Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
Bab 43 : Tertangkapnya Erick



Renata dan Erick terkejut melihat Tuan besar dan semua Erlion datang menghadangnya.


"Ternyata kalian juga mengetahui hal ini. Erlion, kamu seperti pengecut membawa bantuan untuk melawanku?"


"Hahah...luar biasa biasa sekali menantumu itu, Edward. Lihatlah dia begitu sombong! Dan Erick cucuku, akhirnya kita bertemu. Tidakkah kau merindukan kakekmu?"


Tuan Besar berjalan menghampiri Renata dan secepatnya Erick mengeluarkan pedang bercahayanya.


" Kakek, jika kau ingin menemuiku aku akan ikut. Biarkan Renata mengambil miliknya!"


"Miliknya? hahaha...apa itu Erick?"


"Berlian merah itu milik Renata."


"Erick, sopanlah jika berbicara dengan kakekmu!" Edward mulai marah dan ingin menyerang Erick.


"Edward, tidakkah kau ingat ucapanku jangan pernah melukai cucu kesayanganku!"


"Tapi paman, dia sungguh keterlaluan."


"Edwind, suruhlah anakmu menutup mulutnya!"


"Edward, tidakkah kau dengar apa perkataan kakakku!"


"Baik ayah." Edward terus menatap Erick dengan kemarahan.


" Erick, aku harus pergi." Renata berkomunikasi dengan Erick melalui pikirannya.


Renata membuat tubuhnya kembali memerah. Setelah memalingkan badannya, Renata melompat dan mengarahkan batu segitiga merah kedalam lubang segitiga yang berada diatas batu yang menjulang diantara ketiga lorong jalan menuju berlian merah berada.


Pintu lorong akhirnya terbuka, secepatnya Renata berlari memasukinya.


"Edwind, jangan ikuti aku! kalian berjagalah disini!Aku akan mengejar gadis sialan itu."


"Baik kakak."


Disaat Tuan Besar ingin menyusul Renata, Erick menghadangnya dan membuat Tuan besar sangat marah.


"Erick cucuku, jangan memaksa kakek menyerangmu!"


"Kakek, jangan pernah menyakiti Renata! Siapapun itu aku akan melawannya."


"Erick, jangan membuang waktuku! pergi dari hadapanku!"


"Tidak akan kakek."


" Baiklah, Edwind atasi dia dan kurung dia dikamarnya! Aku akan menemui cucu hebatku setelah urusanku selesai."


"Baik kakak."


Edwind melangkahkan kakinya menuju Erick dan mengeluarkan kabut hitam yang sangat dahsyat untuk menyerang Erick.


Dengan cepat Erick menangkisnya menggunakan pedang cahayanya dan Edwind tidak mampu mengalahkan Erick yang semakin hebat.


Tuan besar segera pergi kelorong ketiga menyusul Renata saat Erick melawan Edwind.


Melihat ayahnya yang hampir kalah dengan Erick, Edward menyusun strategi agar Erick menghentikan serangannya.


"Erick...jika kau tidak menghentikan seranganmu aku akan melukai Erin dan Alberth! bukankah sekarang waktunya mereka bertemu?"


Mendengar ucapan ayahnya, Ercik berhenti seketika dan akhirnya Edwind mengenai tangan Erick hingga membuatnya terluka oleh kabut hitam yang menjadi kelemahannya.


"Ayah yang sangat tega, kenapa kau lakukan itu! Ahh....!" Erick merintih kesakitan.


"Ayah bawa dia segera, sebelum terlambat!"


Disaat Edwind memerintahkan pasukannya untuk membawa Erick, dengan tersenyum Erick berdiri dan melukai Edwind dengan pedangnya.


"Hahaha...kakek pikir kabut hitam itu bisa melukaiku? aku sudah tidak bisa terkena senjata sialan itu!"


"Apaa? kurang ajar! Edward lakukan sesuatu!" Edwind memegang lengannya yang mengeluarkan banyak sekali darah dari pedang cahaya Erick.


"Baiklah ayah. Pengawal goreskan pedang kabut hitam kearah Erin sekarang!"


Mendengar ucapan ayahnya, Erick sangat terkejut dan menyerahkan dirinya.


"Ayah...Hentikan! baiklah, aku akan menuju kastil Erlion tapi hanya sebentar, jangan lukai Erin!"


"Baiklah, sekarang pergilah menemui ibumu Erick! dia merindukanmu."


Secepat kilat Erick menuju kekastil Erlion untuk menemui Delichia.


Sampailah Erick dikamar Delichia yang sedih rindu kepadanya.


"Ibu, aku disini."


"Erick, sayangku aku sangat merindukanmu. Kau sangat gagah sekali. Jangan pergi lagi Erick! aku tersiksa, sangat...tersiksa."


"Aku harus berada disebelah istriku, ibu."


"Istrimu? haruskah dia yang menjadi pendampingmu Erick?"


"Aku sangat mencintainya, ibu."


"Aku tahu Erick dan itu membuatku tersiksa."


"Ibu, terimalah Renata! Dia jodohku dan ibu sudah tahu itu. Dari kecil aku sudah berjodoh dengannya."


"Baiklah, pergilah kekamarmu! tunggulah kakekmu disana!"


"Baik ibu, janganlah bersedih bagaimanapun juga aku menyayangimu."


Sampai didepan kamarnya perasaan Erick tidak enak dan ragu untuk memasukinya.


Erick tiba-tiba mendengar suara yang menyerupai Renata didalam kamarnya.


"Erick suamiku."


"Renata, kenapa kau disini?"


Dengan cepat Erick masuk dan ternyata itu adalah perangkap yang sudah dipersiapkan oleh Tuan Besar.


Saat Erick memasuki kamarnya, kekuatan kabut hitam dan cahaya listrik yang sangat besar yang berasal dari kekuatan Tuan Besar telah mengitari ruangan Erick sehingga membuatnya terjebak disana.


"Apa ini? kurang ajar. Aku tidak akan memaafkan kalian....."


Delichia yang berada diluar ruangan Erick dan melihat pintu kamar Erick yang terbuka, membuat Delichia merasa senang karena pada akhirnya anak kesayangannya ada dikastil bersamanya.


"Ibu, aku tidak akan memaafkanmu."


"Erick sayang, maafkan ibu sudah membohongimu sayang!"


"Ibu....lepaskan aku!"


Delichia pergi dan meninggalkan Erick dengan tersenyum.


Flash back on.


"Edwind aku mau bertempur Erick berada disampingku. Siapkan ruangannya dan nanti aku akan menjebaknya supaya dia tidak bisa kabur lagi."


"Erick sangat kuat kakak, apalagi tubuhnya sudah mengalir darah Renata, dia tidak terkalahkan bahkan akupun tidak bisa melawannya."


"Pedang kabut hitam sudah tidak lagi menjadi kelemahannya, paman." Edward berjalan memghampiri tuan besar.


"Hahaha...apa yang tidak bisa aku lakukan,semua sangat mudah. Kalian turuti aku akan membawa Erick kembali bersama kita. Tenanglah, aku akan memberikan kekuatanku diseluruh ruangan itu dan Erick cucuku tersayang tidak akan pernah bisa kabur lagi."


"Baiklah kakak akan aku pastikan Erick kembali dengan memanfaatkan Erin sebagai pancingan. Mereka tidak bisa terpisahkan."


"Jika Erin terluka, Erick akan terluka." Edward


"Hahaha...tetap sulit melukai Erin. Delichia iya gunakan dia. Biarlah Erick menemuinya dan masukkan dia segera kekamarnya."


"Baiklah kakak ijinkan kami mengurus ini semua dan setelah itu kami ikut denganmu menghadang Renata mengambil berlian merah."


"Hahaha...pergilah!"


Tuan Besar berjalan menghampiri biru.


"Sayangku cahaya biru bagaimana kabarmu. Betapa indah ruangan ini ada cahaya sepertimu."


"Erlion, jangan pisahkan mereka!"


"Mereka? siapa maksudmu biru?"


"Renata dan Erick tentunya, jangan pisahkan mereka!"


"Rudolf tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari Erlion karena aku tidak akan mau itu."


"Apa yang kamu mau Erlion."


"Aku mau kau cahaya biru. Ini semua terjadi karena dirimu."


"Aku sudah berada disini denganmu Erlion. Apalagi yang kau mau?"


"Aku mau Rudolf mati. Hahaha..."


Cahaya yang semula terang menjadi tedup karena mengeluarkan air mata. Tuan besar meninggalkan ruangannya dan menuju sma Erlion untuk menghadang Renata.


Flas back of.


Sementara Renata dan Tuan besar saling berebut berlian merah dan bertarung.


"Aku tidak akan pernah membiarkanmu memilikinya, Renata!"


******************************************


Disebuah taman, Erin menemui Alberth dan membuatnya sangat bahagia.


"Akhirnya kita bisa bertemu kembali,Alberth. Bagaimana harimu? Aku sengaja membawa piano ini untukmu. Maukah kau mendengarkan pianoku?"


Saat itu Erin menyuruh Felishia menyiapkan piano ditaman agar Alberth bisa mendengarkannya memainkan pianonya dengan indah.


Alberth mengangguk membuat Erin memainkannya dengan tersenyum dan penuh penghayatan.


Alberth memandang Erin dengan tersenyum.


"Akhirnya kau tersenyum, Alberth. Senyum itu sama seperti senyum yang selalu ku ingat dulu."


"Maafkan aku Erin, aku tidak bisa membalas cintamu. Aku sudah berusaha." ucap Alberth dalam hatinya dan kembali memandang Erin dengan wajah sendu.


" Aku tahu, kau belum bisa mencintaiku. Tapi aku yakin, suatu saat nanti kau pasti akan mencintaiku, Alberth. Sekarang tersenyumlah dan buang wajah sedihmu itu!" Erin kembali memainkan pianonya dan tersenyum memandang Alberth.


Disetiap not lagu yang dimainkan oleh Erin, membawa desiran kehangatan di hati Alberth.


Dengan menutup matanya, Alberth menikmati alunan musik piano yang dimainkan Erin. Alberth semakin terhanyut dalam pikirannya sampai akhirnya ada yang mengusik di hatinya.


" Perasaan apa ini? Kenapa aku tiba-tiba teringat ciuman itu?"


Dalam pikirannya yang masih dengan mata tertutup, Alberth mengingat saat dirinya mencium Erin dengan penuh hasrat. Hingga akhirnya Alberth membuka matanya dan menatap Erin yang masih memainkkan pianonya.


" Erin...aku..."