
Erick tersenyum bahagia melihat Alberth akhirnya tidak berada didekat Renata untuk sementara. Dan tentu saja tidak akan ada yang mengganggunya ketika mendekati Renata.
"Ahh adikku tersayang kau datang diwaktu yang tepat, aku berhutang budi padamu. hahaha..mintalah apapun denganku..kau tau kalau kakakmu selalu menyayangimu...aku mengandalkanmu Erin sayang.." telepati Erick dengan Erin.
"Apa yang kau katakan kakak?...jangan membuatku emosi diamlah dan pergilah dengan istrimu segera jangan menggangguku..!!" Erin
" Akan lebih baik jika kau bisa menahan Alberth selama mungkin...adikku tersayang..aku berjanji akan mengabulkan semua permintaan adikku tersayang dan tergalak hahaha..."Erick
"Diamlah kakak dari tadi kau banyak bicara...kau sangat tahu Itu yang selalu aku inginkan. Bersama selamanya dengan Alberth. Sekarang Pergilah kakak...bawalah istrimu sejauh mungkin..agar tidak dekat dengan Alberth"Erin
"Sesuai permintaanmu adikku sayang..." Erick memeluk Renata dari belakang dan menyandarkan kepalanya kepundak Renata
Telepati Alberth dengan Erin.
"Alberth, apa kita bisa berbicara di tempat yang lain?...disini tidak aman Alberth aku mohon kali ini kau menurutiku..."Erin
"Baiklah kita ketaman biasanya..dan aku tidak mempunyai waktu yang lama jadi kau harus cepat mengatakan maumu Erin"Alberth
"Tapi kau tidak bisa berlari secepat diriku, Alberth.."Erin
"Aku akan menyusulmu dari belakang..kau tidak perlu khawatir"Alberth
"Bagaimana jika aku menggandengmu? Kita bisa kesana bersama-sama "Erin
Alberth terdiam sejenak dengan tatapan yang serius dan akhirnya menyetujui Erin.
Alberth menghampiri Erin dan memegang tangannya, secepat kilat Erin menarik Alberth dengan tersenyum bahagia sementara Alberth tidak memandang Erin sama sekali hanya menunjukkan wajah dinginnya.
Dan akhirnya sampailah ditaman yang biasa mereka datangi sejak kecil.
"Sekarang apa maumu Erin.. cepat segera katakan!"Alberth
" Tidakkah kau ingat, dulu kita sering berdua di taman ini? Itu adalah hari-hari bahagiaku, Alberth. Dulu kau begitu menyukai permainan pianoku. Setiap hari kau memintaku memainkannya untukmu..haha, kita benar-benar bahagia saat itu..ayolah Alberth kau pasti mengingatnya" Erin tertawa pelan dan memandang Alberth lembut dan mengingat masa lalu ketika bermain piano didepan Alberth.
" Tapi aku tidak mengingatnya lagi, Erin. Dan itu tidak ada artinya bagiku, dan berulang kali aku sudah mengatakannya padamu kau harus mengerti akan hal itu, jangan memaksaku Erin" Alberth menatap tajam Erin dengan penuh kemarahan.
"Tiap detik bersamamu adalah hal berharga bagiku Alberth. Aku tau kau membenciku karena aku adalah keluarga Erlion. Jika aku bisa merubahnya untuk mendapatkan cintamu, aku akan melakukannya. Tapi itu tidak bisa, Alberth " Erin membalas pandangan Alberth dengan wajah sendunya dan mata yang mulai sembab menahan air matanya.
Aku tidak pernah memintamu melakukan hal itu ,Erin" Alberth menjulurkan salah satu jarinya kearah Erin dengan marah.
" Tanpa kau minta aku akan memberikan segalanya untukmu, Alberth. Kau tidak tau seberapa besar cintaku padamu"Erin meremas baju yang menutupi dadanya.
"Harusnya kau tidak memilihku untuk kau cintai Erin kau harus mengerti akan hal ini, lupakan aku segera Erin..!" Alberth melangkahkan kakinya satu langkah kedepan Erin sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Seharusnya kau juga tidak memilih Renata untuk kau cintai sedangkan wanita itu tidak mungkin bisa bersamamu. Bukankan hati tidak bisa memilih kepada siapa cinta kita berlabuh?" Erin penuh emosi dan tidak bisa lagi menahan air matanya yang mulai keluar perlahan dari matanya.
"Jangan menyebut namanya dengan penuh kemarahanmu, Erin!..aku akan membencimu selamanya..!" Alberth berteriak dan mengangkat salah satu tangannya untuk menampar Erin tetapi ditahannya.
"Alberth jangan perlakukan aku seperti ini..aku tersiksa..mengertilah Alberth!"Erin mendekati Alberth dengan pelan dan memegang tangannya dengan penuh hati-hati.
Dengan cepat Alberth memalingkan wajahnya dan menampis tangan Erin dan membuatnya semakin mengeluarkan air mata yang sekarang tidak bisa ditahannya lagi.
"Kau tahu bagaimana perasaanku Erin..dan jangan pernah memaksaku..!"Alberth berjalan menjauh dari Erin dan membelakanginya.
Dengan nafas yang mulai terdengar keras dan sesak Erin berusaha menahan amarahnya dan tidak menyerah memohon kepada Alberth.
"Tentu saja aku tau perasaanmu. Bukankah kita sama-sama mencintai seseorang yang tidak mencintai kita? Rasanya sangat menyakitkan, bukan?" Erin yang mengulurkan tangannya berusaha menyentuh Alberth yang jauh dari depannya.
" Lalu kenapa kau tidak menyerah saja, Erin" Alberth kali ini menjawab dengan nada dingin dan pelan.
" Kenapa tidak kau saja yang menyerah Alberth?Renata sudah menjadi milik Erick sampai kapanpun juga. Biarkan aku saja yang tidak akan menyerah kepadamu. Sekarang katakan padaku! Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak membenciku Alberth..?"Erin berjalan menuju Alberth yang membelakanginya sambil mengulurkan salah satu tangannya dan air matanya yang membasahi pipinya yang tidak bisa dia tahan.
"Jangan pernah kau mengganggu Renata bisa kau lakukan itu! Dan jangan membencinya!"Alberth membalikkan badannya dan berada dekat didepan Erin dan tangan Erin menyentuh dada Alberth yang berdetak kencang menahan amarah terhadap dirinya.
" Bagaimana mungkin aku tidak membenci dan tidak mengganggu wanita yang telah merampas hati dari pria yang paling kucintai? Itu adalah dua hal yang paling berat dalam hidupku.!" Erin
" Hanya itu yang kuinginkan darimu...!" Alberth
"Seperti yang kukatakan tadi,aku akan melakukan apapun untukmu, tapi kau juga harus melakukan dua hal untukku! Apa kau bersedia?" Erin
"Jika kau mau melakukan apapun untukku kenapa kau meminta syarat dariku?" Alberth
"Karena kau harus memberiku kesempatan untuk tidak menyerah padamu" Erin menatap lembut Alberth dan melepaskan tangan yang menyentuh dada Alberth.
"Katakan apa maumu!" Alberth
"Kau harus menemuiku setiap hari" Erin memegang tangan Alberth dengan perlahan.
"Kau tahu aku tidak bisa melakukan hal itu Erin.."Alberth kali ini tidak menampis Erin ketika memegangnya.
"Baiklah...seminggu dua kali dan ini tawaran terakhir..."Erin memandang tajam Alberth.
Dan tiba-tiba Erick bertelepati kepada Alberth.
"Alberth, bukankah kau akan melakukan apapun demi keselamatan Renata? Lakukan apa yang diminta Erin" Erick
"Tapi tidak seperti ini Erick.."Alberth memandang Erin dengan wajah sangat serius.
"Kau bertelepati dengan siapa Alberth aku tidak bisa mengetahuinya jika tidak diijinkan..aku harap itu kabar bagus buatku.."Erin yang semakin memandang Alberth.
"Jika syarat mudah seperti ini kau tidak sanggup, lalu bagaimana kau akan melindungi Renata dari bahaya yang lebih besar?"telepati Erick
Alberth melanjutkan telepati dengan Erin.
"Baiklah Erin hubungi aku dua hari lagi aku yang menentukan harinya"Alberth memandang serius Erin.
"Apa..kau menyetujuinya Alberth?"Erin tersenyum sangat bahagia.
"Aku mau kau menciumku setiap kali kita bertemu termasuk hari ini.."Erin menatap Alberth dengan serius.
"Kamu tahu itu tidak mungkin..ahh(berteriak).."
Alberth mengarahkan kabut hitam kesemua arah dan membuat semua bunga hancur seketika.
"Tapi itu syaratku Alberth.." Erin terdiam tidak bergeming bahkan saat kabut hitam Alberth hendak mengenainya.
Erick kembali bertelepati dan sangat marah.
"Alberth, kabut hitam adalah kelemahan Erin, jangan pernah kau melukainya!"Erick
"Tapi adikmu meminta sesuatu yang lebih dariku...dan itu tidak mungkin.."Alberth memukulkan tangannya ketanah dan bergetar.
"Ahhhh....brukkkk..."
"Apa yang tidak mungkin demi Renata, Alberth?"
Erick berteriak dalam telepatinya dan membuat matanya bersinar.
"Baiklah Erick dengan satu syarat, didepanku kau tidak boleh menyentuh Renata, jika dia berbicara denganku kau tidak boleh ada didekat kami....!"Alberth sangat kesal dan memandang Erin dengan sangat marah.
"Dia istriku Alberth...!"Erick kembali marah dan matanya semakin bersinar.
"Alberth dengan siapa kau bertelepati apakah dengan Erick...aku tidak bisa menembusnya...!"Erin berusaha terus memandang Alberth agar mengetahui dengan siapa Alberth bertelepati.
"Baiklah..jika kau ada..aku akan berada beberapa jarak dengan Renata...janji vampir selamanya..kau tahu itu..sekarang lakukan semua permintaan Erin demi Renata..!"Erick yang nafasnya mulai kencang dan matanya yang mengeluarkan cahaya listrik yang mulai membesar dengan berteriak menghancurkan semua pohon yang ada didepannya hingga mengejutkan Renata yang sedang bersama Thomas.
"Ahhhhhhh......(Duarrr)...!"
"Suara apa itu..kenapa si vampir? " Thomas.
"Erick....!"Renata berlari menghampiri Erick disusul Thomas dibelakangnya.
Sementara Alberth bangkit dan berdiri sambil memejamkan matanya sejenak kemudian berjalan perlahan menghampiri Erin.
"Kenapa kau tidak menghindari seranganku tadi? Kau bisa saja terluka" Alberth
" Aku tahu kau tidak akan bisa melukaiku. Kalaupun aku terkena, aku rela mati ditanganmu" Erin menatap Alberth dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jadi kau tidak akan menyesal jika aku membunuhmu sekarang?" Alberth
" Tidak akan pernah...lakukan...bunuh aku! aku hanya akan mati dipelukanmu" Erin menutup mata dengan pasrah.
Sejenak Alberth menatap mata Erin lalu tangannya memegang tengkuk Erin dan mendaratkan bibirnya ke bibir Erin dengan tatapan mata yang serius.
" Ahhh...Alberth,kau menciumku"
Erin sangat terkejut dengan ciuman Alberth yang tiba-tiba dan mulai membuka bibirnya membalas ciuman Alberth.
Ciuman yang semula perlahan, tanpa disadarinya Alberth merasakan gairah dan semakin memperdalam ciumannya.
Alberth mendorong Erin hingga punggungnya bersandar di pohon dan mencium Erin dengan sangat bergairah dalam dekapannya yang erat membuat Erin tidak mampu bergerak.
Erin membalas ciuman Alberth dengan matanya yang bersinar dan menarik baju Albert hingga dada Alberth terbuka, bahkan tanpa Alberth sadari, diapun hampir merobek baju Erin.
Beberapa saat mereka sangat menikmati tubuh mereka yang melekat satu dengan yang lain.
Entah kenapa Alberth sangat terhanyut oleh cinta Erin yang begitu besar seakan memenuhi ruang kosong di hati Alberth.
Ketika Alberth membuka matanya yang dari tadi terpejam, Alberth tersadar dan melepaskan ciumannya dengan nafas yang terengah-engah.
Mata Alberth terbuka lebar melihat baju Erin yang terbuka dibagian dadanya. Dengan cepat Alberth menutup kembali baju Erin.
"Apa yang aku lakukan...kenapa aku melakukannya? kenapa dengan diriku?" Alberth memegang kepalanya.
Pelan-pelan Alberth berjalan mundur dan membalikkan badannya kemudian berlari meninggalkan Erin.
"Hubungi aku dua hari lagi..maafkan aku Erin.." Alberth
"Alberth, suatu saat kau akan menjadi milikku. Tidakkah kau tau hari ini adalah hari paling bahagia bagiku setelah sekian lama?" Erin tersenyum sambil mengeluarkan air mata dan memegang dadanya yang berdetak kencang.
Sinar mata Erick mulai hilang saat Renata datang. Erick membalikkan badannya dan memeluk Renata.
"Vampir...apa ini hancur semua...kenapa kamu..?"Thomas menggelengkan kepalanya melihat taman rumah Renata sangat hancur berantakan.
"Astaga kenapa denganmu suamiku? ini taman kesayanganku ada apa denganmu? ibuku bisa marah.."Renata cemberut dan memukul dada Erick.
"Hahaha...maafkan aku istriku setidaknya bukan perabotan rumah yang aku hancurkan...nanti aku akan meminta maaf dengan ibumu dan menyuruh orang untuk memperbaikinya"Erick menarik Renata masuk kedalam rumahnya.
"Kita benar-benar harus merenovasi rumah ini sayang...aku tidak mau kejadian di rumah kita yang dulu terjadi lagi, bagaimana menurutmu?" Renata menatap Erick.
"Terserah kamu saja istriku...apapun asal kau bahagia" Erick mendekap erat Renata.
"Sepertinya kau sebentar lagi akan merasakan kegalakan nyonya Elena...hahaha...kau tidak akan bisa berkutik Erick..."Thomas tertawa sinis didepan Erick.
Erick hanya terdiam sambil membelai Renata dan tidak memperdulikan ucapan Thomas.
" Ahhh...tidak bisakan mereka tidak bermesraan didepanku! membuatku semakin sakit hati saja" Thomas membatin sambil melirik sinis dan meninggalkan Renata dan Erick.
"Kenapa denganmu,Erick? sepertinya ada sesuatu yang dia pikirkan" Renata membatin dalam dekapan Erick
"Terima kasih Alberth..akan aku tepati janji vampirku.."Telepati dengan Alberth.
"Erick..."Renata memandang suaminya dengan serius.