
Sebenarnya aku sudah berniat untuk tidak segan-segan untuk memesan makan jika dengan Bang Fathyr, tapi ini ada Renata juga, kan kebanting banget aku jadinya. Udah tampang biasa-biasa aja, rakus pula.
Kami mulai berbincang tentang kegiatan yang akan dilakukan setelah makan ini. Aku dan Bang Fathyr sudah jelas akan nonton karena kami sudah booking tiket nontonnya. Leo dan Renata yang tidak memiliki rencana apapun setelah makan memutuskan untuk nonton film yang sama dengan kami.
Tak lama kemudian makanan kami datang satu persatu. Mulai dari minuman dan salad, kemudian disusul oleh nasi ayam lada hitamnya Leo dan Bang Fathyr, dan terakhir nasi ayam rica-rica milikku.
Setelah pesananku datang, Leo dengan seenaknya mengambil semua wortel yang ada di piringku. Aku sudah biasa diperlakukannya seperti itu karena pada dasarnya aku tidak menyukai wortel. Selalu Leo yang memakannya, daripada di tinggal di piringkan mubazir.
Tapi perlakuan Leo itu ternyata menimbulkan tanda tanya pada dua orang yang ada di meja kami. Mereka menatap dengan penuh tanya. Leo yang juga paham maksud dari tatapan itu lansung menjawab, “Dia tidak suka wortel, jadi aku yang makan”.
Singkat padat dan tepat. Renata dan Bang Fathyr lansung mengangguk, tapi kemudian Renata bertanya kepadaku, “Kalau tidak suka wortel kenapa pesan itu?”
Belum sempat aku menjawab Leo menjawab lebih dulu. “Dia suka semua sayur, kecuali wortel. Jadi udah biasa juga aku yang makan”.
Tak sampai disitu saja, sekarang Bang Fathyr yang bertanya, “Oo jadi kamu tidak suka wortel, terus apa lagi yang kamu nggak suka?”
“Dia mah suka segalanya” dan lagi-lagi Leo menjawab pertanyaan yang dilontarkan Bang Fathyr.
Aku jadi bingung dengan sikapnya. Renata sepertinya lebih heran lagi melihatnya. Mungkin Leo belum sempat cerita kalau dia sudah kenal sangat lama denganku hingga tau makanan yang paling kusukai dan paling kubenci.
“Kok kamu tau Ranggi banget ya? Apa dia mantan kamu?” ucap Renata tiba-tiba.
“Ehhh bukan. Kita nggak pernah punya hubungan seperti itu. Aku dan Leo itu sahabatan udah lama. Adalah sekitar lima belas tahunan. Jadi dia tau banyak tentang aku” ucapku menjelaskan.
“Bisa ya sahabatan cewek dan cowok selama itu. Aku sangka nggak ada yang bisa, karena ujung-ujungnya mereka menyimpan rasa” ucap Renata lagi.
Aku dan Leo saling berpandangan mendengar pernyataan Renata, tapi kemudian aku tertawa dan berkata dia bukan orang pertama yang mengatakan itu. Setelah itu kami lanjut makan, karena waktu makan kami terbatas, film akan dimulai lima belas menit lagi.
Setelah makan kami beranjak ke bioskop untuk nonton. Aku dan Bang Fathyr lansung masuk karena sudah pesan, sedangkan Leo dan Renata pergi untuk membeli tiket terlebih dahulu.
Leo datang menghampiriku untuk memberikan sekotak popcorn dan minuman cola. Aku dengan santainya menerima makanan untuk dikunyah saat nonton itu. Kemudian dia duduk dengan Renata di tiga bangku dibawahku.
“Tadi aku tanya mau beli pop corn kenapa di tolak?” tanya Bang Fathyr pada ku.
“Hehehe, nggak pa pa Bang, segan aja. Tadi kan makan udah abang yang bayarin semua termasuk punya Leo dan Renata” ucapku sedikit canggung.
“Ke depannya, nggak perlu segan. Kamu mau apa bilang aja. Aku lebih suka orang yang terbuka dan apa adanya” kata Bang Fathyr padaku.
“Hehhehe iya deh, besok-besok aku tidak akan segan-segan lagi. Jadi siap-siap bangkrut ya” ucapku sedikit bercanda.
“Aku tunggu bagaimana cara kamu membuat aku bangkrut” ucap Bang Fathyr. Kemudian film dimulai. Aku fokus menonton sambil mengunyah pop corn yang ada dipangkuanku. Tidak enak mengunyah sendiri, aku menyodorkan pop corn ke arah Bang Fathyr juga, tapi dia menolak.
Aku lanjut makan dan meminum cola, setelah itu tanganku secara otomatis mengarahkan minuman ke orang yang ada disampingku.
“Kamu dan Leo biasanya juga berbagi minuman seperti ini?” ucap Bang Fathyr dengan tatapan tajam yang cukup untuk membuatku canggung.
“Eh iya, Maaf Bang, bukannya maksud nggak sopan ngasih minum bekas”. Setelah berkata demikian aku kembali menarik minuman itu. Aku sejenak lupa bahwa dia bukan Leo. Karena biasanya aku pergi kemana-mana cuma sama Leo, jadi kebiasaan aja nyodorin minum ke dia. Sudah biasa minum satu botol berdua atau segelas berdua.
Tanpa aku sangka dan kuduga, dia menahan tanganku, menariknya untuk mengarahkan minuman itu ke mulutnya. Aku kaget dan deg degan jadinya.
Aku terpaku.
Kemudian setelah dia minum dia melepaskan genggaman pada tanganku dan membisikkan kata terima kasih tepat di telingaku. Aku yang sempat bengong berdeham dan dengan kaku mengangguk. Aku kemudian lansung menatap ke arah layar bioskop.
Aku deg degan. Aku nggak fokus sama filmnya.