
Sinar matahari yang masuk dari jendela kamar mewah Renata, membuatnya perlahan-lahan membuka mata.
"Aaahh, dimana aku?" Renata terkejut, dia tiba-tiba sudah berada dikamarnya. Disebelah tempat tidurnya ada Alberth yang menunggunya hingga tertidur dikursi.
"Alberth, bangunlah! " Alberth terkejut Renata membangunkan dirinya dan Alberth langsung memeluknya.
Para pelayan segera masuk kekamar Renata dan bibi Aelin dengan segera menemui Renata.
"Syukurlah anakku, kau sudah sadar. Bibi sangat cemas" dengan wajah yang gelisah bibi Aelin segera memegang Renata.
"Aku baik-baik saja. Sudahlah ayoo, jangan seperti ini!" Renata berusaha menenangkan semua orang.
"Alberth, tetaplah memelukku aku merasa tenang!" Dengan wajah yang ketakutan, Renata memeluk Alberth dengan erat dan Alberth membelai rambut Renata dengan perasaan cemas akan keadaannya.
"Apa ini kencang sekali anginnya?" Renata terkejut karena tiba-tiba ada angin kencang yang masuk kekamarnya dan mengejutkan semua orang hingga memecahkan semua barang yang ada dikamar itu.
Dengan sorotan mata yang tajam Alberth memandang keluar jendela dan melihat cahaya secepat kilat yang pergi begitu cepat.
"Alberth, kamu melihat apa?" sambil menarik wajah Alberth yang dengan serius melihat keluar jendela, tetapi Alberth hanya tersenyum kepada Renata agar tidak membuatnya cemas.
"Baru kali ini ada angin sekencang ini masuk kekamar, padahal udara sangat cerah. Pelayan segera bersihkan tempat ini!" sambil memeriksa keluar jendela, bibi Aelin memerintahkan semua pelayan merapikan kamar Renata.
" Bibi, apakah aku harus kembali kesekolah itu hari ini?" sambil melepaskan pelukan Alberth Renata bertanya kepada bibinya.
"Iya anakku, itu adalah perintah orang tuamu. Apa yang bisa bibi lakukan? bibi hanya bisa menuruti semua perintah orang tuamu." bibi Aelin dengan lembut berusaha menjelaskan kepada Renata. Dan kali ini Renata tidak merengek seperti biasanya malah ingin sekali kembali kesekolah Erlion.
" Iya bibi, aku akan kesekolah hari ini. Alberth keluarlah, biarlah aku bersiap-siap!" Renata memandang keluar jendela menyuruh semua untuk keluar dari kamarnya yang sudah selesai dirapikan oleh para pelayan.
Alberth menarik lengan Renata dan menggelengkan kepalanya agar Renata tidak perlu kesekolah.
"Anakku Alberth, ikuti perintah nona! Mari, kita keluar! Biarkan nona bersiap-siap!" bibi Aelin menarik Alberth dan menggandengnya keluar kamar. Dengan wajah muram Alberth memberi isyarat kepada ibunya kenapa Renata harus kembali kesekolah.
"Alberth, ingat posisimu! Kita hanya mengikuti perintah. Perlu kau tau anakku, jangan mencintai nona karena ibu tidak mau nyawamu terancam!" Sambil membelai lembut rambut Alberth, bibi Aelin bergegas menuju kamar Renata kembali untuk memeriksanya. Alberth masih dengan kemarahannya meninggalkan ruangan itu.
Setelah beberapa saat, seperti biasa Renata menuruni tangga dengan terlihat sangat cantik membuat Alberth memandangnya hingga tidak berkedip.
"Bibi, aku tidak lapar, bisakah kita langsung menuju kesekolah! " Renata kali ini ingin segera bergegas dan mengejutkan semua orang terutama Alberth.
"Pelayan, tidak kau dengar perkataan nona? Segera siapkan bekal agar nona membawanya kesekolah!" bibi Aelin mengikuti Renata yang berjalan menuju mobilnya. Alberth hanya terdiam melihat keanehan Renata. Sebelum masuk kedalam mobil, tiba-tiba Renata menghentikan langkahnya dan bertanya kepada bibinya
"Bibi, siapa yang membawaku pulang?"
"Temanmu anakku, dia yang membawamu kesini. Bibi lupa menanyakan namanya." Dengan cepat bibi Aelin menjawab pertanyaan Renata karena takut Renata akan menanyakan hal lain.
Renata kembali berjalan dan ketika akan memasuki mobil, Alberth muncul dan membelai rambut Renata memberi isyarat jika Renata harus berhati-hati.
Renata hanya tersenyum dan memasuki mobil untuk kesekolah dan seperti biasa dikawal bersama sepuluh pengawalnya menuju kesekolah. Dari kejauhan Alberth memandang Renata dengan khawatir.
Didalam mobil, Renata melamun dan selalu memikirkan Erick.
"Siapa Erick? Indah sekali matanya. Hatiku rasanya bergetar. Aaahhh kenapa aku terus memikirkannya?" dengan wajah gelisah, Renata seperti biasa membuka pintu kaca mobil untuk menikmati angin yang berhembus.
"Heii, kenapa kaca ini tidak bisa dibuka, pengawal, haloooo.. heiii" Renata terkejut semua pengawal tiba-tiba terdiam dan mobil menjadi berhenti.
" Halo, gadis mungil." Sambil mengetuk kaca jendela mobil , Thomas mengejutkan Renata hingga membuatnya marah
"Thomas...Jika kau lakukan itu lagi, aku akan memotong rambutmu!" Renata berteriak drngan kesal kepada Thomas dan seperti biasa Thom selalu tersenyum dan tetap menggodanya.
"Keluarlah gadis mungil! Kali ini Thom tampan yang akan mengantarkanmu kesekolah" sambil membuka pintu mobil menarik Renata keluar dari mobilnya.
"Masuklah, gadis mungil!" Thom membukakan pintu mobilnya dan meminta Renata untuk masuk. Sambil tersenyum Thom memasangkan sabuk pengaman Renata dan memandangnya.
"Thom,bagaimana kamu bisa tahu rumahku dan namaku? Seingatku aku tidak pernah memberitahumu." masih dengan wajah yang kebingungan dengan keanehan yang terjadi, Renata bertanya kepada Thom.
"Hahahahah, Thom tampan tau segalanya."
Renata kembali dikejutkan Thom yang sebelum mengendarai mobilnya, Thom menjentikkan jarinya dan semua kembali bergerak. Bahkan mobil dan para pengawal berbalik kerumah dan tetesan embun di ujung daun kembali menetes ke tanah.
"Apa ini? Kenapa semua terasa aneh? Tenanglah Renata, kamu harus kuat dan mencari semua keanehan ini berasal!" ucap Renata dalam hati sambil memandang Thom.Tak lama Renata sudah sampai didepan gerbang sekolah Erlion.
"Hah Thom, apa yang aku lewatkan? Aku pikir aku melewatkan sesuatu?" Renata kebingungan, dia tidak ingat dengan jalan yang dia lalui sampai disekolah Erlion.
"Gadis mungil ayo, keluar! Kamu ingin dimobil terus bersamaku?" Thom membuka pintu mobil dan masih menggoda Renata.
"Hmmmm Thom tampan, yah itulah kamu playboy" dengan jengkel Renata membalas Thom dan seperti biasa Thom hanya tersenyum.
"Thom ayolah, kenapa kita harus gandengan begini? Aku tidak mengenalmu, untuk apa aku harus menurutimu?" Renata kesal karena kemana-mana harus digandeng oleh Thom.
Tetapi kali ini Thom tidak membalas perkataan Renata bahkan tersenyumpun tidak, wajahnya sangat serius memandangi sekolah Erlion. Dan tetap menggandeng Renata memasuki sekolah itu.
"Indah sekali lampu kristal ini, sepertinya kemaren tidak ada. Cahayanya yang berwarna-warni seperti cahaya berlian." Ketika memasuki ruangan SMA Erlion, Renata dikejutkan dengan lampu kristal yang sangat indah hingga terpana.
" Thom, bisakah kau ambilkan saputanganku yang jatuh disebelahmu!" masih dengan pandangan menuju lampu kristal, Renata meminta Thom mengambilkan saputangannya yang jatuh.
"Tidak perlu, nanti akan aku belikan yang mahal." Thom segera bergegas mengajak pergi Renata dari tempat itu namun dicegah oleh Renata.
"Ayolah, Thom itu pemberian sahabatku, lagipula hanya beberapa langkah! Aku tidak akan kemana-mana, aku hanya melihat lampu Ini"
Rengekan Renata akhirnya membuat Thom melepaskan tangan Renata, dan tiba-tiba lampu kristal itu jatuh dan akan mengenai matanya. Renata yang terpana dengan keindahan lampu itu hanya terdiam dan tidak bergerak.
Thom dengan cepat mengeluarkan rantai api dari sepasang gelangnya dan menahan lampu itu.
"Renata, pergilah dari sana! Aku tidak bisa menahan terlalu lama." Thom berteriak kepada Renata tetapi Renata hanya terdiam dan tidak sadar.
Lampu kristal yang tiba-tiba terpecah dan akan mengenai mata Renata, tiba-tiba tertahan oleh perlindungan sebuah jubah dari seseorang, yang menutupi tubuh Renata dengan memeluknya.
Jubah itu adalah milik Erick. Sedangkan tangan kanannya menangkis pecahan lampu kristal yang berjatuhan dengan pedang cahayanya .
"Erick, kenapa hatiku bergetar? Dingin sekali tubuhnya, tetapi aku merasa nyaman dan tidak ingin melepaskannya." Renata memandang wajah Erick dan tidak peduli dengan pecahan kristal yang mengenai rambutnya.
"Kamu tidak apa-apa, mata ungu?" sambil membersihkan rambut Renata dari pecahan lampu kristal, Erick memandang Renata dengan tersenyum dan mereka saling berpandangan.
"Erick, aku.. aku.. jatuh cintaa" tanpa Renata sadari dia mengungkapkan perasaannya.
"Aahhhh, kenapa aku ini? Kenapaa Renata? sadarlah! Sangat memalukan menyatakan perasaan kepada laki-laki tidak dikenal" Renata menutup majahnya. Perlahan Erick membuka tangan Renata dan tersenyum.
"Aku tahu, mata ungu" Erick memegang pipi Renata dan memastikan Renata baik-baik saja.
"Aku tahu? Apa maksudnya dia tau apa yang aku ucapkan?" dengan kebingunan, Renata dikejutkan dengan Thom yang sangat marah menarik lampu kristal dengan rantai apinya dan menghancurkannya hingga hancur berkeping-keping.
"Erick, jangan lakukan ini! Eriiiicccckkk, hentikan tinggalkan Renata! Kau tahu, kau tidak boleh mendekatinya!" Thom berteriak ke Erick namun tidak dihiraukan oleh Erick yang masih memandang Renata.
"Aku juga mencintaimu, mata Ungu." Tiba-tiba Erick berbisik ditelinga Renata dan menggendongnya kemudian menurunkannya didepan Thom dan pergi secepat kilat.
"Hahh, dia juga mencintaiku." Renata tersenyum melihat Erick pergi secepat kilat.
Sementara Thom memandang Erick dengan wajah marah karena mendekati Renata dan ingin membunuhnya.