Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
BAB 22: Mencari Tahu



Dikuil lembah hitam para biksu masih terus membaca mantranya. Cahaya kekuningan yang keluar dari tubuh Renata tiba- tiba berubah menjadi kemerahan seperti percikan api.


Mata yang sebelumnya terpejam seketika membelalak berwarna kemerahan. Emosi Renata meluap saat dia melihat tuan Erlion melepaskan tembakannya ke arah Rudolf.


" Tenanglah Renata...kendalikan dirimu...masih banyak yang harus kau lihat...kendalikan kekuatanmu"


Biksu suci masih dengan duduk bersila menggunakan kekuatan pikirannya untuk menenangkan Renata.


Dirinyapun semakin mengeluarkan cahayanya yang melindungi Renata dari kekuatannya sendiri.


Perlahan Renata kembali menutup matanya dan percikan cahaya merah yang keluar dari dalam tubuhnya memudar kembali menjadi cahaya kekuningan.


Renata yang masih memasuki dimensi masa lalu dengan tubuhnya yang masih tertembus mengikuti Erlion menuju kamarnya untuk mengetahui rencananya.


" Darah, hmmm jika aku meminumnya aku bisa menjadi terkuat dan bisa melakukan apa saja, aku harus mencarinya "


Ketika Erlion memikirkan cara mencari darah tuan muda, Biru mengetuk pintu kamarnya.


"Tok,.......tok......tok"


"Erlion kau ada didalam ini Biru ayo kita makan malam"


"Pergilah aku masih ada perlu"


Ucap Erlion yang tidak menghiraukan Biru dan masih tersenyum sendiri dengan rencananya.


"Hmm, kenapa dia seperti itu, baiklah aku tunggu kau kebawah"


Birupun meninggalkannya menuju kebawah untuk makan malam.


Erlion tidak memperdulikan Biru dan masih memikirkan cara untuk mencari tempat darah tuan muda.


" Bagaimana cara mencarinya..( sambil memegang keningnya dan menunduk)


" Iya hanya dia yang bisa melakukannya, aku akan menghubunginya"


Erlion akhirnya menelepon seseorang untuk membantunya.


" Besuk temui aku, aku akan membayarmu mahal, segera!"


Dengan wajah yang sinis dan tersenyum sendiri Erlion tidak sabar ingin segera menyusun rencananya.


Erlion tidak bisa tenang dan selalu penasaran dengan legenda darah tuan muda, hingga diapun tidak bisa menunggu besuk dan menelepon seseorang itu kembali agar malam ini juga harus bertemu dengannya.


"Aku tidak bisa menunggu lagi ini membuatku marah, kita harus bertemu satu jam lagi dibar yang biasanya, dan aku tidak suka terlambat camkan itu!!"


Erlion menutup teleponnya dan segera mengambil jaketnya dan pergi dari rumah tanpa menyapa Biru bahkan orang tuanya sekalipun.


"Kenapa dengannya? apa kau tahu biru? "


Tuan Erlion sambil menikmati makan malam menanyakannya kepada Biru.


Sementara Biru juga sangat heran dengan kelakuan Erlion yang berubah menjadi sinis dan dingin bahkan dengan dirinya.


" Biru kenapa kau diam saja...jawablah tuanmu!! tunjukkan kesopananmu Biru!


lihatlah dia suamiku, seperti itu saja dia diam dan tidak peduli! "


Natasha marah atas sikap Biru, dan Birupun hanya menundukkan kepalanya.


" Sudahlah istriku jangan kau bentak terus calon menantumu itu. Erlion mungkin ingin merasakan kebebasannya yang terakhir sebelum menikah, biarkanlah dia"


Tuan Erlion memegang pundak istrinya dan menahannya marah.


"Menantu katamu, hahahaha yang pantas adalah seorang putri bangsawan bukan anak yatim piatu miskin!! Jika bukan karena Erlion aku tidak akan mau, ahhhh sudahlah aku tidak lapar!! "


Natasha akhirnya menghentikan makannya dan berdiri berjalan menuju kamarnya.


"Habiskan makanmu Biru, dan pastikan anakku baik-baik saja, ahhh masalah ini membuatku sakit kepala! "


Tuan Erlion kemudian menyusul Natasha pergi kekamarnya.


Sementara Biru masih memikirkan kelakuan Erlion yang membuatnya curiga.


"Erlion kenapa kamu, apa yang terjadi, aku harus mengetahuinya"


Dengan pandangan yang penuh penasaran Biru memutuskan untuk mengikuti Erlion.


Biru kebingungan mencari cara melewati para pengawal yang berjaga.


Dari jendela kamarnya Biru melihat ada pohon besar yang mengarah keluar tembok pagar rumah Erlion. Segera biru memasukkan mantel hitam ke tas yang akan dia bawa.


Biru dengan diam-diam menaiki pohon yang berada dekat dengan jendela kamarnya dan perlahan menapaki dahan pohon yang besar yang mampu menyangga tubuhnya mengarah keluar pagar .


"Aku harus bisa, pohon ini tinggi sekali,aahhhh"


Tiba-tiba kakinya menumpu pada dahan yang patah dan pengawalpun hampir mengetahuinya.


Biru pun berhenti sejenak saat pengawal lewat dibawahnya. Dengan sangat berhati-hati akhirnya Biru mampu melewati dan melompat di atas tembok yang mengelilingi rumah besar itu.


Dari atas tembok biru turun ke bawah dengan berpegangan pada akar- akar tanaman yang merambat hingga kakinya menyentuh tanah.


Biru berlari dan menuju kearah bar karena dia yakin Erlion akan disana dan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Erlion.


Memang tempat itu sering mereka bertiga gunakan untuk berkumpul pada saat mereka masih berteman.


Biru masuk dengan menggunakan jubah hitam dan menutup kepalanya agar penyamarannya berhasil.


Dia pun duduk tak jauh dari Erlion hanya dibatasi rak bunga hingga bisa mendengar pembicaraan Erlion.


Akhirnya Erlion bertemu dengan seorang laki- laki berperawakan besar.


"Cari tau dengan cepat kuil lembah hitam dan darah tuan muda, aku akan membayarmu mahal, dan aku tidak suka terlalu lama menunggu"


Ucap Erlion sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Baiklah, tapi bayar dua kali lipat, bagaimana"


Sambil meminum bir pencuri itu membuat Erlion tertawa.


"Hahahaha, bagaimana jika dalam 2 hari kau bisa melakukannya aku akan bayar 3kali lipat"


Ucap Erlion sambil mengangkat salah satu alisnya dan meminum bir yang ada didepannya.


"Baiklah 5hari aku akan membawanya bayar aku 3kali lipat, jika kau tidak mau aku akan pergi"


Pencuri itu segera berdiri dan membalikkan badannya untuk pergi, tiba-tiba terhenti karena Erlion memanggilnya.


"Pattinson, kembali!!, baiklah aku akan membayarmu 4kali lipat 4hari, bagaimana? sudah cepat lakukan tugasmu!!, empat hari lagi temui aku dikamarku, akan aku buka jendela kamarku"


Pattinsonpun mengangguk dan segera pergi meninggalkan Erlion yang masih menikmati minumannya.


Pattinson adalah seseorang yang sangat ahli dalam hal mencuri. Erlion mengenalnya sejak lama karena Pattinson pernah menjadi pengawal pribadi ayahnya selama bertahun- tahun dan dipecat karena mencuri barang berharga ayahnya.


Erlion sangat tau keahliannya karena itu dia memintanya untuk mencari tau kuil lembah hitam dan darah tuan muda.


Mendengar pembicaraan Erlion dan pattinson, Biru sangat ketakutan dan segera berlari mencari keberadaan Rudolf.


"Apa yang akan dilakukan Erlion, kenapa dia melakukan ini, apa karena diriku, darah tuan muda yah aku sering mendapat cerita itu dari ibu angkatku dipanti asuhan, dan itu bukan legenda tapi kenyataan, vampir penghisap darah, aku harus mencari Rudolf"


Biru berlari dengan nafas yang terengah-engah hingga kakinya terluka.


Rumah Rudolf sangat dekat dengan rumah Erlion sehingga dengan mudah Biru menemukan Rudolf.


"Akhirnya aku sampai juga, tapi bagaimana aku memanggilnya? rumahnya sangat besar"


Dengan menoleh kekanan kiri, Biru akhirnya mengambil batu dan memutari rumah Rudolf yang sangat besar mencari jendela kamarnya.


Dan ternyata Rudolf melamun didepan jendela kamarnya dengan wajah yang sangat sedih.


Biru melihat dengan tersenyum bahagia akhirnya bisa bertemu pujaan hatinya dan segera memanggilnya.


"Rudolf, sssttttttt Rudoooollf, aku Biru!!"


"Biruuu, kaukah itu, kenapa kau ada disini? tunggulah disana aku segera datang"


Rudolf dengan cepat keluar dari rumahnya dan langsung memeluk biru melampiaskan kerinduannya.


"Aku merindukanmu cahayaku, aku sangat rindu"


Rudolf memeluk erat biru dan tidak melepaskan pelukan dan pandangannya kepada Biru.


"Aku juga merindukanmu, tapi Erlion dia akan melakukan hal yang sangat mengerikan"


Sambil memegang pipi Rudolf, Biru membuatnya penasaran.


"Mengerikan apa maksudmu? baiklah ayo menuju ketaman dirumahku disana lebih aman".


Mereka berjalan menuju taman dan duduk disana. Birupun akhirnya menceritakan semuanya.


"Jika ternyata legenda itu benar, ini benar- benar gawat apa yang harus kita lakukan"


Sambil membelai biru, Rudolf memikirkan sebuah rencana.


"Apa yang kau pikirkan Rudolf" tanya Biru.


"Sekarang pulanglah kerumah Erlion, ambillah apapun petunjuk tentang hal ini dengan diam-diam, aku akan datang mengalihkan Erlion"


Birupun menganggukkan kepalanya dan memeluk Rudolf. Mereka berciuman melepaskan kerinduan sehingga membuat Rudolf dengan sangat berat membiarkan Biru harus kembali kerumah Erlion.


"Berhati-hatilah cahayaku, tunggulah, aku tidak akan membiarkanmu menikahinya"


"Aku akan menunggu kekasihku"


Akhirnya merekapun melepaskan pelukan dan Biru segera kembali kerumah Erlion.


Rudolf memandangnya dengan perasaan khawatir yang luar biasa.


Pada waktu Biru sampai kerumah Erlion, Biru melihat pintu pagar dibuka karena Erlion datang dengan mobilnya.


Kali ini Biru menyelinap disaat mobil Erlion masuk kedalam rumahnya dan berhasil melewati pengawal dengan berlari menunduk dibelakang mobil Erlion.


Erlion keluar dengan cepat dari mobilnya dan langsung menuju kamarnya, tetapi langkahnya terhenti melihat kamar biru yang sedikit terbuka.


Erlionpun masuk dan mencari biru tapi tidak menemukan biru di kamarnya.


Sementara biru dengan cepat menuju keruang dapur mengambil segelas air dengan nafas yang terengah-engah sebagai alasan dia meninggalkan kamarnya karena kehausan, dan segera berlari keatas untuk masuk kekamarnya supaya Erlion tidak mencurigainya.


"Halo Erlion dari mana kamu, aku dari bawah mengambil air aku sangat haus"


Ucap biru yang mengejutkan Erlion kemudian masuk kedalam kamarnya.


"Aku hanya jalan-jalan, baiklah aku akan kembali kekamarku"


Erlion berjalan pelan meninggalkan kamar Biru karena curiga.


Disana dia melihat air minum yang sudah tersedia didalam kamar Biru lalu untuk apa mengambilnya lagi dibawah, kemudian melihat daun yang menempel di baju Biru dan kakinya yang terluka.


"Pasti ada sesuatu yang terjadi, kau sudah membohongiku aku sangat membencimu. Apakah kau habis mengikutiku, apa yang kau ketahui Biru"


Ucap Erlion dalam hatinya sambil memandang Biru dari kamarnya yang letaknya berhadapan dengan kamarnya, sementara Biru hanya tersenyum hingga Erlion menutup pintu kamarnya.


"Hah, syukurlah jantungku rasanya ingin meledak"


Sambil memegang dadanya Biru berjalan menutup kamarnya.


Hari berganti hari dan saatnya tiba hari keempat sesuai perjanjian.


Erlion menatap jendela kamarnya menunggu Pattinson membawa kabar. Sudah berjam-jam berdiri tetapi Pattinson belum datang juga sampai semua barang didalam kamarnyapun dihancurkannya.


Karena terjadi keributan membuat orang tua Erlion menuju kamarnya.


"Erlion, apa yang terjadi, kamu baik-baik saja?"


Ucap Natasha sambil memandang suami disebelahnya.


"Aku baik-baik saja , aku hanya mabuk, pergilah kalian aku ingin sendiri!"


Erlion dengan mengepalkan tangannya kesal dengan Pattinson yang tidak juga datang.


Lalu dia berpura-pura mabuk dan membohongi kedua orang tuanya agar mereka tidak mencurigainya.


"Sudahlah istriku biarkan dia, mari kita pergi dia bukan anak kecil lagi"


Tuan Erlion menarik Natasha dan mengajaknya pergi, tetapi Natasha menuju kekamar Biru dan langsung masuk kekamarnya tanpa mengetuk pintu sehingga membuat Biru terkejut.


"Nyonya Natasha, bisakah anda mengetuk pintu dulu"


Ucap biru sambil memegang dadanya karena terkejut.


"Apakah aku harus ijin dirumahku sendiri, kalau tidak karena Erlion aku tidak akan mau mempunyai menantu sepertimu!!, anakku sedang mabuk, cepat kau urusi dia itu adalah tugasmu, sekarang pergi kekamarnya tenangkan dia, cepat perrrgiiii!!"


Teriak Natasha yang membuat Biru terdiam dan ketakutan.


"Biru laksanakan perintahnya, dia nyonya besar disini, jangan diam saja, apa aku harus menyeretmu!!"


Tuan Erlion ikut membentak Biru dan semakin membuat Biru bergetar tubuhnya ketakutan.


"Baiklah tuan, nyonya aku akan segera kekamarnya"


Birupun segera berjalan cepat, menuju kamar Erlion sementara orang tuanya meninggalkan kamarnya dengan wajah sinis.


Biru membuka sedikit pintu Erlion dan melihat seorang laki-laki dibayangan kamar Erlion dan ternyata adalah Pattinson yang telah datang.


"Kamu tahu aku tidak suka menunggu Pattinson!!"


Erlion mendorong Pattinson dan memegang krah bajunya sehingga membuatnya marah.


"Jangan pernah menyentuhku dan aku sudah membawanya tepat waktu, ini sangat sulit aku dapatkan. Aku harus menunggu para biksu meninggalkan kuilnya.


Dan kau tau, aku hampir saja tebunuh. untung aku menggunakan anak kecil untuk kabur, dan biksu itu membiarkanku pergi agar aku tidak membunuh anak itu. Jangan coba- coba kau marah lagi padaku atau aku akan membawa buku ini kembali!!"


Akhirnya Erlion melepaskan krah baju Pattinson, dan merebut buku itu tetapi Pattinson dengan cepat menariknya.


"Tidakkkk, bayarlah aku! Berikan uangku dulu baru aku akan memberikan buku ini"


Pattinson membuat Erlion tertawa dan melemparkannya koper hitam berisi uang jutaan dollar.


"Hahahahahah, kau kira aku tidak punya uang, sadarlah aku pemuda terkaya dinegeri ini, ambillah koper ini, kalau perlu kau hitung, cepat berikan buku itu!!"


Pattinsonpun melempar buku lembah hitam kehadapan Erlion dan mengambil koper yang berisi uang.


Pattinson menuju jendela kamar Erlion dan ketika mau keluar, langkahnya terhenti melihat bayangan dibalik pintu kamar Erlion yaitu Biru.


"Erlion, lihatlah bayangan itu, bagaimana jika kekasihmu mengetahuinya, segeralah tangkap dia dan tutup mulutnya agar rencanamu berhasil, aku akan pergi dulu, satu lagi, hubungi aku dan siapkan lagi uang dalam jumlah yang sama karena hanya aku yang mengetahui jalan menuju lembah hitam tanpa diketahui para biksu itu"


Pattinsonpun lompat dari jendela kamar Erlion dan menghilang dengan cepat.


"Biru, masuklah kekamarku"


Ucap Erlion dengan wajah marah melihat Biru diam-diam melihatnya dengan Pattinson.


Biru masuk dengan badan yang bergetar ketakutan.


Erlion dengan cepat menutup pintu kamarnya dan menutup mulut biru dengan kain dan mengikat kakinya kemudian melemparkan keranjangnya. Erlion berada diatas Biru dan mengancamnya.


"Diamlah disana gadis cantik dan jangan pernah berisik jika tidak aku akan memakanmu, dan menikmatinya tubuhmu sebelum pernikahan kita. Bagaimanapun tubuhmu yang indah ini membuatku bergairah, hahahaha sudah diam jangan meronta atau aku benar-benar melakukannya"


Ancaman Erlion membuat Biru sangat bergetar dan akhirnya diam, wajah Erlion yang sangat dekat dengan wajahnya membuat biru tidak bisa menahan ketakutannya.


Kemudian Erlion berdiri membuka buku rahasia tuan muda dan kuil lembah hitam dengan tawanya yang menakutkan.


"Akhirnya aku bisa menjadi yang terkuat, kuil lembah hitam darah tuan muda, hahahahaha!!"