Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
BAB 1 : Sekolah Hantu Erlion



Langit yang tampak begitu gelap, sedang lampu jalanan menyala terang dengan suasana yang syahdu dan temaram, menunjukkan kemolekan kota Paris.


Diatas salah satu gedung tertinggi di antara beribu gedung, berdirilah seorang wanita yang menutupi sebagian wajahnya dengan kain berwarna hitam sekaligus jubah hitam panjang menjuntai, menikmati keindahan Kota Paris dengan meneteskan air mata mengingat kejadian dimasa lalu.


Inilah kisah Renata Rudolf, anak dari sepasang bangsawan yang bernama Reynald Rudolf dan Elena Rudolf, yang harus menerima takdirnya memiliki kekuatan di sepasang matanya untuk melawan Tuan Besar Vampir.


Gemerlap lampu kota Paris seakan melambai-lambai dengan indahnya membuat Renata sejenak melupakan apa yang membuat hatinya diselimuti dendam atas kehilangan cinta sejatinya.


Renata merapatkan jubahnya untuk menahan tubuhnya yang memanas akibat cahaya merah yang terus keluar dari dalam tubuhnya.


Matanya yang kosong mulai mengingat kejadian dimana saat Renata pertama kali memasuki SMA Erlion dan bertemu dengan cinta sejatinya yaitu Erick sang vampir Erlion yang memiliki sepasang mata abu-abu yang indah. Itulah hari dimana semua berawal.


Pagi itu Renata ingin sekali bermalas-malasan, sedangkan sinar matahari seakan enggan membiarkannya tertidur dengan terus menari-nari diwajahnya hingga membuatnya kesal dan memarahi semua pelayan yang berusaha membangunkannya.


“Kenapa kalian terus menggangguku”


Desis Renata sambil menutupi wajahnya dengan bantal yang erat dipegangnya.


Datanglah bibi Aelin seorang kepala pelayan yang sangat menyayanginya seperti anaknya sendiri.


“Bangunlah Renata sayang, sekarang waktunya pergi kesekolah.”sambil berusaha menarik bantal yang menutupi wajah Renata.


“Aku masih mengantuk Bibi, ayolah!”


Renata berusaha menarik kembali bantalnya dan menjulurkan lidahnya ke bibi Aelin.


“ Renata sayang , sekarang ikuti para pelayan itu dan segeralah bersiap!” Katanya dengan menyilangkan kedua tangan didada.


” Kenapa harus banyak sekali pelayan, Bibi?”


Renata dengan wajah muramnya mengikuti semua pelayan menuju ke kamar mandi mewahnya yang sangat harum dengan aroma terapi mawar.


Keharumannya membuat Renata berputar-putar sejenak untuk menikmatinya dan mampu menghilangkan wajah buramnya walaupun hanya sesaat.


Setelah memasuki bath up, para pelayan menggosok tubuh Renata dengan sangat lembut, tetapi tetap tidak bisa membuat wajah Renata yang muram menghilang.


“Bibi, aku mau bertemu Alberth setelah ini!”


Renata merengek dan membuat Bibi Aelin tersenyum sambil menyiapkan semua keperluan untuknya.


Renata mengangkat tubuhnya dari bath up dan para pelayan dengan cepat mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan memasangkan seragam barunya.


Suara ketukan pintu kamar Renata membuyarkan kemarahannya.


Dengan segera salah satu pelayan membukakan pintu yang tertutup.


Wajah Renata yang muram menjadi tersenyum saat pelayan memberitahukannya bahwa Alberth ingin menemuinya.


Alberth adalah anak Bibi Aelin yang dari kecil selalu menjaganya dan mempunyai kebiasaan membelai rambut indah Renata setiap kali mereka bertemu.


Renata segera memeluk Alberth dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


Alberth memiliki mata coklat yang indah dan rambut ikal sebahu, bertubuh tinggi dan badannya yang kekar selalu membuat Renata merasa nyaman berada dipelukannya.


Alberth harus kehilangan suaranya karena sebuah kecelakaan hingga membuatnya tidak bisa berbicara.


“ Alberth, bantulah aku saat ini!”


Renata merengek kepada Alberth agar membantu membujuk ibunya supaya tidak perlu pergi kesekolah.


Senyuman manis Alberth selalu membuat kemarahan Renata mereda. Ditariklah tubuh mungil Renata oleh satu tangan kuat Alberth dan tangan yang lainnya menarik kursi berwarna pink disebelahnya.


Dengan isyarat tangan, Alberth memberitahukan Renata untuk mendudukinya.


“ Aku harus duduk disini maksudmu, Alberth?”


Alberth dengan senyuman menganggukkan kepalanya.


“ Baiklah.” Renata segera mendudukinya dan melebarkan matanya menunggu perintah Alberth.


Tangan Alberth merogoh salah satu saku bajunya dan mengeluarkan sebuah surat yang langsung diberikan kepada Renata.


“ Apa ini, Alberth?”


Renata mengambilnya dengan penasaran. Tak butuh waktu lama untuk membaca surat itu, Renata meremas surat itu sambil menarik nafas panjang dan menutup matanya. Berjalanlah Renata menuju jendela dan membuang surat dari ibunya.


“ Aku harus masuk SMA pilihan ibuku, Alberth.”


Sambil berjalan menuju sofa besarnya, Renata bersikeras tetap tidak mau pergi menuju sekolah barunya. Albert menghampirinya dengan senyumannya yang menawan yang biasanya selalu berhasil membujuk Renata.


“ Alberth, kau selalu saja membuatku tidak berkutik.”


Renata menggelengkan kepalanya dan membalas senyuman Alberth.


“Aku akan bersekolah disekolah bangsawan dan mereka semua berjalan seperti robot.”


Tawa Renata dan Alberth yang terhenti karena Bibi Aelin datang.


“ Renata ayo, segera bersiap! Dan Alberth, keluarlah !”


Renata diam melihat Alberth yang berlalu dari kamarnya. Karena merasa kesal, Renata kembali marah-marah sampai membuat semua pelayannya kuwalahan.


“ Alberth, bantulah aku!” Diluar kamar Alberth tersenyum mendengar teriakan Renata.


“Alberth, jangan pernah mencintai nona Renata.”


Ibunya yang mengejutkannya ketika Alberth berada di balik pintu kamar Renata.


“ Kau sudah tahu Alberth, dia bukan untuk kau cintai. Ibu tidak mau kau sakit hati.” Ibunya menepuk pundaknya dan pergi meninggalkannya.


Wajah Alberth kembali sendu dan terdiam membalikkan badannya menuruni tangga dan menunggu Renata bersiap-siap.


Selang tiga puluh menit, Renata menuruni tangga dan memakai seragam sekolahnya dengan sangat cantik, hingga membuat Alberth tak hentinya memandang dengan senyuman yang selalu menghiasi wajah tampannya.


” Hei, menatapku seperti itu membuatku malu. Ayo temani aku sarapan!”


Sambil menggandeng lengan Alberth, Renata mengajaknya menuju ruang makan. Seperti biasa Renata memakan sandwichnya dengan sembarangan dan melupakan aturan tata cara bangsawan setiap kali ibunya tidak ada dirumah.


Dengan telaten, Alberth membersihkan sisa makanan di mulut Renata, sementara di dalamnya masih penuh dengan makanan yang masih terkunyah.


Setelah menghabiskan sarapannya, Alberth menyodorkan susu hangat kesukaan Renata.


“ Sudah, aku mau berangkat. Antar aku kedepan Alberth!” Meletakkan gelas kosong dimeja, Renata dan Alberth meninggalkan ruang makan dan menuju mobil yang sudah menunggunya di depan rumahnya


“ Apa? kenapa harus dengan sepuluh pengawal, Bibi? Bukankah ini sungguh keterlaluan?” Renata berlari kearah Alberth dan memeluknya.


“ Alberth, aku tidak mau pergi. Biarkan aku disini bersamamu!” Alberth memeluk Renata dan membelainya dengan tangan kuatnya yang malah membuat Renata semakin merengek.


Alberth menggandeng tangan Renata menuju mobilnya dan membukakan pintu mobil dengan terus tersenyum. Albert memegang pipi Renata dan membelainya hingga Renata menurutinya dan masuk kedalam mobil.


Mobil melaju dengan Renata yang melambaikan tangannya ke Alberth dan Bibi Aelin hingga semakin lama semakin menghilang dari pandangannya.


Renata selalu membuka kaca jendela mobilnya agar udara bisa masuk mengenai wajahnya saat melewati jalan yang diapit oleh hutan-hutan.


“ Apa itu cahaya berwarna biru? ” katanya sambil melihat kearah hutan yang dilewatinya.


Setelah beberapa lama, tanpa Renata sadari dirinya telah sampai disekolah SMA yang saat itu telah penuh dengan wartawan dan para siswa yang menunggu kedatangan Renata, seorang anak bangsawan dan ibunya yang mantan artis terkenal.


“ Nona, silahkan keluar!” Pengawal Renata dengan sigap membukakan pintu mobil.


Dengan perlahan Renata keluar dan berusaha menahan rasa kesalnya dengan para wartawan yang selalu memburunya.


“ Kenapa mereka selalu ada? Seharusnya orang tuaku yang mereka cari, bukan aku.”


Dengan kesal Renata memandang kearah luar gerbang dan melihat kembali cahaya biru yang dilihatnya dihutan.


“ Cahaya biru? Aku akan mengikutinya.” Didalam kerumunan para pengawalnya, Renata dengan tubuh mungilnya menyelinap saat para pengawal sibuk mengatur para wartawan yang mengelilinginya.


Renata berlari mengikuti cahaya biru menjauh dari sekolahnya, dan memasuki sebuah lorong yang sangat indah dengan tanaman hijau yang rimbun dengan bunga-bunga yang berwarna warni, yang membuatnya terpana dengan keindahannya.


“ Benar-benar indah lorong ini, dimana aku?” kaki yang perlahan terus berjalan dengan jantung yang semakin berdetak kencang. Renata mendengar suara misterius yang memanggilnya.


“ Renata, kamulah yang terpilih, kamulah orangnya.” Kabut dingin yang tiba-tiba menyelimuti tubuhnya semakin membuat detak jantungnya semakin kencang. Kaki Renata yang semula tegak menjadi lemas tidak bisa menumpu tubuhnya lagi untuk berjalan.


“ Batu apa ini yang aku injak? Bentuknya sangat aneh, sebenarnya dimana aku?” berdirilah Renata didepan sebuah gerbang yang sangat besar dan berwarna Emas bertuliskan Sma Erlion.


“ Sma Erlion? Aku tidak membaca sekolahku bernama itu disurat ibuku. Sebenernya dimana aku?” tangan yang mulai membuka gerbang dengan perlahan, membuat mata yang semula biasa menjadi terbuka lebar melihat keindahan dibalik gerbang yang ditemuka Renata.


” Indah sekali sekolah ini, tanaman yang sangat subur dengan bunga yang berwarna- warni. Para hewan bisa berinteraksi dengan para siswa?”sambil memegang rambutnya Renata memandang seluruh Sma Erlion dengan takjub hingga tidak bisa berucap apapun.


” Ibu, dimana aku sebenarnya, apa yang sudah terjadi? kenapa semua siswa disini berwajah pucat dan tidak berbicara?”


Renata tetap diam dan kebingungan hingga bel sekolah berbunyi membuarkan lamunannya.


“ Kring……” kaki yang terdiam mulai berjalan memasuki kedalam gedung yang sangat megah dengan warna emas dan pilar-pilar yang tinggi membuatnya tidak bergeming dan hanya memandang seluruh isi ruangan.