
Author POV
Besok paginya semua orang sudah berkumpul di pinggir pantai untuk kegiatan senam pagi. Acara senamnya seru dan sangat menarik. Acara senam dibuka oleh sang direktur sebagai MC. Kemudian dia memanggil sang menantu untuk menjadi instruktur senam dengan latar lagu dangdut.
Tak sampai lima menit, instruktur berganti ke karyawan lain. Kak Anisa memilih Bang Andi sebagai instruktur berikutnya. Setiap instruktur bebas untuk menampilkan gerakan apapun dan kemudian akan diikuti oleh seluruh peserta. Bang Andi mulai bergerak ala joget pargoy yang sangat ngetren dikalangan tiktokers.
Tak lama kemudian iapun memanggil Leo untuk menjadi instruktur. Leo dengan pedenya maju kedepan. Tapi sayang saat ingin memperagakan gerakannya, musiknya berganti ke music senam SKJ, alhasil dia hanya jalan ditempat, kemudian kepala miring kiri, miring kanan, depan dan belakang.
Begitulah seterusnya hingga sepuluh orang menjadi instruktur, barulah kegiatan senam dihentikan. Sudah tidak senam lagi akhirnya, malah pada dangdutan semua.
Kegiatan senam berakhir, semua rombongan family gathering itu kembali ke Vila masing-masing untuk mandi dan sebagainya. Nah lain hal dengan Ranggi dan Leo. Mereka berdua malah sarapan dulu dengan alasan kamar mandi masih penuh, jadi mereka berdua penuhin perut dulu. Jadi saat yang lain makan, mereka baru bersih bersih.
*-Sebenarnya author yakin mereka berdua itu memang dasarnya rakus dan takut kehabisan saja.-*
Setelah semua orang selesai sarapan, rombongan itupun bersiap-siap untuk kembali ke rumah masing-masing. Tapi sebelum itu mereka mampir dulu ke pusat perbelanjaan untuk memberi sedikit oleh-oleh ataupun barang apapun yang ingin dibeli.
Ranggi sudah jelas lansung mencari Bang Andi untuk minta ganti rugi kemeja yang kemaren rusak. Bang Andi juga tidak dapat mengelak dan lansung mengikuti Ranggi ke tempat orang yang menjual pakaian.
Ranggi sungguh lama memilih pakaian, entah apa penyebabnya, jadi Bang Andi kesal sendiri menungguny.
“Eh nyet, lama amat. Aku juga mau belanja ini sama bebeb” ucap Bang Andi kepada Ranggi yang saat ini masih sibuk mengambil pakaian berhanger, menatap sebentar dan meletakkan kembali”.
“Sabar dong Bang, lagi milih ini” jawab Ranggi tanpa menoleh.
“Apa nya yang kamu pilih, dari tadi cuma ambil, letak lagi. Kamu itu milih apanya sih? Lama banget. Tanya sama orangnya aja gih biar cepat” ucap Bang Andi mulai jengkel.
“Belum ada yang sreg Bang dari tadi. Ini aku juga milih loh” jawab Ranggi lagi.
“Ya udah deh, ini duitnya aja kamu pegang, aku mau pergi dulu. Keburu ditinggal bus aku kalau nungguin kamu terus. Aku kan mau cari oleh-oleh anak-anak. Belom lagi ini bebeb aku udah kabur kemana” ucap Bang Andi sambil mengeluarkan uang dua ratus ribu dari dompetnya.
“Dari tadi dong ngasihnya, jadi kan abang nggak perlu nungguin aku” ucap Ranggi cengengesan. Sepertinya memang inilah yang ditunggunya dari tadi. Berapa budget yang bisa dia belanjakan untuk beli baju tersebut. Nanti takut kemahalan, dia segan juga dengan Bang Andi, kalau terlalu murah, dia yang rugi.
Sedangkan Bang Andi lansung pergi untuk mencari istrinya yang sudah berkeliling sendiri karena bosan menunggu Ranggi daritadi. Tak lama Ranggi juga keluar dari toko tersebut setelah membeli kemeja polos dengan kombinasi warna biru muda disebelah kanan dan putih disebelah kiri.
Seleranya sok kemeja korea korea gituuu #author sewot.
Setelah membeli kemeja dia berpas-pasan dengan Fathyr yang juga sedang keliling sendiri tanpa tau akan membeli apa. Akhirnya ia mengajak Ranggi untuk menemaninya berkeliling untuk membeli oleh-oleh untuk ibu dan neneknya.
Setelah berbincang, Ranggi menyarankan untuk membeli mukenah dengan corak khas daerah saja. Karena terlihat sangat bagus dan tentu akan mendatangkan pahala jika orang tuanya menggunakan untuk beribadah pada sang maha pencipta itu.
Fathyr setuju saja dengan pendapat Ranggi dan mereka segera membeli beberapa mukenah untuk keluarga Fathyr tersebut. Fathyr yang tidak begitu paham dengan segala atribut perempuan, meminta Ranggi untuk memilihkan warna dan motif yang cocok. Ranggi tentu tidak keberatan, ia juga sekalian membelikan untuk ibunya.
“Mau dipisah apa digabung mas tagihannya?” tanya mbak-mbak kasirnya.
“Gabung aja mbak, tapi kantongnya dipisah ya”. Ucap Fathyr.
“Nggak usah mbak, pisah aja tagihannya, yang empat punya mas ini, dan dua punya saya” ucap Ranggi tak enak.
Terjadilah perdebatan sengit ala-ala sinetron didalam toko tersebut. Akhirnya Fathyr mengalah dan membiarkan Ranggi membayar mukenahnya. Memang wanita susah untuk dilawan.
Kemudian mereka berjalan kembali, kali ini Ranggi ingin membeli jajanan khas daerah setempat dan jajanan lain untuk dimakan nya di dalam bus. Untuk yang satu ini tanpa perdebatan, ia pasrah saja saat Fathyr membayar semua tagihan jajan tersebut.
Sepertinya Ranggi doyan makanan gratis saja, tapi mukenah gratis tidak.
Tangan Ranggi saat ini sudah penuh, ia tidak membiarkan Fathyr untuk membantunya membawa barang belanjaannya, ia malah celingak celinguk sendiri mencari sesuatu.
“Nyari apa lagi Nggi?” tanya Fathyr penasaran.
“Nyari si Leo. Kemana ya anak itu, ngilang aja. Biasanya ngintilin aku mulu.” Jawab Ranggi.
“Udah kumpul di bus mungkin, yuk kita juga kesana” ajak Fathyr setelah melihat jam dipergelangan tangannya menunjukkan waktu batas berkumpul di bus. Karena mereka akan segera pulang dan tidak ingin sampai kemalaman.
####
Ranggi, Ranggi..
Disebelah ada Fathyr, masih aja nyariin Leo. Katanya mau jadi jodoh Fathyr. Musti fokus Nggi. Jangan sampai oleng.
Itulah yang ada dipikiran author saat ini.
Reader : sama thor.
Reader lagi : thor rajin up ngapa. Kami udah penasaran iniiiii
Author : iye iye, maapin author yeeeee… author juga berusaha supaya tidak bolos up.
Reader : Bohong lagiiii
Author : serius anee iniii