
Pattinson malepaskan anak kecil itu kembali kekeluarganya sesuai dengan perintah Edwind.
"Tinaa...akhirnya kau kembali nak...ayah dan ibu sangat merindukanmu...apa kau baik-baik saja? Kemana saja kau selama ini nak?"
"Iya ayah aku baik-baik saja. Aku diajak tuan yang sangat baik walaupun wajahnya menyeramkan tapi dia benar- benar membawaku pulang dan memberiku ini. Dia bilang kita tidak boleh tinggal di kardus lagi, ayah"
"Apa maksudmu nak? Tuan siapa? Kenapa dia memberimu emas sebanyak ini? ini benar-benar mukjizat"
" Dia tadi ada disini, tapiiii...knapa tiba-tiba menghilang? Entahlah"
Tina memberikan sekantong emas pemberian Edwind kepada ayahnya, tentu saja ayahnya sangat terkejut bagaimana bisa setelah berhari-hari menghilang tiba-tiba anaknya datang dan memberinya emas.
Di kastil Erlion, Edwind sangat senang akhirnya darah Renata bisa didapatkannya dengan mudah.
"Pattinson aku tidak salah dengan mengandalkanmu..kamu boleh meminta apapun akan aku kabulkan.."Edwind
"Terima kasih tuan akan saya pikirkan.."Pattinson
"Baiklah Edward segera persiapkan semua..."Edwind
"Baik ayah akan segera saya laksanakan..."Edward
Edward dan Pattinson pergi meninggalkan ruangan Edwind.
Edwind tertawa penuh kemenangan dengan membawa darah Renata ditangannya.
"Sebentar lagi kita akan bersama selamanya kakak...hahahahaha"
Edward mengajak Pattinson ke ruangannya diikuti dengan beberapa pengawalnya.
Mereka mulai menyusun rencana untuk kebangkitan tuan besar.
"Pattinson, apa yang kamu inginkan katakan padaku? aku tidak mau punya hutang budi itu sangat menyiksa para vampir, kami sangat ganas tapi kami selalu menepati janji dan terikat dengan hutang kami" Edward
"Aku belum tau apa yang akan aku minta tuan..." Pattinson
"Ahhh....kenapa kau tidak meminta putriku saja....bukankah kau menyukainya?bagaimana?" Edward
"Tapi hatinya milik orang lain tuan.."Pattinson
"Hahaha...maksudmu sibisu..Alberth?"Edward
"Nona Erin sangat mencintainya tuan..seorang vampir adalah pembunuh dan pencari darah tetapi kami tidak bisa memaksakan hati, tuan"Pattinson
"Sudahlah membuat aku pusing saja..sekarang segera persiapkan ritual kebangkitan tuan besar, untuk masalah Erin biar aku tangani nanti"Edward
"Baik tuan.."Pattinson
Pattinson meninggalkan Edward dan segera menyiapkan ritual kebangkitan tuan besar.
Edward meninggalkan ruangannya dan menuju ke kamar Erin.
Betapa terkejutnya saat melihat kamar yang sangat berantakan dan Erin membanting semua barangnya.
"Aku benciiii kamu Alberth....!"Erin
"Apa ini..Erin hentikan...ahh..
(menangkap gelas yang dilempar Erin).." Edward
"Kenapa ayah tidak menepati janji ayah bukankah ayah harus menepatinya?apalagi berjanji dengan anaknya sendiri....!" Erin
"Prannng......" Lemparan Erin.
"Apa maksudmu sayang? ayah tidak mengerti..ayolah tenangkanlah dirimu..." Edward
"Aku tadi ingin menemui ayah dan aku tidak sengaja mendengar semua pembicaraan ayah dengan Pattinson, aku benci ayah...!" Erin
"Erin sayang...sibisu tidak bisa membuatmu bahagia ayolah..kamu berhak bahagia Erin jangan menyiksa dirimu.." Edward
"Tidak....aku hanya mencintai Albert ...mengertilah ayahhh" Erin
"Hentikan..!..biar kakekmu Edwind yang akan memerintahkanmu dengan begitu kau tidak bisa menolaknya atau Alberth akan mati!" Edward
"Jangan pernah mengancamku ayah..atau aku akan ikut mati..!" Erin
"Hahaha....mati..kau tidak akan melakukan itu Erin..baiklah aku akan menangkap Alberth dan melepaskannya jika kau mau menikahi Pattinson.." Edward
"Ayahhhhh.....jika kau menyakiti Alberth sedikit saja aku tidak akan menjadi anakmu lagi.." Erin
"Jangan pernah memerintah dan mengancam ayah Erinnn....brakkkkk" Edward
Edward menghancurkan meja didekatnya dan mengangkat tangannya ke arah Erin.
Tiba-tiba Delichia datang dan menangkap tangan Edward yang akan memukul Erin.
"Suamiku sayang hentikan..hilangkan wajahmu yang menyeramkan itu...mendekatlah padaku aku sangat merindukanmu sayang...kenapa kau lama sekali meninggalkan kamar kita?"
Delichia mencium Edward dan membelainya sehingga kemarahannya mereda.
Tangan Edwardpun membelai tubuh indah Delichia dan membuat Delichia tersenyum.
Erin yang melihat kemesraan mereka merasa marah dan ingin menyerang ibunya.
"Kalian tidak tahu tempat..ini kamarkuuuu...rasakan ini..ahhhhh" Erin
Erin langsung terpental karena tangan Delichia menahannya, sementara Edward tidak peduli dan hanya menatap istrinya.
" hah suamiku sayang...aku ingin berdua di kamar kita..aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu disana. Kau akan menyukainya"
Delichia berbisik di telinga Edward. Dan seketika itu Edward menggendong istrinya dengan secepat kilat dan membawanya menuju kamar mereka dengan tidak melepaskan ciuman mereka.
Erin merasa kesal dan kembali membanting semua barangnya.
"Prang......prang..."
Telepati Delichia dengan Erin
"Jika ibu tidak mencegah ayahmu, kamu akan terluka Erin, kau berhutang dengan ibumu...hahaha.."
"Ibu dan ayah sama saja..kalian tidak pernah mau mengerti diriku"
Didalam kamar, Delichia sudah memerintahkan pelayannya untuk menghias kamarnya dengan seprei satin berwarna merah penuh dengan kelopak bunga mawar dengan cahaya remang-remang. Dua gelas darah segar tersedia di meja untuk menambah tenaga mereka.
"Sayangku...hentikanlah dulu sentuhanmu aku tidak akan kemana-mana...lihatlah kamar kita apa kau menyukainya..tunggulah aku ingin mengganti bajuku"
Hanya dalam beberapa detik Delichia sudah mengganti bajunya dengan lingerie merah yang sangat tipis hingga terlihat sangat cantik dan membuat Edward terpana.
"sungguh luar biasa...aku menyukainya sayang kau sangat cantik...jangan menghentikanku...bicaralah lagi nanti...kau semakin menggodaku"
Edward kembali mencium istrinya yang sangat cantik tetapi Delichia kembali menahannya.
"Suamiku..dengarkan aku sebentar saja...setelah itu aku janji akan menurutimu semalaman"
"Ahh.....Delichia kenapa kau senang sekali menyiksaku? Kau harus membayarnya nanti sayang"
"Tentu saja aku akan membayarnya sayang...dan aku suka jika kau seperti ini semakin membuatmu garang dan kuat...hahaha"
"Tentu saja istriku....sekarang cepat katakan apa maumu? Aku akan segera memenuhinya..ayolah jangan terlalu lama..segeralah berbicara.."
"Baiklah suamiku ini tidak akan lama..Kau harus bisa menikahkan Erin dengan Pattinson dan aku tahu caranya..hmm (sambil meminum darah)..dan ini hanya satu-satunya cara.."
"Bisa kau jelaskan padaku bagaimana caranya sayang? Aku hampir saja meminta ayahku untuk memaksa Erin menikahi Pattinson"
"Dengarkan aku suamiku, bukankah seorang vampir akan memberikan apapun jika dia mempunyai hutang budi pada seseorang?..dan vampir akan terikat dengan hutang itu selamanya.
"Hutang budi? Bisakah kau mengatakan lebih jelas sayang? agar aku lebih mengerti maksudmu sayang.."
Edward menyimak kata-kata istrinya sambil meminum segelas darah yang tersisa bersama istrinya.
"Buat seolah-olah Erin akan mati terbunuh dan Pattinson yang menyelamatkan nyawanya dengan begitu Erin harus membalas hutang budinya kepada Pattinson..hmm dan mau tidak mau Erin harus menikahi Pattinson.."
"Hahahaha....Delichia sayang kau memang sangat cerdas aku akan mengatur itu semua...dan sekarang apa masih ada yang ingin kau bicarakan lagi? Karena aku sudah tidak tahan"
"Hahaha...hanya itu saja suamiku...malam kita akan bersenang-senang. Kemarilah sayang...minumlah yang banyak darah ini agar kau menjadi kuat dan segar.."
Edward dengan Delichia tertawa bahagia dengan rencana mereka.
******************************************
Erick dan Renata masih menikmati bulan madu mereka di rumah pemberian ibu Renata di tengah hutan.
Saat ini keduanya sedang berpelukan ditaman yang sangat indah dipenuhi bunga.
"Erick...kamu ini ya..hentikan kamu membuat aku geli...hahaha"
"Rasakan ini....aku akan semakin membuatmu geli...haha.."
"Eriiiicckkk....sudah hentikan....aku masih memikirkan batu itu.."
"Batu segitiga...hmm kau sudah ingat dimana batu itu.."
"Iya saat itu aku menendangnya didepan gerbang sma Erlion yang sangat indah itu..."
"Sangat indah...hmm sebenarnya tidak seperti itu Renata.."
"Apa maksudmu Erick...aku melihat sekolah itu sangat indah.."
"Sekolah itu aku yang merubahnya seolah-olah terlihat indah sayang, agar kau tidak takut pertama kali datang kesana...maafkan aku.."
"Sayang jelaskan apa yang sebenarnya terjadi..."
"Saat itu aku mendengar pembicaraaan ayahku, dia sudah menyiapkan ular raksasa untuk membunuhmu saat kamu datang kesana"
"Erickk...tenanglah sayang matamu bersinar..pasti kau sangat menderita...mendekatlah padaku biarkan aku memelukmu setelah itu berceritalah dengan tenang...cium aku sayang! Tapi ingat abis itu kamu cerita ya"
Erick yang semula sangat emosi hingga matanya bersinar perlahan- lahan mereda setelah mendengar ucapan Renata dan langsung membelai Renata dan menciumnya dengan sangat lembut.
"Sapa suruh bilang cium ya aku cium dulu...atau harus aku makan dulu..."
"Erickkkk...kita sudah melakukan seharian...apa kau tidak lihat perabotan kita hampir tidak bersisa. Aku tidak tau harus berkata apa kepada ibuku nanti. Kau harus memperbaikinya"
"Iya nanti aku perbaiki...sekali lagi yaa....habis itu aku cerita...."
"Enggakkk cerita dulu...ayolah aku sudah memelukmu...dari mana tadi ayo lanjutkan..."
Erick menarik nafas panjang dan menuruti istrinya untuk melanjutkan ceritanya.
"Disaat kita terpisahkan waktu itu, ayahku mengurungku didalam kamar dan mengelilingi kamarku dengan kabut hitam yang merupakan kelemahanku. Aku berkali kali mencoba menerobosnya tapi selama bertahun-tahun tidak berhasil. Hingga saat aku dewasa bahkan kekuatan terbesarku tidak mampu menembusnya"
"Apa....kabut hitam...aku mengetahuinya saat melewati lorong dimensi....ibumu tidak sengaja tertusuk ayahmu.."
"Iya gara-gara itu aku lemah dengan kabut hitam, tapi saat itu ada cahaya.."
"Cahaya apa Erick..."
"Cahaya..ya aku baru tau jika itu cahaya biru yang kau temui kemaren...dan aku berhutang budi padanya..."
"Apa maksudmu.."
"Saat cahaya biru itu menuntunku kesebuah ruangan dan disana aku menemukan semacam belati kecil yang bercahaya lalu aku mengambilnya ternyata itu adalah senjata tuan besar dulu yang disimpan ayahku..."
"Erick..tenanglah matamu kembali bersinar.."
"Aku mengambil belati itu dan tiba-tiba belati itu masuk kedalam tanganku seakan tidak mau lepas dan menyatu dengan tubuhku, entah bagaimana belati itu berubah menjadi pedang cahaya yang sekarang ini aku bawa.."
"Erick....tahan nafasmu.."
"Aku berhasil keluar dari kabut itu dan aku berlari kedalam air terjun yang kau datangi saat itu,keesokan harinya aku menuju kerumahmu dan ternyata benar kau akan pergi ke sma erlion"
Erick.....kau sangat bersinar..."
"Ibumu menangis dan ayahmu pergi kekuil sementara keesokan harinya kau harus menuju sma itu dan ayahku akan membunuhmu, Thomas tidak berguna selalu gagal melindungimu..."
"Sudah hentikan Erick... kau sangat bersinar tidak perlu bercerita lagi...."
"Aku berlari mencari dan melawan ular itu dan aku berhasil membunuhnya...aku tidak akan memaafkan ayahku. kamu ingat Renata saat aku tertangkap,pedangku dibawa Pattinson...hahaha...aku bisa dengan mudah membuat pedang itu dengan sendirinya kembali ketubuhku...dan aku melakukannya saat aku sendirian di ruang tahanan...tapi aku terlanjur sangat lemah sehingga tidak bisa melawan mereka...sialan!"
"Erick........hentikan!"
Erickpun sangat marah mengingat kejadian dimasa lalunya dan membuat kekuatannya keluar sehingga menghancurkan pohon-pohon dihutan dan sebagian rumah Renatapun ikut hancur.
"Aaaakkuuuu.....benciii....Erlion.......!!"
"Erick....jangan lukai dirimu....hentikannnn!"