Project For Love

Project For Love
Bagian 26 – Masih Cerita Tentangnya



“Yaaahh aku kan juga lelaki normal Nin” ucap Yasha.


Aku yang tak terima alasan tersebut bertanya, “Jadi laki-laki normal pacarannya *****-***** anak orang? Melec*hkan perempuan?”


“Enggak gitu juga maksud aku. Aduh aku jelasinnya gimana ya? Aku nggak pernah melecehkan mereka. Kamu jangan salah paham gitu dong" bela Yasha tak terima.


Kemudian dia mengusap rambutnya dan berkata, "Susah jelasin hal seperti ini sama anak kecil kayak kamu”.


What the ****? Aku anak kecil? Kecil darimana coba. Aku udah dua puluh tujuh tahun, udah 21++++++. Udah enam plus nya, masa masih dibilang anak kecil.


“Jadi kamu pernah ngapain aja selama pacaran? Ciu**n pernah?” tanyaku akhirnya untuk mengetahui gaya pacaran anak zaman now.


“Pernah” jawabnya singkat.


“Ha? Sama siapa aja? Udah berapa kali?” tanyaku dengan kepo maksimal.


Yasha menjawab, “Ya sama pacar aku lah. Aku nggak ngitung berapa kalinya, untuk apa dihitung segala yang begituan? Mau di kasih rekor muri? Udah pasti aku bukan pemenangnya”


Aku semakin kesal dengan perkataannya, “Ihh Yasha… Kamu kok gitu sih? Dosa tau”.


“Dosa tanggung masing-masing kok kamu yang repot”. Jawaban ini adalah jawaban yang tak paling ingin kudengar.


“Aku itu sebagai teman dan muslim yang baik berkewajiban mengingatkan dan menegur kamu ya, agar kamu tidak terjerumus dalam perbuatan yang menyesatkan. Biar nanti bisa masuk surga sama-sama” ucapku dengan khidman dan ala-ala ukhti.


Yasha mendengar perkataan ku barusan berlagak seolah ingin muntah. Memang gak ada akhlak ini teman satu. Dikasih tau yang benar malah di cuekin. Tapi ada satu hal lagi yang membuatku penasaran.


“Eh btw, gimana rasanya?” tanyaku.


“Yeee, tadi marah-marah, sekarang pengen tau. Gak jelas kamu, aneh deh jadi orang” jawab Yasha.


“Cuma penasaran aku tuh. Jadi rasanya ciu**an gimana?” kutanya lagi.


"Nggak bisa dijelasin dengan kata-kata bagaimana rasanya. Kalau mau tau ya praktekin lansung. Mau aku ajarin?” tanya Yasha dengan muka menyebalkan.


“NOO. BIG NO. Gila kali aku mau praktek begituan sebelum halal” jawabku dengan membuat tanda silang dengan tanganku.


“Makanya jangan banyak tanya. Banyak hal di dunia ini yang rasanya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata” ucap Yasha lagi.


“Seperti rasa cintamu padaku?” ucapku iseng.


Aku iseng bertanya seperti itu, karena keseringan liat gombalan-gombalan receh di acara komedi yang diperankan Andika, Kiki, Ayu dan Wendi serta seorang bapak-bapakLapor.


Yasha mendengar hal itu malah mendorong kepalaku dengan telunjuknya sampai membentur pohon. Tidak sakit memang, tapi aku pura-pura sakit dengan mengaduh dan berkata “sakit”. Dia kemudian berkata “maaf" dan mengusap-usap kepala bagian belakangku.


Sebenarnya setelah mendengar jawabannya tadi, pandanganku terhadap Yasha sedikitnya berubah. Aku tidak menyangka dengan gaya pacarannya. Selama ini aku berfikir kalau orang pacaran itu hanya sekedar chatingan, dinner bareng, jalan dan nonton. Aku tidak tau kalau sampai sejauh itu. Atau aku nya yang selama ini terlalu polos? atau jangan-jangan aku bodoh karena kelewat polos?


Sebenarnya aku juga ingin bercerita kepadanya tentang perjodohan yang di atur oleh ibu dan kakak ku. Tapi aku urungkan karena sudah terlalu malam. Lain kali saja aku bercerita dan meminta pendapat darinya.


“Oo iya, kamu apa kabar selama aku nggak ada? Ada yang mau kamu ceritakan?” tebak Yasha mendadak. Ia seolah-olah tau bahwa aku juga ingin curhat padanya.


Dan ya, dia ternyata cukup peka. Tidak sepertiku yang sangat cuek. Aku sebenarnya cukup bersyukur memiliki sahabat seperti dirinya meskipun aku tidak pernah menyangka jika dia juga seperti “lelaki normal” lainnya.


Tapi setidaknya dia tidak pernah bersikap melewati batas padaku. Kami memang murni sahabatan yang sehat luar dalam deh.


“Banyak banget yang mau aku ceritain, tapi lain kali aja deh. Udah malam, nanti orang jual martabak mesirnya tutup pula” jawabku akhirnya.


“Itu otak kok bisa ya isinya makanan aja” heran Yasha.


“Iya dong, aku makan untuk hidup, jadi makan itu yang paling utama” aku menjawab dengan PD nya.


“Serah deh” ucap Yasha.


Kamipun beranjak dari taman itu dan pastinya mampir untuk membeli martabak mesir. Yasha juga membeli martabak mesir untuknya dan Bagas. Dia juga abang yang baik bukan? dan tentu dia juga sama rakusnya denganku.


Aku jelaskan, Yasha itu sebenarnya orang yang baik. Dia bisa menjadi saudara yang baik, teman yang baik, anak yang baik untuk orang tua dan karyawan yang baik bagi atasannya. Mungkin bagi pacarnya dia juga pacar yang baik.


Dan yang paling penting itu dia punya modal utama untuk tinggal di Negara tercinta ini. Pernah dengar kata “Indonesia good looking”? Tempat dimana orang good looking itu selalu benar meskipun yang dia lakukan sebuah kesalahan? Yasha termasuk dalam golongan itu.


Selama ini aku tidak pernah menjelaskan bagaimana tampang Yasha bukan? Aku yakin banyak yang penasaran.


Yasha itu berperawakan cukup tinggi, sekitar seratus tujuh puluh lima senti. Wajahnya menarik dengan mata yang agak sipit namun tatapannya tajam. Hidungnya sangat mancung dan proporsional sekali di wajahnya. Dia juga memiliki lesung pipit di wajahnya. Dan yang paling menarik darinya itu, senyuman yang sangat manis dan bisa membuat orang lain candu akan senyuman itu.


Kalau aku ibaratkan dengan seseorang lagi, yang terbayang oleh ku adalah actor Jang Ki Yong. Kalau ada yang baru pertama kali bertemu dengan Yasha, aku cukup yakin dia akan terpesona melihatnya. Apalagi saat ia tersenyum, itu sebabnya ia punya banyak mantan.


Bagaimana dengan ku? Aku sudah terlalu terbiasa melihatnya. Wibawa dan ketampanan nya tak begitu berpengaruh pada ku. Waktu yang kami lalui bersama, sudah perlahan-lahan mengikis hal itu. Yang tersisa hanya bagian buruk-buruknya saja.


###


Reader : “Anda yakin?”


Nindi : “Untuk saat ini aku sangat yakin”.


Author : “Aku bisa saja membolak balikkan hatinya Nindi. Karena disini aku lah yang berkuasa. Hahaha”.


Reader : “Anda yakin? Bukannya kami para reader yang berkuasa?”


Author : “Iya deh, aku nomor dua”


#Ngalah aja sama reader, daripada dia kabur ke lapak lain.