Project For Love

Project For Love
Bagian 18 – Dia Cukup Menarik dan Lucu



Arel ganteng POV


Sudah dua bulan ini aku bekerja di perusahaan “Cooldrink MDA”. Perusahaan isi sebenarnya milik nenek ku sendiri. Ia mulai merintis usaha di minuman dingin ini sejak ia masih muda. Sehingga MDA dibelakang nama perusahaan ini merupakan inisial namanya, bukan inisial tempat belajar agama.


Sekarang jerih payah nya sudah terbayarkan. Perusahaan yang dulu sangat kecil sekarang sudah berkembang sangat pesat.


Dalam dua tahun belakangan ini ia bahkan sudah meresmikan lima cabang perusahaan beberapa wilayah. Aku yang belum lama kembali ke Negara ini pun lansung di minta untuk terjun lansung di lapangan.


Sebagai cucu tentu aku menyanggupinya. Karena ke depannya aku dan para sepupu ku lah yang akan menjadi penerus perusahaan ini. Tahta perusahaan sudah pasti turun temurun kan?


Perusahaan kami akan mengeluarkan produk baru, jadi aku yang saat ini menjabat sebagai manajer pemasaran tentu saja harus bekerja sama dengan perusahaan periklanan untuk memaksimalkan pemasaran produk perusahaan.


Perusahan yang akan menjalin kerja sama dengan kami ini termasuk perusahaan baru. Nama perusahaannya “Future Digital”. Nama yang cukup bagus untuk disingkat. FD, dan bukan MDA.


Aku bukannya meremehkan nama perusahaan keluarga ku ini. Hanya saja menurutku nama perusahan ini kurang creative dan agak kampungan. Karena masih di embel-embeli dengan inisial nama.


Pemilik FD itu sendiri merupakan sahabat ayahku sejak kuliah. Jadi kerja sama ini sebenarnya ada unsur nepotismenya juga. Tapi bagi ku sendiri itu tidak masalah asal mereka dapat bekerja dengan baik tanpa adanya perlakuan khusus lainnya.


Sesuai jadwal yang sudah kami sepakati sebelumnya, siang ini kami akan melakukan meeting perdana untuk kerjasama ini. Aku pergi kesana sendiri, karena aku tidak memiliki sekretaris pribadi. Saat aku masuk, Pak Ilham-sahabat ayahku- sudah menungguku. Aku merasa sedikit tersanjung karena diperlakukan seperti orang yang sangat penting.


Kesan pertama ku untuk perusahaan ini cukup bagus. Meskipun masih terbilang kecil, tapi desain bangunan nya sangat modern, dan tertata dengan rapi. Sudah seperti kantor-kantor yang ada di drama negara ginseng. Meskipun tentu kantorku lebih bagus lagi.


Pak Ilham mempersilahkan aku duduk di tengah-tengah bersama dengannya dan sekretarisnya. Tak lama masuk tiga orang lainnya, diantaranya dua laki-laki dan satu perempuan. Mereka bertiga sepertinya terlihat akrab. Saat masuk ruang meeting mereka masih sempat-sempatnya menjitak kepala si perempuan dan si perempuan membalas dengan mencubit.


Mereka tidak segan dengan direktur? Atau mereka tidak menyadari sudah ada direkturnya dan aku diruangan ini? Itu yang aku pikirkan.


Sebelum presentasi di mulai, Pak Ilham memperkenalkan aku kepada Divisi Perencaannya, begitupun sebaliknya. Ternyata yang si penjitak itu bernama Agus dan yang di jitak bernama Nindi.


Aku sudah siap mendengarkan presentasi dari mereka, tapi semuanya buyar karena terdengar suara tertawaan yang cukup seram dan wajah setan yang muncul di layar proyektor serta suara teriakan dari Nindi.


Opening yang luar biasa dan membuatku cukup kaget sebenarnya. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi. Nindi yang baru tersadar dengan yang baru saja terjadi buru-buru berdiri dan menunduk dalam sambil berkata “Maaf pak, ada kesalahan teknis”.


Aku sebenarnya ingin tertawa karena ia mengatakan kesalahan teknis. Ini alasan yang biasa di pakai oleh anak-anak saat gagal dalam memperlihat trik sulap murahan. Tapi kulirik Pak Ilham cukup marah. Mungkin saja ia berfikir ini akan menjadi masalah yang dapat membatalkan kerja sama kami.


Nindi yang menyadari Bos nya masih marah kembali meminta maaf dengan menunduk. Tapi “duk” kepala nya malah membentuk meja. Aku kembali ingin tertawa, tapi ku tahan demi mempertahankan wibawa ku. Sedangkan rekan-rekan nya sendiri sudah bergetar badannya menahan tawa. Tapi Pak Ilham masih staycool ditempat tanpa memperlihatkan raut khawatir. Yang terlihat hanya tatapan dingin darinya.


Benturan kepalanya cukup keras. Aku sedikit merasa kasihan, tapi tetap saja lucu.


Pak Ilham juga berkata maaf atas kesalahan karyawannya. Aku tidak mempermasalahkan hal ini karena cukup menghibur. “Tidak masalah pak. Ini bukan hal yang serius. Kita lanjutkan saja meetingnya”.


Itulah yang ku katakan untuk menenangkan nya. Kemudian meeting yang sebenarnyapun di mulai.