Project For Love

Project For Love
Bagian 11 – Kurasa dia tak mau



Yasha POV


“Dia mau nggak ya?”


itulah pertanyaan yang kudengar dari Nindisaat kusarankan untuk pergi jalan dengan pacarku biar tidak merepotkanku untuk menemaninya di Mall seharian. Kalau aku menemaninya, aku menjadi capek dan lelah jiwa dan raga.


Itu anak kalau udah masuk Mall susah keluarnya. Bukan karena dia gila shopping sampai memborong semua barang-barang branded, karena sudah pasti tak mampu. Kaliah semua pasti tau dia bekerja dimana dan sebagai apa. Barang Branded pas NO lah di dia.


Tapi kalau sudah masuk mall itu, dia sudah pasti ingin kebioskop. Itu seperti kegiatan wajib baginya. Nonton film pernah sampai tiga judul, dan kerakusannya meningkat luar biasa.


Habis nonton satu film, menjelang tayang yang kedua, dia ngajak makan, habis film yang kedua dia ngajak makan lagi dan seteleh film yang ketiga dia sudah pasti ngajak makan lagi. Belum lagi selama nonton musti siapkan stock popcorn. Kalau tidak seperti itu, dia akan bertingkah lebih aneh. misalnya mengajakku naik kereta api mini keliling Mall yg isinya pada balita semua.


Aku selalu heran melihatnya kerakusan nya saat makan. Makan sampai tiga kali dalam kurin waktu singkat, jika sudah seperti itu, semua pasti hwran kemana perginya semua makanan yang dia habiskan? Wong badannya segitu-segitu aja. Dia banyak jin nya kali ya, jadi makanan di tubuhnya dibagi rata semua. Dan yang membuat aku lebih malas lagi, uangku juga ikut terkuras saat pergi bersamanya.


Bayangkan nonton tiga film, tiket dia yang bayar sih tapi urusan makan malah aku yang bayar atau sebaliknya. Kalau misalkan dia cerita bahwa dia lebih sering yang bayar itu bohong. Ingat bohong. Dia pasti sedang memfitnahku.


Jadi sekarang demi keamanan dan kesejahteraan dompetku, aku dengan santainya menyarankan dia untuk lansung menghubungi pacarku saja. Tapi dia malah protes bilang segan karena selama ini tidak pernah komunikasi secara lansung dengan Sarah.


Dia malah seenaknya memintaku untuk menghubungi Sarah untuk mau menemaninya. Buat repot saja memang anak satu ini, tidak tau apa kami semalam habis bertengkar, jadi aku sedang malas menghubungi pacarku sendiri. Masih jengkel aku.


Nah sekarang aku sedang berfikir keras, menghubungi sarah dalam artian aku kalah. Prinsipku, kalau sedang marah dan kita yang menghubungi duluan, artinya kita yang kalah. Karena yang duluan menghubungi, artinya dia yang salah dan duluan meminta maaf. Aku tidak mau. Aku sedang meninggikan egoku saat ini.


Pilihan keduanya, aku harus menemai Nindi si Rakus jalan-jalan dalam artian siap Bokek saat pulang. Sungguh pilihan yang berat bagiku saat ini. Aku harus memikirkan choice yang ketiga. Setelah lima menit berfikir, ide cemerlang muncul di otakku.


Aku lansung mengirimkan pesan padanya.


“Samudra Nindia, si Sarah nggak bisa, dia sedang pergi mengantar mamanya ke bandara”. kataku padanya.


“Yaudah sama kamu aja ya” katanya padaku.


“Ada syaratnya” balasku untuk mengamankan isi dompetku.


“Kamu yang traktir” jawabku singkat padat padanya.


“Iya… biasanya juga gitu kan?” ucapnya dengan santai.


Apa? Biasanya juga gitu? what the jokes?


Wah wah wah anak perempuan semuanya model begini ya? Nggak ada sadar-sadarnya. Heran aku. Siapalah yang akan sanggup menghadapinya dimasa depan. Aku lebih mengkhawatirkan suaminya kelak daripada dirinya.


“Semua hal ya, bukan Cuma tiket nonton aja, tapi makan, minum dan tiket-tiket lainnya juga. Harus kamu semua yang bayar”. ucapku memperjelas lagi.


“Yaahh, kamu kenapa sekarang jadi matre sih, kan cowok. Biasanya yang matre juga cewek” balasnya sambil mengataiku.


“Zaman sudah berganti ye, nggak ada tuh cowoh terus yang ngalah. Capek-capek aku kerja masa Cuma mau dihabisin kamu aja. Gantian dong” ucapku tak mau kalah.


“Kamu selaku cowok nggak malu? Masa ditraktir sama cewek” balasnya.


“Ngapain malu, kamu yang harusnya malu tiap jalan ngabisin duit aku. Pokoknya kalau setuju aku baru oke, kalau nggak yaudah cari teman lain aja. Aku mending main basket sama Rama”. ucapku akhirnya.


“Sekali ini oke deh. Aku lagi butuh refreshing banget” ucapnya dengan nada sengaja dibuat sedepreau mungkin.


“Oke deal. Nanti aku jemput jam 10.30, dan jangan lupa siapin juga duit bensin” balasku lagi.


“Y”


Hahaha, dia pasti sedang kesal sekarang, terlihat bukan dari caranya membalas pesanku. Anak satu ini terlalu mudah untuk ditebak.


😎😎😎😎


yuck lanjut... jangan lupa untuk like dan komen ya kakak. 😌