
Tapi sesuatu terjadi, saat aku nyalakan, laptopku mengeluarkan suara yang sangat menyeramkan seperti hi hi hi hi, dan tiga detik kemudian mendadak ada wajah menyeramkan kunti dengan mata merah dilayar laptop dan tentunya juga muncul di cahaya yang dipantulkan proyektor ke layar. Kemudian terdengar teriakan “HUAAAA”.
Mataku terpejam sangat erat dengan tangan yang sudah standby menutupi wajah dan tidak tau siapakah orang yang berteriak. Mengapa ia berani-beraninya berteriak di ruangan meeting yang dipenuhi para atasan dan client ganteng ini? Apa dia tidak merasa sungkan atau malu?
Aku tau yang barusan muncul itu cukup menakutkan, tetapi tak bisakah ia menahan suaranya disaat seperti ini?
Aku yang selalu punya rasa penasaran tingkat dewa, perlahan menurunkan tangan dan membuka mataku. Aku terheran-heran mengapa semua mata di ruangan ini malah melihat ke arahku.
Aku membalas tatapan mereka dengan isyarat bukan aku yang teriak. Aku melihat wajah para rekanku satu persatu. Dan akhirnya saat aku bertatapan dengan Bang Agus, dia mengangguk seolah menyatakan bahwa benar aku yang sudah teriak dan mengacaukan meeting ini.
Jangan salahkan aku tolong. Kalian juga taukan kalau aku itu penakut luar biasa jika dihadapkan dengan hal-hal begituan. Aku lansung pucat pasi saat melihat pandangan direktur dan client ke arah ku. Pandangan mereka sungguh menakutkan, terutama sang direktur. Saat ini ia terlihat sangat marah dengan mata melotot ke arahku. Bahkan di pandanganku, matanya lebih seram daripada mata si kuntibtadi.
Aku lansung berdiri, menunduk dalam seperti orang Korea, eh bukan menunduk lagi tapi sudah termasuk kategori membungkuk sambil berkata “Maaf pak, ada kesalahan teknis”. Kemudian aku melirik ke arah mereka, dan kembali membungkuk sedalam-dalamnya untuk mengucapkan maaf. Tapi kepalaku malah membentur meja dengan suara “duk” yang cukup nyaring.
Aku yang sedang ketakutan bahkan tak berani bersuara untuk mengutarakan rasa sakitnya. Hanya tangan ku yang bergerak mengusap-usap dahiku. Kemudian bersuara kembali “Sekali lagi mohon maaf pak”. Dan aku kemudian menatap mereka dengan tatapan memelas.
Sang direktur akhirnya membalas pernyataan maaf ku. “Baiklah, kamu duduk kembali dan segera mulai presentasinya”.
Mendengar perkataan sang atasan aku lansung bergerak duduk dan membuka file presentasi. Mataku melirik ke kanan dan kiri memperhatikan wajah abang-abang yang sedah menahan ketawa melihatku.
Enak sekali mereka tertawa, sedangkan aku terkena musibah begini. Siapalah diantara mereka yang bertanggung jawab atas hal yang barusan terjadi.
Aku sangat yakin salah satu diantara mereka. Yang pasti bukan Agus. Karena tidak mungkin dia mau merusak presentasinya sendiri dan menyebabkan citra perusahaan tercoreng.
Untuk sekarang aku tetap fokus dengan pekerjaanku sambil mendengarkan penjelasan dari Bang Agus setiap kali ada pertanyaan dari sang client. Aku juga sedang memikirkan jika setelah ini dipecat, aku akan bekerja dimana.
Aku juga sudah pasrah dengan apa yang dia pikirkan tentang ku setelah kejadian tadi. Tidak ada lagi niatku untuk tebar pesona padanya. Sudah terlanjur malu. Untung rambut ku berponi, jadi tidak terlihat benjolan nya.
***
Setelah meeting kami kembali ke ruangan. Dan aku lansung mengamuk kepada Bang Andi. Karena yang aku tau, dialah yang paling usil diantara kami semua.
Aku lansung teriak padanya, “Bang Andiiii kok jahat banget sih? Kenapa ngerjaian aku di saat seperti tadi? Mana malu banget lagi sumpah."
Aku ambil nafas dan lanjutkan, "Kalau mau ngerjain kira-kira dong Bang. Jangan saat kita meeting dengan client juga. Abang mau buat aku di pecat dari sini? Salah aku apa sih sama abang? Kalau aku ada salah bilang, jangan gini. Masa depanku dipertaruhkan” ucapku sedramatis mungkin.
Mata ku mulai berkaca-kaca dan ingin menangis sakin kesalnya. Bagaimana tidak, aku takut setengah mati sekarang karena hampir mengacaukan meeting hari ini. Lagian dia juga tidak kira-kira. Kalau usil di ruangan aku sudah biasa. Ini masa depan aku, masa depan dia dan masa depan perusahaan yang dipertaruhkan. Otak dia di letak dimana sih.
Sumpah aku kesal, jengkel, gedek banget sekarang ini.
Tapi ternyata, “Sumpah kali ini bukan aku Nggi. Jangan asal tuduh aku dong, untuk hal ini aku sungguh tak tau apa-apa”.
Ha? Bukan dia? Kalau bukan dia siapa?
###
Hayooo siapa?
Yang merasa tau itu siapa, coba tulis di coment ya.