Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
Bab 32 : Terpaksa



Erick mengeluarkan listrik dari tubuhnya dengan tidak terkontrol sehingga menghancurkan semua yang ada didepannya.


Rumah dan pohon yang ada disekitar rumah Renatapun hancur terkena kemarahan Erick.


Kesedihannya dulu membuat emosinya semakin meluap-luap dan membuat Renata semakin gelisah.


"Erick...hentikan...tenanglah suamiku hentikan..!"


Renata terus berusaha menghentikan emosi Erick yang semakin dahsyat dengan menarik dan memeluk tubuh Erick.


"Erick...tenanglah..(membelai Erick)..ayo tenanglah sayangku...hentikan jangan seperti ini...(terus membelai lembut Erick)"


"Aku sangat tersiksa Renata, setiap hari aku berteriak dan memanggilmu tapi aku tidak bisa menemuimu....itu sangat menyakitkanku..aku saat itu sangat merindukanmu Renata...aku tidak bisa hidup tanpamu sayang.."


"Pandanglah aku Erick ....sekarang aku sudah menjadi milikmu, Renatamu sudah disini sayang..tenanglah..(terus membelai Erick)...tidak akan ada yang memisahkan kita lagi. Ayo kita kembali kedalam sayang"


"Kau benar...kita sudah bersama sayang..kau tidak tau betapa bahagianya aku bersamamu...hingga aku tidak bisa berucap..."


Erick memegang pipi Renata dan menyatukan kening mereka, Renatapun juga memegang tangan Erick dipipinya sambil tersenyum dan mencium tangan Erick dengan lembut.


"Hmm tapi lihatlah rumah kita hancur sayang..hahaha...ibuku akan sangat-sangat marah jika mengetahuinya dan suamiku yang nakal dan buas ini harus meminta maaf dan bertanggung jawab ya....haha..."


"Hahah..hmm..maafkan aku istriku sayang rumah kita jadi hancur begini..tapi sepertinya masih ada yang aman disebelah situ..hehe"


"Hufff....sepertinya kita akan tidur diruang tamu. Hanya bagian itu yang masih utuh"


Renata menatap rumahnya sambil menepuk jidatnya.


"Bagaimana kalau kita kerumah lamamu saja sambil mengenang malam pertama kita..sayang..gimana menurutmu.."


"Maksudmu malam disaat ada laki-laki yang sangat nakal, bawel, cerewet,tidak mau menurut, dan ingin mati...ah seharusnya aku cekik aja sekalian...menyebalkan jika aku mengingatnya.."


"Hahaha...menggemaskan jika istriku ini cemberut...(Mencubit pipi Renata)...tapi aku sangat beruntung malam itu gara-gara Alberth kita bisa bersama...ah aku belum meminta maaf dengan Alberth..."


"Yaa..Kau harus meminta maaf sama Alberth daaan....tentunya juga dengannn..."


Renata memandang Erick sambil menyilangkan tangannya di dada.


"Dan...dengan...siapa? "


"Thomas...juggaaaa....tentunya suamiku.."


"Ahh...tidak akan...lupakan aku tidak mau melakukan itu... "


Erick memalingkan wajahnya dengan cemberut dan menyilangkan kedua tangannya didada kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ayolah Erick...baiklah kalau kamu tidak mau, malam ini kamu tidur diluar..."


"Loh...jangan sayangg...kenapa begitu?"


"Pokoknya malam ini kamu tidur diluar titik..."


"Hehe....malam ini kita memang tidur diluar sayang lihatlahh pintu ruang tamu kita juga sudah hancur semua hehe.."


"Erickkkk..."


Renata menatap Erick dengan sinis.


"Ok ok baiklah aku akan minta maaf juga sama Thomas ...menyebalkan sekali sirambut wanita itu"


Erick memegang kepalanya karena merasa sangat kesal.


" Nah gitu dunk...aku bosan mendengar pertengkaran kalian...dan kamu suamiku, sekarang juga perbaiki pintunya, malam ini kita tidur disitu.."


"Tentu saja nyonya...asalkan jangan suruh aku tidur diluar ya...kalo aku merindukanmu bagaimana?.."


Renata tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan suaminya dan mereka saling berpelukan.


******************************************


Di kastil Erlion, Edward merencanakan sesuatu untuk Erin sesuai dengan rencana istrinya.


"Lakukan perintahku dan ingat, Pattinson dan Erin tidak boleh tau hal ini"


"Baik tuan.."Pengawal


Edward segera melakukan rencananya dengan memanggil Pattinson dan pura-pura memberikan tugas padanya untuk menemui seseorang.


Pattinson yang selalu patuh dengan tuannya dengan segera melakukan tugasnya.


Setelah Pattinson pergi, Edward memanggil Felishia untuk menemuinya dan memberikan tugas kepadanya.


"Apa kau mengerti tugasmu Felishia?"


"Baik tuan, saya mengerti"


Felishia segera melakukan tugas yang diberikan Edward.


" Tok..tok...permisi nona Erin apa saya bisa mengganggu sebentar"


"Masuklah Felishia...katakan ada apa?"


"Nona Erin, Alberth ada didekat sini dan dia sendirian apakah anda mau menemuinya?sepertinya ini waktu yang pas untuk anda nona.."


"Apa..Alberth..aku sangat merindukannya..."


"Mari, nona aku antar menemuinya.."


"Baiklah..bawalah aku kesana"


Erin mengikuti Felishia dengan penuh semangat dan sampailah disebuah gedung tua.


Sesuai dengan perintah Edward, Felishia segera menghilang meninggalkan Erin sendirian disana.


"Felishiaaa...dimana kamu sialan ada apa ini? Aku bisa merasakan hawa kabut hitam...siapa kamu keluarlah....ahhghhhh"


Tiba-tiba sekelebat kabut hitam menyerang Erin, untung saja Erin masih bisa menghindar.


Kabut hitam mulai mengelilinginya dan menyerang Erin kembali.


Erin dengan lincah menghindarinya. Hingga serangan itu mulai semakin banyak dan membuat Erin kewalahan.


Pattinson yang saat itu tidak jauh dari sana langsung berlari menghampiri saat mendengar suara teriakan Erin.


"Hahh..itu suara teriakan nona Erin. Sedang apa dia disana"


" Awas nona Erinnnn....aghhhhhh"


Pattinson dengan cepat berlari kearah Erin dan menangkis kabut hitam tepat saat akan melukai Erin.


Kabut hitam itu kembali melakukan serangan terakhirnya dengan lebih besar.


Pattinson mendekap Erin yang saat itu penuh dengan luka dan membawanya melompat menghindari serangan kabut hitam tapi kekuatan kabut hitam begitu besar hingga membuat keduanya terpental bersama.


Setelah itu kabut hitam tiba-tiba menghilang dengan sendirinya.


"Nona Erin, anda terluka...aku akan membawamu kembali. Bertahanlah" Pattinson


"Kau sudah menyelamatkan aku Pattinson, jika kau tidak datang maka aku pasti mati" Erin


Wajah Erin sangat pucat dan menggigil.


"Nona, sadarlah"


Pattinson segera menggendong Erin dan membawa kembali ke kastil Erlion.


Tapi sebelum sampai di kastil, Erin melemah hingga Pattinson menghentikan langkahnya dan membaringkan Erin ditanah dan memangku kepalanya.


"Bertahanlah nona, aku akan mencarikan darah untukmu"


Saat itu Erick sedang bersama Renata dan tiba-tiba Erick terjatuh sambil memegang dadanya yang kesakitan.


"Arghhh...dadaku sakit sekali....kabut hitam...Erin.." Erick lemas dan tersungkur di lantai.


"Erick ada apa denganmu...kenapa..Erin..." Renata


Renata segera berlari ke arah Erick dan memangku kepalanya.


"Aku harus tau keadaan Erin...ayo sayang kau harus pindah ke sofa itu"


Setelah Renata membantu Erick merebahkan tubuhnya di sofa, Renata berdiri dan menggunakan kekuatan matanya menembus hutan dan bangunan kota hingga menemukan Erin yang sedang terbaring lemas dengan penuh luka ditubuhnya bersama Pattinson disampingnya tak jauh dari sebuah gedung tua.


" Erick, kamu menggigil..kamu harus minum darah..."


"Tidak, Erin yang harus minum darah...dia yang harus sembuh baru aku akan sembuh.."


"Tapi saat kamu terluka kenapa Erin tidak terluka?"


"Aku menggunakan kekuatanku untuk menghalangi Erin agar dia tidak ikut terluka."


"Tapi bagaimana caranya Erick?"


"Aku memberi sengatan cahaya listrik dimata dan hatiku agar tidak menembus ke Erin, walaupun itu membuatku terus berdarah...tapi Erin selamat...sekarang aku tidak bisa melakukannya karena Erin yang terluka"


Erick menjelaskan dengan terbata-bata sambil menahan sesak didadanya.


"Pattinson...dia bisa menolong Erin. Aku akan melakukan telepati kepadanya..."


Mata Renata kembali menjadi sangat merah dan melakukan telepati kepada Pattinson.


"Pattinson...ini aku Renata..."


"Nyonya, apa yang membuatmu berbicara denganku"


"Erin, dia terluka parah. Berikan darahmu kepadanya Pattinson, cepatlah atau dia akan mati"


"Tapi nona Erin tidak memintanya dan aku tidak bisa memaksakan. Aku akan mencarikan darah untuknya"


Renata bergantian melakukan telepati dengan Erin.


"Erin....dengarkan aku Renata.."


"Jangan pernah mengajakku berbicara...pergilah.."


Erin menjawab telepati Renata dalam pikirannya yang setengah sadar sedangkan tubuhnya sudah tidak mampu bergerak.


"Erin dengarkan aku..Erick kakakmu juga terluka dan dia bisa mati...hisaplah darah Pattinson.."


"Hah...ah..( merintih kesakitan)..bagus dengan begitu kau akan menderita"


"Ya aku akan menderita...tapi jika kau mati aku akan mengambil Alberth darimu...apa itu yang kau mau?"


"Apa...Alberth.." Erin dan Erick sangat terkejut.


"Akan aku bunuh jika kau lakukan itu Renata..."Erin


"Aku pun juga akan membunuhnya jika dia brani mendekatimu."Erick


"Bunuh?...bagaimana caranya jika kalian berdua mati...haa?"Renata


"Kau harus hidup Erin jika kau masih ingin bertemu dengan Albert kembali. Apa kau akan menyerah untuk mendapatkan cinta Alberth? Jika tidak denganku, wanita lainpun juga akan merebut dia darimu jika kau mati. Kau tidak mau itu kan? sekarang juga cepat hisap darah Pattinson.."


Erin akhirnya menuruti saran Renata.


"Pattinson aku akan menghisap darahmu. Apa kau bersedia?"


"Keselamatanmu lebih penting dari nyawaku nona......lakukanlah!"


Pattinson mendekatkan lehernya ke bibir Erin.


Dengan sisa tenaga yang ada Erin menggigit leher Pattinson dan menghisap darahnya.


Mendapatkan gigitan Erin membuat Pattinson semakin bergairah.


Pattinson menutup matanya sambil menikmati gigitan Erin dengan nafas yang terengah-engah.


"Bagus Erin sembuhkan dirimu". Renata


Tenaga Erick perlahan-lahan mulai bangkit.


Tentu saja Erick langsung ngomel-ngomel dan marah-marah.


" Alberth...aku akan mencabiknya...Istriku, kenapa kau menyebut namanya?...aku tidak mau mendengar lagi, apa kau mengerti. Tidak akan kubiarkan dia mendekatimu"


"Sudahlah sayang...hanya itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkanmu....berhentilah ngomel-ngomel. Kau ini sudah terluka tapi tetap saja cerewet"


"Tapi aku tetap tidak suka sayangg...jangan meninggalkanku"


Erick merengek dengan manja ke Renata.


"Iya suamiku...kau ini manja sekali seperti anak kecil..diamlah! sebentar lagi kau akan sembuh"


"Hahaha...setelah ini Erin akan berhutang budi pada Pattinson dan harus mengikuti semua permintaan Pattinson"


"Hmmm...berarti kamu juga berhutang banyak padaku hei laki-laki buas...bukankah aku pernah menyelamatkanmu dengan darahku?"


"Tentu saja sayang. Aku akan memberikan seluruh hidupku untukmu gadis buasku"


Erick memiringkan badannya di atas sofa dengan menumpu kapalanya dengan tangannya sambil mengedipkan satu matanya untuk menggoda Renata. Tubuhnya yang lemas telah kembali bertenaga.


Renata langsung melompat ke atas tubuh Erick yang terbaring dengan tersenyum dan mereka kembali menyatukan tubuh mereka.


Pattinson mendekap erat tubuh Erin yang masih menghisap darahnya hingga luka-luka di tubuhnya menghilang.


Pattinson menahan kuat gairah yang dirasakannya akibat gigitan Erin.


Rasa cintanya yang begitu besar mampu mengalahkan hasratnya yang meluap.


Betapa dia sangat menginginkan sentuhan dari wanita yang menggigitnya.


Tapi dia harus menahannya karena tidak ingin menyakiti hati Erin.


Pattinson hanya bisa melampiaskan gairah yang ditahannya dengan memukulkan tangannya ketanah dan berteriak.


"Aaaaaaaarghhh........tidakkkk!"


Erin melihat Pattinson dengan cemas dan dia merasa harus memenuhi keinginan Pattinson karena merasa berhutang budi padanya.


"Pattinson bawa aku kembali kekastil sekarang.."


Pattinson berjalan ke arah Erin dengan wajah sendu lalu menggendong Erin dan membawa kembali kekastil.


Mereka telah sampai ke depan gerbang kastil.


Pattinson menurunkan Erin tapi Erin menahannya dan meminta Pattinson membawa kekamarnya.


"Pattinson, bawa aku kekamarku sekarang!"


"Baik nona.."


Setelah sampai dikamar Pattinson langsung berbalik hendak meninggalkan Erin, tapi Erin menariknya.


"Pattinson jangan pergi apa maumu aku akan memberikan semuanya.."


"Itu tidak perlu nona.."


"Pattinson, bukankah aku yang kau inginkan..kau boleh meminta apapun dariku"


"Nona Erin, aku...hahh...maaf nona ijinkan saya keluar.."


Erin mendekat ke Pattinson dan memegang wajahnya.


"Pandang aku pattinson, tidakkah kau menginginkanku?"


"Aku menginginkanmu melebihi apapun nona"


Dengan jantung yang berdetak kencang, Pattinson mengecup bibir Erin.


Melihat Erin tidak menolak kecupannya, Pattinson kembali mencium Erin.


Sesekali Pattinson menghentikan ciumannya dan kembali memandang Erin yang sangat cantik.


"Erin kamu sangat cantik...tapi apakah benar dia menginginkannya? Aku tidak sanggup menahan hasratku..aku sangat menginginkannya.."


Pattinson berucap dalam hatinya dengan nafas yang terengah-engah.


Kemudian dia kembali mencium lembut bibir Erin dengan mendekapnya.


Tangannya membelai lembut tubuh Erin begitu penuh dengan cinta.


Melihat Erin yang pasrah dengan belaiannya, Pattinson mengangkat tubuh Erin dan perlahan-lahan merebahkan ke ranjang.


Pattinson memegang tangan Erin dan menciumnya dari ujung jari hingga sampai ke pundak Erin.


Ciuman yang menggebu namun sangat lembut. Perlahan Pattinson mendekatkan tubuhnya ke Erin dan mencium dengan perlahan leher Erin hingga hendak ke bibir Erin.


Betapa terkejutnya saat mendengar Erin mengucap nama seseorang dengan pelan sambil meneteskan air mata dengan matanya yang terpejam.


" Alberth" ucapan lirih Erin.


Seketika Pattinson melepaskan ciumannya dan berdiri menjauhi tubuh Erin.


"Ada apa Pattinson kenapa kau berhenti?"


"Tolonglah Nona jangan menangis...anda sangat cantik jika tersenyum"


" Tapi Pattinson, bukankah ini yang kau inginkan?"


"Aku hanya ingin melihat nona tersenyum setiap saat"


Pattinson hendak memegang pipi Erin tapi menarik kembali tangannya.


"Terima kasih Pattinson....katakan apa yang harus aku lakukan?"


Pattinson melukai tangannya hingga berdarah dan meminta Erin merawatnya sampai sembuh.


"Apa yang kau lakukan Pattinson..darahmu banyak sekali yang keluar.."


"Rawatlah aku nona hingga sembuh..dengan begitu kita impas.."


Erin segera mengambil kain dan menutup luka Pattinson.


"Kembalilah kesini tiap hari aku akan merawatmu sampai sembuh.."


"Baik nona..jangan menangis lagi..itu membuatku tersiksa...aku permisi dulu nona"


"Pattinson..(Menarik tangan Pattinson)..aku sangat berterima kasih padamu..jagalah dirimu dan kembalilah sampai lukamu sembuh"


Pattinson mengangguk dan pergi meninggalkan kamar Erin tanpa berkata apapun.


Tanpa mereka berdua sadari Felishia mengamati dari jauh.


Setelah melihat Pattinson keluar dari kamar kamar Erin, Felishia segera menghampiri Pattinson


"Pattinson tunggu....kamu terluka.."


"Urusi dirimu sendiri...hatiku hanya untuk nona Erin..camkan itu.."


Pattinson pergi dengan wajah yang datar dan membuat Felishia sangat sedih hingga meneteskan air mata.


"Pattinson, apakah kau tau? aku bersedia menjadi vampir karena dirimu..."