Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
BAB 19 : Pertemuan Dengan Biksu Suci Kuil lembah Hitam.



Akhirnya apa yang Renata tunggu selama ini ada di depan mata. Dia adalah biksu suci kuil lembah hitam.


Dengan baju bercahanya kulit yang putih bersinar dengan senyum yang menyejukkan hati menandakan kebaikan dan kebijaksanaan dalam dirinya.


Dialah yang bisa memberitahukan Renata semua rahasia asal mula yang terjadi dengan teka-teki takdir dan semua kekuatan yang ada ditubuhnya.


Bahkan asal mula kekuatan Thomas, Alberth, Erick dan para vampir Erlion yang menjadi bermusuhan dengan Rudolf.


" Biksu jelaskan padaku bagaimana asal mula semuanya, tolonglah biksu aku harus mengetahuinya "


" Hahaha, iya anakku Renata aku akan menjelaskan semuanya, sekarang duduklah dan beristirahatlah dulu kau pasti sangat lelah...setelah itu kita akan melakukan ritual"


" Ritual apakah itu biksu? "


" Anakku Renata, kau memiliki kekuatan luar biasa diluar apa yang sudah kau sadari....jika aku menceritakan kepadamu hmmmm (berhenti sejenak memejamkan matanya).....aku kawatir kau tidak mampu mengendalikannya. Ritual itu akan membantumu mengendalikannya. Sekarang beristirahatlah dahulu"


Biksu suci memberikan isyarat kepada biksu lain yang ada di belakangnya, dan para biksupun mengangguk segera keluar dari ruangan.


Tak lama kemudian beberapa pelayan masuk membawa nampan makanan dan minuman.


" Silakan nona..anda pasti sangat lapar"


Seorang pelayan menyajikan beberapa makanan dan teh herbal.


" Terimakasih...iya aku memang sangat lapar"


Renatapun segera menikmati makanan itu dengan sangat lahap.


Sementara diluar kuil Erick merasa tidak tenang dan selalu membuat keributan yang membuat Thomas dan Alberth sangat kesal.


"Apa yang mereka lakukan, kenapa Renata lama sekali, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa aku tidak bisa menembus kedalam"


Erick yang berjalan mondar-mandir membuat Thomas geram dan ingin menyerangnya.


Kuil Biksu suci membuat perlindungan cahaya mengitari pohon- pohon besar di sekeliling kuil sehingga siapapun tidak dapat menembus kedalam dengan kekuatan pikirannya terutama para vampir.


Terlebih Renata telah sampai di sana, para biksupun meningkatkan perlindungannya.


Sementara Alberth hanya diam dengan tatapan mata yang sinis melihat Erick tidak bisa diam.


" Vampir, gilaaaaaa, erliiiooon, diamlah, akan aku lempar kamu!!! "


Teriak Thomas hingga membuat rambut panjangnya menjadi berantakan karena terkena panas api dan tubuhnya yang mulai mengeluarkan bercak merah api berasal dari sepasang gelangnya yang hampir keluar.


" Apa kamu bilang, vampir gila, jika kamu berkata sekali lagi akan aku cabik-cabik rambutmu yang jelek itu!! "


Erick yang mendekat ke Thomas dan semakin membuat Thomas geram.


" Dasar vampir gilaaaaaaaaaaa!! "


Pada saat Thomas ingin memukul Erick, Alberth dengan cepat memegang pundak Thomas dan memegang sepasang gelangnya agar tidak mengeluarkan api.


Melihat kakaknya yang mengeleng-gelengkan kepalanya, Thomas menghentikan kemarahannya dan melampiaskannya dengan memukul batu yang ada disebelahnya hingga hancur berkeping-keping.


Erick kembali merasa gelisah dan untuk menghilangkan rasa gelisahnya dengan melompat ke pohon.


Lalu beberapa detik kemudian melompat di atas bukit dan tiba2 melompat di belakang Thomas menarik rambut thomas yang panjang dan saat Thomas menoleh, Erick pun sudah duduk di atas batu- batu besar di depan pintu gerbang kuil.


" Beraninya kau menyentuh rambutku...aku hajar kau....!!"


Thomas geram dengan tingkah Erick dan langsung berdiri hendak menghampiri Erick tetapi ditahan oleh Albert.


Erick hanya cuek seolah- oleh tidak mendengar teriakan Thomas dan memilih duduk tenang di tempatnya.


"Vampir gila ini benar- benar membuatku pusing...hahhh!!"


Gumam Thomas dan pergi menuju salah satu tempat yang dia sering datangi sewaktu kecil dulu di lembah kuil hitam.


Alberthpun meninggalkan Erick dan mengikuti Thomas.


" Mau kemana mereka...ahh biarlah aku tidak peduli ( setelah diam beberapa saat)...hmmm sebaiknya aku liat mereka saja"


Erickpun akhirnya mengikuti Thomas dari belakang.


Setelah berjalan beberapa lama Thomas sampai di sebuah pondok kecil dengan halaman yang luas.


Pagar yang terbuat dari kayu dikelilingi tanaman rambat hijau yang segar. Di halaman rumah terdapat sumur tua yang masih digunakan.


Beberapa binatang dipelihara dengan baik dengan kandang yang terpisah- pisah.


Sesampai dipintu pagar, Thomas langsung membukanya dan mereka masuk ke dalam halaman rumah , nampak seseorang gadis muda keluar menyambut mereka.


" Hai Thomas, apa khabarmu, akhirnya kau kembali "


Sapa gadis itu yang tidak dihiraukan Thomas yang langsung masuk ke dalam pondok dan duduk mengambil segelas air.


Melihat hal itu sang gadis hanya tersenyum karena memang sejak kecil Thomas jarang berbicara dengannya.


Alberth tersenyum kepada Ana dan meminum air pemberiannya.


" Wahhh... kakak yang sangat berbeda dengan adiknya, ini ada makanan silahkan kalian pasti lapar, aku sudah menyiapkan sejak tadi, biksu suci sudah memberitahuku kalian pasti akan datang kesini "


Ana kemudian menghidangkan beberapa makanan yang sudah disiapkan oleh nya.


Thomaspun tanpa berkata-kata langsung melahap makanan buatan Ana.


Alberth agak sedikit marah dengan sikap adiknya dan memukul pundak Thomas agar berterima kasih kepada Ana.


" Makananmu enak sekali Ana "


Ucap Thomas dengan sedikit pandangan yang dilihatkannya kepada Ana dan melanjutkan melahap makanannya.


Alberthpun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hehehe....lahap sekali makanmu Thomas...masih sama seperti dulu" ucap Ana sambil tersenyum.


"Hahhhh....ka...kamu vampir? Woww....baru kali ini aku lihat vampir"


Ana yang masih kaget pelan- pelan mendekati Erick dan mengangkat telunjuknya hendak menyentuh Erick.


"Kamu gak lapar kan...aku ga punya darah"


" Aku tidak mau darah yang lain nona.....tapi kalo kau berani menyentuhku aku mungkin akan meminum darahmu"


Erick menatap Ana dengan tajam dan Ana pun langsung menarik telunjuknya dan menjauhi Erick.


"Tenanglah mister vampir....aku tidak akan berani menyentuhmu...tapi aku sungguh- sungguh tidak punya darah untukmu"


" Tenang saja, aku malam ini hanya ingin meminum darah dari laki-laki yang berambut panjang"


Ucap Erick sambil melirik Thomas dengan sinis dan Thomaspun geram melempar tulang ayam yang dia makan kearahnya.


Erickpun menangkapnya dengan cepat kemudian melemparnya lagi dengan sengaja masuk kepiring Alberth.


Alberth hanya menatap Erick dan melemparkan piringnya kearah Erick .


Dengan cepat Erick menangkisnya dan piring Alberth masuk kemakanan Thomas hingga berantakan dan mengotori bajunya.


" bluk...prakkk...pranggg..."


Dengan cepat Thomas, Alberth, Erick berdiri dan saling menatap penuh kebencian, sementara Ana Ditengah-tengah mereka hanya memandang kebingungan.


" Wowww, sudah...sudah... mister vampir tenanglah!! "


" Kak Alberth, Thomas, jangan merusak podok ini ya biksu nanti bisa marah, ayo lanjutkan makan kalian "


" Kalian ini seperti binatang peliharaanku saja, jika aku tidak memisah- misah kandang mereka dan menjadikan satu di satu kandang mereka akan saling bunuh sama seperti kalian..."


Ana memegang pundak Thomas dan menyuruhnya duduk, Alberthpun kembali duduk dan Erick keluar dari pondok Ana.


" Heh anak kecil..sejak kapan kamu berani menyamakan aku seperti binatangmu itu"


Thomas menatap Ana dengan marah.


" Uppss...kelepasan maaf...hehe, tapi akhirnya kau mengeluarkan suara juga Thomas"


Ana tersenyum sambil menutup mulutnya dan segera ke dapur untuk membuat teh.


" Hah, akhirnya vampir gila itu menghilang dari hadapanku" ucap Thomas.


" Aku bisa mendengarmu Thomasss!! "


Teriak Erick.


*********************************************


Sementara didalam kuil lembah hitam upacara ritual sudah dipersiapkan.


Renatapun sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang telah disiapkan oleh biksu suci.


Pakaian yang terbuat dari lempengan logam berwarna gelap yang melindungi kulitnya.


Keluar dari sebuah ruangan Renata berjalan pelan, rambut hitamnya yang terurai tak bergerak seakan anginpun ta ingin mengganggunya .


Renata sesekali memejamkan matanya dan mengatur nafasnya pelan, karena Ini adalah saat- saat yang dia tunggu.


Sesampai di ruangan yang cukup luas, biksu suci telah duduk bersila menunggunya.


Renata membungkuk memberi salam dan berjalan mendekat sampai di depan sang biksu. Kemudian Renata duduk bersila.


" Apa kau sudah siap Renata "


" Iya biksu aku sudah siap"