Project For Love

Project For Love
Bagian 39 – Family Gathering Part III



Saat ini kami sudah masuk ke Bus yang akan membawa kami ke Pantai Sukacita. Pantai ini cukup jauh sekitar tiga jam perjalanan. Malamnya akan menginap di Villa yang ada di pinggir pantai tersebut. Aku duduk di bangku depan dengan Pak Imran, sedangkan istri dan anak bungsu pak Imran duduk disamping kami.


Kebetulan sekali Ranggi dan Leo duduk dibelakangku, jadi aku dapat mendengar apapun yang mereka bicarakan. Sejak dari berangkat sampai separuh perjalanan, mereka tidak henti-hentinya ngobrol dan mengunyah makanan.


“Leo, sama Renata gimana? Udah ada kemajuan?” tanya Ranggi. Aku fokus mendengarkan karena aku juga ingin tau akan hal ini.


“Yah gitu aja, kan aku udah bilang dia itu nggak istimewa bagi aku. Terlalu berkelas” jawabnya.


“Buat minder yah? Jadi orang tua kamu tanggapannya apa?” tanya Ranggi lagi.


“Nyalahin aku lah, apa lagi” kata Leo


“Emak kita emang suka gitu ya, suka jodohin, kita bilang gak cocok eh kita yang disalahin” ucap Ranggi. Jadi dia juga pernah dijodohkan oleh orangtuanya? Kenapa dia tidak pernah cerita padaku?


“Jadi kamu dah bilang sama ibu kamu tentang Irfan itu? Terus gimana pendapatnya?” tanya Leo lagi.


“Udah, untung akhirnya ngerti juga. Katanya nggak pa pa dan nggak mau maksa. Tapi kan” belum sempat Ranggi selesai berbicar Leo bertanya lagi, “Tapi apa?”


“Kamu jangan potong omongan aku dulu, aku jadi males cerita deh” kata Ranggi merajuk.


“Iya apa? Aku kan penasaran. Janji deh aku dengerin sampai tuntas” bujuk Leo.


“Tapi ibu aku nyaranin orang lain lagi, malah dia mau lansung telpon lagi. Untung nggak jadi” ucap Ranggi lagi.


Aku jadi was was sendiri dengan obrolan mereka. Aku semakin menajamkan pendengaranku. Dengan siapa lagi emaknya Ranggi akan menjodohkannya? Aku harus bergerak cepat sepertinya.


“Sama siapa lagi memangnya?” Leo bertanya lagi.


“Sama kamu, hampir aja ibu nelpon mama kamu kemaren” jawab Ranggi kepada Leo.


Aku tidak bisa melihat seperti apa reaksi Leo saat ini, tapi yang jelas aku mendengar ini menjadi ketar ketir sendiri. Jangan sampai mereka berdua berjodoh deh.


Beberapa detik ku tunggu jawaban Ranggi kepada Leo, tapi tidak ada jawaban. Yang ada malah orang-orang mulai turun dari Bus. Rupanya kami telah sampai di tempat tujuan. Menguping memang dapat membuatku lupa waktu.


Hatiku belum tenang sebelum mendengar jawaban Ranggi, jadi kuperhatikan ke belakang, mereka berdua sedang bersiap-siap untuk turun tanpa melanjutkan obrolan tadi. Aku sungguh kalut luar biasa. Tidak bisa aku tebak apa yang di jawab oleh Ranggi.


Melihat bus hampir kosong, aku dan pak Imran pun beranjak untuk turun dari bus. Hal yang pertama terlihat olehku adalah hamparan hamparan lautan yang sangat indah dengan dikelilingi oleh jembatan penghubung antar vila.


Villa yang di sewa berbentuk rumah yang letaknya dipinggiran pantai dengan dihubungkan oleh jembatan. Setiap villanya memiliki tiga kamar, jadi setiap villa di isi oleh Sembilan orang. Meskipun mengajak keluarga, di villa kami tidak di bagi perkeluarga, tapi dibagi perjenis kelamis saja. Jadi semua orang berbaur dan bersosialisasi.


Acara pertama kegiatan ini adalah membagi urutan kamar. Disini membaginya cukup adil, yaitu dengan mengambil nomor undian. Jadi yang mendapat nomor kamar yang sama, berarti itulah teman sekamarnya. Setelah itu semua orang meletakkan barang di kamar dan berkumpul di halaman lima belas menit kemudian.


Saat aku keluar dari Vila, belum banyak orang yang keluar, baru sekitar lima orang saja. Salah satunya adalah Ranggi. Aku lansung saja menghampirinya. “Hai, sekamar sama siapa saja?” tanyaku berbasa basi padanya.


“Hai Bang, aku sekamar sama Santi dan Kak Anisa” jawabnya sinkat.


Aku ingin mengajaknya keliling pantai, tapi tidak jadi karena dia pasti mau mengikuti rangkaian acara hari ini. Dari yang kulihat, pihak travel sedang memasang atribut-atribut yang akan digunakan saat acara family gathering ini.


Lima belas menis kemudian semua sudah berkumpul di halaman. Setelah acara pembukaan oleh direktur, mereka memulai acara perlombaan. Tapi sebelum itu meminta kami mencabut undian lagi untuk menentukan siapa pasangan dalam permainan kaki gajah nantinya.


Mereka juga mengumumkan hadiah-hadiah yang akan diberikan kepada pemenang setiap cabang permainan. Hadiahnya tentu tidak seelit hadiah yang diberikan oleh Atta Halilintar ataupun Baim Wong.


Hadiah yang disediakan adalah minyak goreng, indomie satu ikat, satu kaleng sarden serta setengah kilo cabe dan bawanag. Aku jadi merasa seperti emak-emak yang sedang cabut arisan sembako.


Aku mencabut undian ku, ternyata aku mendapatkan nomor dua belas. Dan kalian tau siapa yang menjadi pasanganku dalam game ini? Dia adalah Leo. L.E.O


####


Reader : Luar biasa, ini bukan jeruk makan jeruk kan endingnya?


Author : No Comment