Project For Love

Project For Love
Bagian 19 – Dia Sumpah Lucu Banget.



Masih Arel ganteng POV


Aku cukup puas dengan meeting hari ini. Penawaran dari perusahaan ini cukup menarik dan kreatif serta tidak pasaran. Setelah meeting selesai, aku di bawa pak Ilham untuk ke ruangannya. Aku mengikuti saja untuk sekedar berbasa-basi sebentar.


Sebelum masuk ke ruangan, ia meminta sekretarisnya untuk memanggil Nindi ke ruangannya. Aku tidak tau apa yang akan dilakukannya pada karyawan manisnya itu.


Iya manis. Ada yang salah? Aku sudah memperhatikan nya selama meeting tadi. Aku ini laki-laki, jadi saat presentasi, yang kulirik tentu yang perempuan, bukan laki-laki. Karena apa? karena aku lelaki normal yang tentu lebih tertarik pada kaum hawa.


Nindi ini tipikal perempuan yang manis dan menarik. Dia memiliki wajah yang sedikit bulat, mata yang besar dengan bulu mata lentik, hidung yang sebenarnya tidak mancung, tapi sangat pas di wajahnya serta senyumannya sangat menarik.


Ramputnya juga ditata seadanya, rambut yang panjangnya sedikit di bawah bahu itu dibiarkan tergerai, dengan poni yang menutupi dahi. Jika saja ia tidak berponi mungkin akan terlihat lebih manis lagi.


Tingginya sesuai standar wanita Indonesia lah, sekitar seratus enam puluh senti, dan badannya juga tidak gemuk dan tidak kurus. Sangat pas di mataku.


Melihat Ranggi ini mengingatkan ku kepada artis Michelle Ziudith.


***


Di ruangannya Pak Ilham kembali meminta maaf perihal yang terjadi tadi.


“Nak Arel, bapak sekali lagi minta maaf atas apa yang terjadi saat kita meeting tadi” ucapnya kepadaku.


“Tidak masalah pak, tak perlu di hiraukan. Itu hal yang tak di duga dan tidak di rencanakan juga. Jadi tak perlu sungkan.” jawabku dengan sopan.


“Tapi tetap saja saya merasa tidak enak hati. Ini kerja sama pertama kita dan kesan nya perusahaan saya tidak mengaggap hal ini serius”. lanjut pak Ilham lagi.


“Saya paham pak, saya tidak berfikir seperti itu. Bapak tenang saja. Jarang-jarang ada tragedi lucu seperti tadi”. balasku lagi.


Pak Ilham sedikit heran melihatku, mungkin karena aku merasa hal tadi lucu. Dia kemudian berkata, “ Saya sudah memanggil Nindi ke sini untuk meminta penjelasannya serta meminta maaf secara lansung kepada kamu”.


Aku ingin mengatakan jika hal itu tidak perlu, tapi sepertinya Nindi sudah terlanjut datang. Karena terdengar suara ketukan di pintu ruangan ini. Setelah Pak Ilham mengatakan masuk, ia berjalan masuk dengan wajah menunduk.


Sepertinya ia tidak menyadari bahwa ada aku di ruangan ini. Setelah ia duduk barulah ia terperangah melihatku. Matanya membulat dengan mulut sedikit terbuka. Kemudian menunduk kembali. Kemudian berbicara tanpa di perintahkan oleh Pak Ilham.


Aku cukup takjub melihatnya menjelaskan secara cepat dengan wajah yang hampir menangis. Aku juga heran apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Dia beneran berfikir akan dipecat karena hal sepele begini? Lucu sekali.


Pak Ilham terlihat sama takjubnya dengan ku, dan sepertinya dia juga tidak tega melihat wajah karyawannya yang sudah hampir menangis ini. Dia akhirnya hanya menyuruh Nindi meminta maaf kepadaku dan menasehati agar ke depannya lebih berhati-hati dan lebih teliti lagi dalam bekerja.


Aku yang merasa sudah tidak ada lagi keperluan di sini, segera undur diri. Pak Ilham menyetujui, tetapi meminta Nindi untuk sekalian mengantarkan ku ke depan.


Sampai di lobi, Nindi kembali berkata kepadaku. “Pak, sekali lagi saya mohon maaf atas yang terjadi hari ini”.


“Saya sudah lelah mendengarkan kata maaf darimu sejak tadi. Tak ada kah hal lain yang ingin kamu katakan selain maaf?” jawabku padanya.


“Tidak ada pak” jawabnya padaku.


Aku kemudian berkata, “Kalau begitu saya yang akan mengatakan sesuatu kepadamu”.


Nindi menatapku dan bertanya, “Apa pak? Bapak ada perlu sesuatu? Atau ada yang bisa saya bantu?”


“Ada. Aku ingin protes. Pelayanan kalian sangat kurang, di saat meeting siang seperti ini kalian tidak menyediakan makanan apapun dari tadi. Hanya menyediakan segelas kopi dan sebotol air mineral untukku” jawabku dengan wajah yang digarang-garangkan.


“Maaf pak, maaf atas ketidak sopanan kami, tapi itu bukan pekerjaan saya pak”. Nindi menjawab dengan wajah polos.


Dia menjawab dengan wajah sedikit takut. Aku malah ingin tertawa melihatnya. Aku tau urusan makanan sudah pasti bukan pekerjaan dia. Tapi wajahnya saat mengatakan itu sangat lucu. Jadi aku berinisiatif sendiri untuk mengerjainya.


“Jadi maksud kamu, perusahaan kalian memang seperti ini? Tidak memperdulikan client setelah perjanjian kerja sama di tanda tangani?”


Dia sepertinya mulai takut, “Bukan begitu maksudnya pak, jadi gimana pak? Mau saya pesankan makan dulu?”


“Hem, tidak perlu. Kamu cukup menemani saya makan sekarang”, modusku berhasil.


“Ha? Gimana pak?”