
Ketegangan malam itu akhirnya mereda setelah Edwind dan pasukannya meninggalkan tempat kejadian. Erick langsung memeluk Renata dan mencium keningnya.
"Kamu tidak apa-apa sayang?...harusnya aku tidak jauh darimu" Erick.
"Aku tidak apa-apa sayang, kan ada Thomas yang menjagaku" Renata.
"Si rambut wanita itu kan lagi lemah, mana bisa dia menjagamu?" Erick
"Kau benar rambut uban, karena itu Renata akan merawatku. Benar kan Renata? "Thomas tersenyum licik.
"Sudahlah kalian ribut saja..Alberth mana Erick?"Renata
"Istriku kenapa Alberth yang kau cari aku suami buasmu ada disini.."
"Iya aku tahu sayang tapi segera jemput Alberth!..dia terluka bagaimana jika sesuatu terjadi padanya.."Renata
"Erick kau kemanakan kakakku sialan..."Thomas
"Ahh semua menyalahkanku kenapa ini "Erick menggelengkan kepalanya.
Dengan cepat Erick menjemput Alberth kembali yang dia tinggalkan disudut jalan.
"Ah untunglah kau tidak apa-apa Alberth,ayolah aku harus membawamu sebelum istriku marah.."
"Apa yang terjadi Erick, apa mereka menyakiti Renata, katakan padaku Erick!" Alberth melakukan telepati kepada Erick dengan penuh kekawatiran.
"Dia baik-baik saja. Istriku bisa mengatasi semua sendiri, dan aku bisa menjaganya tidak perlu denganmu. Sudah jangan bertanya lagi!"
Akhirnya Erick membopongnya dan membawa Alberth sampai dirumah lama Renata yaitu rumah utama keluarga Rudolf.
Tidak lama kemudian Renata datang bersama dengan Thomas menunggangi kudanya.
Renata dengan cepat turun dari kuda dan menghampiri Alberth.
"Alberth kau tidak apa-apa maafkan Erick.."Renata memegang lembut Alberth.
"Apaa...maafkan? apa salahku?"Erick memegang kepalanya.
"Kau sangat pucat sekali..dan berkeringat.."Renata mengusap keringat Alberth dan membuatnya tersenyum.
Alberth sangat senang dibelai Renata tapi Thomas merasa tidak suka dengan perhatian Renata untuk kakaknya..
"Kakak kau sudah tidak apa-apakan, apakah Renata harus merawatmu?.."
"Thomas, tentu saja aku harus merawat kakakmu..kenapa kau harus marah?..sekarang bersihkan rumah ini dan Erick siapkan satu kamar ok.."Renata
"Apa satu kamar? baik istriku yang menggemaskan.."Erick
Erick dengan cepat membersihkan satu kamar disalah satu rumah Renata dan memilih kamar paling besar dan menghadap taman dan balkon yang sangat besar.
"Akan aku bersihkan agar nanti aku dan Renata bisa menikmatinya.." ucap Erick dengan semangat.
"Hai, rambut wanita, bersihkan tempatmu sendiri klo kau ingin menumpang disini! Aku tidak akan membersihkannya untukmu" Erick
"Dasar kau itu tuan rumah yang crewet sekali, mana ada tamu disuruh bersih-bersih sendiri. Harusnya kau yang melayani kami" Thomas menjawab dengan bersantai di atas sofa yang masih tertutup kain.
"Enak saja, kalo bukan karena istriku, tidak sudi aku menerima tamu seperti kalian...trima ini...hupp" Erick melempar sapu ke arah Thomas.
Thomas dengan wajah yang sangat kesal menangkap sapu dari Erick dan mulai membersihkan salah satu kamar sambil menggelengkan kepalanya melihat kakaknya yang dibelai-belai Renata.
"Thomas apa yang kau lihat kenapa matamu begitu.."
Renata sangat marah melihat Thomas dan dengan cepat Thomas pun memalingkan wajahnya dan melanjutkan menata ruangan dengan wajah yang sinis melihat kakaknya.
Tiba-tiba Erick secepat kilat menghampiri Renata dan berbisik ditelinganya.
"Istriku kamar telah siap dan siap dihuni..mau aku antar.."
"Makasih Erick, sekarang bawa Alberth kekamar oke dia harus banyak istirahat aku akan mengambil air"
"Apaaa....Alberth...!"
Erick sangat terkejut dan memegang kepalanya ternyata kamar yang dia siapkan untuk istirahat Alberth.
Alberth tersenyum sinis kepada Erick dan membuatnya kesal sehingga matanyapun bersinar.
"Apa kau yakin akan menggunakan kamar itu Alberth? Apa kau tidak ingat kamar itu adalah saksi bisu persatuan Renata dan aku? Kau akan mengingat penyatuan kami di setiap sudut kamar itu, apa itu maumu?"Erick melakukan telepati kepada Alberth
"Kau sungguh menyebalkan. Aku tidak sudi mengingatnya. Bagiku Renata tetap sama seperti yang kukenal dlu. Terserah kau suka atau tidak" Alberth membalas telepati Erick.
Tak lama Renata kembali dengan membawa sebaskom air untuk membersihkan luka Alberth.
"Erick, kenapa kau tidak membawa Alberth ke dalam kamar? Kau sudah berjanji membiarkanku merawatnya kan?" Renata
"Bukan aku yang tidak mau sayang, tapi Alberth sendiri yang menolaknya. Kalo tidak percaya tanya saja padanya!" Erick
Alberth memberikan isyarat tangannya ke arah Thomas saat Renata menatapnya.
"Biarlah kakak tidur denganku Renata, aku bisa menjaganya jadi kau tidak perlu terlalu kawatir"
Thomas kemudian mengangkat kakaknya dan merebahkan ke kamarnya yang sudah dibersihkan oleh Thomas.
Saat Renata hendak mengikuti Thomas memasuki kamarnya dengan membawa baskom, Erick mencegahnya.
"Untuk apa ini sayang?"Erick
" Tentu saja untuk membersihkan luka Alberth"Renata
Erick menutup matanya dan membukanya lagi dengan tangan yang mengepal sangat marah.
Renata duduk di kursi sebelah ranjang dan mulai membersihkan luka di badan Albert yang sudah membaik. Alberth menatap Renata dengan perasaan yang mendalam.
"Andaikan aku bisa melupakanmu Renata.Tapi aku tidak bisa. Hanya dengan menatap wajahmu saja sudah membuatku sangat bahagia" batin Alberth.
"Setelah ini aku akan mencabi-cabikmu Alberth, dasar tidak tau malu suka sekali mengambil kesempatan" Erick keluar dari kamar dengan wajah penuh emosi.
"Kalian berdua istirahatlah! Aku keluar sebentar" Renata segera menyusul Erick.
"Kau dimana Erick?...Erick..ayolah?"
Renata mencari Erick dan menemukannya sedang duduk di balkon kamar utama dengan wajah muram.
"Suamiku tolonglah jangan seperti ini....aku harus menyembuhkan Alberth dia kakakku..setelah dia sembuh kita akan berdua lagi dan aku akan mengganti waktu kita aku berjanji.."Renata
"Kakak?..kakak macam apa yang selalu berusaha merebut istriku..ahh sudahlah kau berjanji Renata..berarti beberapa hari kita tidak melakukannya..ahhh membuatku tersiksa..pakailah baju yang longgar! Aku tidak sudi mata dua laki-laki itu selalu menatapmu.aku akan mencarikan besuk untukmu"Erick
"Terserah sayang....sekarang lebih baik kau dan Thomas membersihkan rumah kita. Aku tidak mau tinggal dirmh yang kotor seperti ini. Dan satu lagi kau harus berjanji padaku! Jangan pernah menghancurkan perabotan kita lagi atau kamu akan tidur diluar. Berjanjilah sayang..ayo!"Renata
" Huff...baiklah aku berjanji istriku"Erick
"Tin..tin.." (suara bel mobil)
"Itu pasti suruhan ibuku membawa pesananku. Tolong bukakan pintu dan bawa semua barang masuk ya sayang"Renata
Erick dengan cepat mengambil pesanan Renata dari pengawal yang mengantarkannya dan memberikan kepada Renata.
"Ini pesananmu...mau aku taruh mana?"Erick dengan sinis membuat Renata menggelengkan kepalanya.
"Terimakasih sayang, kita berikan pada Alberth dan Thomas ya"Renata
Renata kembali menemui kedua kakak beradik dan memberikan selimut, obat-obatan dan pakaian bersih untuk mereka.
"Sayang, kau bisa meletakkan itu semua di lemari" Renata meminta Erick menata barang-barang Alberth dan Thomas.
"Hahaha, kau sungguh tuan rumah yang baik tuan vampir. Tatalah yang rapi pakaian kita. Setelah ini jangan lupa siapkan makanan untuk kita. Ingat makanan manusia, bukan vampir...hehe"Thomas
Thomas berbicara kepada Erick sambil tertawa sinis dan membuat Erick semakin kesal dan hampir menghancurkan barang tetapi menahan karena sudah berjanji kepada Renata.
"Apaaa? Aku ini vampir mana pernah aku belanja" Erick
"Hahaha...vampir yang katanya terhebat sekarang harus belanja bahan makanan untukku. Siapa yang seperti wanita disini" Thomas tertawa
"Rambutmu itu yang seperti wanita" Erick
"Sekali lagi kau mengatakan itu aku akan bakar kau dengan gelang apiku" Thomas
"Coba saja kalo berani rambut wanita" Erick berdiri tagap menantang Thomas.
Thomas mulai mengeluarkan gelang apinya dan diputar-putar. Ketika hendak menyerang Ercik tiba-tiba Renata masuk.
"Apa yang mau kalian lakukan?"Renata
Seketika Erick menundukkan kepalanya dan duduk santai, Thomas segera menyembunyikan senjatanya pura-pura mengambil selimut di lemari.
"Tidak ada yang kami lakukan, kami hanya menunggumu saja. Kau ingin aku melakukan apa sayang?" Erick tersenyum mengalihkan pembicaraan.
" Tolong belikan semua barang2 di catatan ini! Dan Thomas kau bisa membantu Erick berbelanja, dia tidak akan paham dengan semua barang ini. Kau maukan?" Renata
"Tapi aku masih lemas Renata, tenagaku belum pulih" Thomas pura-pura.
"Tidak perlu sayang, aku akan pergi sendiri aku bisa bertanya nanti" Erick lebih memilih meninggalkan Renata dengan Alberth dan Thomas daripada harus berdua saja dengan Alberth.
Segera Erick meninggalkan rumah dan memilih berjalan seperti manusia biasa menuju swalayan yang tak jauh dari rumahnya. Setiba di swalayan, Erick kebingungan dengan barang2 yang harus dibelinya.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Seorang karyawan wanita mendekati menawarkan bantuan.
"Hemm...aku harus membeli barang2 ini kau mungkin bisa membantuku" Erick menyerahkan daftar belanjanya sambil melirik sinis penuh curiga.
"Ikuti aku tuan, aku akan membantumu mengambil semua yang kau butuhkan" wanita itu mengambil daftar di tangan Erick sambil membelai tangan Erick.
Setelah semua barang sudah berada di keranjang, Erick menuju kasir dan membayarnya. Karyawan wanita itu terus menatapnya.
Setelah membayar semua belanjaannya Erick segera keluar dari swalayan .
Saat melewati lorong Erick berhenti.
"Siapa kau kenapa mengikutiku?"
"Hahaha...selama ini aku selalu penasaran denganmu...tuan Erick yang tampan. Sayang sekali kau harus bersama dengan wanita biasa" kata wanita yang menyamar menjadi karyawan swalayan.
"Apa maumu? Apakah kakekku yang menyuruhmu?
"Tidak penting siapa yang menyuruku. Aku beri penawaran padamu, jika kau mau bersamaku, aku tidak perlu membunuhmu. Kita bisa menguasai dunia bersama" si wanita merayu Erick hendak menciumnya.
Erick memegang tangan wanita itu dan melemparnya ke arah tembok hingga tembok lorong itu retak. Tiba-tiba wajah wanita itu berubah menjadi vampir dan menyerang Erick.
Erick melempar barang belanjannya tanpa membuatnya berantakan dan segera menangkis serangan dari vampir wanita.
Hanya beberapa kali serangan Erick mampu mengalahkan vampir wanita itu.
"Ampuni aku tuan, aku hanya diutus ibumu mengawasi Renata"vampir
"lalu kenapa kau membuntutiku? Istriku tidak sedang bersamaku. Mau apa kau denganku?"Erick
"Aku ingin bersamamu tuan Erick, aku bisa memberikan kepuasan padamu lebih dari istri tidak bergunamu itu"vampir
"Jangan pernah menghina istriku atau aku akan menghancurkanmuu.." Erick berteriak dengan mata bersinar.
"Ampun tuan, aku tidak akan melakukannya lagi" vampir wanita itu menunduk meminta ampun.
" Baiklah, pergi dan jangan pernah mengganggu istriku lagi"Erick
Ketika Erick hendak melangkah, tiba-tiba wanita itu menyerang dari belakang.
"Kau harus menjadi milikku Erick..hiaaaa...tranggg..agrhhhhh"vampir
Erick menebas wanita itu tanpa membalikkan badannya hanya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya telah memegang kembali barang belanjaannya.
Erick dengan santai melewati mayat vampir wanita yang menguap dan menghilang.
Sesampainya di rumah, Erick langsung mencari Renata.
Betapa kesalnya Erick melihat Renata bercanda dan tertawa bersama kedua kakak beradik.
"Ini barang- barang pesananmu" Erick membanting belanjaannya dan menatap tajam.
"Sayang kau sudah kembali, kalian tunggu sebentar ya aku akan membuatkan makanan buat kalian" Renata tersenyum dan menarik Erick untuk mengikutinya.
" Renata tunggu, aku senang kita bisa bercanda seperti dulu. Bukankah kita dari kecil sangat dekat?" Thomas sengaja membuat panas hati Erick dan tersenyum sinis.
Renata tersenyum dan keluar dari kamar sambil menggandeng Erick.
Erick mengikuti Renata dengan wajah marah. Renata mengajaknya ke taman belakang.
"Apakah ini tujuanmu menyuruhku keluar rumah supaya kamu bisa tertawa bersama mereka..hah?" Erick
"Kau tidak masuk akal sayang,mana mungkin seperti itu"Renata
"Aku bisa gila Renata, ini benar-benar membuatku tidak warassss" Erick memegang kepalanya menahan emosinya.
Seketika Renata memegang tangan Erick dan mencium bibir suaminya.
Erick yang semula terdiam tidak membalas ciuman Renata kemudian lama-lama membalas ciuman istrinya dengan menggebu.
"Aku hanya mencintaimu Erick, bagaimana aku harus menjelaskan padamu? Mereka seperti saudaraku dan sudah seharusnya kita merawat mereka. Bukankah kita berhutang maaf kepada mereka?"Renata
"Dan aku harus menahan bersama istriku sendiri karena mereka? Sepertinya aku tidak mau. Dan aku tidak akan menyetujuinya"Erick
Ketika Erick masih berbicara penuh kemarahan, Renata melompat kearah Erick dan menciumnya kembali.
Kemudian menatap Erick sambil membelai rambut Erick dan membuat Erick mendekatkan wajahnya kekening Renata.
"Jangan menyiksaku mungil...aku tidak bisa.."Erick
"Erickk...hentikan sentuhanmu..tolong mengertilah hanya beberapa hari saja oke dan bukankah kau mau membelikan aku baju?..besok carikan untukku..sekarang aku mau kamu bersabar "Renata
"Hanya ciuman dari istriku boleh yaa...aku suka jika kamu mulai galak begini membuatku semakin....eh"Erick
Renata menutup mulut Erick dan menatap Erick.
"Sayang tahanlah dulu hanya beberapa hari saja. Dan hanya ciuman saja itupun jangan didepan mereka.."Renata
"Aku harus menunggu hingga mereka tertidur hahhh apakah mereka anak kita? menyebalkan.."Ericj
"Anak..kau mau anak Erick?"Renata
"Tentu saja aku mau sayang. Apalagi dari wanita tercantik yang paling ku cinta" Erick mengangkat tubuh Renata dan memutar-mutarnya.
"Aku akan memberikannya tapi tidak untuk saat ini.."Renata
"Baiklah hanya ciuman dan sedikit sentuhan seperti ini kah sayang?" Erick menggelitik tubuh Renata.
"Haha...Erick..hentikan sangat geli sayangggg"Renata
Ketika Renata bercanda dengan Erick tiba-tiba cahaya biru datang dan mengejutkan mereka.
"Cahaya biru...kau datang lagi?"Renata
"Besuk jam 12 malam datanglah ke SMA Erlion aku akan menuntunmu"cahaya biru
Cahaya biru perlahan-lahan menghilang dan membuat Renata bersinar.
"Baiklah...aku akan pergi kesana"Renata