
Erin sorotan matanya yang sangat tajam terus menatap Thom dan membuat badan Thom merasa panas terbakar.
Didepannya, Erick berusaha mencegah Erin menutupi matanya dengan pedangnya yang bercahaya.
Erin mempunyai kekuatan dimatanya yang berwarna abu-abu untuk membuat siapapun akan merasa panas dan terbakar jika menatapnya.
"Sudah cukup Erin, hentikan sekarang!" dengan berteriak Erick tidak dihiraukan Erin dan tetap menyerang Thom.
Sementara Felishia, pelayan setianya disebelah Erin tersenyum dan senang melihat Thom terbakar dan berteriak kesakitan.
Melihat hal itu Erick mengeluarkan cahaya pedangnya dengan sekuat tenaga sehingga mengganggu pandangan Erin dan Thompun selamat.
"Kakak kenapa kau hentikan aku, kamu berada dipihak manaaaa?" sambil berteriak Erin menunjuk Erick dengan jarinya. Erin mengarahkan pandangannya kepada Renata dan berencana akan menyerangnya.
"Eriiiinnnnn, hentikaaaannnnnn!" Erick menyerang adiknya sendiri dengan mendorongnya sehingga membuat Erin terpental jauh bersama Felishia.
"Kakak apapun usahamu aku akan tetap membunuh gadis ituuuu." kembali lagi Erin akan menyerang Renata dengan menatapnya.
Renata berdiri dan kembali menatap Erin, dan ternyata kekuatan Erin tidak bisa menyerang Renata.
"Erinnnnn, rasakan iniiii." Thompun kembali menyerang Erin dengan rantai apinya dan Erick menghalangi Thom.
"Thomaaasss, hentikan jangan lakukan, belum waktunya!" Erick berusaha menghentikan Thomas dan menangkis rantai api Thomas dengan pedang bercahayanya agar tidak mengenai adiknya Erin.
"Arrghhhhhh, Erickk kamu sudah keterlaluan rasakan ini." kembali Thom menyerang Erick karena tanpa sengaja Thom terkena pedang Erick dan mengenai tangan kanannya hingga berdarah. Tapi Thomas tetap menyerang Erick dan Erickpun menangkisnya tanpa menyerang Thomas.
"Dasar kakak bodoh kenapa dia tidak menyerang, rasakan ini." kembali Erin akan menyerang Thomas dengan kekuatan matanya.
Melihat hal itu Renata berlari menghampiri Erin dan menatap mata Erin yang tidak bisa menyerangnya. Melihat hal itu Erin sangat kesal dan sangat marah.
"Erin, siapapun namamu hentikan, apa maumu." Renata dengan berteriak menghalangi Erin menyerang Thomas.
Ketika Renata melihat Thomas berdarah dia berlari dan menghampiri Thomas dan berdiri didepannya agar menghentikan kemarahannya dan tidak bertarung lagi.
Sambil menatap Erin, Renata berdiri didepan Thomas untuk melindunginya agar tidak terkena kekuatan Erin dari matanya karena bisa membuatnya terbakar.
Renata memegang tangan Thomas, dan mengikatkan sapuntangan miliknya pemberian Alberth ditangan kanan Thomas yang terkena pedang Erick untuk menghentikan darahnya yang keluar dengan cepat.
Melihat itu Erick termakan api cemburu sangat marah dan berdiri didepan Thomas dengan sorotan mata yang tajam melihat Renata memegang tangan Thomas.
"Thomasss, hanya itu kemampuanmu? Renata lepaskan! aku tidak mau kau menyentuhnya, Thommmaasss jangan pernah besandar dengan Renataaa!" Erick sangat marah dan membentak Thomas sehingga membuat Renata sangat kesal.
"Erick hentikan,Thomas berdarah aku hanya membantunya untuk menghentikan pendarahannya akibat pedangmu itu." sambil membentak Erick, Renata membuat Erick semakin marah.
Erin dan Felishiapun senang akhirnya Renata membenci kakaknya.
"Ini awal yang bagus nona biarlah tuan Erick termakan api cemburu, ini sangat menguntungkan kita
" Bisik Felishia kepada Erin, dan Erinpun tersenyum senang.
"Erickk jangan pernah membentak Renata! jika kau lakukan lagi aku akan mengejarmu hingga mati." Thomas yang sangat marah melihat Erick membentak Renata dan kembali berdiri akan menyerang Erick.
"Ahhh maafkan aku Renata, aku tidak mau kau menyentuh siapapun selain aku." dengan nada sedih Erick meminta maaf kepada Renata.
"Kakakkkk, kenapa kamu sangat lemah dasar bodoh." Melihat itu Erin kembali marah dan berjalan akan menyerang Thomas lagi dengan kekuatan matanya.
Tetapi Erin tidak bisa berhasil karena Renata terus melindungi Thomas didepannya.
Tiba-tiba Renata terdiam, dengan sorotan matanya yang tajam membuat sekolah Erlion mulai bergetar dan retak.
Anginpun berhembus sangat kencang, dan membuat semua kaca pecah dengan perlahan. Semua benda mulai bergetar. Dan Renata kakinya sudah tidak menyentuh tanah.
Mata ungunya yang perlahan berubah menjadi berwarna merah, dan rambutnya berubah menjadi berwarna merah pekat.
Perlahan-lahan kulit Renata berubah menjadi merah dengan mengeluarkan listrik yang begitu dahsyat.
Erin, felishia, Erick, dan Thomas terdiam terpaku melihat kekuatan Renata yang tiba-tiba muncul.
"Nona, mari kita pergi belum waktunya kita menyerang!" Felishia mengajak Erin meninggalkan tempat itu karena kekuatan Renata yang sangat dahsyat itu bisa membunuhnya.
"Thomasss, cegah Renata jangan sampai dia mengeluarkan kekuatannya ini belum waktunya!" Erick berteriak dan meminta Thomas untuk membantu dirinya agar menghentikan Renata berhenti mengeluarkan kekuatannya.
Thomas berlari dan berusaha menghentikan Renata tapi kembali terpental disusul Erick dan kembali terpental.
Semua usaha yang Erick dan Thom lakukan tetap saja membuat diri mereka terpental.
Renata yang secara tiba-tiba mengulurkan tangannya dan akan menghancurkan gedung sekolah membuat Erick dan Thomas kebingungan.
Kemudian dengan berani Erick berdiri didepan Renata berusaha menenangkan Renata tanpa memikirkan nyawanya.
"Renaaaataa gadis bermata ungu,putri bidadariku, lihatlah ini Erick, ini bunga bercahaya milikmu ambillah!" Erick berusaha meredamkan amarah Renata.
Melihat hal itu Thomas tidak marah karena badannya sudah lemas karena terpental berkali-kali. Dan itu satu-satunya cara agar kemarahan Renata mereda.
"Mata unguu, ini erick." Sambil mengulurkan tangannya Erick berusaha memegang Renata.
Renata yang akhirnya tidak jadi menghancurkan sekolah melihat Erick.
Tapi masih tidak sadarkan diri dengan kekuatannya.
"Renataaaa, aku mencintaimuuuuu" Erick yang tiba-tiba melompat dan meraih Renata tidak peduli badannya terkena sengatan listrik dari tubuh Renata, kemudian Erick memeluk Renata.
"Ahhh Erickkk, Erickk." Dengan perlahan Renata kehilangan kekuatannya, dan lemas jatuh kebawah, dengan cepat Erick menangkapnya.
Dengan meneteskan air mata Erick kembali memeluk Renata dan menggendongnya menuju kearah Thom menyerahkan Renata.
Thom dengan jalan yang terpatah-patah tetap menggendong Renata dan membawa Renata masuk kedalam mobilnya.
"Erick, ini belum berarkhir, aku akan terus memburumu jika kau mendekati Renata." Thomas masih mengancam Erick.
Erick hanya terdiam dan pergi dengan cepat.
Thomas segera menelepon rumah Renata dan mengabari apa yang terjadi. Mendengar khabar tersebut bibi Aelin sangat kaget dan segera memberitahu tuan Rudolf.
Dengan cepat Thom mengendarai mobilnya sekencang kilat untuk membawa Renata pulang.
Sementara itu disalah satu sisi Jendela sekolah Sma Erlion berdiri lelaki tua berambut putih memakai jubah hitam ditemani beberapa pengawal mengamati Thomas dan Renata dengan penuh pandangan yang marah.
Para siswa dan guru Sma Erlion yang ternyata adalah hantu terkutuk hanya bisa terdiam melihat Renata yang kemudian berkumpul didepan lelaki tua berambut putih itu.
"Hmmm, Renata hanya gadis kecil, tapi kekuatan sama dengan kakekku." Dengan pandangan yang mengerikan lelaki itu sangat kesal bahkan para hantu siswa dan guru takut melihat lelaki tua berambut putih itu.