Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
BAB 11 : Kemarahan Tuan Edward



Dijendela kamarnya, Renata menatap kearah luar dengan perasaan gelisah dan Renata tiba-tiba merasakan kemarahan.


Kemudian muncullah kekuatan matanya dengan terus menatap keluar dan seketika itu matanya langsung berubah berwarna merah dan mengeluarkan cahaya listrik, melalui kekuatan pikirannya.


Renata terus menelusuri untuk mencari keberadaan Erick dan terkejut saat mengetahui Erick telah terluka dan berjalan sempoyongan dengan penuh darah ditubuhnya.


" Kenapa kau bisa terluka...siapa yang melukaimu, Erick oh tidakk, kekasihku bertahanlah jangan sampai kau kehilangan nyawamu. "


Renata sambil menangis melihat Erick melalui pikirannya kembali mencoba menggunakan kekuatanya untuk melihat kejadian sebelumnya dan dia sangat terkejut dan marah ketika mengetahui bahwa setelah Albert membawanya masuk pada saat terjadi serangan di taman rumahnya, ternyata Thomas dan Erick melakukan pertarungan dihutan. Awalnya pertarungan itu hampir dimenangkan oleh Erick dan tiba- tiba ada seseorang yang menyerang Erick dari belakang dan membuatnya terluka.


" Siapa orang itu beraninya dia menyerang Erick dari belakang, bukankah itu serangan seorang pengecut, hingga membuatnya tidak berdaya seperti itu, tidakkk Erickk. "


Dengan meneteskan air matanya, Renata semakin marah dan menajamkan matanya hingga mengeluarkan air mata yang berwarna merah dan rambutnya yang semakin merah membara dipenuhi kilatan listrik.


Dan betapa terkejutnya Renata saat melihat wajah Albert yang diselimuti kabut hitam kemudian menusuk Erick dari belakang hingga terkalahkan dan terluka sangat parah.


Renatapun mengetahui bahwa Albert berbicara kepada Thomas melalui telepati untuk meredamkan emosi Thomas kemudian memadamkan api yang membara di hutan dengan kekuatan yang dimiliki Albert.


" Tidakkkk.....ini tidak mungkin...Albert tidak mungkin melakukan itu!!, darimana kau memiliki kekuatan seperti itu Albert ?" Renata begitu marah setelah mengetahui hal tersebut.


" Alberthhh, kenapa kau lakukan ituu, kamu tahu hanya Erick kekasihku, kau dan siapapun tidak bisa memisahkan kami. "


Renata yang akhirnya melakukan telepati kepada Alberth dan Alberth ketika termenung dikamarnya terkejut hingga berlari cepat menuju kamar Renata. Thomas dan ibunya bibi Aelin yang melihatnya kebingungan kenapa kakaknya tiba-tiba berlari dengan cepat dan terburu-buru.


Sampai dikamar Renata, Alberth dengan cepat akan masuk kekamar Renata.


Tetapi ketika hendak memasuki kamar Renata, Alberth terhenti tidak bisa bergerak dan tidak bisa masuk kedalam, karena Renata tidak mengijinkannya masuk.


Didalam kamar dengan kekuatannya, Renata tiba-tiba mengarahkan matanya kembali menelusuri lorong- lorong kota untuk mencari Erick dan terkejut saat melihat Erick terjatuh dan tidak sadarkan diri.


" Erick..... Erick....... bangunlah.. " ucap Renata melalui telepatinya kepada Erick.


" Kau tidak boleh mati, kau harus sadar, jika terjadi sesuatu kepadamu aku tidak akan mengampuni Albert. " Guman Renata sambil mengepalkan tangannya.


Kemudian Renata melihat bahwa Erick telah tertangkap oleh seseorang yang dia tidak kenal dengan membawa beberapa pasukannya.


" Siapa mereka...mengapa mereka membawa Erick....jangan- jangan mereka mau membunuhnya.... tidak akan kubiarkan!!!"


Teriak Renata dengan disertai sengatan listrik diseluruh tubuhnya dan membuat rambutnya semakin berwarna merah mengeluarkan api.


Semakin kekuatannya membesar rambut Renata yang semula hitam akan semakin berwarna merah.


" Alberthhh, jika sampai terjadi sesuatu dengan Erick , aku akan membunuhmu, aku akan membencimu, dengarkan ini Alberth.!!"


Renata yang semakin marah melakukan telepati lagi dengan Alberth dan membuat Alberth melawan kekuatan Renata untuk berusaha masuk kekamar Renata tetapi tetap saja tidak berhasil.


" Renata, hentikan, dengarkan aku, aku akan menjelaskan semua, dia Erick adalah musuh kita, Renata hentikan!! "


Alberth yang berusaha meredam emosi Renata dengan melakukan telepati padanya tetapi tidak juga berhasil.


Dengan tidak banyak bicara Renata melompat dari kamarnya yang berada dilantai paling atas dan mendarat dengan sempurna di halaman rumahnya. Kemudian dia berlari dengan cepat mengikuti jejak para pasukan yang membawa Erick hingga sampai menuju ke sebuah kastil yang terlihat angker yang hampir seluruhnya ditutupi kabut hitam.


Sementara dibelakang pintu kamar Renata,Alberth yang kemudian bisa menggerakkan kakinya dengan cepat membuka kamar Renata dan menyusul Renata menuju kastil Erlion.


Thomas dan ibunya bibi Aelin, serta tuan Rudolf dan nyonya Elena berlari menuju kamar Renata dan kebingungan melihat Renata dan Alberth pergi.


Mengetahui hal itu Thomas berlari menyusul Renata dan Alberth tapi tuan Rudolf menahannya untuk pergi.


" Thomas, hentikan!, kali ini biarlah Alberth yang melindungi Renata, kamu berjaga saja disini sambil menunggu pamanku datang. "


Thomaspun berhenti dan tidak mengikuti Renata dan Alberth.


" Kenapaaaaa dengan Renata anakku? suamikuu, cepatlah hubungi paman, aku tidak mau anakku terluka, Cepatlahhhh!!!!" ucap nyonya Elena sambil berteriak.


Nyonya Elena sambil menangis dan menatap luar jendela kamar Renata, berharap Renata baik-baik saja.


Sementara itu akhirnya Renata sampai dikastil Erlion.


" Tempat apa itu...mengapa kabut - kabut itu menutupinya seolah tempat ini tidak ingin diketahui keberadaannya" kata Renata semakin penasaran.


" Aku akan membebaskanmu Erick, tunggulah aku. " Renata yang berlari sangat cepat sambil mengeluarkan air mata melihat Erick terluka dan tersiksa didalam pikirannya.


*********************************************


Sementara itu dikastil Erlion tuan Edward ditemani pengawal setianya Pattinson segera menemui anaknya Erick diruang bawah tanah.


Dengan wajah yang marah dan kesal tuan Erdward berjalan sangat cepat dan mengepalkan tangannya menuju tempat Erick ditahan.


" Anakku Erick akhirnya kamu datang padaku, sepertinya aku harus berterima kasih kepada Alberth hahahaha, ahhh akhirnya ada yang mengalahkanmu Erick anakku." suara tawa tuan Edward menggema diseluruh ruangan.


"Anak tidak tahu diri, heii.... pandanglah ayahmu ini, Erickkkkkk jangan memalingkan wajahmu!!!! " tuan Edward yang awalnya berbicara dengan nada biasa akhirnya menaikkan nadanya dengan penuh emosi melihat anaknya memalingkan wajahnya.


" plakkk....plakkkk" suara tamparan tuan Edwart kepada Erick semakin membuat wajah anaknya bercucuran darah.


Tetapi Erick hanya tersenyum dan tetap memalingkan wajahnya.


" Hahahahaha, ayahku yang terhormat hahaha, kamu tidak akan bisa membunuh Renata dia terlalu kuat, kalian semua akan mati hahahaha, dan aku tidak akan peduli dengan kalian hahahaha. "


Kata - kata Erick yang semakin membuat ayahnya marah dan hampir menamparnya lagi, tetapi secara tiba-tiba istrinya datang memegang tangannya dan menghentikannya.


" Suamiku, hentikan!, ahhh sudahlah jangan menamparnya lagi....apa kamu tidak lihat wajahnya yang tampan sudah penuh dengan darah. Bagaimanapun juga dia anak kesayanganku. "


Sambil menahan tangan dan membelai lembut suaminya, nyonya Delichia kemudian berjalan menghampiri Erick dan membelai kepalanya dengan lembut.


" Ayolah anakku sayang, bekerja samalah dengan ayahmu supaya kamu tidak terluka, ibu bisa menjadi gila melihat semua ini, ibu merindukanmu Erick, jangan menjadi bodoh...bukankan banyak wanita diluar sana yang mau menjadi kekasihmu, kenapa kau harus memilihnya, wanita yang hanya membawa penderitaan untukmu, dan jelas dia adalah musuh yang harus kita bunuh, tidakkah kau mengerti itu anakku yang tampan. Ayolah kau masih muda bersenang- senanglah. Ibu bisa mencarikan wanita yang pas untukmu. Katakan wanita yang seperti apa tipemu itu?" Tanya nyonya Delichia kepada anaknya.


" Ibu tau aku hanya mencintai satu wanita untuk selamanya, dan kalian semua tau dia Renata, hanya dia yang kucintai, hanya dia kekasihku " jawab Erick dengan teriak.


" Ahhh, kau selalu saja keras kepala. Mungkin kau bisa merenungkan kembali perkataan ibu disini. Ibu sangat gila memikirkan kamu.


Kau tau ibu menyayangimu anakku yang terkuat, aahhh Erick anakku sudahlah ibu akan merayu ayahmu agar kau dipindahkan dari ruangan yang kotor ini. " nyonya Delichia yang kemudian mencium kening Erick dan pergi meninggalkan Erick dan suaminya.


" Kau tidak boleh menamparnya lagi sayang, aku tidak mau wajah tampannya kamu lukai." Kata nyonya delichia sambil mencium bibir suaminya kemudian berlalu.


Dengan wajah yang masih marah tuan Edward memecahkan sebagian tembok ruangan itu.


Tuan Edward yang sangat marah kembali berteriak dengan keras dan hampir menampar Erick, tetapi kemudian mengurungkan niatnya karena istrinya sudah melarangnya dan dia selalu menuruti kemauan istrinya.


Untuk melampiaskan kemarahannya lagi kepada Erick, ayahnya memukulkan tangannya ketanah dengan wajah yang penuh emosi tetapi sebelum tangannya menyentuh tanah kemudian dia mendengar istrinya berteriak keras dan mengejutkannya.


" Suamiku.... sudahlah hentikan jangan menghancurkan kastil ini, segeralah kekamarku aku ingin melayanimu, tinggalkan Erick!!...jika kau tetap melakukannya aku tidak akan membiarkanmu masuk kekamar kita. " teriak nyonya Delichia.


" Ahhhhhhh.... " teriak tuan Edward melepas emosinya.


" Aku adalah orang yang paling ditakuti kaumku tapi aku tetap saja tidak pernah bisa menolak permintaan istriku sendiri". Guman tuan Edward.


" Pattinson, aku akan menemui istriku di kamarnya, aku membutuhkan tenaga dan aku tidak mau membuang tenagaku di sini, jagalah Erick, siapapun tidak boleh menemuinya. Jika dia macam-macam kau boleh menghajarnya, tapi jangan menamparnya, ahhhh entahlah aku mau pergi. " Kata tuan Edward yang akhirnya meninggalkan Erick bersama Pattinson.


" Baik tuanku laksanakan! " Jawab Pattinson sambil membungkukkan badannya.


" Aku segera datang Delichiaku sayang." Teriak tuan Edward sambil berjalan sangat cepat menuju kamarnya.


Sesaat kemudian Erin bersama felishia datang menemui Erick diruang bawah tanah.


" Pattinson, biarkan aku masuk menemui kakakku. " ucap Erin.


" Maaf nona Erin, ayahmu melarang siapapun masuk keruangan ini. " jawab Pattinson yang membuat Erin kesal.


" Aaaaarghhh, badanku terbakarr, maafkan aku, hentikan nona Erin, aku akan membiarkanmu menemui kakakmu. "


Akhirnya Pattinson membukakan pintu tahanan ketika Erin dengan kekuatan matanya hampir membakar seluruh tubuhnya.


" Kakakku sayangg, hahaha akhirnya kau terluka. Bagaimana kekasihku Alberth, hebatkan?, kau kalah dengannya. " Kata Erin yang sudah berada didepan kakaknya. Diapun tertawa dan merasa senang melihat kakaknya terluka.Felishiapun didekat Erin juga ikut tertawa senang.


Erick kemudian mengangkat kepalanya menatap wajah adiknya dengan tajam.


" Erin, dengarkan, bebaskan kakak, aku akan membawakan Alberth menemuimu. "


Erick melakukan telepati kepada Erin agar tidak diketahui Pattinson dan Felishia.


Erin terdiam dan memandang kakaknya dengan sorotan matanya yang tajam. Membuat Felishia disebelahnya memandangnya.


" hahahaha, bagaimana mungkin, kau kalah dengan Alberth, jika kau menemuinya bukannya dia akan membunuhmu. "


Erin membalas telepati kakaknya.


" Percayalah pada kakak, aku tahu caranya, bukankah kau ingin sekali menemuinya?"


Erick kembali meyakinkan Erin agar mempercayainya.


" Aku akan memikirkannya. "


Erin membalas telepati kakaknya dan meninggalkan ruangan itu bersama Felishia.


Sementara Pattinson tetap berjaga diluar pintu ruangan tahanan Erick.


Sementara itu dikamar, nyonya Delichia berusaha merayu suaminya meminta agar melepaskan Erick dan memindahkan kekamarnya tanpa melepaskan rantai kabut hitam yang masih melekat ditubuh Eric agar tidak bisa lari lagi. Dengan begitu nyonya Delichia bisa leluasa menemui anaknya karena sangat rindu kepada Erick.


" Suamiku sayang, ayolah pindahkan Erick dikamarnya, aku bisa gila melihat dia seperti itu, kau boleh tetap mengikatnya tapi jangan ditempat kotor seperti itu. Sudah lama aku merindukan Erick, aku ingin menemuinya setiap saat. "


" Aku akan memikirkannya istriku, Erick juga membuatku gila, aku sangat menyayanginya, tapi aku juga sangat membencinya, ahhh tuangkan aku darah segar itu." sambil memeluk istrinya dari belakang istrinya menuangkan darah segar didalam gelas buat suaminya.


" Minumlah agar kau bertenaga lagi suamiku, aku membutuhkanmu selalu bertenaga, agar aku juga bertenaga, dan kita bisa membalaskan dendam keluarga kita. "


Nyonya Delichia berbisik ditelinga suaminya dengan mencium lembut leher suaminya kemudian tangannya mulai menjelajahi dada kekar suaminya. Seketika itu gairah tuan Edward memuncak membuat suaminya menariknya dan mereka berciuman dan segera menuju keranjang.


" Hanya kau istriku yang membuatku semakin bertenaga. " tuan Rudolf yang berada diatas istrinya membuat istrinya tertawa bahagia.


" Aku tahu suamiku, aku akan melayanimu tapi berjanjilah kau akan memindahkan Erick "


Nyonya Delichia yang menarik wajah suaminya dan melayaninya dikamarnya.


Sementara itu Erin berjalan dengan cepat menuju kamarnya didampingi Felishia yang selalu mengikutinya.


" Tutuplah kamar ini Felishia!" perintah Erin


Sambil memandang keluar jendela kamarnya, Erin memikirkan perkataan kakaknya Erick.


" apakah kakakku bisa melakukannya, apa yang harus aku lakukan, aku juga tidak mau dia terbunuh, karena aku juga akan mati, ahhh. "


Ucap Erin dalam hati yang membuat Felishia penasaran dan menghampirinya.


" Apakah yang nona pikirkan, mungkin aku bisa membantu nona. " ucap Felishia sambil membungkukkan badannya.


" Kakakku akan membawaku kepada Alberth, sedangkan dia terluka karena Alberth, apakah bisa dia membawaku menemuinya?, sekarang apa saranmu Felishia! " ucap Erin sambil menatap Felishia dengan sorotan mata yang tajam.


" Percayalah dengan tuan Erick nona, bagaimanapun tuan Erick selalu melindungi anda tanpa anda sadari, kali ini pasti dia bersungguh-sungguh. " Felishia berusaha meyakinkan nonanya.


" Baiklah, aku biarkan dia merasakan kesakitannya dulu, nanti aku akan membebaskannya dan melihat apa dia benar-benar dengan perkataannya tadi. " ucap Erin sambil menuangkan darah segar kedalam gelas dan meminumnya sambil memandang keluar jendela.


Sementara itu Erick sangat kesakitan menahan rantai kabut hitam yang melilit ditubuhnya. Dia terus berusaha melepaskan rantai itu tetapi selalu gagal dan membuat dirinya semakin banyak mengeluarkan darah.


Ketika Erick tertunduk lemas kehilangan banyak tenaga yang dipakainya untuk melepaskan rantai kabut hitam yang mengikat dirinya, tiba-tiba dia mendengar suara Renata memanggilnya.


Erick mengangkat kepalanya yang selalu tertunduk dan memastikan itu suara kekasihnya Renata.


" Erick aku datang kekasihku, aku akan membebaskanmu, tunggulah aku, kuatkan dirimu, jangan menyerah, kuatlah untuk diriku. "


Renata yang bertelepati kepada Erick dan memberitahunya bahwa dia sudah sampai dikastil Erlion dan bersiap akan membebaskannya dari ruang tahanan bawah tanah.


" Cintaku bermata ungu, kaukah itu, Renata kekasihku, kaukah itu." dengan mengangkat kepalanya yang selalu tertunduk Erick tersenyum dan berusaha melepaskan rantai kabut hitam.


" kekasihku, jangan sampai terluka berhati-hatilah, aku menunggumu, aku rindu. "


Erick melakukan telepati kembali kepada Renata yang membuat dirinya menjadi kuat dan akhirnya hampir melepaskan rantai kabut hitam yang mengikatnya.


" Jangan khawatirkan aku, aku akan membuat seluruh penghuni dikastil ini tidak menyadari kedatanganku. "


Jawab Renata dan dia berdiri didepan kastil Erlion mengeluarkan cahaya merah untuk menghipnotis seluruh penghuni kastil.