Project For Love

Project For Love
Bagian 42 – Jet Ski



Ranggi POV


Aku kembali ke pinggir pantai bersama dengan Kak Anisa. Kedepannya aku bahkan ingin ganti nama agar tidak sial melulu. Tapi kata ibu dulu pas pemberian nama udah bantai kambing, bolehkah di ganti sekali lagi namanya? Bantai dua kambing juga okelah, daripada aku sial melulu.


Bang Andi menyambut kedatanganku dengan cengengesan tak jelas serta berkata “maaf ya Nggi, nggak sengaja”.


“Tapi, ganti ya bajunya. Belikan aku baju yang baru. Oke?” ucapku pada Bang Andi. Lumayankan dapat baju baru.


“Oke, tapi entar ya setelah kita gajian” katanya.


“Kan bonus baru masuk Bang, besok ya sebelum kita pulang, beliin aku baju di pasar dulu” ucapku tak mau kalah. Orang ini sifatnya kalau di undur besok-besok lupa. Rugi akunya.


Akhirnya Bang Andi mengalah dan meng iyakan kemauanku. Acara kemudian dilanjutkan ke permainan air. Setiap orang memiliki jatah bermain banana boat, roling donut dan jet ski masing-masing satu kali. Jika ingin lebih bisa dengan biaya di tanggung pribadi.


Aku dengan semangat untuk mengikuti berbagai permainan air ini. Aku sangat menyukai hal-hal yang memacu adrenalin ini. Sedangkan untuk snorkeling, nanti akan dilakukan sore hari.


Banana Boat adalah permainan pertama yang akan dimainkan. Kami diperintahkan membentuk kelompok sejumlah lima orang perkelompoknya. Aku otomatis lansung bergabung dengan group elit A5, karenakan minus kak Arni, jadi aku sebagai penggantinya.


Tapi, si*lnya mereka sudah membuat kelompok dengan menyertakan istrinya masing-masing. Bang Andi dan Bang Agus plus istrinya sudah berempat, ditambah dengan anaknya. Penuh. Kak Anisa dan suami, teman suaminya dan istri ditambah Bang Arya sudah pas juga.


Aku otomatis mencari Leo yang sejak tadi entah pergi kemana. Aku kelilingi pinggir pantai, tidak terlihat. Akhirnya aku hanya duduk dibawah pohon rindang dipinggin pantai itu. Tak lama aku duduk aku melihat Leo melintas didepanku menggunakan Jet ski, disusul oleh Bang Fathyr.


Aku berdiri dan melambai kepada mereka. Kemudian Leo dan Bang Fathyr menepi ke arah ku dan bertanya dengan serentak “Nggi, mau ikutan nggak?”


“Mau” jawabku lansung.


“Yuk naik” ucap mereka lagi berbarengan. Aku bingung mau naik dengan siapa, aku sudah biasa dengan Leo. Tapi Bang Fathyr juga menawarkan, jadi bagaimana ya, aku naik dengan siapa.


“Yuk nyet, ngapain bengong” ajak Leo lagi padaku. Tapi pak Fathyr malah turun dan jet ski dan menarik tanganku untuk naik dengannya berdua. Aku pasrah saja, toh aku bakal naik juga. Bang Fathyr naik lebih dulu, dan duduk diatas jet ski, kemudian megulurkan tangan padaku untuk naik.


Saat aku naik, ombak datang hingga jet ski sedikit oleng. Aku yang belum duduk lansung oleng dan siap-siap untuk nyebur ke air. Mataku sudah terpejam menanti apapun yang akan terjadi padaku. Tapi aku tak kunjung tercebur, malah tangan dan pinggangu ditarik dan aku jadi terduduk.


Aku merasakan hembusan nafas ditengkuk ku. Aku lansung membuka mataku, yang terlihat adalah Leo yang masih stay diatas jet skinya tengah menatap tajam padaku. Aku menoleh kebelakang, ternyata oh ternyata aku sedang duduk di depan Bang Fathyr. Dia menarikku hingga terduduk di depannya.


Dia menggeser duduknya agak kebelakang, mungkin dia tau aku canggung banget duduk seperti ini. Kemudian ia bertanya, “Kamu nggak pa pa kan?”


“Eng nggak bang, aman aman” ucapku.


“Jadi gimana aku bisa pindah duduk bang? Aku turun dulu deh ya” ucapku kemudian.


“Ngapain turun? Kamu aja yang bawa” katanya.


“Aku nggak bisa Bang, ntar terjadi apa-apa gimana? Aku nggak pakai pelampung ini” jawabku.


Mereka berdua enak, main udah pakai pelampung, jadi kalau ada apa-apa seenggaknya mereke masih bisa ngambang. Lah aku gimana? Jadi aku musti turun dulu, pinjam pelampung dulu baru naik lagi. Tapi bagaimana caranya turun ya, ini jet skinya nggak bisa diam. Mana Bang Fathyr duduknya dekat banget lagi.


“Kamu aja yang bawa, aku ajarin. Nggak perlu pakai pelampung, aku jamin kamu aman bersamaku” ucapnya lagi.


Aku masih hendak protes tapi tidak jadi, karena Leo mendadak sudah melaju di hadapan kami mengarah ke tengah lautan, dan aku terkena cipratan air dari jet skinya. Aku yakin dia sengaja melakukannya. Memang dia itu ada jahat-jahatnya padaku.


Bang Fathyr kemudian mengarahkan kedua tanganku untuk memegang setang dari ski ini, ternyata cukup berat. Dia mengarahkan aku cara menggunakannya. Jet ski ini sudah mulai bergerak meskipun pelan. Tapi tubuhnya melah makin merapat padaku dengan tanganku berada dibawah genggamannya untuk mempertahankan arah ski ini.


Aku grogi, aku tidak pernah seperti ini, bahkan dengan Leo pun tidak.


Aku mencoba menikmati semilir angin yang menerpa wajahku. Sungguh menyenangkan. Tanpa aku sadari ternyata Bang Fathyr perlahan-lahan melepaskan tangannya dan membiakan aku mengendai jet ski ini. Dan aku bisa.


Aku memacu jet ski lebih kencang lagi sambil berteriak. Kerasnya ombak membuat kami terlonjak-lonjak, tapi aku senang.


###


“Ranggi ya, sudah mulai mesra-mesraan dengan orang. Leo cemburu tuh, awas nanti ngamuk” ucap para reader.


“Iri, bilang bos” jawab Ranggi mulai sok.


Author hanya memantau perkembangan saja.