Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
BAB 2 : PANDANGAN PERTAMA DENGAN ERICK



Masih dengan kebingungan, Renata memandang dengan takjub keindahan didepan matanya. SMA Erlion, sebuah SMA yang belum pernah dilihatnya bahkan nama sekolah itu pun baru pertama kali didengar olehnya.


"Sebenarnya dimana aku? Apa ada sekolah seperti ini? Apakah aku bermimpi?"


Renata mencubit tangannya sendiri dan tersadar kalau ini bukan mimpi karena cubitannya terasa sakit. Selang beberapa waktu , Renata mendengar suara bel berbunyi dengan keras.


"Kriiingg......"


Renata terkejut dan berlari memasuki salah satu ruangan di SMA Erlion.


"Kira-kira aku harus kemana ya? " Dengan wajah kebingungan, Renata melihat semua siswa dan guru hanya melewatinya tanpa ekspresi apapun diwajah mereka.


" Ayo, ikut aku! "


Tiba-tiba seorang pria menarik tangan Renata dengan menggenggam erat dan membawanya lari.


"Aarrghhh, siiiiapaaa kamuuuu? bisakah kita berjalan tanpa berlari?" ucap Renata sambil kebingungan.


"Ssstttt, diam gadis mungil! " Dengan tersenyum pria itu tetap melanjutkan larinya.


"Apaaa, gadis mungil? aku bukan anak kecillll, tau gaa?" jawab Renata dengan kesal dan pria itu tetap berlari dengan tersenyum.


Dalam larinya, Renata memandang wajah pria itu. Dia memiliki rambut lurus yang panjang dengan sorotan matanya yang tajam, memiliki badan yang kekar dan tubuhnya yang tinggi membuat Renata terlihat sangat kecil didekatnya.


Dengan nafas yang terengah-engah, Renata akhirnya lega saat pria itu menghentikan larinya, dan tetap dengan memegang erat tangan Renata, mengajaknya memasuki sebuah ruangan kelas.


" Dimana ini? hah.. indah sekali ruang kelas ini, baunya sangat harum. Tapi, kenapa semua orang tanpa ekspresi?" Renata menarik tangan pria itu dan menanyakan semua pertanyaan.


" Sssttttt, jangan berisik, ikuti pelajarannya gadis mungil!" sambil tersenyum pria itu menutup mulut Renata dengan jarinya.


"Haisssss, dia memegang mulutku, dan bilang aku gadis mungil lagi. Dasarrrrr, aku jengkel-jengkellll..."


Renata semakin kesal dengan mengernyitkan dahinya saat melihat pria itu yang selalu tersenyum tiap kali melihat dirinya marah.


"Sepertinya aku mengenali pria ini, dimana ya?" ucap Renata dalam hati.


"Haiii, gadis mungil. Dari tadi kamu memandang aku terus. Kenapa? Apa karena aku tampan?" sambil memegang dagu Renata, pria itu mencoba menggoda Renata.


" Kenapa kelas ini kosong? dimana semua orang?" Renata menarik lengan pria itu dan menanyakannya.


"Hahaha, gadis mungill akhirnya menyukaiku yaaa?" masih dengan menggoda, pria itu membuat Renata sebal.


"Tampan? Hemm...kamu tidak lebih tampan dari sahabatku, Alberth. Dia mempunyai rambut ikal yang sangat bagus" Renata dengan tersenyum sinis menatap pria itu.


"Hahaha, kamu lucu sekali, gadis mungil. Ikal? Emm... maksudnya keriting? woww, kayak mie dong"


Pria itu tertawa sambil mencubit pipi Renata lalu memegang erat tangannya kembali dan mengajaknya keluar dari kelas.


"Apa mie? auwww... kenapa kamu mencubit pipiku?"


Renata mengikuti pria itu sambil memegang pipinya.


"Aahhh, kenapa harus berlariiiii? "


Tiba-tiba Renata kembali melihat cahaya biru yang selalu mengikutinya.


" Cahaya biru, kenapa kembali muncul? Apakah aku harus mengikutinya?" Renata melamun dan tidak sadar pria itu menghentikan larinya.


" Hei.., gadis mungil. Kamu melamunkan aku ya? Pasti karena aku memang tampankan?"


Pria itu kembali menggoda Renata dan kali ini Renata hanya melihatnya saja tanpa merasa kesal karena memikirkan cahaya biru yang selalu mengikutinya.


"Aku sangat lelah, kenapa kita harus berlari? Tidakkah kamu lihat, wajahku sudah sangat pucat. "


Dengan nafas terengah-engah, Renata merebahkan kepalanya dimeja yang ada didepannya.


"Gadis mungil, maafkan aku! kamu tidak apa-apa,kan?"


Dengan cepat sebelum kepala Renata menyentuh meja, pria itu meletakkan tangannya diatas meja agar Renata bisa meletakkan kepala ditangannya.


Ketika Renata melihat wajah pria itu, Renata terheran karena setahunya, pria itu selalu tersenyum dan tidak pernah serius. Namun kali ini , sorotan matanya yang tajam memperlihatkan keseriusannya yang begitu khawatir melihat dirinya kelelahan.


"Dia tadi selalu tersenyum, sekarang serius sekali. Siapa dia sebenarnya?" ucap Renata dalam hati dengan penasaran.


Sesaat kemudian Renata dikejutkan dengan Cahaya biru yang berada disalah satu lorong sekolah. Cahaya itu seakan melambai ingin Renata mengikutinya.


" Cahaya biru? aku harus mengikutinya, tapi bagaimana aku harus lepas dari pria ini?"


"Heiii, kamu mr x, mr z, atau apalah namamu, aku haus. Bisakah kamu mengambilkan aku air?"


Renata mengangkat kepalanya dan memohon untuk diambilkan air kepada pria itu.


" Air? Baiklah gadis mungil. Ayo, ikut aku!"


Dengan tetap memegang tangan Renata, pria itu mengajak Renata untuk mengambil air minum.


"Aaaaahh, apakah aku harus ikut? aku sangat lelah, lagi pula aku tidak bisa kemana-mana,kan. Jika aku lari, bukankah kamu bisa dengan mudah mengejarku?"


Renata berusaha membuat pria itu percaya dan sepertinya Renata berhasil. Dengan tersenyum pria itu meninggalkan Renata untuk mengambilkan air minum.


Setelah pria itu beberapa langkah meninggalkannya, dengan cepat Renata berlari dan mengikuti cahaya biru. Merasa kawatir, pria itu menoleh hendak melihat Renata, namun Renata sudah menghilang dari pandangannya.


"Gadis mungil, dimana kamu? gawaattt, cahaya biru, kenapaa kamu tidak menungguku?" Pria itu berlari mencari Renata.


Renata mengikuti cahaya biru hingga sampai disebuah lorong yang begitu indah. Lorong itu berjumlah tiga dan ditengahnya terdapat batu besar dengan lubang berbentuk segitiga.


"Apaa ini? dimana cahaya biru itu? Dan suara apa ini? " kembali Renata mendengar suara memanggil namanya yang sebelumnya dia dengar.


"Renata, kamulah orangnya? kamulah yang terpilih, Renataaaa" Dengan ketakutan berada didepan lorong, Renata menghentikan langkahnya.


"Siapa kamu? tolong jangan sakiti aku!"


Dengan mata yang masih menangis dan tubuh yang lemas, Renata duduk ditanah dan tidak sanggup lagi berjalan karena ketakutan. Tiba-tiba Renata mendengar suara mendesis yang sangat kencang.


"Sssssssttttt, Ssssttttttttt" suara mendesis itu semakin lama semakin kencang.


Renata dengan suara yang lemah meminta tolong berkali-kali hingga suaranya semakin serak dan menghilang.


"Tolonggg, jangan sakiti akuu! apaa itu?"


Renata sangat terkejut melihat ular hitam yang sangat besar dan bermata merah. Dengan memperlihatkan taringnya, Ular itu datang dengan mendesis menghampiri Renata dan mengelilingi tubuhnya siap untuk melahap mangsa di depannya.


Dengan tenaga yang sudah lemah dan pandangan mata yang sudah kabur tertutup air mata, Renata hanya duduk terdiam dan pasrah sambil menangis.


Secepat kilat ular itu mematuk Renata. Namun tiba-tiba tertahan dengan sebilah pedang putih bercahaya yang menebas kelapa ular itu hingga terbelah.


Menggunakan pandangan matanya yang masih kabur, Renata melihat bayangan seorang pria yang semakin lama semakin jelas wujudnya. Wajahnya sangat tampan dan gagah, rambutnya putih bercahaya dan hebat memainkan pedang bercahaya ditangannya. Dengan mata yang berwarna abu-abu, pria itu menatap dengan tajam dan mempesona sehingga menggetarkan hati Renata.


"Siapa pria itu? indah sekali matanya. Dimana aku?" Setelah berhasil menebas kepala ular raksasa, pria itu menggendong Renata.


"Kenapa dia menggendongku? Matanya begitu indah, tubuhku terasa dingin dipelukannya,tapi hatiku bergetar. Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Kenapa aku?"


Ucap Renata dalam hati dengan memandang wajah pria yang menolongnya. Sesaat pria itu menatap Renata dan tersenyum. Renata kembali bergetar hatinya dan membalas dengan senyumannya.


"Kenapa aku bahagia sekali bertemu dengannya?" dengan menatap pria itu Renata merasakan sesuatu yang luar biasa yang tidak pernah dirasakannya.


"Erick, turunkan Renataaa! kamu tidak boleh mendekatinya!" Renata terkejut melihat suara yang sangat kencang dengan nada marah yang berasal dari pria yang menariknya tadi pagi.


"Erick, namanya. Siapa dia? Kenapa dia sepertinya sangat mengenalku?" Renata masih kebingungan dengan semua yang dialaminya.


Erick melepaskan gendongannya dan perlahan-lahan menyandarkan Renata disebelah meja. Dengan sorotan mata abu-abunya yang indah, Erick memandang Renata dan membelai rambutnya tanpa bersuara.


"Erikk..., hentikaaann! kamu membuat aku marah." Dengan berteriak, pria yang tadi pagi menarik Renata sangat marah dan mengeluarkan rantai yang diselimuti api yang keluar dari sepasang gelang yang dipakainya.


Masih dengan tanpa suara, Erick tetap tersenyum kepada Renata tanpa menghiraukan perkataan pria itu.


Tangan Erick dengan lembut mengelus pipi Renata kemudian secepat angin Erick meninggalkan Renata. Gelang yang semula mengeluarkan rantai api pada kedua lengan pria itu, kembali mereda saat melihat Erick pergi


"Gadis mungil, kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu meninggalkan aku?"


Dengan gelisah pria itu mengusap keringat Renata dan segera menggendong Renata.


"Kenapa hari ini banyak sekali pria yang dengan mudah menggendongku?"


Renata dengan suara yang masih lemah bertanya ke pria itu.


"Thomas, kamu bisa memanggilku, thom tampan! Hahaha... bagaimana, gendonganku paling kuatkan?" Dengan senyuman thom membisikkan ditelinga Renata dan berusaha membuat Renata tertawa.


"Erick, thom, siapa kalian? "Renata menarik baju thom dengan pertanyaannya dan kemudian melihat Thom hanya tersenyum.


Renata yang merasa lemas dan kelelahan akhirnya pingsan dalam dekapan Thomas.