Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
BAB 34 : Kedatangan Edwind



Setelah menyelamatkan Thomas dari serangan Edward, Alberth terluka cukup parah.


Thomas membawa kakaknya menuju pondok kecil tempat tinggal Thomas setelah masa bergurunya dengan biksu suci selesai.


Pondok itu tidak jauh dari rumah orang tua Renata yang berada di tengah hutan.


Karena setiap saat Thomas harus mengawasi Renata tanpa harus diketahui oleh Renata sampai pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun saat Renata menuju SMA Erlion.


Didalam pondok itu Alberth terbaring lemas menahan lukanya.


Thomas berusaha menyalurkan tenaganya untuk menyembuhkan Alberth, tetapi tubuh Thomas juga terasa lemas dan tidak punya cukup tenaga lagi.


Thomas hanya bisa menyuapi kakaknya dan menjaganya semalaman.


"Kakak, kau harus pulang...lukamu tidak membaik. Dokter harus memeriksamu!"


Alberth tersenyum dan berkata kepada adiknya dengan bahasa isyarat dari tangannya.


"Iya kakak, aku tau.lukamu itu tidak bisa disembuhkan oleh dokter manapun karena kabut hitam. Tapi aku tidak berdaya melihatmu menderita seperti ini apalagi karena diriku"


Alberth kembali tersenyum dan memeluk Thomas, semakin membuat Thomas sedih.


"Kakak..bertahanlah...maafkan aku kakak aku tidak bisa membantumu"


"Renata..kau masih mengkawatirkan aku..aku merasakan kau akan datang..aku merindukanmu Renata.." ucap Alberth dalam hati.


Renata masih berusaha merayu Erick didalam mobilnya.


" brukkk...bruaakkkkk"


"Erick...aku sudah memberimu hadiah Erick hentikan tanganmu geli Erick..sudah Erick hentikan ciumanmu..kau sudah mencium seluruh tubuhku dari tadi lihat mobil kita...Erick..."


"Ahhh...Istriku aku tidak akan pernah bisa berhenti hehe...apaa mobil kita hancur?...emmm sepertinya begitu"


Mereka keluar dan mobil yang sudah terbelah menjadi dua.


"Ohhh tidakk..(memegang kepalanya)maafkan aku istriku...aku tidak sengaja.."


"Hifff....benar kata ibuku suamiku memang hewan buas..buas semuanya..sekarang tidak kumaafkan.."


Renata memalingkan badannya dan menyilangkan kedua tangannya didadanya.


Melihat istrinya yang marah, Erick memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepalanya dipundak Renata.


"Istriku..maafkan yaa...baiklah aku akan mengijinkan kau merawat Alberth "


"Kamu pasti bohong...janji tidak membentak Alberth ya..."


"Vampir selalu menepati janji..tepatnya hewan buas.."


"Alberth..bertahanlah aku datang.."


"Erick ayo cepat gendong aku...kita harus cepat.."


"Sesuai permintaanmu tuan putri.."


Erick menggendong Renata dan berlari secepat kilat menuju pondok tempat Alberth dan Thomas sesuai dengan arahan Renata.


Erick menurunkan Renata di depan pagar sebuah pondok.


Pondok itu tidak terlalu rapi, terlihat dari ilalang yang meninggi mungkin karena sang empu meninggalkannya terlalu lama.


Renata membuka pagar dan berjalan mendekati pintu. Erick mengikuti dengan menundukkan kepalanya.


"Ceklek..(suara pintu terbuka)...Alberth...Thomas"


Renata masuk kedalam dan melihat mereka berdua dengan mata yang berkaca-kaca.


"Renata..apa benar ini dirimu?"


Thomas berdiri dari duduknya dan menatap Renata seakan tak percaya.


Alberth yang sudah merasakan kedatangan Renata tersenyum dan meneteskan air mata dengan terbaring.


"Iya Thomas ini aku....apakah Alberth terluka? Boleh aku melihatnya?"


"Tentu saja Renata, kakakku sudah menantikanmu"


Renata berjalan ke arah Alberth dengan menangis.


Dirinya begitu sedih melihat keadaan Alberth yang terbaring lemah.


Erick yang menunduk dibelakang Renata memalingkan wajahnya dengan mata yang bersinar menahan emosinya.


"Apa yang terjadi Alberth, kenapa kau seperti ini...kenapa kau menghalangi penglihatanku untuk menemukanku?"


Renata melakukan telepati kepada Alberth


"Aku tidak mau merusak hari bahagiamu dengan vampir sialan itu"


"Maafkan aku Alberth, aku akan membantumu menyembuhkan lukamu"


"Thomas, dudukkan kakakmu! aku akan memberikan tenagaku padanya"


Thomas mengangkat kepala Alberth dan membantunya untuk duduk.


Mata Renata mulai menyala merah seperti api. Tangannya mengeluarkan listrik, perlahan disentuhlah luka Alberth.


Alberth merasakan kesakitan yang teramat seolah sebilah pedang menusuknya. Perlahan bercak hitam ditubuhnya keluar dari pori-pori kulitnya dan menghilang terkena sengatan listrik tangan Renata.


"Argghhhhhh...." Alberth


"Bertahanlah kakak" Thomas merasa cemas.


Tak lama Renata menghentikan kekuatannya dan Alberth menunduk lemas di pelukan Renata.


"Dasar tidak tau malu..berani nya dia mengambil kesempatan sama istri orang..cih" Erick menatap dengan matanya yang bersinar.


Thomas juga merasa cemburu melihat kakaknya mendapatkan perhatian Renata kemudian dirinya juga berpura-pura sakit.


"Renata, apa kau hanya peduli dengan kakakku saja? Aku juga terluka oleh mertuamu itu. Harusnya anaknya meminta maaf pada kami"


Thomas melirik sinis Erick. Dan Ercik pura -pura tidak mendengar dengan bersiul dan memalingkan wajahnya.


Renata merebahkan Alberth lalu mendekati Thomas dan memegang pipinya.


"Maafkan akuThomas..kau juga sangat pucat nanti aku juga akan merawatmu"


"Hmmm....aku hanya berjanji untuk satu orang saja ya istriku" Erick mengingatkan janjinya kepada Renata.


"Dasar...kakak adik sama saja tidak tahu malu" Erick dalam hati.


"Erick kita harus pergi dari sini..kita kerumah lama..ayo Erick jangan diam saja.."


"Lalu kita naik apa istrikuu..apa aku harus menggendong mereka juga?"


Erick mengucap kata istriku dengan kencang sambil melirik kedua kakak beradik itu.


"Erick, akukan sudah bilang jangan kau rusak mobil kita...lalu bagaimana ini?"


"Ada kudaku..Renata naik kuda denganku.." Thomas.


"Rambut wanita jangan berani-berani mengambil keuntungan darinya dasar...."Erick


"Sudahlah..kamu benar Thomas.."Renata


"Apa..." Erick


Thomas tersenyum sinis sambil melirik Erick.


"Aku dan Thomas akan naik kuda dannn..."


"Istriku...(menggeleng-gelengkan kepalanya)...jangan ucapkan.."


"Erick...kau kan sudah berjanji padaku...ayo..cepat"


Alberth bertelepati dengan Erick.


"Aku tidak menginginkan hal ini Erick..kau jangan salah paham..aku tidak mau kau sentuh...tapi aku melakukannya demi Renata"


"Istrikuu.....nyonya Erick..camkan itu Alberth"


"Hahah...aku tidak peduli..aku tetap pada pendirianku dan kau merebutnya dariku.."


"Merebutnya haha...hanya aku cinta sejatinya jangan konyol kau Alberth.. "


"Erickk...cepat lah bawa dia ayo jangan diam saja..Alberth bertahanlah.." Renata.


"Ahh....tenangkan dirimu Erick..." Erick


Dengan wajah yang sadis Erick membopong Alberth dan pergi secepat kilat menuju kerumah lama Renata.


"Thomas bisakah kau menghubungi rumahku agar mereka mengirimkan beberapa obat-obatan, selimut dan pakaian.."


"Apapun keinginanmu gadis mungil...akan aku kabulkan.."


Thomas segera menyambungkan kabel telepon di pondoknya yang lama tak terpakai dan menghubungi ibunya.


"Kenapa kalian tidak menghubungi bibi Aelin lebih awal?"


"Kakakku tidak mau membuat ibu kawatir. Tapi sekarang kakak sudah tidak kritis lagi jadi ibuku tidak perlu terlalu kawatir...ayo kita brangkat"


Thomas dengan senyum bahagia naik kuda bersama Renata. Lalu mereka mengendarai kuda dengan sangat kencang


**********************************


Di kediaman Tuan Reynald, bibi Aelin melaporkan kepada nyonya Elena jika Thomas mengabarkan kalau Renata membutuhkan obat-obatan, selimut, dan beberapa pakaian.


"Apaaa..! Renata..! kenapa dia bersama Thomas, dan dimana suaminya...ahh suamiku lihatlah baru beberapa hari hewan buas itu sudah melukai anak kita...kenapa Renata tidak pernah mengabariku?"


"Prang....."


"Maaf nyonya yang sakit adalah Alberth...bukan nona Renata.."


"Alberth? apa maksudmu bibi?"Reynald


"Alberth terkena serangan Edward dan Renata menolongnya.." bibi Aelin.


"Bibi jelaskan yang benar kenapa kau..." Elena.


"Istriku...tidakkah kau lihat bibi sangat ketakutan mendengar anaknya terluka.."Reynald


"Ahh...maafkan aku bibi..tapi aku juga takut apalagi mendengar nama Edward...lagipula putriku sudah lama tidak mengabariku"Elena.


"Sayang, bagaimana Renata mengabari kita? Mereka kan tinggal di tengah hutan tidak ada telpon dan sinyal disana"Reynald


"Maaf nyonya dan tuan bagaimana kalau kita segera mengirim semua permintaan nyonya Erick" bibi Aelin.


"Nyonya Erick?....hmm...aku harus menerimanya..tenangkanlah dirimu Elena..ahh ini sungguh menyebalkan.." Elena


"Cepatlah siapkan dan kirim semuanya, bibi Aelin.." Reynald


"Baiklah tuan, nyonya.." bibi Aelin


Akhirnya bibi Aelin menyiapkan semua dan menyerahkan kepada para pengawal untuk segera menyerahkan kepada Renata.


******************************************


Saat Thomas menunggang kudanya dengan Renata, tiba-tiba terhenti karena Edwind dan beberapa pengawalnya menghadang mereka.


"Thomas hentikan..Edwind..dia ada didepan kita.."


"Kurang ajar mau apa dia.."


"Tenanglah Thomas biarkan aku turun menyelesaikan masalah ini.."


"Tapi Renata dia sangat berbahaya.."


"Percayalah padaku Thomas.."


Renata turun dari kuda Thomas dan benjalan mendekati Edwind.


Erick yang sedang membawa Alberth tiba-tiba menghentikan langkahnya saat mata batinnya melihat kakeknya menghadang Renata.


"Kakek..gawat Renata dalam bahaya..Alberth tinggallah disini aku akan menghampiri Renata ,kakekku menghadangnya.."


Alberth bertelepati dengan Erick.


"Jangan...aku ikut..Renata butuh bantuanku.."


"Jangan konyol Alberth kau terluka parah..sudahlah berbaringlah disini aku harus cepat menyusul Renata dan mencegah kakekku melukainya.."


"Erickkkk..jangan pernah berani meninggalkanku. aku kuat dan masih bisa..."


"Alberth...tunggulah disini.."


"Errricckkk....ahh sakit sekali..Renataaaaaa..."


Erick secepatnya menyusul Renata.


Edwind tersenyum sinis memandang Renata dari kejauhan. Pattinson, Edward, dan beberapa pengawalnya nampak berdiri dibelakangnya.


"Edwind apa maumu...kenapa kau membawa semua pasukanmu..tidakkah kau punya nyali menghadapiku sendiri..ternyata kau penakut.."


"Hahaha...Renata..aku tidak bisa membangkitkan tuan besar..jika kau harus kukorbankan itu akan aku lakukan.."Edwind


"Tidak bisaa? kau sudah mendapat darahku Edwind apa maumu.."


"Mauku...haha..kau tahu mauku adalah kau lenyap Renata beserta seluruh keluargamu..Rudolf" Edwind


"Renata ijinkan aku menghajarnya.." Thomas


"Tunggu Thomas tahan amarahmu.." Renata


"Menghajar kami..hahahahaha..mengelikan sekali..Thomas-Thomass...tidakkah kau lihat kakakmu hampir mati..apa kau mau menemaninya..hahaha" Edward


"Kurang ajar.."


Thomas mulai mengeluarkan api dari sepasang gelangnya.


"Thomas tenanglah..jika kau tidak bisa tenang pergilah dari sini.."Renata


"Ahh..sialan (Api mulai hilang dan kembali masuk kedalam gelangnya).." Thomas


"Edwind...kau menginginkan aku..atau darah yang aku berikan masih kurang?"


"Hahaha...pengawal serang dia dan bawa semua darahnya padaku.." Edwind


Para pasukan kabut hitam mulai menyerang Renata, saat serangan itu mengarah ke Renata, Erick dengan cepat menangkis dengan pedang cahayanya hingga lenyap.


"Rasakan ini...."


"Tang..prang..."


"Plok...plok..plok..(menepukkan kedua tangannya)...cucuku yang terkuat..akhirnya kau datang..kenapa kau tidak mengundang kakek dan ayahmu dihari pernikahanmu..tidakkah itu sangat menyakitkan kami cucuku.." Edwind


"Aku tidak butuh siapapun dari kalian untuk datang...kenapa kalian menghadang kami..ayah jelaskan.."Erick


"Erick jaga bicaramu...kau adalah Erlion dan tidak ada yang bisa merubahnya"Edward


"Aku memang Erlion tetapi aku tidak mau menjadi jahat seperti kalian..!"Erick


"Erick..jaga ucapanmu...dasar anak tidak tau diri"


Edward mengeluarkan senjata kabut hitam dari tangannya ingin menyerang Erick.


Melihat serangan Edward ke Erick, Renata langsung menghalanginya dengan kekuatan yang sudah bisa dikendalikannya.


Renata mengarahkan tangannya yang mengeluarkan listrik merah ke arah Edward dengan sekali hentakan membuat Edward terpental sangat jauh.


"Ahhh....hah..(merintih kesakitan dan Pattinson menolong Edward) "


"Renata aku akan membalasmu.."


Edward


Mata Renata menjadi merah dan tangannya mulai mengeluarkan sengatan yang siap menyerang Edwind dan pasukannya.


Erick dan Thomas berusaha menghadang Renata yang tetap berjalan mendekati Edwind.


"Renata...istriku hentikan! kemarilah sayang..jangan berjalan lagi...Renataa..(berteriak).."Erick


"Renata....cepat berhenti..."Thomas


Renata tetap berjalan mendekati Edwind Erlion dengan tatapan yang sadis.


"Edwind Erlion...apa maumu cepat katakan..aku bisa membunuhmu sekarang juga! Apa itu maumu? kau tau lawanku hanya tuan besar...kau bukan tandinganku, dengan mudah aku bisa melenyapkanmu.." Renata


"Tuan sepertinya ini bukan saat yang tepat.."Pattinson


"Renata..aku membutuhkan darahmu lebih banyak lagi karena aku tidak bisa membangkitkan kakakku.."Edwind


Renata menatap mata Edwind untuk mengetahui apa yang terjadi. Mata Renata mulai memasuki pikiran Edwind.


Saat Edwind dan Edward hendak membangkitkan tuan besar, ritual mereka tidak berhasil.


Mereka masih membutuhkan darah sejati dan sedarah agar ritualnya berhasil.


Setelah mengetahuinya, Renata memasukkan kembali kekuatannya dan menatap tajam Edwind.


"Ternyata kalian para vampir bodoh.." Renata


"Kamu pikir aku takut denganmu Renata..itu tidak akan pernah terjadi.." Edwind


"Hahaha..dasar bodoh..kalian tahu kenapa ritual kalian gagal?" Renata


Renata kembali berjalan mendekati Edwind.


"Renata sudah cukup jangan mendekat.."Erick


"Renata apa yang kamu lakukan...berhenti.."Thomas


Renata tetap mendekati Edwind hingga berjarak 1 meter dan saling bertatapan sinis.


"Darah sejati dan sedarah itu darahmu sendiri Edwind..kau adalah sejatinya kakakmu dan sedarah karena kalian bersaudara..berikan darahmu dengan begitu kakakmu akan bangkit dan aku akan menemuinya..cepat lakukan jangan membuat aku menunggu.."


Mendengar perkataan Renata, Edwind menatap sinis dan berbalik memerintahkan pengawalnya untuk pergi kembali kekastil Erlion.


"Ayo kita kembali.."Edwind


"Baiklah ayah.."Edward


"Baik tuan.."Pattinson


Akhirnya Edwind, Edward, Pattinson dan semua pengawalnya pergi meninggalkan Renata.


Telepati Edwind dengan Renata.


"Renata tunggulah...kau akan hancur dengan seluruh keluargamu..Rudolf"Edwind


"Aku menunggumu Edwind..cepat bangkitkan kakakmu agar bisa segera aku bunuh.."


"Hahahaha....hari kematianmu semakin dekat Renata.."


" hanya dalam mimpimu, Edwind"