatttttt!!! ''


Felishia membungkuk didepan Erin dan beberapa pengawalnyapun langsung pergi secepat kilat dan mencari keberadaan Renata dan Erick.


Sementara itu dihutan disekeliling rumah Renata , Thomas terus merasa gelisah mencoba bertelepati dengan kakaknya. Tapi entah kenapa seakan Alberth sulit sekali ditemukan seakan alberth menutup diri hingga siapapun tidak bisa mengetahui keberadaanya.


" Dimana kau kakak...kenapa aku tidak bisa merasakanmu? apa yang terjadi padamu?"


Beberapa lama kemudian sebuah mobil hitam masuk dihalaman rumah dan berhenti tepat di depan rumah Renata.


Terlihat sang sopir segera keluar dari mobil dan segera membukakan pintu mobil untuk tuannya.


Seseorang yang begitu tegap dan gagahnya berpakaian hitam dengan wajah yang sudah tidak muda lagi berdiri dan berjalan menuju pintu . Para pelayan segera menyambutnya dan mengantarkannya untuk masuk ke dalam rumah.


Ayah Renata tampak kegirangan dan segera memeluk laki- laki itu. Ibu renatapun merasa lega akan kedatangannya dan langsung ikut memeluknya.


'' Paman , akhirnya kamu datang. " ucap tuan Rudolf kepada laki- laki itu


'' Kita harus segera menemui biksu itu jika tidak semua akan terlambat.'' ucap laki- laki itu.