
Malam ini kami makan di Cortan’s Caffe yang tak terlalu jauh dari kosanku. Hanya sekitar lima belas menit dari kosan. Kami memilih tempat ini karena nasi goreng di sini sangat enak, dan banyak pilihan camilan yang disediakan. Selain itu music yang biasa diputar di sini cukup tenang dan santai, sehingga membuat kita nyaman.
Aku yang kalau bersama Leo suka kalap kalau makan, memesan beberapa menu dengan alasan cerita kita bakal panjang, jadi harus banyak stok makanan di meja. Aku memesan nasi goreng special, sosis bakar, kentang goreng, dan minumnya Lemon tea.
Pesanan Leo tak jauh berbeda dengan ku, dia pesan nasi goreng kampong dan Capucino. Hanya selisih dua item makanan, jadi beda tipislah. Dia juga biasanya mencomot makanan yang aku pesan. Jadi kami memesan makanan itu sebenarnya untuk bersama.
Saat waiters pergi menyiapkan segala sesuatu yang kami pesan, kami mulai berbagi cerita. Aku yang memiliki tingkat kekepoan yang lebih parah tentu merupakan orang yang pertama kali bertanya.
Aku : “Kamu udah punya pacar baru?”
Tapi bersamaan dengan pertanyaan itu meluncur dari mulutku, Leo juga menanyakan sesuatu.
Leo : “Laki-laki tadi siapa?”
Begitulah pertanyaan yang kudengar dari mulutnya. Dia ternyata sama keponya dengan ku.
Aku : “Kamu duluan yang jawab”.
Leo : “Kamu duluanlah, kan ladies first”.
Dia tau tidak sih kalau konsepnya ladies first itu bukan dalam hal jawab pertanyaan. Tapi dalam suatu kondisi tertentu, misalkan dalam antrian, ya itu baru konsepnya ladies first. Tapi tetap saja meskipun begitu, aku duluan yang menjawab pertanyaannya.
Aku : “Calon suami aku”.
Leo : “Aku serius Nggi, jangan becanda jawabnya”.
Aku : “Iya iya, jangan galak gitu mukanya, biasa aja”.
Aku menceritakan siapa Fathyr dan bagaimana aku pertama kali mengenalnya dan bagaimana aku bisa pergi makan siang tadi. Biasanya dia menertawakanku saat ada kejadian sial yang terjadi padaku, tapi sekarang ini dia tidak tertawa meskipun aku juga menceritakan bagaimana kepala ku terbentur ke meja meeting.
Leo : “Kamu pacaran sama dia?”
Aku : “Belum sih, tapi bisa jadi akan pacaran. Daripada aku di jodohkan dengan si Irfan, mending sama bang Fathyr”.
Leo : “Dijodohkan apa? Kapan?”
Aku : “Waktu kamu terkena skandal itu. Aku mau dijodohkan sama adek temannya kak Sista, terus udah jumpa juga sekali. Cuman aku nggak sreg aja sama dia”.
Aku juga menceritakan bagaimana pertemuan ku dan Irfan serta pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Irfan padaku. Dia hanya diam mendengarkan sambil mengaduk-aduk capucino nya yang baru saja diantarkan oleh waiters.
Aku : “Kalau menurut pandangan kamu gimana? Aku cocoknya sama siapa?”
Leo : “Nggak ada yang cocok. Irfan itu tipikal laki-laki yang suka ngatur, pasti nggak akan cocok sama kamu yang suka seenaknya”.
Aku : “Terus-terus kalau bang Fathyr?”
Leo : “Kebagusan. Dia pasti belum tau sifat asli kamu yang kayak gini. Kalau tau semua kebiasaan buruk kamu, aku yakin dia bakalan mundur”.
Aku : “Berarti Bang Fathyr bagus ya, oke dia target utama aku sekarang”.
Leo : “Kamu beneran suka sama dia?”
Aku : “Aku nggak tau juga sih, tapi aku fine-fine aja kalau sama dia. Nggak kayak sama Irfan, bawaannya bête mulu”.
Leo haya mengangguk dan mulai memakan makanannya. Aku pun demikian. Aku melahap nasi goreng specialku sambil melahap satu sosis bakar. Aku yang merasa fungsi mulut tidak hanya untuk mengunyah makanan kembali bertanaya kepada Leo.
Aku : “Jadi cewek cantik tadi siapa? Pacar baru?”
Leo : “Renata, bukan pacar. Cuma teman kencan”.
Aku : “Apaan sih Leo, bukan pacar tapi kencan. Gimana ceritanya bisa kayak gitu?”
Sekarang giliran Leo yang bercerita. Ternyata dia memiliki nasib yang sama dengan ku. Sama-sama ingin di jodohkan oleh orang tua. Bedanya dia karena di jodohkan karena skandal, sedangkan aku dijodohkan karena umur.
Aku : “Jadi setelah kalian jumpa gimana? Kamu merasa cocok nggak sama dia? Atau kamu suka nggak sama dia?”
Leo : “Dia cantik, tapi aku merasa biasa aja, nggak ada yang istimewa”.
Aku : “Memangnya harus istimewa ya? Perasaan pacar-pacar kamu yang dulu nggak ada istimewa-istimewanya tuh”.
Leo : “Itu kan pacar hanya untuk ngisi waktu, daripada jomblo melulu”.
###
Ranggi : “Baru tau ternyata pacaran itu Cuma untuk ngisi waktu”
Author : “Beda orang beda persepsi Nggi, ada yang pacaran untuk ngisi waktu, ada yang untuk dipamerin ke teman, ada yang katanya untuk motivasi belajar, dan ada yang untuk pansos. Banyak mah persepsi orang tentang pacaran”.
Ranggi : “Author sok tauuuu”