Project For Love

Project For Love
Bagian 49 – Apa apaan ini?



Aku termenung di dalam kamar kos ku. Aku sedang menatap kosong ke arah jarum jam yang terus bergerak tanpa kudengar suara tik tik nya. Aku kepikiran Leo. Dia bilang dia suka aku dan bukan sebagai sahabat. Kenapa baru sekarang?


Aku jadi kepikiran Bang Fathyr sekarang. Aku yakin aku suka sama Bang Fathyr, tapi aku rasa aku juga suka Leo dan nyaman saat bersamanya. Bukan berarti aku tidak nyaman saat bersama Bang Fathyr. Aku menggalau. Segalau-galaunya. Jadi ini rasanya galau ya? Selama ini aku tak pernah merasakannya.


Galau ini membuatku lupa makan. Kalau begini terus aku akan menjadi tengkorak berjalan. Jadi aku harus memutuskan secepatnya. Tapi bagaimana caranya? Apa aku sholat istigharah dulu ya?


Disaat hati dan otakku berfikir keras tentang kegalauan ini, emakku menelpon. Mungkin perihal yang tadi juga. Kan, aku sampai lupa menelpon emak ku sendiri. Padahal tadi aku bilang, akulah yang akan menelpon duluan.


“Assalamualaikum ibu, maaf tadi Ranggi belum jadi menelpon” ucapku lansung kepada ibunda tercinta.


“Waalaikumsalam iya nak, tak apa” jawab ibuku dengan penuh kasih sayang. Terdengar seperti itu ditelingaku.


“Hem jadi bu, apa hal penting yang mau ibu bilang tadi?” tanyaku to the point, karena sekarang sudah cukup larut dan aku rasa ibu sudah mulai mengantuk juga.


“Oh itu, kemaren ada yang datang ke rumah. Katanya dia ingin melamar kamu” ucap ibu.


Deg deg


Deg deg


Jantungku kembali berdetak tak karuan.


“Ha? Siapa bu?” tanyaku lansung kepada ibuku. Aku jadi penasaran siapa yang berani-beraninya lansung datang ke emak ku untuk melamar.


“Namanya Fathyr. Dia minta izin untuk melamarmu. Kalau kamu setuju, dia akan datang bersama keluarganya.” Ucap ibu lagi kepadaku.


WHAT???


Apa-apaan ini?


Tapi aku tambah bingung sekarang.


“Ibu sempat kaget kemaren karena ada yang datang dengan niat baik seperti itu. Kamu kenapa tidak pernah cerita sama ibu kalau kamu sudah punya pacar?” tanya ibu padaku.


Aku menjelaskan kepada ibu bahwa Bang Fathyr itu bukanlah pacarku. Dia awalnya hanyalah client kantor dan aku pernah bersikap memalukan di depannya. Aku tidak tau kapan kami mulai akrab. Yang aku tau selama ini kami masih dalam tahap pendekatan biasa dan tanpa status apapun.


Ternyata Bang Fathyr serius denganku. Tapi aku masih bimbang. Aku tak dapat berkata apa-apa. Aku kepikiran dua orang sekaligus. Disisi kanan Bang Fathyr dan di sisi kiri Leo.


Aku akhirnya menceritakan kegalauanku kepada ibu. Aku juga menceritakan bahwa tadi Leo juga mengutarakan perasaannya padaku. Aku meminta pendapat dan nasehat dari ibu. Karena bagaimanapun ibu lebih perpengalaman dari pada diriku sendiri.


“Kalau ibu sebenarnya terserah kamu saja, karena yang akan menjalaninya ya kamu. Bersama siapa kamu yang bahagia, ibu juga pasti akan bahagia. Hanya pesan ibu, melihat orang lain jangan pernah dipandang dari hartanya. Meskipun harta merupakan salah satu penentu kebahagiaan, tapi harta juga merupakan hal yang memunculkan suatu perpecahan. Tanya hati kamu sendiri, pada siapa dia lebih nyaman dan bahagia.” Ucap ibu padaku.


“Itu dia masalahnya bu, aku sama-sama nyaman saja saat bersama mereka. Leo sudah lama kita kenal dan dia tau banyak sekali tentang aku. Tapi aku juga suka bersama Bang Fathyr bu, ada rasa yang sedikit berbeda disaat aku bersamanya.” Ucapku pada ibu.


“Ibu paham maksud kamu. Saat bersama Leo kamu pasti merasa sudah terbiasa dan nyaman serta bisa berperilaku semaumu. Sedangkan bersama Fathyr yang baru kamu kenal, tentu kamu belum berani bersikap seperti itu.” Ucap ibu.


Kemudian ibu melanjutkan “Hubungan yang lama sebenarnya tidak menjamin kita sudah tau dia luar dalam, karena setelah berumah tangga banyak orang yang sikap dan perilakunya berubah. Bukan berarti ibu tidak setuju ya kamu dengan Leo. Kita sudah kenal lama dengan Leo dan keluarganya dan sejauh ini kita tidak ada masalah dengan mereka. Sedangkan keluarga Fathyr kita belum tau sama sekali. Tapi, itu tidak menentukan juga. Karena itu semuanya tergantung pada kamu. Kalau hubungan itu masih bisa dibina. Saran ibu kamu coba sholat istikharah. Minta petunjuk sama yang maha kuasa.” Ucap ibu panjang lebar padaku.


Pada intinya semua tergantung padaku. Tapi aku ini susah sekali untuk menentukan sesuatu. Aku harus sholat istikharah. Itu solusinya.


Tapi bagaimana caranya?


###


“What? Kelewatan mah kamu Ranggginang. Kamu tau tidak, jika ingin mendapatkan yang terbaik itu, dekati dulu penciptanya dan memintalah pada penciptamu. Jadi perbaiki diri sendiri dulu. Dekatilah sang pencipta, rubah kebiasaan meninggalkan ibadah.” Ucap author padaku.


Aku hanya bisa mengangguk dengan pasrah.