
Sekembalinya aku dari kampung, aku lansung menghubungi Bagas, karena Yasha masih tidak bisa kuhubungi. Bagas bilang Yasha ada dan sehat-sehat saja, hanya sedang ada masalah yang harus di selesaikan. Menurutnya jika masalahnya udah selesai, Yasha pasti akan lansung menghubungiku. Kuharap juga begitu.
Aku cukup khawatir. Masalah seperti apa yang sedang di alaminya hingga tidak sempat mengangkat telponku sebentar saja, bahkan untuk mengetik pesan mengabarkan dia sedang sibuk saja diabtidak bisa.
Tapi aku hanya memendam rasa khawatirku sendiri. Aku tunggu sampai Yasha datang dan bercerita padaku seperti biasanya.
“Hoiiii, menung aja” Bang Agus mengangetkan ku sambil menarik ujung rambutku bagian belakang. Ini orang kalau ngagetin, gak Cuma jantung aja yang kaget, tapi rambut juga ikutan rontok.
Aku otomatis berteriak seolah-olah itu hal yang menyakitkan. “Awww, apaan sih bang? Bisa nggak kalau mau ngagetin itu jangan dijambak juga. Pilih aja salah satu. Ini udah buat jantung dag dig dug, rambut pun ikut rontok”.
“Kurang lengkap kalau rambut tak dibtarek. Kamu ngapain dari tadi natap layar HP mulu? Nungguin telpon siapa? Pacar juga nggak punya” ledeknya padaku.
Ini abang satu kalau ngomong itu nyelekit banget. Fakta lagi yang dibilangnya.
“Yeee, kepo” balasku.
Kak Anisa tiba-tiba bersuara “Oo iya Nin, semalam kakak sama Mas Gibran jumpa si Arel di hotel, terus bincang-bincang sedikit. Tapi tiba-tiba dia nanyain kamu ke aku”.
Ha? Di hotel??
Ngapain?
Kata hotel di telingaku kok mengarah ke hal yang negative ya??
"Tenang aja Nin, semalam kami jumpa nya pas acara dinner bersama aja, kan Papa sama orangtuanya Arel sahabat dekat" jelas Kak Nisa tanpa kuminta.
Oooooo, lega lega lega.
" Dia serius nanyain aku kak? Nanya apaan ?” aku mulai kegeeran.
“Huu, giliran itu lansung semangat aja lu. Emang setelah meeting waktu itu kamu diajakin kemana sama dia? Aku sangkain waktu itu kamu mau di jual” tiba-tiba Bang Agus kembali mengeluarkan komentar sadisnya.
Bang Agus ituya kalau ngomong gak ada baik-baiknya deh, selalu saja mengatakan hal yang jelek padaku.
Bang Andi ikut-ikutan bersuara “Aku juga mikir gitu, aku pikir kamu udah nggak selamat lagi sampai di sini Nin”.
Ternyata oh ternyata orang-orang yang kusangka abang selama ini ternyata lucknut seperti ini.
“Kami cuma pergi makan Bang, waktu itu dia marah karena kita udah janjian meeting siang, tapi dia cuma di kasih kopi. Abis makan ya aku di kembalikan ke sini” jelasku pada mereka.
Kemudian aku bertanya lagi ke Kak Anisa, Pak Arel ganteng nanyain aku ada apa ya kira –kira.
“Terus pak Arel nanyain tentang apa aja kak?”
“Nggak banyak sih, lebih kayak basa basi aja, yang pasti dia nanyain nomor HP kamu”.
“Cieeeeee” itu adalah suara abang-abang lucknut.
Aku jadi senyum-senyum sendiri di sorakin begitu. Aku kan jadi berpikiran bahwa ada peluang deketin Pak Arel. Asyik asyik.
Aku lansung membalas perkataan Bang Arya, “Hiii nggak mungkin ya. Waktu itu aku makan ala-ala wanita biasa. Aku jaim dong depan orang baru”.
“Ih kecentilan lu. Biasanya juga kalau makan maruk banget” ucap Bang Agus secara sadis lagi.
Haduh, kenapa sih orang ini syirik mulu sama aku. Padahal aku biasa aja loh. Tapi ini pada suka banget buat aku kesel. Apalagi Bang Agus, udah mulutnya jahat banget kalau ngomong sama aku. Suka jambak lagi.
Cuman kakak Anisa dan kak Arni yang nggak pernah jahatin aku. Mereka berdua itu baik banget. Berasa punya saudara sendiri. Mana suka jajanin aku lagi. Hehehe.
Ditengah- tengah perbincangan itu, tiba-tiba HP ku berbunyi. Tau siapa yang nelpon?
YASHA
Akhirnya dia menghubungiku juga. Aku khawatir pada nya. Aku juga rindu padanya.
Rindu di traktir, rindu di ajak jalan, aku juga rindu mengomelinya dan aku juga rindu ingin curhat padanya. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadanya.
Aku lansung mengangkat panggilan yang sudah kutunggu-tunggu ini, “Halo Yashaaaa, kemana aja? Kenapa nggak ada kabar? Kenapa aku telpon nggak diangkat? Aku chat nggak di bales. Kamu menghilang kemana sih?”
Mendengar rentetan pertanyaanku, semua orang diruangan ini malah menatap aneh kepadaku. Aku yang risih diliatin begitu, pamit keluar sebentar untuk berbicara.
Yasha dengan sabar menjawab, “Aku kan udah sering bilang, kalau nanya satu-satu. Nggak tau aku mana yang mau di jawab duluan kalau kamu nanya beruntun gini”.
“Eh iya maaf, habis kamu udah seminggu lebih nggak ada kabarnya. Kamu kemana aja?”
“Panjang ceritanya Nggi”ucap Yasha lemas.
“Nggak pa pa, aku dengerin kok”ucapku.
“Aku belum selesai ngomong ya tadi, udah kamu potong aja” Yasha mulai sewot.
“Iya sorry, lanjut-lanjut”ucapku.
“Apa yang di lanjut?” tanya nya.
“Ya ceritanya, katanya panjang” jawabku tak sabaran
“Entar malam aja ceritanya. Aku jemput entar siap magrib” Kata Yasha kemudian.
“Oke, sekalian traktir makan kan?” aku harus tetap mencari celah untuk ditraktir.
“Iya”
YES
Yey, bakal makan malam gratis.
Setelah itu Yasha menutup panggilannya dan aku kembali ke ruangan untuk melanjutkan pekerjaanku.