Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
Bab 12: Bersatu Selamanya.



Sebuah Kastil yang begitu besar dan megah dengan pilar- pilar dan benteng yang tebal mengelilinginya terkesan sangat kuat.


Terlihat cita rasa seni yang indah terdapat pada urkiran di sekeliling tembok besarnya.


Sang pemilik pastilah memiliki kekuasaan yang agung jika dilihat dari banyaknya penjaga disetiap sudut.


Itu adalah kastil Erlion yang keindahan seninya berubah menjadi mengerikan.


Kastil yang dikelilingi kegelapan yang berkabut, udara dingin yang menusuk, rasa sunyi dan sepi dengan bulan purnama yang selalu berada diatasnya seakan menambah kesuraman kastil tersebut.


Para pengawalpun dengan ketat berjaga disetiap pintu kastil dengan wajah yang datar dan menyeramkan tanpa ekspresi apapun yang hanya haus akan darah.


Sambil melihat sekitar dengan penerawangannya, akhirnya Renata mengetahui itu adalah kastil para vampir yang kejam dan penguasanya adalah keluarga Erick sendiri.


" Ternyata, kau anak dari vampir, tapi itu tidak akan merubah perasaanku, aku tetap mencintaimu Erick. " gumam Renata sambil mengawasi kastil Erlion.


Renata yang akhirnya melakukan telepati dengan Erick.


Entah mengapa sejak pertama bertemu dengan Erick hati Renata seketika terikat padanya. Seakan mereka telah menemukan sebagain jiwa mereka yang telah hilang.


Cinta yang membara, perasaan yang begitu kuat dengan gairah yang begitu besar hingga mereka tidak mampu berjauhan satu dengan yang lain.


Percakapan telepati Renata dengan Erick.


" Erick aku akan membuat semua vampir dikastil ini tidak menyadari kehadiranku, bertahanlah, ini tidak akan memakan waktu yang lama, bertahanlah demi aku. "


Ucap Renata sambil mengarahkan tangannya kekastil Erlion dan keluarlah angin berkabut dari telapak tangannya yang membuat semua penghuni kastil terdiam seperti patung.


Renata adalah yang terkuat dan dia semakin menyadari kekuatannya seolah kekuatan yang muncul begitu menyatu memahami dirinya.


Hanya dengan pikirannnya, dia dengan mudah menggunakan kekuatannya sesuai dengan apa yang diinginkannya.


" Renata, berhati-hatilah sayang, jangan sampai kau terluka, aku tidak mau. "


Erick merasa khawatir hingga meneteskan air mata, dan masih berusaha melepaskan ikatannya.


Semakin Erick berusaha melepaskan ikatannya semakin dia kesakitan dan malah membuat dirinya semakin lemas.


" Aku tahu, tunggulah aku, sesaat lagi aku akan dihadapanmu, Erick jangan lakukan apapun..... sudah diamlah!!, kau sudah kehilangan banyak darah, hentikan!!, aku yang akan melepaskan ikatanmu. "


Dengan menggunakan kekuatan pikiran, Renata menuju kekastil bawah tanah dengan cepat.


Dia melewati para penjaga tanpa kesulitan bahkan mereka tidak menyadari keberadaannya karena telah terhipnotis dengan kekuatan Renata.


Bahkan Phattinsonpun seperti patung yang hanya berdiri melihat Renata didepannya.


Akhirnya Renata membuka pintu ruang tahanan Erick.


Melihat Erick yang terluka parah membuat Renata marah hingga menangis.


Seketika itu juga pancaran sinar merah di dalam tubuhnya keluar setiap kali emosi Renata terpancing.


Melihat perubahan dirinya Renata berusaha mengendalikan kekuatannya agar tidak menghancurkan kastil Erlion yang bisa membunuh Erick.


" Erickk, aku akan mematahkan rantai ini. "


Dengan hanya menyentuhnya rantai kabut hitampun terputus dan Erick terjatuh lemah dipangkuan Renata dengan keringat dan darah ditubuhnya .


Renata memeluk erat Erick dan mengusap darah di wajahnya. Lalu memandang wajah Erick yang pucat dan matanya yang sayu dengan tubuhnya yang lemas.


Erick yang berada dipelukan Renata hanya diam tersenyum dan semakin erat memeluk Renata sambil meneteskan air mata.


" Aku merindukanmu, Renata, aku tidak bisa, dan tak berdaya tanpamu. "


Ucap Erick dengan suara yang lemas berbisik di telinga Renata.


" Aku akan memberimu setetes darahku dari tubuhku, aku tahu kau adalah seorang vampir Erick, tapi itu tidak akan mengubah perasaanku padamu. "


Renata kemudian mendekatkan lehernya kepada Erick. Erick awalnya tidak mau dan memalingkan wajahnya dengan menutup matanya. Renata tau Erick tidak ingin menyakiti dirinya.


Kemudian dengan membelai rambut Erick dan membuat Erick kembali menatapnya, Renata mendekatkan lehernya kembali.


" Cobalah sayang...kau tidak akan menyakitiku."


Renata mencoba meyakinkannya.


Akhirnya Erickpun menghisap darah dari leher Renata dan seolah ada aliran tenaga di tubuhnya.


Lalu Erick segera mendorong Renata untuk menjauhinya.


" Cukup Renata...aku takut tidak mampu mengendalikannya!!"


Ucap erick yang telah mampu untuk berdiri walaupun lukanya belum pulih dan masih menjadi ancaman untuk nyawanya.


Kemudian hanya beberapa detik luka Renata dari gigitan Erick langsung menghilang tanpa bekas.


Erick terkejut sekaligus merasa lega karena Renata menjadi tidak terluka akibat gigitan vampirnya yang sangat kuat.


Erick kemudian kembali memeluk Renata.


" Aku rindu, aku milikmu Erick, bertahanlah aku akan menyelamatkanmu."


"Tidakkah kau lihat bahwa kau tidak menyakitiku. Kau harus menambah tenagamu lagi."


Renata yang kembali memberikan darahnya dengan mendekatkan lehernya kepada Erick.


Erickpun kembali menghisapnya sehingga membuat kekuatan Erick semakin bertambah dan membuat gairahnya semakin menguat.


Dengan mata yang penuh gairah dan nafas yang menggebu Erick mencium bibir Renata yang awalnya dengan lembut kemudian bibirnya semakin liar menjelajahi mulut Renata.


Erick tersadar dengan membelalakkan matanya dan mendorong Renata hingga terpental ke tembok.


Kemudian segera menghampiri Renata dan memeluknya dengan erat.


" Maafkan aku, Renata, aku tidak bisa menahannya."


Renata tersenyum dan memandang Erick kemudian Renata mendekatkan bibirnya dan mencium Erick kembali.


Erickpun tak kuasa menolak bibir indah Renata.


Kembali gairahnya meluap-luap dengan kekuatannya yang sedikit kembali.


Tapi kedua kalinya Erickpun menahan dirinya dan melepaskan ciumannya.


" Ayo pergi dari sini, kita harus sembunyi." Ucap Renata


Kemudian Erick mengangkat tubuh Renata dan dengan cepat membawanya berlari meninggalkan ruang bawah tanah.


Saat semua penjaga tidak sadarkan diri, nyonya Delichia tersadar dan merasakan kekuatan besar didekatnya, bahkan dia mulai tidak bisa merasakan hawa Erick kembali yang berarti Erick semakin menjauh darinya.


Saat itu dirinya masih berada di kamar dengan suaminya.


Nyonya Delichia selalu bisa merasakan hawa kedua anaknya saat mereka didekatnya dan saat kedua anaknya jauh, hawa itupun semakin menghilang sehingga membuatnya panik.


" Erick mau kemana kau...siapa didekatmu apakah itu Renata?"


Nyonya Delichia dengan kekuatan pikirannya berusaha menyadarkan suaminya dari pengaruh Renata tapi tidak berhasil.


Akhirnya nyonya Delichia melukai tangannya hingga berdarah dan suaminya tuan Edwardpun langsung tersadar dengan bau darah istrinya.


Tuan Edward sangat terkejut ketika tersadar melihat darah istrinya.


" Istriku, kenapa ini, apa yang kau lakukan!"


Tuan Edaward yang akhirnya tersadar sambil kebingungan melihat tangan istrinya yang mengeluarkan darah.


" Dia datang membebaskan Erick, sepertinya kalian semua terkena hipnotis, aku harus melukai tanganku agar kau tersadar dengan bau darahku suamiku. "


Ucap nyonya delichia dengan memukulkan tangannya dimeja hingga pecah.


" Apa, kurang ajar aku akan membunuhnya!! "


Tuan Edward sangat kesal mendengar hal itu, kemudian menghisap darah ditangan istrinya agar berhenti dan merebahkan istrinya diranjangnya kemudian dia hendak pergi mencegah Renata membawa Erick.


"Suamiku, tidakkk!, kita bukan lawannya, biarkan dia,nanti ada saatnya dia akan kalah."


Nyonya Delichia menahan suaminya dengan menarik tangannya.


Lalu berdiri dari ranjangnya kemudian memandang keluar jendela kamar dan melihat Erick berlari cepat membawa Renata.


Tuan Edwardpun ikut memandang Erick yang membawa Renata dari jendela kamar istrinya.


Renata yang dalam dekapan Erick kemudian memandang kearah Delichia dan Edward dengan kekuatan matanya yang bisa melihat dari jarak yang jauh dengan senyuman sinis. Erickpun terus berlari hingga tidak terlihat lagi.


" Waktunya akan tiba, Renata, kau akan mati!"


" Suamiku, sekarang adalah waktunya ayahmu untuk datang....panggil dia!! "


Ucap Delichia dengan tatapan sinis .


*********************************************


" Erick, berhentilah, sudah!!, kau tidak kuat.. turunkan aku. "


Renata yang menahan Erick yang terus berlari membawa dirinya, tiba-tiba lemas dan terjatuh karena kehilangan tenaganya.


Renata melihat ada sebuah rumah kosong yang sangat besar didepannya kemudian sambil membantu Erick berjalan Renata mengajak Erick untuk masuk kedalamnya.


Rumah ini terasa tidak asing bagi Renata. Renata seolah mengenal tiap ruangan yang ada di dalamnya.


Rumah yang sangat besar dengan ukiran klasik yang indah.


Rumah yang sudah lama ditinggal penghuninya menjadi terkesan suram dan penuh rumput liar dihalamannya.


Perabotan yang telah ditutup kain putih yang sudah berubah warna menghitam penuh debu.


Sambil merebahkan Erick di dalam ruangan, Renata berdiri dan melihat sekitarnya.


Merasa penasaran Renata menggunakan kekuatan pikirannya untuk melihat kejadian masa lalu didalam rumah itu.


Dalam penglihatannya Renata melihat seorang anak laki-laki sedang bermain biola dengan mata abu-abunya yang indah sambil tersenyum memandang seorang gadis bersyal biru didepannya. Ternyata anak laki-laki itu adalah Erick diwaktu kecil.


Sedangkan gadis kecil yang memakai syal biru didepannya membalas menatap dengan mata berwarna ungunya yang indah dan menikmati alunan biola yang dimainnkan Erick. Dan gadis kecil itu adalah dirinya sendiri.


Renata sangat menyukai permainan biola Erick dan mereka sudah saling mencintai sejak kecil.


Masih dalam penglihatannya tiba-tiba ada seseorang menarik Renata diwaktu kecil dan berlari membawanya pergi dan Erickpun saat itu yang sedang memainkan biolanya juga dibawa pergi oleh seseorang yang menyebabkan mereka berpisah.


Sebelum mereka berpisah Erick sempat melawan dan berlari ke arah Renata dan memegang tangannya kemudian Erick mengatakan kepada Renata bahwa dia akan mencarinya dan mereka berjanji akan bersama. Kemudian seseorang berlari mengangkat Erick dan membawanya pergi.


" Hahh Erick ternyata kamu adalah anak laki-laki pemain biola itu, aku selalu memikirkanmu sejak itu, aku tiap malam menangis menunggu kau datang tapi kau tidak pernah datang, kemana saja kau pergi?"


Tanya Renata sambil menatap Erick dengan lembut dan membelai rambutnya karena akhirnya kerinduan Renata kepada Erick yang selama ini ditunggu Renata bisa terobati.


Erick hanya melihat Renata dengan tersenyum.


Nafas Erick yang dingin semakin pelan karena luka Erick masih mengeluarkan darah sehingga tidak bisa menjawab pertanyaan Renata.


Erick memerlukan darah lagi untuk mengisi tenaganya.


Akhirnya Renata kembali mendekatkan lehernya, karena jika Erick meminum cukup banyak darah perlahan-lahan tenaganya akan kembali pulih walaupun tidak bisa menyembuhkan luka dari pedang kabut hitam yang melukainya.


" Apa yang harus aku lakukan, hanya biksu suci yang bisa menyembuhkanmu, sementara ini aku akan memberimu darah yang kau perlukan agar kau bisa bertahan sampai kita tiba dikuil lembah hitam, menemui biksu suci. "


Renata membuka lehernya kembali dan mendekatkan dimulut Erick tetapi dengan cepat dicegah Erick dengan memalingkan wajahnya.


Erick takut tidak bisa mengendalikan gairahnya jika meminum darah Renata dan dia tidak mau itu terjadi.


" Jangan, pergilah kekasihku, kau tidak tahu bagaimana gairah vampir yang meminum darah dari orang yang dicintai, aku tidak mau terjadi apapun padamu, kau akan terluka!!"


Erick dengan menyeret tubuhnya yang semakin lemah melepas pelukan Renata dan menjauh dirinya. Tentu saja hal itu membuat Renata terkejut dan marah.


" Bagaimana jika kamu mati, aku tidak bisa hidup Erick!!, aku juga bisa mati!! "


Teriak Renata yang menghampiri Erick.


" Tidakk, aku tidak mau melukaimu, aku tidak mau, kau tidak tahu bagaimana vampir jika bergairah, kau akan terluka, aku tidak bisa, aku memilih mati jika kau terluka karena aku Renata!! "


Erick dengan berteriak berusaha meyakinkan Renata.


" Jika kau mati, aku harus bagaimana!!, baiklah mati saja, aku akan bersama laki-laki lain!!"


Renata membuat Erick termakan cemburu dan Erick perlahan berdiri dengan berpegangan tembok didepannya dan berlari keluar untuk melampiaskan emosinya dan terjatuh dibawah hujan yang sangat deras.


" Jangan pernah lakukan itu!!, siapapun laki-laki yang mendekatimu akan aku bunuhh!! "


Teriak Erick dengan kencang sambil merintih kesakitan diguyur air hujan yang sangat deras.


Renata hanya terdiam dengan pandangan yang dingin diselimuti air mata yang membasahi pipinya lalu berlari keluar menghampiri Erick yang tergeletak ditanah sambil merintih kesakitan dan terkena guyuran air hujan yang sangat deras.


" Baiklah bunuh semua laki-laki yang ada dibumi ini karena jika kau tidak ada mereka pasti akan mengejarku....atau bagaimana jika aku bersama Alberth, yahhh aku akan bersama dia!! "


Renata yang semakin membuat Erick marah dan termakan cemburu hingga Erick mengepalkan kedua tangannya dan berusaha berdiri sambil memegang dadanya yang kesakitan.


" Renataaaaa, jangan pernahh lakukan itu, Renataaaaaa.!!!, aku akan membunuh Alberth jika itu terjadi!! "


Teriak Erick yang semakin keras yang menyebabkan semakin banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya dan disapu oleh air hujan yang membasahi tubuhnya.


" Sudahlah, aku akan pergi, lagi pula kau menjauhiku, silahkan kau mati saja, aku akan menemui kekasih baruku, Alberth!!"


Dengan nada marah Renata berteriak kepada Erick. Dan air matanya yang terus keluar tidak bisa terlihat karena tersapu oleh guyuran air hujan yang deras.


Hanya mata ungunya yang indah yang ditatap oleh Erick. Kemudian Renata membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Erick.


Melihat hal itu Erick berteriak kencang dan memukulkan kepalan tangannya ke tanah hingga membuat tanah disekitarnya retak.


" Reeeeeeeenaaataaaaaaa!!! "


Kemudian Erick berdiri dan berlari cepat menghampiri Renata dan membawa Renata masuk kerumah kosong mendorongnya sampai punggungnya menempel ditembok.


Memegang erat tubuh Renata dengan nafas yang terengah-engah sambil menatap mata ungu Renata yang membuat Erick terpana.


Wajahnya yang sangat dekat menyentuh hidung dan bibir Renata.


" Kau tidak boleh dengan siapapun, aku akan membunuhnya, laki-laki siapapun yang mendekatimu aku akan menghabisinya walaupun itu Alberth!!"


Dengan suara yang hampir habis Erick berusaha meyakinkan Renata.


Lalu Renata mendorong Erick hingga pelukan Erick terlepas dan memalingkan badannya.


" Hah, membunuh Alberth??, bagaimana mungkin, kau sebentar lagi akan mati, jangankan Alberth, kau pun tak akan sanggup membunuh laki-laki lain yg mendekatiku jika kau mati....sudahlah aku akan pergi, matilah kau Erick, selamat tinggal!!"


" Renataaaaaaaaaaa, tidakkkkkkkk!!! "


Mendengar perkataan Renata kali ini Erick benar-benar emosi dan dengan cepat menarik Renata kemudian memeluknya dengan sangat erat.


Kemudian Erick menghisap darah dileher Renata, dan semakin Erick menghisapnya matanya semakin berwarna abu- abu terang seolah memancarkan sinar yang begitu indah.


Dadanya terus bergetar nafasnya terengah- engah menahan gairahnya yang meluap- luap. Lalu Erick melepaskan gigitannya dan memandang Renata.


" Aku milikmu Erick, sembuhkanlah dirimu saat ini, aku membutuhkanmu, lukaku akan cepat sembuh, kau melihatnya tadi diruang bawah tanah, aku menyerahkan diriku untukmu, tapi kau tidak boleh mati, aku mencintaimu Erick, jika kau mati aku akan mati."


Renata dengan menangis sambil memberikan senyuman dan tatapan mata ungunya yang indah, membuat nafas Erick semakin kencang, jantungnyapun berdetak tidak beraturan.


Kemudian Erick dengan cepat membawa Renata kesalah satu kamar rumah kosong.


Erick menarik kain yang menutupi tempat tidur di salah satu kamar dan merebahkan Renata diatasnya dan kembali menatap mata Renata dengan nafas yang semakin kencang, membuat Erick tidak bisa menahan lagi gairahnya yang semakin besar dan akhirnya menarik leher Renata dan menghisap darahnya dengan sangat kuat.


Renatapun memejamkan matanya sambil menggigit bibirnya menahan rasa sakit.


Gairah Erick sudah tidak sanggup ditahannya membuat naluri vampirnya pun menguat .


Dengan sekali tarik baju Renata pun terlepas setelah melepaskan gigitannya mulut Erick pun langsung mencium dengan ganasnya ke bibir Renata seakan tidak ingin melepaskan.


Mengetahui Renata kesulitan bernafas Erick melepaskan ciumannya dan mulai menjelajahi setiap jengkal tubuh renata dengan bibirnya.


Renata yang saat itupun bergairah dan tiba - tiba tubuhnya mengeluarkan hawa panas yang berwarna merah dan matanyapun ikut memerah.


Tubuh Erick yang dingin mampu mengimbangi tubuh Renata yang panas.


Dengan penuh gairah cinta mereka berciuman.


Erick mulai menyatukan bagian tubuhnya dengan Renata dan mendengar rintihan pelan suara Renata.


Akhirnya tubuh mereka bersatu dan merekapun mencapai puncak kepuasan bersama sehingga merekapun bersatu selamanya.


Seketika itu tanpa Renata sadari Alberth mengikutinya dan melihat semua yang terjadi dari atap rumah kosong itu.


Alberth tak kuasa menahan kesedihannya. Hatinya begitu perih tercabik- cabik hingga membuat air matanya membasahi pipinya.


Bayangan wajah Renata yang dulu selalu tersenyum disisinya membuatnya semakin tersayat- sayat.


Alberth merasa marah sehingga telapak tangannya mengeluarkan kabut hitam yang diselimuti emosi kemarahan.


Alberthpun berdiri dengan guyuran air hujan yang sangat deras dan pergi dari rumah kosong itu dengan berlari sangat cepat tanpa tujuan dengan air matanya yang terus mengalir dan tangan yang mengepal sambil berteriak memanggil Renata di dalam hatinya.


" Reeeeeeeeeeeennnaaataaaaaaaaa!!!! "