
Leo POV
Huft, akhir-akhir ini aku sering sekali menghela nafas karena banyaknya masalah yang dihadapi. Terutama masalah Fitnah yang di lontarkan oleh pacarku sendiri, eh sudah jadi mantan pacar. Seenaknya saja dia mengatakan aku telah menghamilinya. Padahal dia hamil oleh selingkuhannya.
Selingkuh. Itulah yang dia lakukan di belakangku. Saat selingkuhannya tidak mau bertanggung jawab, ia malah melemparkan kesalahan itu padaku.
Aku tidak menyangka ia adalah orang seperti itu. Padahal aku sudah berniat ingin serius dengan nya. Tapi tuhan berkata lain, dia memperlihatkan bagaimana sifat asli dari wanita itu dan aku sudah terbebas darinya sekarang.
Saat ini aku sedang masih dalam proses hukum oleh keluargaku sendiri. Mereka marah padaku, padahal sudah jelas bukan aku yang salah. Dan sampai saat ini mama ku tidak mau berbicara padaku. Katanya dia kecewa dengan perilaku ku.
Mama ku tau bahwa saat pacaran aku melakukan hal yang tidak sepatutnya seperti ki** dan sedikit meraba-raba, tapi hanya sebatas itu. Tidak lebih. Aku mengatakan hal ini karena mereka memaksaku berkata jujur agar kedepannya jika ada lagi masalah anak orang hamil. Jadi mereka tidak akan terpancing lagi dengan perkataan orang lain.
Kecewa, mendengar orang tuaku dan Ranggi mengatakan bahwa mereka kecewa, hatiku cukup tersentil. Aku jadi merasa bersalah. Tapi aku asal mereka tau , bahwa semua hal yang ku lakukan saat pacaran itu bukan karena kemauan ku belaka. Mereka sendiri yang menyodorkan padaku. Aku yang imannya cetek ini tentu ada masanya tergoda.
Kalian boleh hujat aku dan juga boleh kecewa padaku. Dalam hal ini aku akui bahwa aku memang salah.
Problemnya itu, sekarang mama ku malah berniat mencarikan jodoh untukku agar tidak terjebak lagi dalam dosa katanya. Jadi dia akan mencarikan aku istri. I S T R I.
Aku yakin saat ini setiap kali ada arisan dan wirid-wirid, mamaku pasti akan mencari temannya yang masih memiliki anak gadis untuk di sodorkan kepadaku. Aku meminta pembelaan dari papaku sebagai sesama lelaki, tapi ia tidak bisa di harapkan. Papaku selalu menuruti perkataan mamaku.
“Papa rasa mamamu benar kali ini”. Itu lah yang dikatakannya padaku. Aku tidak bisa mengelak lagi. Kanjeng ratu sudah bertitah, semua harus patuh.
Dan sekarang aku akan melakukan titah kanjeng ratu. Ia menyuruhku untuk berkenalan dengan anak teman nya. Istilahnya aku akan pergi kencan buta. Biar tidak buta-buta kali, aku bilang aku Cuma bisa siang, jam makan siang.
Jam istrihatku siang ini sudah datang, dengan sedikit enggan aku berangkat dari kantor menuju caffe tempat kami kami akan bertemu. Mama dan temannya sudah menyiapkan semuanya. Aku tinggal datang saja dan menjumpai orang pilihan mama itu. Namanya Renata, dia seusia dengan Ranggi, artinya kami juga seumuran.
Aku sampai di Caffe tersebut, kemudian lansung bertanya kepada pelayan dimana tempat yang sudah dipesan oleh mamaku. Renata belum datang. Aku sudah menduganya, perempuan itu selalu datang belakangan seolah-olah dia penting untuk di tunggu.
Berbeda dengan Ranggi, anak itu asal aku yang traktir, dia rela-rela saja datang duluan dan menungguku. Tapi dia pasti tidak mau waktunya terbuang begitu saja, alhasil dia akan makan duluan, dan setelah aku datang, dia akan makan lagi.
Setelah lima belas menit, seorang perempuan yang memiliki paras cantik dan body bagus berjalan kearah meja ku. Dia bertanya apakah aku Leo, dan aku jawab dengan anggukan. Mungkin aku cukup terpesona dengannya, sehingga tidak mampu untuk berbicara.
Renata ini memang perempuan yang sangat cantik, bola matanya berwrna coklat dengan bulu mata lentik, hidungnya mancung dan bibir yang bisa dikatakan berisi. Wajahnya sekilas seperti wajah artis-artis india. Badannya tinggi semampai, dan tidak terlalu kurus. Cantik. Satu kata itu cukup untuk mengungkapkan semuanya.
Dari pembicaraan santai ini, aku menilai dia termsuk calon istri idaman. Tapi entah mengapa hati ku terasa hambar saja, tak tergerak sama sekali. Bisa dikatakan aku hanya tergerak melihat tampangnya yang cantik, tapi tidak melihat hal lain yang membuatnya istimewa di mataku.
Saat kami sedang makan sambil di selipi sedikit obrolan, mataku yang kebetulan mengarah ke pintu masuk melihat Ranggi sedang masuk dengan seorang laki-laki. Siapakah dia? Aku belum pernah melihatnya.
Apakah Ranggi memiliki pacar sekarang?
Tapi, dia tidak pernah membicarakannya dengan ku.
Apakah dia salah satu yang ingin diceritakan Ranggi padaku waktu itu? Dia bilang banyak yang ingin di ceritakan, tapi karena sudah malam tidak jadi.
Aku harus bertanya padanya secara lansung. Ia tidak boleh pacaran tanpa sepengetahuanku dan tanpa restu dariku. Dia masih terlalu polos untuk mengetahui tabiat para lelaki.
Dia tidak menyadari keberadaanku, aku terus mengawasinya hingga duduk di meja yang tak jauh dari ku.
Renata : “Kamu kenal sama mereka? Kok kamu liatin mereka sejak baru masuk tadi?”
Aku : “Hm. Iya kenal”.
Renata mengangguk-angguk, setelah itu aku pandangi lagi si Rangginang dan lelaki itu, Rangginang yang memang kalau kemanapun tidak bisa diam, dia celinguk-celinguk sendiri dan akhirnya melihat kearahku.
Dia awalnya terlihat cukup kaget dengan keberadaanku, kemudian dia melambaikan tangan nya kepada ku dengan wajah sumringah. Melihat Ranggi seperti itu, lelaki itu juga melihat ke arahku dan Renata kemudian dia mengajak Ranggi berbicara, sehingga perhatian Ranggi terarah padanya.
Setelah itu kami lanjut ke makanan masing-masing dan berbincang dengan rekan makan siang kami masing-masing. Tapi aku yang masih penasaran dengan siapa lelaki yang bersama Ranggi, diam-diam memperhatikan apa yang mereka lakukan. Di hatiku muncul rasa aneh dan tidak nyaman melihat Ranggi dengan lelaki itu.
###
Waduh, Leo ada bibit-bibit buaya. Lihat orang dari fisiknya.
Terus apa tadi? Dia bilang hatinya tidak nyaman melihat Ranggi dengan laki-laki lain? Ini pertanda apa teman-teman?