Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
BAB 16 : Pertarungan Erick dan Alberth.



Rambutnya yang hitam bak batu pualam dan bergelombang bergerak dengan lembut mengikuti irama angin. Rembulan yang begitu indah tampak menemaninya tak mampu menghibur hatinya.


Alberth dengan mata yang sayu dan marah dari rasa patah hati yang menghancurkan kalbunya.


Sakit dan lebih sakit daripada tersayat pedang. Dia duduk termenung menunggu pertemuannya dengan Renata ditaman tempat mereka menghabiskan waktu bersama sewaktu dulu.


" Alberth!" panggil Renata.


Kemudian Alberth menolehkan kepalanya dan dengan cepat memeluk erat Renata dengan air mata yang masih mengalir. Entah hanya dengan mendengar suaranya memanggil namanya menjadi pelepas dahaga bagi jiwa Alberth.


Sementara Erick dari jauh tetap mengamati Renata melalui pikirannya dan mengetahui pertemuan mereka.


" Alberh hentikan, jangan pernah menyentuh Renata, aku tidak mau kita bermusuhan!! "


Mendengar telepati Erick, Alberth tersenyum sinis tetap memeluk Renata.


Alberthpun melepas pelukannya dan membelai rambut Renata seperti yang biasa sering dia lakukan dari dulu.


Kemudian Alberth menarik tangan Renata dan mengajak duduk ditaman sambil memberikan senyuman seperti biasanya.


Alberth memetik salah satu bunga ditaman itu dan memasangkan ditelinga Renata.


Sementara Renata hanya memandang Alberth dengan dingin tanpa ekspresi apapun dan membiarkan Alberth melakukannya.


" Alberth kenapa denganmu?, Katakan padaku!, apa aku melakukan kesalahan?, Kenapa kau bersedih? "


Renata menatap Alberth.


Aberth tidak mengatakan apapun bahkan dalam hatinya pun dia diam.


" jika kau tidak ingin mengatakannya aku pun tidak akan memaksa. Tapi kumohon jangan bersedih, kamu adalah pelindungku, dari dulu aku sangat menyayangimu, jika kau bersedih hatiku terluka, berjanjilah kau tidak bersedih pelindungku. "


Mendengar apa yang diucapkan Renata, Alberth tersenyum dan kembali memeluk Renata.


" Tidakkah kau ingat dulu kita sering bermain disini?, sebagai kakak yang tak pernah kumiliki, kau selalu melindungiku, terima kasih kakakku. "


Mendengar ucapan Renata, tiba-tiba senyuman Alberth terhenti seketika berubah menjadi wajah yang kaku dan mata yang memanas mulai menunjukkan rasa marah.


Alberth melepas pelukan Renata dengan raut wajah penuh kekecewaan berjalan mundur memalingkan tubuhnya dan berlari cepat menuju kegelapan hutan untuk mencari Erick.


Seperti bulan yang mengikutinya, keindahannya hanya bisa dipandang tapi tak bisa digapai, sinarnya hanya bisa dirasakan tapi tak bisa memeluknya.


Seperti itulah kisah cintanya yang tidak bisa dimiliki dan hanya bisa dirasakan. Seolah takdir mempermainkan hatinya dengan kejam.


Andai saja hati bisa memilih kepada siapa dia mencintai pasti sakit ini tidak akan pernah dirasakan.


Telepati Renata dan Alberth.


" *Alberth apa yang kau lakukan, kenapa kau mencari Erick!! " teriak Renata.


" Erick telah mengambilmu dariku, aku tahu apa yang sudah kalian lakukan semalam, aku akan membunuhnyaaaa!! " teriak Alberth dalam telepatinya kepada Renata.


" Karena itukah kau bersedih, itu bukan salah Erick.... aku yang menginginkannya!! " Renata berusaha meyakinkan Alberth.


" Aku tidak peduli harusnya dia bisa menahannya..... dasar brengsek kau Erick! " Alberth masih dengan penuh kemarahannya.


" Alberth, jangan pernah menyentuh Erick*! "


Dengan mata yang memerah dan mengeluarkan cahaya merah dan sengatan listrik Renata mulai marah.


" Bagaimanapun juga dia tetap Erlion musuh kita, lama-lama kau akan mengerti Renata aku akan membunuhnya sekarang juga!! "


Sambil berlari dan rasa dendam Alberth membalas telepatinya dan membuat Renata semakin marah.


" Jika kau menyentuh Erick sedikit saja, aku tidak akan pernah memandangmu!! "


Renata kembali dengan wajah dinginnya dan mata yang memerah serta sengatan listrik yang mulai menyala menunggu Alberth akan menyerang Erick.


Tiba-tiba Thomas datang menghampirinya. Dan mata Renatapun kembali normal.


" Renata, kemana kakakku, apa kau tidak kedinginan??"


Thomas kemudian memberikan Renata jaketnya dan mengajaknya masuk kedalam.


Renata menyadari bahwa kali ini bukan Erick yang terancam bahaya tapi Alberth.


Kekhawatirannya berubah mengingat Erick sudah mendapatkan darahnya yang membuatnya menjadi vampir yang sangat kuat.


Telepati Erick dan Renata.


" Erick, jangam kau bunuh Alberth, jangan membuatnya terluka, aku mohon, aku akan memberikan apa saja untukmu, aku menyayangi Alberth, dia sudah menjagaku selama kita belum bertemu. "


Sambil berjalan didekapan Thomas menuju kamarnya Renata bertelepati kepada Erick.


" Memberikan semuanya, apakah seperti malam itu, bagaimana kalau malam ini, mendengar suaramu saja aku langsung bergairah, bisakah kau melepaskan dekapan Thomas, aku tidak suka dia mendekapmu!! "


Erick menggoda Renata lalu menjadi cemburu dan tidak suka melihat Thomas mendekap Renata.


" *Erick, apa hanya malam itu yang kau ingat?, kau kan bisa meminta yang lain. " Renata menjawab dengan malu.


"Thomas hanya melakukan tugasnya, bukan aku yang meminta dia mendekapku dan aku sudah melepasnya. " Renata berusaha merayu Erick.


" *Tetap saja aku tidak suka.... kau itu hanya milikku atau aku harus menghajarnya juga!! " Erick merasa geram.


" Sudalah sayang jangan marah. Aku harus menemui biksu suci secepatnya, aku membutuhkan mereka, aku mohon Erick,jangan lukai kedua kakakku. " pinta Renata.


" Permintaanmu adalah tugasku gadis kecil, asalkan kau memenuhi keinginanku. Bagaimana jika malam ini aku mendapat sedikit ciuman**! "


Dengan telepatinya Erick tetap menggoda Renata dan semakin membuatnya kesal.


" *Erick sekali lagi kau bilang aku gadis kecil, aku akan memukulmu dan tidak ada ciuman dariku. " Renata merajuk dengan manja.


" Kau lucu sekali kalau marah..... menggemaskan, aku jadi semakin ingin menemuimu. " jawab Erick sambil tersenyum.


" Tidal, bersembunyilah, jangan malam ini, aku akan menutup jendelaku dengan sengatan listrik. " ancam Renata.


Erick semakin menggoda Renata dan membuatnya semakin kesal dan tentu saja membuat Erick semakin suka.


" Eeerrrrrrriickkkkk, baiklah aku akan memberimu sedikit saja ciumanku, tapi tepatilaj janjimu, jangan lukai kakakku. " Renata memohon dengan lembut.


" Apapun permintaanmu kekasihku akan aku lakukan, aku mencintaimu Renata simata ungu. "


Dengan suara yang lembut ditelepatinya akhirnya meluluhkan hati Renata.


" Aku juga mencintaimu Erick, berhati-hatilah."


Mendengar apa yang diucapkan Erick membuat Renata merasa lega dan masuk kedalam kamarnya.


" Terima kasih Thomas, sampai bertemu besuk, kau harus menjagaku dengan baik. "


Renata yang kemudian melepas jaket Thomas dan mengembalikannya.


" Thom si tampan pasti akan menjagamu gadis kecil, , selamat tidur Renata. "


Ucap Thomas sambil mengedipkan satu matanya.


Dengan tersenyum Renata masuk kedalam kamarnya.


" Aku sangat mencintaimu gadis kecil. "


Ucap Thomas saat Renata memasuki kamarnya sambil beranjak dari depan kamar Renata.


Telepati Erick dan Alberth.


" Erick hadapi aku kali ini, jangan sembunyi. "


Alberth menyusuri hutan dan berlari cepat mencari Erick.


" Alberth aku sudah dihadapanmu, berhentilah berlari! "


Erick dengan pedang cahayanya berdiri dihadapan Alberth.


" Erick, apa yang sudah kau lakukan kepada Renata semalam sungguh keterlaluan aku tidak bisa mengampunimu, Erlion adalah musuh Renata!! "


Alberth mulai mengeluarkan pedang kabut hitam dan mengarahkan kepada Erick.


" Alberth, Renata hanya mencintaiku, kami melakukannya dengan perasaan yang sama, kau harus melepaskannya, aku tidak peduli dengan Erlion, yang aku pedulikan hanya Renata, kami saling mencintai, kau harus mengerti Alberth!! "


Erick mengarahkan pedang cahayanya kehadapan Alberth dan dengan tiba-tiba mengeluarkan sengatan listrik yang luar biasa dan menyilaukan pandangan Alberth.


Alberthpun mengarahkan pedang kabut hitamnya kearah Erick, tetapi dengan mudah Erick menangkisnya dan membuat Alberth tertahan.


Alberth berlari sangat cepat kearah Erick dan melompat tinggi, dengan tangan kanannya yang mengeluarkan pedang kabut hitam diarahkan kepada Erick dengan sekuat tenaga hingga kabut hitampun menjadi sangat besar dengan suara petir menyambar memekikkan telinga.


Tetapi Alberth terkejut tiba-tiba Erick berada dibelakangnya dan pedang cahayanya mengarah ke lehernya dan hampir menyentuh kulitnya.


Erick menahan serangannya karena sudah berjanji kepada Renata agar tidak melukainya.


" Alberth, kita berdua dan Thomas harus melindungi Renata, tuan besar sebentar lagi akan bangkit. Hentikan pertarungannya ini demi Renata. Jika saatnya tiba, kita akan bertarung lagi. "


Sambil tetap mengarahkan pedangnya keleher Alberth, Erick memohon untuk menghentikan pertempuran dengannya.


" Baiklah tapi satu hal yang harus kau lakukan, jangan menyentuh Renata, jangan pernah melakukannya, saat kita bertarung lagi dan aku kalah, kau boleh melakukannya dan aku akan menerima hubungan kalian!! "


Kata- kata Alberth yang membuat Erick sangat marah. Dan akhirnya mengarahkan pedang cahayanya kesamping Alberth dan menghancurkan semua pohon yang ada disana.


" Alberth kau tahu aku tidak mungkin melakukan itu, aku sudah mengikat dia, jiwaku akan bergetar jika aku didekatnya, dan aku pasti akan tersiksa.!!"


Kali ini Erick mengeluarkan suaranya dengan sangat keras.


" Kau harus bisa melakukannya, hanya dengan cara ini kita bisa membantu Renata tanpa ada yang tersakiti hatinya!!"


Alberth berusaha meyakinkan Erick.


Alberth memasukkan semua kabut hitam kedalam tubuhnya dan pedangnya masuk kembali kedalam tangannya.


Akhirnya Erick juga menyimpan pedang cahayanya.


" Baiklah, ini berlaku untuk Thomas juga, aku tidak mau siapapun menyentuh kekasihku Renata, satu lagi jangan sampai kalian melanggarnya, jika kalian melanggar aku akan membunuh kalian dengan pedangku!! "


Dengan suara yang lantang dan sorotan mata abu-abunya yang bersinar karena kemarahan, Erick kembali memperingatkan Alberth.


" Kekasihmu hahahaha, selama ada aku itu tidak akan terjadi aku tetap mencintai Renata apapun keadaannya, apa yang kamu ucapkan juga berlaku untukmu, jika kau melanggarnya, aku akan membunuhmu sekali tancap tiada ampun, satu lagi besuk kau harus ikut kami menuju kuil lembah hitam, ini perintah!! "


Dengan tatapan yang sinis Alberth berbalik dan meninggalkan Erick dengan cepat.


Erick yang ta kuasa menahan amarahnya kemudian berteriak dengan kencang dan memukul tanah dan membuatnya bergetar.


" Tiiiiiidaaaakkkkkkkkkkkkk!! "


*********************************************


Sementara itu dijendela kamarnya, mata Renata kembali memerah dan mengeluarkan listrik dalam tubuhnya. Ternyata Renata mengamati pertarungan mereka berdua.


" Sepertinya ini yang terbaik buat mereka sebelum aku bertempur dengan musuhku yang sebenarnya". gumam Renata.


Kemudian Renata mengarahkan pandangannya kesamping dan menatap lurus melewati hutan, lorong- lorong kota dan dan akhirnya menembus kabut hitam menuju kastil Erlion dan sampai di sebuah ruangan Edwind Erlion.


" Edwind Erlion...... aku menunggumu membangkitkannya, agar aku bisa membunuh didepanmu!! "


Renata yang melakukan telepati dengan Edwind Erlion dengan mata merahnya.


Edwind pun langsung berpaling mengikuti suara Renata dan seketika mata Edwind Erlion berubah warna menjadi abu - abu terang bercahaya dan membalas tatapan Renata seolah- oleh mereka berada dalam satu ruangan padahal mereka dipisahkan dengan jarak berkilo-kilo meter.


Edwind menggenggam erat tongkatnya hingga mengeluarkan kabut lalu tersenyum sinis dan menjawab,


"Hmmm....tunggu saja!!"