Project For Love

Project For Love
Bagian 28 – Hari yang Tidak Jelas



Setelah kejadian tadi aku habis ditertawakan oleh club yang katanya elit itu, yang sampai sekarang aku masih belum diakui karena belum menikah. Sungguh orang-orang yang tidak bisa diajak bekerja sama. Yang sangat puas tertawa tentu saja Bang Andi dan Bang Agus. Kak Anisa dan Kak Arni hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


Yang membuatku cukup heran, Bang Arya. Dia biasanya tidak berkomentar dan cuek tentang apapun ini malah mendadak mengeluarkan suaranya.


Bang Arya : “Kamu yakin mau bisa deketin itu orang Nggi? Aku kasih mahar boongan aja kamu udah pucat pasi”.


Mendengar komentarnya tentu Bang Andi dan Bang Agus kembali menertawakan ku. Mereka tidak tau saja bahwa untuk kasus mendekati orang ganteng ini aku sudah punya senior nya. Aku akan bertanya kepada Leo yang sudah memiliki banyak pengalaman melihat dari banyaknya mantan yang sudah di pacarinya.


Kalau Leo tidak mau membantu ku, aku juga sudah menyiapkan cadangan orang untuk dijadikan tempat curhat, yaitu Lidya. Dia teman kos yang cukup akrab dengan ku. Pokoknya aku harus mensukseskan project ku kali ini.


Aku tidak ingin melanjutkan perjodohan-perjodohan dengan si Irfan itu. Tapi kakak ku sungguh sibuk sekali dengan si Irfan ini. Dalam sehari ada tiga kali dia menelpon ku hanya untuk bertanya “Ada Irfan menelpon? Ada Irfan ngechat? Ngomongin apa aja?” itu saja yang ditanya nya padaku. Aku mulai muak.


Padahal orang yang di bicarakan jarang sekali menghubungi ku. Paling dalam sehari sekali. Itu pun Cuma sekedar basa basi saja. “Lagi apa? Udah makan? Udah pulang?”. Hanya itu dan tentu kubalas seadanya saja.


Aku juga tidak pernah ngechat duluan, karena tidak tau apa yang mau ditanya. Aku juga tidak merasa nyaman untuk berkomunikasi dengannya. Entah karena apa. Tapi kakak dan ibuk ku ini yang malah sibuk bertanya. Aku jadi bosan dan akhirnya malah malas menghubungi ibuk ku.


Di sisi lain aku merasa sedikit berdosa kepada ibuk ku karena mengacuhkan nya, tapi aku juga bosan jika setiap menelpon itu saja yang dibahas. Aku sudah bilang tidak mau, tapi malah aku yang dikatakan tidak mau membuka hati. Serba salah aing jadinya.


Back to topic again.


Aku : “Gimana aku tidak pucat Bang, abang tiba-tiba melamar gitu, aku kaget lah”.


Bang Arya : “Bukannya perempuan suka dengan kejutan ya? Itu kejutan dari ku untuk mu”.


Bang Agus : “Iya, betul tuh. Gimana sih wanita ini. Gak di kasih kejutan protes dikasih kejutan malah nolak. Dasar wanita”.


Apa-apaan Agus ini? Ikut memojokkan ku di sini. Waktu itu kan Cuma bercanda. Mengapa sekarang kesannya malah serius?


Aku : “Lah, abang maklum lah bang, aku ini anak perawan yang belum pernah pacaran sebelumnya. Gak ada pengalaman. Tiba-tiba kayak gitu, aku pucat lah”.


Bang Arya : “Ooo jadi kamu maunya pacaran dulu?”


Aku : “Maksudnya Bang?”


Bang Arya : “Kalau kamu maunya pacaran dulu, ayok”.


Aku : “Abang sedang bercanda ya?”


Bang Agus : “Eciieee, ada yang ladi di tembak nih”.


Sedangkan yang lain malah bersorak “terima, terima terima”.


Apa lagi ini tuhan?


Orang di ruangan ku ini kenapa?


Aku : “Kalian semua ini kenapa sih?”


Aku merasa nano-nano. Aku kaget, campur malu, campur gedek dan tak tau lagi. Yang pasti aku tak bisa mengungkapkannya.


Tanpa aku sadari air mataku meleleh dipipi. Mereka melihatku menangis, malah panic sendiri.


Kak Anisa : “Haaaa, kenapa nangis? Cup cup cup Ranggi sayang. Mereka Cuma bercanda. Kamu jangan nangis lagi”.


Bang Andi : “Mampus kamu Arya, nangis anak orang”.


Bang Arya : “Lah kok aku yang salah? Aku Cuma nanya dia maunya pacaran dulu? Kalau iya ayok. Kalian aja yang sorakin nggak jelas”.


Bang Agus : “Siapa suruh kamu nembak di depan kami semua”.


Bang Arya : “Baru kepikiran tadi, daripada dia di embat si Fathyr”.


Bang Andi : “Wihh ngomongnya nggak pakai embel-embel bapak. Sadis sadis. Kamu beneran suka sama itu anak? Nggak ada orang lain lagi apa?”


Tangisku sudah mulai reda,tapi mendengar Bang Andi berbicara begitu aku mendadak sedih lagi. Dan ingin menangis kembali. Memangnya aku sejelek itu ya di mata mereka? Huaaa ibuuuu.


Bang Agus : “Ini juga anak kenapa malah nangis? Sensian banget jadi orang”.


Ditengah-tengah kerandoman itu, tiba-tiba seseorang bertanya.


Kak Arni : “Btw, sekarang tanggal berapa sih?”


Bang Agus : “Tanggal dua puluh. Kenapa memangnya?”


Bang Andi : “Ini anak kayaknya lagi datang bulan deh. Kan kalau lagi periode nya datang, dia jadi nggak menentu, kadang suka marah-marah nggak jelas, nonton kartun nangis, dibecandain nangis juga dan parahnya kalau makan minta di traktir mulu”.


What? Benarkah?


###


Reader : “Ada ya orang kayak si Ranggi? Hidup lagi.”


Author : “Nah itulah aku juga heran. Kok bisa ya?”


Ranggi : “Kok pada sewot sih? Namanya lagi halangankan hormonnya beda-beda.”


Author : “Huuu, nyalahin hormone bisanya”.