
Renata dan Tuan Besar masih melakukan pertarungan hebat diudara hingga mengejutkan para manusia yang berada di tempat kejadian. Pertarungan itu akhirnya membuat para manusia mengetahui keberadaan vampir.
"Apa itu diudara...kenapa ada mahkluk mengerikan seperti itu?segera laporkan!"Kepala polisi.
"Baik komandan.." petugas polisi.
Erick sangat khawatir melihat semua manusia mengetahui pertarungan Renata dan Tuan Besar.
"Gawat bagaimana ini, kakek tidak bisa menahan emosinya, jika manusia mengetahuinya bisa bahaya.." Erick
Alberth, Thomas, Ana akhirnya sampai ditempat festival dan terkejut banyak sekali manusia yang melihat.
Kak Alberth, bisakah kita membantu Renata dan mencegah pertarungan ini?" Thomas memegang kepalanya sambil melihat keudara.
Alberth menggelengkan kepalanya dan tetap memandang pertempuran Renata dan Tuan Besar.
"Bagaimana ini? kita harus menghubungi biksu suci.. Erick, bertelepatilah kepada biksu suci untuk segera datang dan mengatasi para manusia itu! ini sangat berbahaya" Ana
Erick bertelepati kepada biksu suci.
"Biksu suci, segeralah kemari! para manusia memenuhi jalanan melihat pertarungan Renata dan Tuan Besar" Erick
"Kami akan segera datang. Tenanglah, aku akan menghapus memori mereka" Biksu suci dan beberapa biksu segera menuju ketempat festival.
Pertarungan Renata dan Tuan besar semakin sengit bahkan menghancurkan semua yang ada difestival.
"Renata, kau tidak bisa mengalahkanku hahahaha...." Tuan besar mengarahkan pedang kabut hitam bercahaya yang bersinar dahsyat kearah Renata.
"Apaa? ayo serang aku mahkluk buas...!" Renata dengan mudah menangkis semua hanya dengan tangan yang becahaya.
Dalam pertempurannya dengan Renata, Tuan besar kembali memandang puluhan manusia yang ada dibawahnya. Tuan besar mengangkat pedangnya dan mengarahkan kepada mereka.
"Kita lihat, bagaimana kau menyelamatkan semua manusia itu, gadis sialan"
" Lihatlah para manusia! Jika kalian tidak tunduk padaku, aku akan menghancurkan kalian...hiaaaa.." Erlion berteriak dengan suaranya yang menggelegar.
" Erlion, hentikan!...aku biru..iya cahaya biru.. tolong hentikanlah!" Cahaya biru yang berwujud wanita cantik datang menghentikan serangan tuan besar hingga membuatnya menarik pedangnya dan terdiam.
"Biruu?..cahaya biru...cinta sejatiku.."
"Ikutlah denganku Erlion!..ikutlah denganku!"
Tuan besar menghentikan pertarungannya dan mengikuti cahaya biru.
Renata turun dari udara dan segera pergi meninggalkan tempat festival karena banyak sekali manusia yang menatapnya.
Cahaya merah didalam tubuhnya masih belum menghilang membuat Erick semakin khawatir.
"Renata mau kemana dia, Alberth temuilah biksu suci, aku akan mengejar Renata.." Erick secepat kilat menyusul Renata.
Alberth segera menemui biksu suci dan pengikutnya yang telah datang dan berkumpul menyatukan kekuatan pertapanya.
Ditengah biksu suci mengarahkan cahaya dan para biksu yang berbaris melingkari biksu suci mengucapkan mantra. Alunan mantra seakan menghipnotis semua manusia yang mendengar dan menghilangkan memorinya sehingga mereka tidak mengingat kejadian dan keberadaan para vampir dan Renata.
"Para biksu kerjakan! sekarang kumpulkan cahaya pertapa kita!"
" Baik biksu suci.."
Para manusia menjadi terdiam dan pergi dengan sendirinya.
Kecuali satu orang yaitu komandan polisi yang saat itu berada dekat dengan Alberth sehingga kekuatan biksu suci tidak mengenai dirinya.
"Apaa ini kenapa mereka semua terdiam.?...cahaya apa itu berwarna biru?" Komandan yang masih terheran menatap diudara.
"Kamu harus diam disini! kamu kenapa tidak terkena kekuatan biksu suci?" Thomas menghadang komandan polisi yang terdiam menyaksikan semuanya.
"Apa yang terjadi? itu adalah monster, iya mereka monster. Jiwa manusia terancam, kalian pasti menghilangkan memori para manusia...siapa kalian..?" Komandan polisi menghampiri biksu suci dan menampis Thomas tetapi dengan cepat Alberth menghadangnya.
"Jangan menghalangiku anak muda, aku adalah penjaga kota indah ini, aku harus tahu yang sebenarnya terjadi.." Komandan polisi.
"Baiklah, mari ikut kami! Kami akan menjelaskan semuanya" Biksu suci dan para biksu lainnya pergi meninggalkan tempat festival disusul komandan polisi yang mengikutinya dari belakang.
"Kakak kita harus kemana..?" Thomas
"Ah Thomas pastilah kerumah Renata.."Ana
"Diamlah anak kecil..! menyebalkan..!" Thomas melirik sinis Ana.
Alberth dengan isyarat tangannya memerintahkan Thomas menuju rumah tuan Reynald Rudolf.
"Baiklah..aku kesana kakak.." Thomas mengendarai mobil dengan sangat cepat.
Renata terus berlari kedalam hutan dan membuat semua pohon terbakar.
Dengan cepat Erick menyentuh semua pohon untuk memadamkannya agar tidak terbakar dengan tubuhnya yang dingin.
Erick berlari dengan kekuatan dua kali lipat dari biasanya dan akhirnya Erick melompat kearah Renata dan berhasil mendekapnya.
Erick menahan Renata yang belum bisa mengendalikan kekuatannya dan mereka terjatuh diair terjun tempat Erick biasanya menghabiskan waktu jika sendirian.
Didalam air Erick mencium Renata dan memeluknya sangat erat, membuat mata Renata terbuka lebar dan secara perlahan kekuatannya menghilang.
Akhirnya Renata berada dipelukan Erick dengan lemas. Dengan segera Erick membawa masuk Renata kedalam pondok kecil dekat dengan air terjun dan merebahkannya.
"Istriku syukurlah kamu sudah sadar..." Erick
"Erick dimana aku?" Renata
"Erick aku belum bisa mengendalikan kekuatanku.."Renata
"Sudahlah jangan kau pikirkan..sekarang bukalah bajumu yang basah !" Erick membuka semua pakaian Renata.
"Suamiku apa aku harus tidak berpakaian.." Renata
"Iyaa seharusnya begitu..aku suka melihat tubuhmu yang indah..hahaha...aku bercanda istriku..kau harus memakai pakaian yang kering.." Erick mengambil kain putih yang dia dapatkan disaat mengejar Renata dan menutupi tubuhnya Renata.
"Tapi kamu juga basah suamiku.." Renata
"Iya sayang..dan kain itu hanya satu bagaimana jika kita berdekapan didalam kain itu.." Erick membuka bajunya yang basah dan berdekapan dengan Renata didalam kain putih.
Dengan lembut Erick membelai Renata dan menciumnya dengan lembut.
"Jangan mengkhawatirkan aku Erick, istrimu baik saja..asalkan suamiku selalu memelukku.." Renata menatap Erick yang penuh kegelisahan dan berusaha menghiburnya.
"Sekarang tidurlah sayang pulihkan tenagamu.." Erick semakin mendekap Renata dan mendekatkan wajahnya hingga Renata tertidur.
"Aku akan selalu menjagamu Renata dengan nyawaku" Erick
******************************************
Disebuah ruangan tua, tempat para biksu biasa berkumpul ditengah kota, komandan polisi dipersilahkan masuk untuk mendapatkan penjelasan.
"Tuan polisi masuklah.." Biksu Suci
"Baiklah.." komandan polisi
Mereka akhirnya memasuki ruangan tua dan duduk di ruang tamu yang terbuat dari kayu.
"Apa yang ingin anda ketahui?" Biksu Suci
"Biksu, sekarang jelaskan padaku apa itu tadi drakula? iya semacam drakula atau vampir?ternyata memang ada mahkluk seperti itu.." Komandan polisi
"Iya legenda darah tuan muda dahulu kala memamg benar ada dan tuan muda Erlion mencurinya.." Biksu Suci
"Apa? Jadi berita puluhan tahun lalu memang benar adanya..dan anda yang menyimpannya..kenapa tidak dihancurkan saja.." komandan polisi
"Darah tuan muda murni berasal dari darah iblis karena dia belajar ilmu sesat dan tidak bisa dihancurkan, kami menyimpannya rapat, karena saat itu pikiran kami teralihkan oleh wabah penyakit yang menyerang desa disekitar kuil, kami terlewat oleh pencuri yang memanfaatkan itu dan dia menggunakan anak kecil untuk mengecoh kami.." Biksu suci
" Bukankah ilmu kalian sangat tinggi..!" komandan polisi.
"Bagaimanapun juga kami manusia biasa dan bisa terkalahkan, sekarang tanggung jawab kami untuk melindungi gadis yang bisa mengalahkan Tuan besar.." biksu suci
"Tuan besar? oh jadi namanya tuan besar..lalu siapa gadis api itu?..sepertinya kuat sekali.." komandan polisi
"Dialah yang akan membunuh tuan besar pada saatnya" Biksu suci berdiri dan mempersilahkan komandan polisi untuk pergi.
" Tuan, kami akan menjelaskan semua lagi nanti, bersabarlah! tapi tolong rahasiakan ini atau aku akan menghilangkan memorimu.." Biksu Suci
"Jangan..! tolong jangan hilangkan memoriku agar aku bisa menjaga kota ini, aku akan meminta bantuan kalian jika para vampir itu menyerang kota, bagaimana caranya..?" komandan polisi
"Ini bawalah dan pakailah kalung ini, anda bisa bertelepati denganku sebutkan namaku aku pasti datang dan hanya disaat para vampir mengganggu manusia.." biksu Suci.
"Baiklah..aku akan mengingatnya dan aku permisi.." komandan polisi
" Semoga anda selalu selamat.." Biksu suci mengantar komandan polisi yang dan menaiki mobil polisinya dan pergi.
"Para biksu, siapkan semua yang dibutuhkan karena pertarungan akan segera dimulai.." Biksu suci
"Baik biksu suci.."
******************************************
Renata terbangun dari tidurnya dan melihat mata indah Erick didepannya.
"Indah sekali, mata ini.." Renata tersenyum.
" Kenapa cepat sekali kau terbangun istriku.." Erick membelai rambut Renata dan membelai punggung Renata dengan lembut.
"Belaian apa ini suamiku.." Renata tertawa melihat Erick yang mulai mengganggunya.
"Belaian lembut suami, kenapa apa kurang dalam.." Erick
"Kau sudah melepaskan kain putih ini apa kau tidak sadar.." Renata semakin tertawa.
"Apa..! ahh aku tidak sadar maafkan aku istriku, aku akan menahannya.." Erick memegang kepalanya.
"Menahan apa...haha...lihatlah tanganmu ini menjelajahi tubuhku..dan mata indahmu bersinar suamiku.." Renata mendekatkan wajahnya.
"Maafkan aku istriku, sepertinya aku tidak bisa menahannya." Erick menarik Renata dan mendekatkan tubuhnya dan mereka melakukannya dengan penuh cinta.
Disaat hasrat mereka sudah terpuaskan, Renata kembali berdiri matanyapun kembali memerah dan Erick memeluknya dari belakang menahannya.
"Renata apa yang terjadi..?" Erick mendekap erat Renata
"Berlian merah aku mengetahui keberadaanya..aku harus segera mendapatkannya agar Tuan besar bisa aku bunuh.."
" Dimana Renata berlian itu? Aku akan menjagamu" Erick membalikkan tubuh Renata dan memeluknya.
"Lorong ketiga dari tiga lorong.." besuk kita kesana Erick.
" Baiklah..."