Project For Love

Project For Love
Bagian 33 – Berbagi Cerita Part 2



Leo : “Itu kan pacar hanya untuk ngisi waktu, daripada jomblo melulu”.


Ngisi waktu dia kata. Nggak ada yang lebih bermanfaat lagi apa buat ngisi waktu? Ngapain pacaran coba? Kalau untuk sekedar diajak makan sama nonton mah banyak orang yang bisa di ajak. Nggak harus pacar.


Kalau hanya sekedar main mending nggak usah pacaran nggak sih? Mana pacaran juga butuh modal. Kalau jadi cewek sih mending di traktirin, tapi kalau jadi cowokkan enggak gitu. Harus gentlemen dan bersikap melindungai. Entahlah aku tidak tau apa yang ada dipikiran orang yang pacaran, karena aku tidak pernah.


Aku : “Leo, aku mau nanya deh, kalau cowok itu suka cewek yang gimana?”


Leo : “Cewek cantik”


Aku : “Selain fisik lah, kok cowok litany dari fisik mulu, heran deh. Liat cewek cakep dikit lansung sumringah. Gak adil banget untuk aku yang cantiknya biasa aja”.


Leo : “Cewek itu cantiknya beda-beda kali Nggi. Nggak mulu tentang fisik yang terlihat. Adakalanya cewek itu cantik karena kebaikannya, ada juga yang terlihat cantik karena kepintarannya”.


Aku : “Kalau aku cantiknya karena apa?”


Leo : “Yang bilang kamu cantik siapa?”


Bang**t. Aku punya sahabat gini banget ya. Nggak bisa banget buat aku bahagia sebentar aja. Pura-pura aja bilang aku cantik dari hatinya gitu, apa susahnya sih. Kalau kayak gini kan aku jadi badmood.


Aku lansung saja cemberut mendengar perkataannya. Melihat aku cemberut dengan mulut dimonyongkan sepanjang mungkin akhirnya Leo mengalah.


Leo : “Kamu cantik kalau lagi makan”.


Keliatan bangetkan di bohongnya, mana ada orang makan cantik. Mulut mangap-mangap di isi makanan, belum lagi mulut penuh saat ngunyah. Nggak ada mah orang cantik saat gitu. Dasar teman locknut memang. Aku kemudian kembali bertanya.


Aku : “Aku minta saran deh sama kamu, aku musti ngapain supaya Bang Fathyr bisa suka sama aku?”


Leo : “Cukup jadi diri sendiri Nggi. Ngapain berubah jadi orang lain? Nyiksa diri sendiri itu namanya”.


Aku : “Maksud aku itu apa yang perlu aku perbaiki deh supaya dia bener-bener suka sama aku”.


Aku mendengarkannya dengan seksama, karena jarang sekali dia mode serius begini.


Leo : “Jadi pribadi sendiri aja, kalau perlu liatkan sikap-sikap jeleknya kamu. Kalau dia bisa terima semua kejelekan kita, pasti dia tak perlu mikir untuk menerima semua kebaikan kita. Tapi, kalau yang kita tunjukkan hanya yang baik-baik saja, nantinya dia belum tentu bisa terima semua kekurangan kita”.


Aku : “Iya juga ya. Kamu memang senior kalau urusan begini. Nggak salah aku ceritanya ke kamu”.


Aku berbicara padanya sambil menaik turunkan alisku. Ini salah satu yang aku kagumi dari Leo. Dia selalu memberiku saran yang pas di logikaku. Tidak memaksakan sesuatu. Be your self itu lebih baik.


Aku : “BTW, kata kamu kalau perlu lihatkan sifat jeleknya aku? Emang apa aja ya?”


Leo : “Banyak banget, kamu nggak nyadar ya selama ini?”


Aku : “Masa iya banyak? Perasaan aku baik-baik aja orangnya”.


Leo : “Wah memang nggak nyadar ini anak. Satu kamu itu kalau makan suka nggak kira-kira, dua kamu itu suka seenaknya, tiga kamu itu cerewet, empat kamu itu moodiyan, lima kamu itu keras kepala, terus..”


Aku : “Udah stop,nggak usah dilanjutin”.


Banyak banget ternyata sifat jeleknya, tapi normal bukan untuk kita sesama manusia. Aku itu hanya makhluk biasa, bukan malaikat. Jadi kalau orang nggak suka ya sudah. Yang penting aku nggak merugikan orang lain. Paling yang sering aku rugikan cuma Leo. Hahaha.


Satu lagi yang paling penting, aku pernah dengar orang bijak berkata, “Kekurangan itu bukan masalah, itu hanya persfektif saja, karena ada kalanya kekurangan itu bisa berubah menjadi suatu kelebihan. Karena yang paling penting dalam hubungan itukan bukan mencari yang sempurna, tapi mencari orang yang bisa menutupi kekurangan tersebut”.


###


Author : “Aku yakin nggak ada orang bijak yang pernah berkata begitu. Ranggi aja nih yang sok bijak sendiri”.


Reader : “Betul, itu anak ngarang sendiri”.


Ranggi : “Terserah kalian mau percaya atau enggak”.