
Author POV
Mereka berdua saling tatap cukup lama, yang memegang kamera HP pun hanya terpaku melihat mereka berdua. Satu detik, tiga detik, lima detik, sepuluh detik, lima belas detik masih hening.
“Kak, ini kelapanya” tiba-tiba tukang air kelapa menyela mereka dengan meletakkan kelapa muda dan kerupuk kuah diatas meja. Ranggi dan Leo tiba-tiba menjarak, dan Fathyr yang sedang memegang kamera berpaling dan berdehem sendiri.
Mereka bertiga bergerak untuk duduk di kursi keliling meja. Ranggi yang canggung menggaruk-garuk kepalanya, sedangkan Leo dan Fathyr saling tatap tidak suka. Kemudian Ranggi meraih kelapa muda dan segera meminumnya.
“Manis nggak air nya?” tanya Fathyr kepada Ranggi. Sementara itu Leo meraih kelapanya dan meresappnya pula.
“Manis kok bang, entar kalau punya abang kurang manis, liat aku aja” ucap Ranggi sambil menaik turunkan alisnya pada Fathyr. Leo melihat itu berlagak mau muntah dan lansung di tendang oleh Ranggi.
“Aku minta punya kamu aja boleh nggak? Kalau aku pesan kelamaan, aku udah haus” kata Fathyr lagi.
Ranggi mengarahkan kelapa mudanya kepada Fathyr untuk berbagi, tapi lansung diambil dan diminum oleh Leo. “Nggak usah, minum punya aku aja, lebih manis. Ntar ini anak minta tambah lagi karena kekurangan” ucapnya sambil tetap memegang kelapa muda Ranggi.
Fathyr hanya menatap tajam ke Leo, tapi tetap meminum kelapa muda tersebut. Ranggi tak bisa berbuat apa-apa selain memakan kerupuk kuahnya. “Pada mau kerupuknya juga nggak?” tawarnya pada kedua lelaki itu karena tidak enak mengunyah sendiri.
Leo tanpa menjawab lansung memegang tangan kanan Ranggi dan menariknya untuk mengarahkan kerupuk kemulutnya. (#maksadisuapin). Dia melakukan hal itu sambil melirih kea rah Fathyr yang hanya bisa mengalihkan pandangannya.
Ranggi yang usil lansung mendorong kerupuk tersebut hingga hidung Leo terkena kuah. Ranggi tertawa melihat itu, diiringi oleh Fathyr.
“Apaan sih Nggi, jorok banget” keluh Leo pada Ranggi.
“Lagian kamu, aku tawarin biar dipotong aja kerupuknya, ini narik-narik tangan aku. Pegel akunya” jawab Ranggi, mendengar itu Fathyr terlihat tersenyum simpul.
Disaat Leo membersihkan hidungnya dengan tisu yang disediakan dimeja, Bang Agus datang menghampiri mereka untuk mengajak bergabung untuk kegiatan berikutnya.
“Ngapain kamu mojok sama dua cowok sekaligus? Satu-satu atuh” bisik Bang Agus kepada Ranggi.
Saat ini mereka berdua berjalan di depan Leo dan Fathyr. Ranggi lansung memukul lengan Bang Agus dan menjawab “Enak aja, Cuma pergi minum bang. Haus habis sorak-sorak” jawabnya.
“Alasan, kalau cuma minum tadi udah disediain kok. Kaliannya aja yang malah pergi mojok” ucap Bang Agus lagi.
“Serahdeh” jawab Ranggi ngambek ke Bang Agus dan lansung berlari menuju kerumunan.
Sesampainya dikelompok, Ranggi kembali di tanyai oleh Bang Andi, “Kemana aja kamu nyet? Dari tadi dinyariin. Main menghilang aja”
“Mojok dia, sama dua cowok pula” jawab Bang Agus yang baru sampai ditempat itu.
“Npapain nanya-nanya? Mau juga? Kan udah ada tuh kak Riska sang pendamping hidup” jawab Ranggi.
“Ya mau nambah lah. Dua istri baru cukuplah” Jawab Bang Andi lagi.
“Aku aduin ya nanti” kata Ranggi pada Bang Andi, “Kak Riskaaa” panggilnya lansung sambil berjalan ke arah Riska. Bang Andi lansung menstop Ranggi dengan menarik kerah bajunya Ranggi. Tapi sepertinya Bang Andi terlalu keras menariknya hingga dua kancing baju kemeja yang tidak bermerek itu malah terlepas.
“BANG ANDIIII” teriak Ranggi sambil menutup bagian atas bajunya dengan kedua tangan. Semua orang yang ada di situ memandang kepada mereka.
Malu
Pasti Ranggi malu.
Ia kemudian berlari meniggalkan kerumunan itu menuju villa untuk berganti pakaian.
Mungkin pada nungguin adegan orang memasangkan bajunya atau sweaternya pada Ranggi, tapi tidak ada guys. Namanya orang lagi pergi ke pantai ya memakai pakaian yang cenderung pendek. Ranggi doang yang memakai pakaian lengan panjang.
Sesampainya di Kamarnya Ranggi lansung membuka tas nya untuk mengambil baju lain. Untung dia selalu menggunakan tanktop sebagai dalaman, jadi pas ada tragedy baju koyak atau pun kancingnya lepas, dia cukup aman.
Tapi dia tetap menatap iba ke baju kemeja kesukaannya itu.
Kak Anisa datang menyusul Ranggi ke kamar dan bertanya, “Kamu nggak pa pa Nggi?”
“Gak kak, cuman sedikit malu. Mana baju pakai lepas kancing pula” ucapnya.
“Kakak sangkain kamu bakal nangis” katanya Anisa lagi.
“Nggak lah kak, kan cuma kancing baju yang lepas, syukurnya aku juga pakai tanktop, jadi nggak ada yang tereksplor. Kecuali tadi baju aku yang lepas, itu baru aku nangis” jelasnya.
Dia menarik nafas dan melanjutkan perkataannya, “Aaku tau tadi Bang Andi nggak niat narek juga. Memang bajunya aja sudah rapuh mungkin, hehehe. Udah biasa lah” jawab Ranggi santai. “Tapi aku bakal minta beli baju baru nih sama Bang Andi sebagai ganti rugi” ucapnya kemudian.
Anisa hanya menanggapi dengan tertawa. Awalnya dia berfikir Ranggi akan menangis karena cukup banyak orang yang menyaksikan. Tapi yang olang lain lihatkan hanya dia berlari dengan memegang bagian atas bajunya agar tidak terbuka. Jadi bisa dikatakan orang itu tidak tau apa-apa.
###
Ini si Ranggi memang sial melulu ya. Ada aja yang terjadi. Heran author.