Project For Love

Project For Love
Bagian 34 – Canggung



Sudah beberapa hari ini aku merasakan kecanggungan di kantor, semenjak kejadian waktu itu. Aku jadi sedikit lebih pendiam, begitupun dengan yang lain. Kami jarang bercanda karena kebetulan ada beberapa proyek iklan yang sedang kami kerjakan.


Ini puncak dari kecanggungan itu, saat ini yang lain sedang ada meeting dengan client, sedangkan aku tinggal di kantor bersama Bang Arya. Ia dia. Canggung banget kan? Aku nggak berani beranjak dari kursiku sejak tadi. Padahal aku sebenarnya sesak pipis.


“Kenapa Nggi, kok muka kamu aneh gitu?” Bang Arya bertanya kepada ku.


Aku sedikit kaget, “Hah, nggak ada Bang. Biasa aja”.


Tapi Bang Arya nya nggak percaya dan malah betanya, “Kalau biasa aja kenapa kamu akhir-akhir ini jadi kayak menghindari aku? Canggung ya karena yang waktu itu?”


Hahaha, dia tau. Dia orang yang sangat peka sepertinya. Selama ini dia diam-diam memperhatikan kami satu persatu sepertinya. Jadi aku jujur saja sambil cengengesan, “Hehehe, iya bang sedikit canggung”.


“Udah santai aja, nggak pa pa kok, aku paham kamu nggak suka sama aku” ucap Bang Arya padaku.


“Jadi abang beneran suka sama aku? Itu nggak bercanda? Kok bisa abang suka sama aku?” tanyaku memastikan.


“Iya, kan kamu perempuan Nggi, wajar aja aku suka, kalau kamu laki-laki itu baru salah. Tapi nggak usah di pikirkan, aku tau hati kamu sudah ada yang ngisi” masih sempat-sempatnya dia bercanda, padahal aku sedang tidak enak hati padanya.


“Maaf ya bang, aku itu sudah menganggap abang seperti saudaraku sendiri, sama dengan Bang Andi dan Bang Agus” ucapku dengan sedikit penyesalan. Aku benar-benar tidak bisa menyukai rekan yang sudah seperti keluargaku sendiri.


Bang Arya yang sangat baik ini pun berkata padaku, “Iya aku paham, makanya tak perlu menghindar, cukup bersikap seperti biasanya. Jadi kita kerjanya enak”.


“Tapi abang gimana? Aku jadi nggak enak” ucapku kemudian.


“Perempuan kan banyak Nggi, nggak cuma kamu aja” katanya singkat, padat dan tepat sekali.


Betul memang, tapi agak nyelekit di hati aku. Aku sok kepedean sekali, macam anak orang nggak bakal bisa move on aja. “Oh baguslah bang, aku juga jadinya lega. Aku ke toilet dulu ya Bang” ucapku kemudian.


Bang Arya tertawa dan kemudian bertanya, “Jadi dari tadi kamu kebelet?”


“Hehehe iya bang” ucapku singkat dan setelah itu aku kabur ke toilet. Malu sih tapi cuma sedikit.


Hari ini aku ada janji dengan Bang Fathyr mau pergi nonton, kami sudah mulai sering chat-chat an sekarang, tapi nggak banyak cuma sekedar nanya kabar, sedang apa, ya gitu aja. Filmnya yang akan kami tonton itu film Spiderman dan tiketnya sudah di pesan online oleh Bang Fathyr lewat aplikasi.


Film akan tayang jam delapan malam, jadi sebelum itu kami akan makan malam dulu di salah satu restoran disini. Tapi memang dasarnya kota ini tak seluas kota Jakarta, aku malah berjumpa dengan Leo dan Renata di sini. Aku tidak mungkin pura-pura tidak kenal dengan mereka bukan?.


“Hai, kamu disini? Mau ngapain?” Leo yang duluan menyapa.


“Hai, aku mau nonton nanti sama, oh ya kenalin ini Bang Fathyr yang waktu itu aku ceritain” jawabku sambil memperkenalkan Bang Fathyr padanya.


Leo menyalami Fathyr dan memperkenalkan dirinya serta Renata. Mereka juga ternyata ingin menonton film yang sama dengan kami. Seperti drama sekali bukan? Tapi aku betul-betul tidak tau kalau dia juga akan nonton. Ini bukan rencanaku, dan ini murni ketidak sengajaan.


Kebetulannya lagi mereka juga akan makan, dan Bang Fathyr malah menawarkan untuk bergabung dengan kami. Aku tidak tau dia benar-benar baik atau hanya sekedar basa basi saja.


Mereka menyetujui, dan kami bersama menuju restoran. Sampai di tempat yang dimaksud pelayan lansung mengarahkan kami ke tempat yang cukup nyaman untuk ngobrol berempat. Kami kemudian memesan makanan masing – masing.


Leo dan Bang Fathyr sama-sema memesan Ayam lada hitam dengan Cappucino. Aku jadi heran sendiri, apakah semua laki-laki selera makannya sama ya?. Renata hanya memsan salad dan orange juice. Tipikal wanita sehat sekali.


Aku orang terakhir yang menyebutkan pesanan, yaitu ayam rica dan lemon tea. Tapi si Leo malah nyeletuk hal yang membuatku malu dengan dua orang ini. “Tumben cuma pesan satu menu, cukup tuh? Biasanya juga pesan minimal dua deh”


Aku menendang kakinya dengan kesal. Dasar mulut ember. Aku mana sanggup pesan dua menu jika perempuan yang satunya bahkan tidak makan. Keliatan bangetkan aku rakusnya. Mana ini dua orang liat ke arah aku lagi.


“Pesan aja Nggi, nggak pa pa kok, santai aja” Bang Fathyr akhirnya bersuara.


“Nggak usah Bang, ini aja cukup kok, tadi aku juga udah makan dirumah” ucapku dengan sedikit kebohongan. Aku belum makan di rumah sama sekali, tapi aku tidak punya alasan lagi.


Bang Fathyr hanya ber “oh”saja. Sedangkan aku menatap Leo dengan tatapan tajam, dan reaksi dia hanya mengangkat bahunya seolah dia tidak merasa bersalah sudah membuat aibku terbongkar.


Sebenarnya aku sudah berniat untuk tidak segan-segan untuk memesan makan jika dengan Bang Fathyr, tapi ini ada Renata juga, kan kebanting banget aku jadinya. Udah tampang biasa-biasa aja, rakus pula.