
Ha? Mobil apaan?
Aku kebingungan mendengar perkataannya. Maksudnya mobil yang sedang berhenti didepanku ini? Nggak mungkin kan? Yasha itu Cuma punya motor, dan nggak punya mobil keren begini. Dia lagi ngerjain aku kali ya, pikirku sambil celingak celinguk mencari keberadaannya.
Tapi kemudian kaca mobil didepanku ini turun dan terlihat wajah sok cool nya Yasha dari balik kemudi. “Jadi pergi nggak? Kalau nggak aku pergi nih”. katanya dengan muka seolah-olah dia adalah Park Seo Jun
Perkataan Yasha itu menyadarkanku dari kebingunganku sendiri dan berjalan masuk kearah mobil itu. Aku masuk dengan gaya aku adalah Park Min Young, agar tidak kalah sok keren dari Ysha.
“Eh ini mobil siapa? Kok bisa kamu yang bawa? Kamu juga kok mendadak bisa bawa mobil?”
“Kalau nanya itu bisa satu-satu nggak?” katanya sambil menajalankan mobil yang menurutku sangat keren ini.
“Ya kan aku heran aja gitu, kamu mendadak bawa mobil impian aku begini. Biasanya juga bawa motor bebek kemana-mana. Jadi ini mobil siapa?” aku kembali bertanya kepadanya dan iapun kembali menjawab.
“Kalau aku bilang ini mobil aku, kamu percaya nggak?”
“Ya enggaklah, kita itu udah kenal lama, aku taulah kamu. Kecuali belakangan ini kamu ngepet terus nggak ngajakin aku. Baru aku percaya” jawab mulutku yang tidak ada filter jika berbicara kepadanya.
Kemudian kuperhatikan raut wajahnya, manatau dia tersinggung atau merasa direndahkan olehku. Ternyata dia hanya tersenyum dan berkata “Emang kalau aku mau beli mobil musti ngepet dulu ya? Terus harus ngajakin kamu gitu?”
“Iya dong. Kita itu sahabatan udah lama ya. Aku tau dari dulu kamukan kalau pergi-pergi selalu bawa motor, dan aku juga tau kamu kerja dimana dan gajinya juga nggak beda jauh lah sama gaji aku. Jadi aku yakin ini bukan mobil kamu”.
Aku ambil nafas sejenak dan meneruskan perkataanku “ Nah kalau kamu ngepet ya musti ajak akulah. Kita itu harus kaya dan menjadi sultan bersama. Nggak boleh menghianati sahabat sendiri”.
Masih dengan kekepoan, aku kembali bertanya “Jadi ini mobil siapa? Atau kamu beneran ngepet dan nggak ngajakin aku?” cerocosku tanpa jeda kepadanya. Dia yang sudah tau dan terbiasa dengan tabiat ku yang satu ini hanya mendengarkan dan tentu saja menjawab semua pertanyaan ku.
“Kamu katanya lapar, mau makan dimana? atau bisa kenyang hanya dengan makan angin saja? Buka tuh jendela mobil biar lebih banyak anginnya”
Kampret jni anak. Membuatku malah ingin memakannya. Aku tidak akan pernah sampai lupa dengan perut lapar dan rasa jengkelku karena mobil impianku ini.
Meskipun Memang benar bahwa sesuatu yang berbau uang itu bisa mengalihkan dunia ku, dunia mu dan dunia kita semua. Hehehe.
Aku yang memang sangat lapar ini hanya memintanya menghentikan mobil didekat rumah makan terdekat. Aku nggak peduli lagi, aku sangat lapar. Asal yang dijual makanan halal, aku oke saja.
Akhirnya Yasha menghentikan mobil di Rumah Makan Padang yang pertama kali kami lihat. Memang saat lapar luar biasa ini hanya masakan padanglah yang paling oke untuk mengisi perut kosong.
Selain menu lauh pauknya banyak, porsinya juga banyak dengan harga ramah di kantong karyawan biasa sepertiku dan Yasha. Is the best banget pokoknya.
Setelah Yasha selesai memarkirkan mobil, aku langsung meluncur kedalam rumah makan tanpa menunggunya.
Sesampai didalam aku lansung duduk dan meminta pramusaji untuk menyajikan makanan.
Aku tidak memesan menu tertentu. Karena kalian semua pasti tau bahwa di rumah makan padang, semua lauk dan sambal dihidangkan di depan kita dan kita hanya perlu memilih mana yang kita inginkan serta membayar yang kita makan saja. Itulah alasan mengapa kita suka. Efektif sekali untuk memuaskan rasa lapar kita.
Sebenarnya aku punya menu favoritku sendiri jika di rumah makan padang, tapi karena hari ini moodku kurang bagus, aku butuh asupan berbagai makanan. Tidak cukup hanya yang kufavoritkan saja.
Aku akan mengambil setidaknya tiga lauk, dua sambal ditambah sayur dan lalapan. Kalian tidak herankan denan porsi yang akan kumakan nanti? Karena aku tau kalian juga seperti aku. Antara lapar dan rakus itu bedanya sangat tipis. Iyakan?