
Aku galau.
Aku bingung.
Aku linglung.
Aku masih kepikiran Bang Arya. Aku kan masih polos sekali, tidak tau dia serius atau tidak. Aku tidak ada pengalaman sedikitpun tentang hal ini. Jadi yang terjadi aku malah menangis. Aku bingung juga mengapa aku jadi menangis. Terharu karena selama ini tidak ada yang pernah menembakku? Ditambah lagi hormone yang pengaruhnya sangat luar biasa di saat aku datang bulan.
Sekarang aku sedang berifikir bagaimana aku akan menghadapi Bang Arya besok pagi, apa aku bersikap seperti orang amnesia saja? Yang tidak mengingat apapun yang terjadi hari ini. Tapi Bang Andi dan Bang Agus tidak mungkin tinggal diam. Mereka itu pasti sudah mempersiapkan drama untuk besok pagi yang pada intinya memojokkan ku lagi. Aku heran dengan mereka yang selalu membuly ku.
Ditengah otak ku sedang berfikir, tiba-tiba BTS bernyanyi. Eh bukan, ponsel ku sedang berdering. Tanpa melihat siapa yang menelpon karena otakku sedang berkelana, aku lansung menjawab panggilan itu.
Aku : “Hallo, mbak mas maaf ya, saya tidak tertarik dengan tawaran asuransinya”.
081167***** : “Saya bukan menawarkan asuransi”.
Aku : “Oh bukan ya, maaf kalau begitu. Jadi mau apa? Mau ngasih tau kalau anak saya sedang di tangkap polisi dan butuh uang jaminan?”
081167***** : “Jadi kamu sudah punya anak?”
Eh, ini siapa yang menelpon? Mengapa suaranya rasa-rasa aku kenal?
Aku lihat nomor yang tertera pada ponselku, nomor tidak di kenal. Biasanya jika ada nomor tidak dikenal menghubungiku, itu pilihannya Cuma dua, yang pertama penawaran asuransi dan yang kedua itu penipuan undian berhadiah serta penipuan keluarga yang di tangkap polisi.
Aku : “Maaf, saya sedang bicara dengan siapa?”
081167***** : “Dimana-mana orang bertanya seperti itu di awal percakapan bukan di akhir”.
Aku : “Oh iya ya. Maaf kalau begitu. Jadi saya sedang bicara dengan siapa?”
081167***** : “Menurut kamu, kamu sedang bicara dengan siapa?”
Aku : “Bisa nggak kalau ditanya itu ya di jawab, jangan nanya balek”.
Buat kesal aja ini orang. Dia siapa juga aku nggak tau, malah sok misterius. Dia pikir aku akan penasaran? No way. Aku lebih baik penasaran dengan kelanjutan drama Our Beloved Summer yang akan tayang satu jam lagi.
081167***** : “Ini saya Fathyr”.
Aku : “Maaf ya, saya tidak semudah itu untuk di tipu. Oke bye”.
Hadeuh bodohnya aku. Mengapa otak ku tidak loading saat dia mengatakan namanya Fathyr. Aku akan menghubunginya kembali dan meminta maaf. Saat aku ingin menghubunginya kembali, ponselku sudah menampilkan bahwa nomor 081167***** menghubungiku kembali. Aku lansung menjawab panggilan tersebut.
Aku : “Hallo, pak maaf ya pak, tadi saya tidak sengaja memutuskan panggilan telponnya”.
081167***** : “Kamu yakin tidak sengaja? Bukannya kamu menyangka saya penipu?”
Aku : “Iya maaf pak, saya mana tau kalau bapak yang bakal telpon. Biasanya juga yang telpon saya yah itu”.
081167***** : “Ya sudah tak perlu kita bahas lagi. Adal hal lain yang perlu kita bahas sekarang”.
Aku : “Apa pak? Masalah kita?”
081167***** : “Iya, aku cukup penasaran bagaimana cara kamu memaksaku untuk mau menjadi jodohmu?”
Aku : “Hehehehe, jadi bapak beneran mau jadi jodoh saya?”
081167***** : “Tergantung usaha kamu dalam memaksaku. Dan tolong jangan panggil saya Bapak diluar kantor”.
Aku : “Dimana-mana yang berusaha mendekati itu laki-laki pak, bukan perempuan”.
081167***** : “Ooh jadi kamu maunya saya yang mulai duluan? Oke. Besok temani aku makan siang”.
Huwaaa, jantungku degeun degeun. Jadi begini ya rasanya ada yang PDKT in kita. Aku tidak perlu sok jual mahal lagi. Tanpa pikir panjang aku meng iyakan ajakan Pak Fathyr padaku. Diajakin makan dalam artian bakal di traktir jugakan.
Malam itu aku tidur dengan hati yang gembira dan wajah bahagia. Kalau ada diantara kalian yang memfotoku saat tidur, mungkin saja wajahku di foto itu sedang tersenyum. Akhirnya aku mempunyai alasan untuk menolak perjodohan yang diatur oleh kakak dan ibu ku.
###
Author : “Yee baru aja di ajak makan udah girang banget”.
Ranggi : “Ngapain elu yang sewot sih thor? Iri ya Nggak ada yang PDKT in?”
Author : “Wah mulai sombong ini anak. Awas saja, aku buat pusing hidup mu kedepannya”.
Ranggi : “Jangan thor, masa aku baru mau bahagia aja udah mau di rusak? Jangan kayak ibu tiri di indosiar deh, kejam amat”.