Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
Bab 39 : Upacara Ritual



"Renata sayang, sini tenanglah..kau terbalik memakai semua pakaianmu..tenanglah.."


Erick membelai dan memeluk Renata dengan erat karena merasa gelisah dengan kebangkitkan tuan besar.


"Renata istriku, bagaimanapun juga jiwamu tetap manusia yang punya rasa gelisah..sekarang tenanglah dan setelah itu kita akan kembali.."


Erick membetulkan baju Renata yang terbalik dan cahaya merah dimata Renata kembali memudar.


"Aku takut keluargaku terluka Erick..aku tidak mau kehilangan mereka..aku tidak mau.."


Erick memeluk Renata yang mengeluarkan air mata.


"Sayang jika kau sudah tenang kita akan pulang..ok.."


Masih memeluk Renata dengan Erat tiba-tiba Renata melepaskan pelukan Erick dan terdengar suara Erdwind ditelinganya.


"Rudolf kalian semua akan hancur menjadi abu selamanya..hahaha.."


Mata Renata kembali memerah kemudian Renata membalikkan badannya dan hampir berlari, namun Erick kembali menariknya dan mendekap Erat sambil menahan listrik yang keluar dari tubuh Renata.


"Tidakk....." Renata terus berteriak sampai tubuhnya terkujur lemah. Erick membelainya dengan menahan kemarahan kepada keluarganya karena menyakiti Renata.


"Aku tidak akan mengampuni siapa saja yang melukaimu Renata"


*****************************


Pattinson dan Felishia telah sampai di kastil Erlion. Dengan menahan darahnya yang keluar akibat serangan Alberth, Pattinson harus berhadapan dengan Erin yang sudah menunggunya dengan tatapan mata yang bersinar dan alis yang menyentuh keningnya. Erin begitu marah dengan perbuatan Pattinson dan membuat sekujur tubuh Pattinson merasa seperti terbakar melalui kekuatan matanya.


"Kenapa kau berani menyakiti Alberth? kau sudah berjanji Pattinson" Erin masih mengarahkan tatapan matanya yang membuat Pattinson sangat kesakitan.


"Arrghhhhh...(menjerit)..nona Erin aku tidak mau ada yang menyakitimu termasuk Alberth....Arghhhh...(menjerit)..!" Pattinson tergeletak ketanah merintih kesakitan.


"Nona Erin, tolong hentikan! Pattinson hanya tidak mau anda terluka, aku mohon nona seranglah aku jangan dia..nonaaa...!!"


Felishia berusaha membuat Erin luluh hatinya yang dipenuhi kemarahan.


"Nona Erin, ingatlah kau mempunyai hutang budi dengan Pattinson?...aku mohon nona.." Felishia memegangi Pattinson yang merintih kesakitan dan terus memohon kepada Erin.


"Felishia apa yang kau lakukan? jangan pernah mengorbankan nyawamu demi aku..arghhh..(menjerit)..!" Pattinson mencegah Felishia dan menahan tubuhnya yang semakin terasa terbakar.


"Baiklah aku hentikan. Tapi ingatlah Pattinson aku pasti akan membalas kebaikanmu nanti, tapi jika kau menyentuh Alberth lagi tidak akan kumaafkan..!"


"Terima kasih nona..aku berhutang padamu.."Sambil menunduk Felishia berusaha membuat Erin tidak melukai Pattinson.


"Kau pelayan setiaku Felishia setelah kau sembuhkan Pattinson segera kekamarku..kau mengerti Felishia.."


"Aku mengerti nona..dengan segera aku akan menemui anda.."


Erin membalikkan badannya dan pergi dengan cepat.


"Pattinson, ijinkan aku membawamu kekamarku. Kau harus sembuh dan segera menemui tuan Edward!" Felishia membawa Pattinson dengan cepat menuju kamarnya.


*****************************


Kastil Erlion memiliki ruangan bawah tanah yang tersembunyi. Beberapa benda berharga tersembunyi dengan penjagaan ketat disana dan berbagai jebakan yang terpasang di sekitar ruangan itu, sehingga tidak ada siapapun yang bisa memasukinya, kecuali seijin keluarga Erlion.


Di tengah ruangan tersebut terdapat tungku yang besar dengan kobaran api yang menyala. Terlihat Edwind sedang mengeluarkan kabut hitam dari tangannya mengarah ke api yang semakin membesar dan memerah didampingi oleh anaknya yaitu Edward. Dengan wajah tersenyum, Edwind merasa tidak sabar segera membangkitkan kakak kesayangannya sang Tuan Besar Erlion.


Beberapa benda yang akan digunakan untuk ritual telah disiapkan.


Batu berbentuk bulat yang berasal dari abu Tuan Besar yang dulu dibawa oleh Pattinson tertata di atas meja berdampingan dengan botol yang berisi darah Renata yang tinggal setengah.


Edwind sebelumnya pernah mencoba membangkitkan tuan besar dengan darah Renata tapi tidak berhasil karena ada satu darah lagi yang tertinggal. Setelah semua syarat pembangkitan terpenuhi, kini dengan yakin Edwind akan berhasil dengan ritualnya.


"Dimana Pattinson kenapa dia tidak segera datang?" Edward dengan sangat kesal menunggu Pattinson.


"Biarlah dia, kita tidak membutuhkannya.." Edwind memandang kobaran api yang meluap-luap seakan siap untuk menghabisi siapapun yang menyentuhnya.


"Tapi ayah, hanya Pattinson yang harus melempar batu itu karena dia yang dihampiri kobaran abu paman pada saat berkumpul menjadi batu. Paman mempercayakan Pattinson ayah.." Edward berjalan kearah ayahnya.


Edwind memejamkan matanya sesaat dan membalikkan badannya kearah Edward.


"Aku adiknya, pasti kakakku akan menerimanya. Aku akan mencobanya.."


"Dibatu itu tertulis nama Pattinson, ayah. Bagaimana jika kau memberiku waktu untuk mencarinya?"


"Sudahlah ,akan aku lakukan tanpa dia. Sekarang mana pisau belati itu? aku akan menyerahkan darahku dan membangkitkan kakakku"


Edwind berjalan pelan melangkahkan kedua kakinya menuju kobaran api tempat kebangkitan tuan besar.


Disayatnya pisau kekulitnya dan membuat tangannya berdarah. Dengan segera diteteskan darahnya kearah kobaran api.


Edwind melangkah satu langkah kebelakang dan menerima batu abu hitam dari tangan Edward dan dilemparkan kedalam kobaran api.


Tetapi batu abu itu terlempar kembali ke arah Edwind dan dengan mudah ditangkapnya.


"Edward, segera bawa Pattinson kesini cepat jika dia tidak segera datang, aku akan mencabik-cabiknya !"


Dengan sigap Edward mengarahkan tangannya kebeberapa pasukannya untuk mengikutinya mencari Pattinson.


*****************************


"Bertahanlah Pattinson..." Felishia segera membuka baju Pattinson dan menghisap darah ditubuhnya hingga berhenti dan memberikan tenaganya kepada Pattinson.


"Felishia kau tidak harus melakukan ini..." Pattinson tiba-tiba matanya terbelalak mencium bau tuan Edward yang akan segera sampai kekamar Felishia.


"Felishia, Tuan Edward segera menuju kesini aku harus keluar.." Pattinson segera berdiri namun tubuhnya masih tidak kuat menumpunya.


"Pattinson, tubuhmu belum pulih, kau masih membutuhkan darah. Ayo, cepat ambillah darahku dan kau akan selamat!" Felishia mendekatkan lehernya kearah Pattinson.


"Felishia maafkan aku.." Pattinson menghisap leher Felishia dan secara tidak sadar mendorong Felishia hingga ke tembok dan memeluknya dengan erat.


Pattinson berusaha menahan gairahnya dengan menggenggam tangannya yang mulai menjelajahi tubuh Felishia hingga merobek bajunya dan segera melepaskan hisapannya dari leher Felishia


"Felishia, aku akan membayarnya nanti aku pergi dulu".


Felishia hanya terdiam melihat kepergian Pattinson, sambil memegang bajunya yang terobek.


Secepat kilat Pattinson berada didepan tuan Edward yang sangat marah.


"Pattinson, kenapa kau melakukan hal bodoh dengan sibisu..!" Edward menelusuri pikiran Pattinson dan sangat marah mengetahui hal yang terjadi dengan mencekik leher Pattinson hingga tubuhnya terangkat.


"Maafkan aku tuan..semua aku lakukan untuk nona Erin..aku tidak sanggup melihatnya terluka.."


"Biarlah sibisu melukainya! itu baik buatmu. Kau yang tidak tegas dalam hal apapun..ahh sudahlah ayo kita keruangan ritual!" Edward melepaskan tangannya dan segera berbalik secepat kilat menuju ruangan ritual diikuti Pattinson dan pasukannya.


"Akhirnya kamu datang juga Pattinson. Kau pikir siapa dirimu membuatku menunggu? Jangan pernah membuat aku menunggumu dalam hal apapun camkan itu..!!"


Edwind sangat marah dan berteriak kencang sambil mengarahkan tongkatnya ke arah Pattinson.


"Maafkan kelancanganku tuan, aku pastikan tidak akan terulang lagi"


Sambil menundukkan kepalanya, Pattinson berjalan kearah Edwind dan mengulurkan tangannya. Batu abu tuan besar ditangan Edwind segera diserahkan padanya.


"Ijinkan aku melemparkannya agar tuan besar segera bangkit"


"Baiklah, segera lakukan!" Edwind segera melangkahkan kakinya kedepan api yang meluap dengan sangat dahsyat seakan menyambut kedatangan Pattinson.


"Tuan Erlion, bangkitlah dan terimalah abu ini!Aku mengabdi padamu". Pattinson melemparkan batu abu hitam kearah api yang meluap berwarna merah membara seperti dahsyatnya lahar gunung merapi yang siap meletus.


Saat batu abu tuan besar terlempar kedalam api, warna api yang semula merah berubah menjadi berwarna biru pekat dan semakin lama menjadi menghitam dan meninggi hingga menembus sampai ke awan.


Awan yang semula terdiam menjadi bergumpal tebal menghitam disertai dengan petir yang menyambar membentuk angin tornado.Tanah bergetar dengan suara gemuruh dirasakan seisi kota. Bahkan burung-burung dan hewan-hewan lainnya berlarian meninggalkan kota.


Keadaan kuil lembah hitam.


"Persiapkan semuanya para biksu, tuan besar akan bangkit, kita harus segera bergerak..!" Biksu suci menatap langit dan melihat putaran angin hitam tornado disertai listrik yang menyambar.


Keadaan Rumah Renata.


"Untunglah aku datang tepat waktu kesini, kita harus berada ditempat aman..angin kencang ini menandakan sivampir itu telah bangkit.."


Reynard Rudolf telah mendapat kabar dari Alberth mengenai kebangkitan tuan besar.


"Baiklah paman. Istriku, segera persiapkan apa yang paman ucapkan!" Reynald Rudolf


"Baik. Bibi Aelin ikuti aku!" Elena


Rumah utama


"Apa ini? angin sekencang ini?" Thomas segera keluar dari rumah dan terheran melihat langit yang berubah menjadi sangat gelap dan mengeluarkan cahaya listrik.


"Gawat, vampir telah bangkit.Dimana Renata?" Ana terbangun dari tidurnya dan segera berlari kebawah menyusul Thomas.


"Apakah maksudmu tuan besar? Gawat..kemana Renata?" Thomas memegang kepalanya dan kebingungan menunggu Renata.


Tak lama Alberth datang dan dengan isyarat tangannya kepada Thomas menanyakan keberadaan Renata.


"Vampir sialan itu membawanya dan aku tidak tahu kakak" Thomas kebingungan berjalan mondar mandir, sementara Alberth terdiam dan melakukan telepati kepada Erick.


"Erick segeralah datang, dimana kamu..Erick..!" Alberth


"Sebentar lagi aku datang Alberth, tunggulah!" Erick semakin mendekap Erat Renata dan menahan amarahnya yang semakin meluap.


" Renata tenanglah..keluargamu membutuhkanmu..(terus membelai)..."


"Aku akan membunuhmu....!!" Renata terus berteriak didalam dekapan Erick dengan tubuh yang bersinar.


Keadaan Kastil Erlion.


"Hahaha...sebentar lagi kakakku akan datang..tunggu pembalasan kami Rudolf..!"


Edwind tertawa lepas dan segera menunduk didepan putaran api hitam tornado yang mulai menunjukkan wujud tuan besar.


"Selamat datang tuan besar Erlion..!"