Project For Love

Project For Love
Bagian 17 – Salah Ambil



Ha? Bukan dia? Kalau bukan dia siapa?


Saat aku terdiam dalam karena cukup terkejut bahwa sang pelaku bukan Bang Andi, seseorang masuk ke ruangan kami, dan mengatakan bahwa aku dipanggil oleh bapak direktur. Mati aku.


Aku lansung pucat pasi tentunya, darahku seolah mampet meskipun jantung memompa dengan cepat. Aku rasanya mau pingsan saja. Tak adakah yang berniat datang menolong ku saat ini. “Ya Allah aku mohon selamatkan pekerjaan hamba kali ini”. Mohon ku dalam hati. Aku betul-betul tidak siap untuk jadi pengangguran.


Kupandangi satu persatu anggota club elit A5, semuanya menatap prihatin padaku.


“Bener nih bukan Abang?” ulangku kepada Bang Andi.


“Ya ampun ini anak ngeyel banget. Bukan Nindi bukan. Sumpah deh. Yang lain kali” ucapnya sambil menunjuk Kak Anisa yang lansung menggeleng.


Yang lain siapa lagi coba. Di ruangan ini kami hanya berenam, dan yang paling suka usil itu cuma Bang Andi sama Bang Agus. Kalau Bang Arya sudah pasti bukan. Dia itu cuek banget, dan nggak pernah bertingkah yang aneh-aneh seperti mereka berdua.


Tapi tanpa di duga Bang Arya malah mengeluarkan suaranya.


“Sorry Nin, itu aku yang…”


Belum selesai Bang Arya berbicara, aku lansung memotong perkataanya karena sudah emosi duluan


“OOOO jadi abang yang ngerjain aku? Abang kenapa sih jahat banget sama aku sekarang? Aku ada salah apa sama abang?”


Mataku mulai mengeluarkan sedikit air mata. Bang Arya terpaku melihat aku menangis, apakah dia mulai merasa bersalah padaku?


Dia berucap, “Nindi, tenang dulu, Kayaknya ada kesalahpahaman deh. Jadi …”


“Salah paham apa Bang? Abang mau jelaskan apa lagi?” potongku lagi.


“Jangan potong dulu omongan aku bisa nggak?” katanya cukup tajam dan tegas. Aku yang tak pernah melihatnya begitu jadi terdiam. Setelah itu dia melanjutkan penjelasannya.


“Jadi memang aku yang punya video opening itu. Tapi, itu aku pasang di laptop yang aku pakai dan bukan di laptoo kamu. Kamu itu salah ambil laptop kali tadi.”


Setelah mendengar penjelasan singkat Bang Arya, aku lansung mengamati laptop yang ku gunakan untuk memutar presentasi tadi. Setelah aku amati dengan seksama, sepertinya ini memang bukan laptop yang biasa aku pakai.


Kami memang menggunakan fasilitas dari perusahaan saat bekerja, dan memang yang namanya fasilitas kantor itu bentuknya mirip-mirip semua. Jadi bagaimana aku bisa salah membawa laptop? Waduhhh.


Otakku mulai bekerja dengan baik, sehingga Aku ingat sekarang.


“Flash back on”


Satu jam sebelum meeting dimulai, setelah kami sama-sama mengecek ulang file presentasi di meja serba guna, Bang Agus memberikan flashdisk yang berisi file presentasi pada ku untuk di salin ke PC yang terletak di ruang meeting. Tapi setelah aku sampai di ruang meeting, PC nya tidak ada.


Ternyata PC nya sedang di bawa oleh teknisi untuk di servis. Aku kemudian kembali ke ruangan untuk mengambil laptop. Aku mengambil salah satu laptop yang masih terbuka di atas meja dan membawanya ke ruang meeting tanpa melihat laptop siapa yang aku bawa.


Flash Back off


Hah ini murni kesalahanku. Sial lagi kan aku.


Kenapa aku bisa sebodoh itu ya.


Kenapa aku selalu ceroboh.


Kenapa oh kenapa?


Akhirnya dengan lesu, aku berjalan ke arah ruang direktur untuk mempertanggung jawabkan pebuatan yang tidak ku sengaja ini. Kak Anisa menawarkan diri untuk menemaniku, tapi ku tolak.


Aku berprinsip untuk selalu bertanggung jawab atas yang aku kerjakan tanpa merepotkan orang lain. Agar aku tidak pernah berhutang budi kepada siapapun.


Sesampainya di depan ruangan, aku tarik nafas tiga kali, dan ku ketuk pintu ruangan tersebut sebanyak tiga kali pula. Kemudian terdengar suara “masuk” perintahnya.


Aku berjalan masuk dengan menunduk. Takut untuk menatap Bos ku ini. Aku akhirnya sampai di depan meja kerjanya. Setelah ia memerintahkan aku untuk duduk, barulah aku duduk.


Setelah duduk, baru lah aku menyadai bahwa di ruangan ini ada orang lain yang saat ini menatap lurus ke arahku. Dia adalah Pak Arel sang client.


“Bagaimana nasib ku ini, toloooongggggggg” ucapku dalam hati.