Project For Love

Project For Love
Bagian 22 – Kalau aku sih ...



“Kalau misalkan kamu nih, nikah nantinya sama aku atau siapapun gitu, kalau di suruh berhenti bekerja dan jadi ibu rumah tangga saja, mau nggak?” tanya Adnan padaku


Aku berfikir sejenak dan kemudian menjawab, “Aku pribadi untuk sekarang aku nggak mau, entah lah kalau nanti setelah berumah tangga aku berubah pikiran”.


Dia terlihat sedikit terkejut dengan jawabanku, “Kenapa nggak mau? Bukannya kodratnya perempuan itu lebih baik jadi ibu rumah tangga ya? Dalam agama kita kan juga seperti itu” Uangkapnya sedikit sarkas.


Huh, kok aku agak kesal ya dengar pertanyaannya. Hidup itu pilihankan? Untuk sekarang aku memang tidak mau hanya menjadi ibu rumah tangga. Aku ingin ada kegiatan lain dan lingkungan sosial yang berbeda.


Aku lansung menjawab, “Aku tau pasti wanita itu memang profesi terbaiknya sebagai ibu rumah tangga dan itu juga disampaikan oleh rasul kita. Tapi tidak salah bukan jika ia menambah profesi menjadi seorang wanita karier selagi ia bisa menghandel keduanya. Zaman sekarang ini kami wanita juga harus bisa memastikan masa depan tanpa harus terintimidasi dengan kebiasaan lama. Lagian sekarang itu juga nggak zaman lagi wanita hanya duduk dirumah”.


“Tapi kalau suaminya mampu dalam hal ekonomi, untuk apa istri ikut bekerja, cukup mengurus rumah tangga, bukannya itu pilihan yang baik? Jadi tidak perlu repot bekerja” dia menjawab seolah tak mau kalah.


Dia serius ini ngajakin aku debat urusan beginian? Masa kita baru sekali jumpa aja udah kayak debat di mata najwa. Ini dia sengaja nyari perkara sama aku atau memang dia berniat mencari istri yang hanya duduk diam dirumah? Kalau iya, kurasa aku bukan orang yang cocok untuknya.


Aku yang lebih tak mau kalah menjawab lagi, “Mungkin untuk sebagian orang itu memang pilihan yang baik dan mulia. Tapi, untuk aku pribadi tidak. Aku bukan orang yang bisa hanya duduk diam dirumah. Aku merasa cukup senang dan nyaman dengan bekerja. Selain aku bisa mendapatkan pengalaman baru, aku juga menjadi punya lingkungan sosial baru yang nggak semua orang bisa. Dan yang paling penting aku bisa memanfaatkan apa yang aku pelajari selama sekolah sampai kuliah di tempat kerja”.


Aku menarik nafas sebentar dan melanjutkan rentetan alasan lainnya mengapa aku memilih tidak ingin sekedar menjadi ibu rumah tangga


“Aku juga tidak ingin menyia-nyiakan usaha orangtua ku selama ini untuk menyekolahkan ku. Dan aku juga ingin nantinya jika punya anak, anakku bangga mengatakan bahwa ibunya bekerja dan memiliki karier nya sendiri. Dan yang paling penting aku ingin punya keahlianku sendiri dan penghasilan yang dapat aku hasilkan sendiri. Jadi jika nanti dalam rumah tangga ada hal yang tidak di inginkan aku punya pegangan hidupku sendiri”.


Huuhh capek aku ngomong sepanjang itu, lah dia hanya mengangguk-angguk saja. Aku tidak tau pendapat orang lain tentang hal yang barusan aku katakana, yang pasti untuk sekarang pikiranku masih sama. AKU TIDAK MAU JIKA HANYA MENJADI IBU RUMAH TANGGA.


Setelah mendengar rentetan panjang perkataanku, dia kembali bersuara,“Oke, aku cukup paham dengan yang kamu katakana. Aku ingin bertanya satu lagi. Jika nanti karena pekerjaan, muncul masalah dalam rumah tangga apa yang akan kamu lakukan?”.


Lagi???


Ini orang kenapa sih? Memang mau ngajak ribut ya?


Nggak bisa nanya yang lain apa?


Emang dia besok mau lansung nikah?


Apa dia nanya hal ini ke setiap wanita yang dikenalkan pada nya?


“Nggak ada pertanyaan lain?” tanyaku sewot.


Akhirnya mood ku hancur dan berkata seperti itu. Sepertinya dia sadar aku cukup kesal saat ini. Tapi tetap aja ngotot.


Dia merasa tidak enak saat melihat raut wajahku berkata, “Eh maaf, kamu kurang nyaman ya dengan pertanyaannya? Aku janji ini nggak nanya lagi. Tapi aku ingin tau pendapat kamu tentang hal ini”.


Aku mengehela nafas lelah dab menjawab, “Setiap pilihan tentu ada resikonya bukan? Dan setiap rumah tangga pasti ada masalahnya. Aku yakin itu. Tapi apa yang akan aku lakukan, aku tidak bisa jawab sekarang. Karena aku harus tau dulu masalahnya seperti apa dan bagaimana. Dalam suatu rumah tangga aku juga yakin semua hal dapat dicarikan solusinya. Jika memang harus mengalah, aku tentu mengalah akan pekerjaan, tidak mungkin menghancurkan rumah tangga demi pekerjaan. Pekerjaankan masih bisa di cari lagi”.


Aku masih melanjutkan perkataanku. “Jadi itu jawaban aku. Sekarang bisa kita pulang? Udah malam”.


“Eh iya, hayuk, aku antar sekalian” ujarnya sedikit tak enak hati.


Akhirnya dia mengantarku pulang. Sepertinya aku tau mengapa dia ingin istrinya hanya menjadi ibu rumah tangga. Ia dari kalangan orang yang cukup berada. Ia mengantarku pulang dengan mobil Rush miliknya.


Tapi sayang, aku sudah kurang respect dengannya dan kayaknya kita nggak cocok.


Aku juga tidak masalah sih. Karena dari awal feelingku juga mengatakan begitu.