Renata Red Eyes: The Beginning With True Love

Renata Red Eyes: The Beginning With True Love
BAB 15 : Kedatangan Erlion dan Rudolf



Pohon - pohon besar yang berjajar dengan menampakkan akarnya terlihat begitu gagah dan kuat.


Jalan setapak itu menuntun ke suatu tempat yang tak asing bagi Renata. Akhirnya Renata sampai dihutan dekat rumahnya kemudian Erick menurunkannya.


" Ingat gadis kecil jangan mendekati Thomas dan Alberth, aku bisa menerkamnya, segera kabari aku yaa, aku tunggu. "


Erick mencium kening Renata dan memegang pipinya. Renata memberikan senyumannya dan memegang tangan Erick seakan-akan mereka enggan berpisah.


" Tunggulah kabarku, sebelum aku bertelepati denganmu jangan pernah muncul Erick, aku tidak mau kau dalam bahaya. Jagalah dirimu dengan baik, sekarang pergilah, sebelum Thomas datang. "


Renata melepaskan tangannya dan Erick secepat kilat meninggalkan Renata. Tanpa diketahui oleh mereka, Alberth mengamati dari atas pohon dengan wajah yang penuh dendam kepada Erick.


" Gadis kecil akhirnya kamu datang, kamu baik-baik saja kan?"


Thomas yang akhirnya datang setelah menerima telepati Renata untuk menjemputnya. Thomaspun dengan cepat memeluk Renata dan membelai rambutnya karena khawatir.


" Aku baik-baik saja, ayo antar aku pulang sebelum kakek datang! "


Thomas dengan tersenyum bahagia karena bertemu Renata akhirnya menggendong Renata dan hendak membawanya ke rumah Renata.


" Turunkan aku Thomas, aku bisa berjalan sendiri" ucap Renata.


" Tidak...aku akan membawamu...ini adalah tugasku"


Thomas kemudian menggendong Renata


dan berlari hingga masuk kekamarnya.


" Gadis kecil, aku rindu, jangan pergi lagi ya, aku tersiksa."


Sambil menurunkan Renata masuk dikamarnya, Thomas memegang pipi Renata karena merindukannya.


Sementara Renata hanya tersenyum dan memegang pipi Thomas.


" Kakakku Alberth, dia mengikutimu, dimana dia? " Tanya Thomas.


" Alberth baik-baik aja, aku akan bertemu dengannya nanti malam, sudahlah keluarlah..aku akan bertemu dengan kakekku."


Ucap Renata sambil menatap jendela kamarnya. Dan melihat mobil kakeknya memasuki halaman rumahnya.


Pria berbadan tegap memakai jas hitam seorang bangsawan kaya raya yang mempunyai banyak sekali perusahaan dan kehidupannya berubah sejak kakaknya Rudolf menjadi musuh Erlion.


Dia adalah paman ayah Renata tuan Reynard Rudolf karena nama besar keluarga Renata adalah Rudolf semua laki-laki dikeluarga Rudolf memiliki nama yang hampir sama. Reynald Rudolf ayah Renata, dan Reynard Rudolf paman ayah Renata adik dari Reinhard Rudolf ayah Renata yang sudah meninggal.


" Paman akhirnya kau datang "


Ayah Renata langsung memeluk pamannya.


" Pamanku tersayang aku senang melihatmu"


Elena sambil bergantian memeluk paman suaminya.


" Kita harus segera menemui biksu itu jika tidak semua akan terlambat.''


Ucap paman ayah Renata.


"Dimana cucu tercantikku Renata. " sambil melihat kanan kiri seluruh ruangan paman ayah Renata mencari Renata.


" Sudahlah ayo segera kita bicarakan diruanganmu. "


Paman ayah Renata, Elena dan ayah Renata berjalan menuju ruang kerja ayah Renata.


" Aku mendengar dari suruhanku kalau Erlion juga akan datang menemui Edward sivampir itu, dia akan membangkitkan tuan besar, jangan sampai itu terjadi! "


Paman ayah Renata sambil berdiri menatap jendela luar ruangan.


" Paman, bagaimana jika mereka menyerang Renata sebelum kita berhasil menemui biksu suci? "


Ayah Renata yang menghampiri pamannya.


" Tidakkk, tidakk, itu tidak boleh terjadi! "


Elena dengan berteriak sambil berdiri menuju suaminya.


" Tenanglah kalian, aku harus menemui Renata, dimana dia? "


Paman ayah Renata yang akhirnya berjalan menuju kamar Renata sementara ayah dan ibu Renata saling memandang dan kebingungan menjelaskan kalau Renata menghilang.


Sesampai dikamar Renata paman ayahnya mengetuk pintu Renata berkali-kali memanggilnya tetapi tidak ada suara Renata.


" Kalian menjaga cucuku dengan baikkan, kenapa dia tidak membukakan pintu kamarnya? "


Paman ayah Renata masih mengetuk kamar Renata sementara orang tuanya saling memandang dan kebingungan.


" Iya, siapa didepan kamarku, kaukah itu kakek? "


Tiba-tiba ada suara di balik pintu yang mengagetkan orang tua Renata.


" Masuklah kakek ." ucap Renata.


" Cucuku, kakek merindukanmu! "


Paman ayah Renata memeluk Renata.


" Renata anakku, syukurlah. "


Elena yang segera berlari memeluk Renata dan membelainya.


" Kalian berdua keluarlah aku mau bicara dengan cucuku!! "


Paman ayah Renata yang berjalan menatap jendela luar kamar Renata dan menyuruh Orang tua Renata keluar kamar.


" Baiklah, paman, anakku Renata ayah merindukanmu."


" Aku juga merindukan kalian."


Ucap Renata dengan manja.


Sambil berjalan kearah Renata dan mencium keningnya ayah Renata mengajak istrinya keluar dari kamar.


Paman ayah Renata kemudian berjalan kearah Renata dan memegang tangan Renata sambil duduk disebelah tempat tidurnya.


" Cucuku Renata, kakek yakin kamu sudah mengetahui semuanya, hanya cerita asli yang membuatmu penasaran yang belum kau ketahui, percayalah cucuku kakek tidak mau kau terluka, tapi ini adalah takdirmu, bagaimanapun juga kau harus menemui biksu suci itu dia akan menjelaskan semua, kakek akan memberikan perlindungan yang lebih untuk mengawalmu, para vampir itu tidak akan bisa menyerangmu selama perjalanan, aku jamin. Lagi pula ada salah satu Erlion terkuat yang sudah kau ikat kemaren malam. "


Kemudian paman ayah Renata membelai rambutnya dan mengejutkannya ternyata mengetahui hubungannya dengan Erick.


" Kakek, mengetahui Erick?? "


" Iya, kakek mengetahuinya dari salah satu sumber yang kakek utus untuk mengikutimu yaitu Alberth, walaupun bisu dengan isyarat tangannya dia selalu memberikan semua info yang penting kepadaku demi keselamatanmu, tapi saat itu matanya penuh dengan air mata entah apa yang membuatnya gusar....paling tidak temuilah dan tanyakan kepadanya. "


Ucap paman ayah Renata sambil berdiri dan memegang pundak Renata.


" Renata cucuku, aku tidak melarangmu mencintai lelaki manapun tapiiiii ......( sambil mengusap kepala Renata dan memeluknya)... bagaimanapun juga dia tetap Erlion, aku tidak mau kau terluka, tapi aku ijinkan dia mengawalmu kelembah kuil hitam untuk kali ini, demi keselamatanmu apapun kakek lakukan, jika ada Erlion terkuat pasti kau akan aman. Baiklah istirahatlah aku tahu kamu pasti sangat lelah, besuk kita akan berangkat."


Paman ayah Renata melepaskan pelukannya dan keluar meninggalkan kamar Renata.


Renata merasa sedih mengetahui Alberth sangat terluka dan ingin menemuinya.


" Alberth, maafkan aku, temuilah aku nanti malam ditaman, aku mohon. "


Renata melakukan telepati kepada Alberth dan ingin bertemu.


Alberth yang awalnya ingin mengikuti Erick akhirnya mengurungkan niatnya setelah mendengar Renata memanggilnya.


" Aku akan menemuimu Renata, kali ini aku melepaskanmu Erick! "


Ucap Albert dalam hatinya.


*********************************************


Sementara dikastil Erlion telah datang ayah dari tuan Edward bernama Edwin Erlion.


Tuan Edwin Erlion adalah Vampir terganas dan terkejam setelah kakaknya Erlion yang menjadi musuh Rudolf.


Semenjak kakaknya meninggal dia dipanggil Erlion oleh semua bangsa vampir sebagai ketua dari Erlion.


Sebuah mobil hitam akhirnya datang didepan kastil Erlion. Pintu mobil itu terbukakan oleh para penjaga dan turunlah seorang laki-laki tinggi pucat bermata abu-abu gelap dengan sorotan mata yang tajam dan bibir yang sangat merah seakan haus oleh darah .


Sambil memegang tongkat dengan kuku hitamnya yang panjang laki-laki itu berjalan melewati para penjaga yang berjajar menyambutnya dan membungkuk kepadanya.


Memasuki pintu kastil, Edward dan Delichia segera menyambutnya. Dia adalah Edwind Erlion ayah dari Edward Erlion.


" Selamat datang ayah, selamat datang dikastilku. "


Edward dengan membungkuk menyambut ayahnya dan mencium cincin yang berada di tangannya bak hamba yang mengabdi pada penguasanya. Lalu Delichia berada disebelahnya mengikutinya.


Sebuah cincin yang hanya dikenakan oleh penguasa tertinggi sebuah klan vampir. Batu berlian berwarna merah darah yang berkilau yang membuat para vampir tertunduk kepada siapapun yang memakainya.


Seperti biasa ayahnya tidak pernah menjawab dan terus berjalan dengan tatapan matanya yang mengerikan menuju ruangan Edward dilantai paling atas kastil Erlion.


Sesampai diruangan Edward, ayahnya hanya berdiam dan melihat sekitar kemudian sesekali menatap keluar melihat sekolah sma Erlion yang masih dalam kendalinya.


Tiba-tiba menerkam salah satu pengawalnya Edward dan dihisap darahnya karena Edward tidak menyediakan darah diruangan itu.


Semua vampir diruangan itu hanya terdiam dan membisu.


Kemudian ayah Edward duduk dikursi yang sering Edward duduki.


" Ambillah darah Renata, segera bangkitkan kakakku, aku sudah tidak mau menunggu,


Taruhlah mata-mata dirumahnya. Aku tidak peduli caramu mendapatkannya . Tuan besar harus bangkit.... inilah saatnya sebelum terlambat. "


Ayah Edward memberi perintah. Dengan segera Edward diikuti yang lain menunduk tanpa membantah.


" Hmmm, Erick cucuku yang terkuat, dia sudah menghianatiku, relakan dia, jika saatnya tiba, kita akan ambil kembali Erick.! "


Ayah Edward yang kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan itu menuju ruangan khusus yang selalu dia gunakan jika datang dikastil Erlion.


Kemudian tuan Edward memanggil Pattinson.


" Pattinson lakukan tugasmu, sekarang juga dan cepatlah.! "


Ucap Edward yang kemudian menyusul ayahnya.


" Baik tuan!!"


Dengan membungkuk Pattinson pergi dan melaksanakan perintah tuannya.


*********************************************


Ruangan kastil Edwind Erlion ayah Edward Erlion.


" Edward, situasi semakin rumit, gadis itu ancaman kita, tapi dia belum benar- benar menyadari kekuatannya."


Sambil memegang tongkatnya dan memandang sekolah sma Erlion, ayah Edward membuat semua hantu sma Erlion ketakutan.


" Erick, yaa dialah kelemahan gadis itu, kau harus menggunakan kesempatan itu, gunakan Erick, untuk mengalahkannya. " ucapan ayahnya yang membuat Edward terkejut.


" Erick kelemahan Renata??"


Ucap Edward yang tiba-tiba membuat ayahnya mengeluarkan kabut hitam dari tangannya dan mengarahkan kesamping Edward menghancurkan benda- benda yang ada disekitarnya.


" braarrkkkk"


" Jangan pernah menyebut namanya jelasss!!!!, aku tidak mau mendengarkannya!! "


Teriak ayahnya yang membuat Edward menunduk.


" Erick sudah menghisap darah gadis itu dan sekarang Erick tidak bisa terkalahkan, kurang ajarrrr!"


Ucap ayahnya dengan sangat marah yang kali ini memukul meja didepannya hingga hancur berkeping-keping, sementara Edward hanya tertunduk penuh pertanyaan.


" Maafkan saya ayahku, bisakah ayah menjelaskan kepadaku, sehingga aku tahu apa yang harus aku lakukan. "


Edward bertanya dengan pelan kepada ayahnya sambil membungkukkan badannya.


" Jika Erick meminum darah gadis itu dia akan menjadi vampir terkuat bahkan lebih kuat dari tuan besar dan dia bisa mengalahkan kakakku, jika kekuatannya bergabung dengan gadis itu, kita akan habis selamanya, tapiiiii!! "


Sambil meminum darah kemudian kembali berdiri menatap jendela yang mengarah ke bangunan SMA Erlion.


" Dalam tubuh Erick masih terdapat kabut hitam, bagaimanapun juga jangan sampai biksu itu mengeluarkannya, dengan begitu kekuatannya akan tertahan, lakukan tugasmu, hentikan mereka sebelum sampai kekuil lembah hitam menemui biksu itu, gunakan nama Erick sebagai umpan."


" Baiklah ayah akan aku lakukan! "


Edward yang kemudian membungkuk dan pergi meninggalkan ruangan ayahnya.


" Pattinson, siapkan apa yang aku sampaikan tadi, hanya itu yang bisa kita lakukan untuk menjebak Renata, dia lemah dengan kebaikan, gunakan nama Erick. "


Edward yang melakukan Telepati kepada pattinson dalam perjalanan untuk menjebak Renata.


" Baik, tuanku. "


Jawan Pattinson sambil mengendarai mobilnya dengan kencang.