
Kembali Nindi POV
Aku sebenarnya merasa terjebak oleh orang yang selama ini ku anggap sahabat. Ternyata dia tidak sebaik itu. Kurasa aku telah salah menilainya selama ini. Aku hanya berniat untuk menghibur diriku hari ini, tapi malah menjadi boomerang bagi ku.
Masa semua hal yang akan aku dan dia lakukan semuanya harus aku yang bayar? Bahkan termasuk bensin? Sejak kapan orang yang kuanggap sahabat menjadi sangat perhitungan seperti ini?
Aku tentu tidak akan membuat diriku menderita diatas kebahagiaannya dalam menghabiskan uangku, tentu harus menyusun rencana yang matang untuk balek mengerjainya.
Pertama, aku membooking film yang genrenya paling dia hindari.
Aku belum puas saat melihat perubahan raut wajahnya saat kutarik kedalam studio yang isinya adalah anak-anak. Karena apa? Karena film yang akan kami tonton adalah sejenis anime untuk anak-anak.
Aku yang menonton semua genre film tidak mempermasalahkan dan bahkan menyukai anime. Sedangkan Yasha merupakan orang yang sangat anti dan tidak suka dengan sesuatu yang berbau kartun.
Jadi saat film dimulai, barulah ia tau film apa yang sudah aku bookingkan. Dia mau protes tentu tidak bisa, karena semua aku yang bayar, dia hanya tinggal mengikuti dan menemani ku saja. Lima belas menit film tayang, dia mulai terlihat mengantuk dan hampir tertidur.
Aku tentu tidak iklas jika ia hanya tidur disini, sedangkan aku sudah mengeluarkan uang ku untuk membeli tiket dan makan siang kami, jadi untuk mencegahnya tidur, aku membisikkan sesuatu padanya.
“Kalau kamu berani tidur, aku akan buat kamu putus dengan pacarmu besok pagi”.
Matanya yang semula sudah terpejam kembali terbuka dan menatapku dengan heran. “Memang kamu bisa membuat Sarah minta putus denganku? Kalau bisa, hayuk coba lakukan. Aku juga sebenarnya sudah ingin putus dengannya, tapi belum ada alasan”.
Apa-apaan ini? Tidak mempankah ancamanku? Dia sedang memikirkan cara untuk putus? Masa iya? Apakah radar buayanya kembali beraksi?
Dasar lelaki buaya. Memang sama saja dengan yang lain. Suka menyakiti hati perempuan, yah meskipun yang disakitinya bukan aku. Tapi tetap saja jengkel aku nya, serasa ada solidaritas atas sesama wanita.
Karena perkataanya itu, aku malah yang tidak fokus dengan film yang sedang diputar. Sedangkan dia malah melanjutkan tidurnya. Rencana ku gagal, dan sekarang aku sedang memikirkan rencana lain lagi untuk membalasnya hari ini. Pokoknya aku belum ikhlas harus mentraktirnya seharian ini dengan imbalan hanya menemani ku main.
***
Dua jam berlalu film itu berakhir dengan Yasha yang tidur sepanjang film diputar dan aku yang tidak jadi bisa fokus menonton karena memikirkan bagaimana agar dia setidaknya menyesal karena telah membuat aku mentraktir semua hal hari ini.
Setelah petugas bioskop masuk membawa tempat sampah, aku segera membangunkan Yasha dan menyimpan sisa makanan yang belum sempat kumakan kedalam ransel. Kami kemudian berjalan keluar bioskop dan aku mampir sebentar ketoilet.
Saat keluar dari toilet kulihat Yasha sedang menelpon dengan raut wajah agak khawatir dan terkejud. Kemudian dia lansung pamit pada ku katanya ada urusan mendadak. Aku hanya mengangguk sambil berkata dalam hati “sial lagi”. Dia lepas dari acara pembalasanku.
Setelah Yasha pergi, mukaku pasti sudah sangat tidak enak dipandang. Badmood ku kembali muncul. Niat mau senang-senang malah jadi nggak ada senang nya.
Hidup ku kok gini amat ya sekarang, dan sekarang apa lah yang bisa kulakukan sendiri disini. Nggak ada teman ngobrol sambil jalan, mau main di wahana ice skating, malas sendiri, entar kalau jatuh nggak ada yang bantuin. Diketawain tak ada yang belain. Kan keliatan ngenes akunya.
Mau main time zone juga nggak ada orang yang diajak untuk main bareng, nggak seru pakai banget deh kalau sendiri gini. Mau pulang malas, masih belum malam.
Setelah jalan tak tentu arah selama lima belas menit, akhirnya kuputuskan untuk kembali nonton saja. Hanya ini yang bisa kulakukan sendiri tanpa ada teman.
Aku jalan kembali ke arah bioskop sambil menggeser-geser layar ponselku untuk melihat film yang akan ditayangkan sebentar lagi dan lansung memesan tiket karena aku malas antri dan juga jarang memegang uang cash. Takut cepat habis. Aku kalau ada uang di dompet, bawaannya pengen jajan mulu.