
Sudah tiga hari berlalu sejak aku dan Yasha jalan ke Mall, tapi sampai hari ini anak itu malah tidak ada kabarnya. Aku sedikit kepikiran karena raut wajahnya terlihat sedikit khawatir. Apakah ada masalah dengan keluarganya? Pekerjaanya? atau malah pacarnya?
Aku sudah mencoba menghubunginya kemaren, tapi tidak ada respon.
Apakah aku akan kehilangan sahabat ku sekarang?
Pikiranku mulai melantur kemana-mana. Dia itu meskipun kadang pelit dan suka membuatku kesal, tapi dialah dari dulu yang selalu ada di saat aku butuh bantuan.
Mungkin ini saatnya aku memperkenalkan kepada kalian semua siapa Yasha dan bagaimana kami bisa menjadi sahabat seperti sekarang.
Kami menjadi dekat itu bukan karena adanya tragedi atau kejadian ala-ala di film anak-anak SMA. Kami itu awalnya hanya sebatas teman sekelas dan dia ketua kelasnya.
Jangan pernah pikir dia menjadi ketua kelas karena dia anak yang rajin, pintar, dan baik.
Bukan guys. Ketua kelas kami dipilih random saja. Dia itu termasuk anak yang selengean dan suka mengganggu sebenarnya. Jadi untuk mengurangi sifat jailnya serta menumbuhkan rasa tanggung jawab pada dirinya, dipilihlah ia menjadi ketua kelas. Setidaknya sikap nakalnya juga sedikit berkurang semenjak menjadi ketua kelas.
Hanya saja ada satu hal yang tak bisa berubah pada dirinya, yaitu “Malas mengerjakan tugas”. Disinilah kami mulai dekat.
Aku saat SMA itu sangat pemalu dan pendiam. Kalau divisualkan ala drama, aku si kutu buku yang hanya duduk diam di kelas membaca saat jam istirahat. Saat itu si pemalas mendadak datang ke meja ku di jam istirahat dan mulai mengutarakan maksudnya dengan gaya sok-soan.
“Hai kamu, nama kamu siapa sih? Kok aku nggak pernah dengar kamu ngomong selama ini?” ucapnya memulai pembicaraan denganku.
Aku menjawab dengan sedikit malu-malu, “ Oh hai, Nama aku Nindi, kenapa?”
“Mana PR Kimia kamu, pinjam bentar dong” ucapnya lansung dengan selownya.
Dia lansung to the point saat itu. Aku yang memang bukan termasuk kaum wanita pelit, lansung memberikan buku PR ku tanpa embel-embel apapun. Sejak itu dia kebiasaan untuk meminjam serta menyalin semua tugas ku.
Untungnya si Yasha itu masih punya rasa sungkan, jadi setiap dia menyalin PR ku, di jam istirahat dia pasti akan datang ke kelas membawakan makanan untuk ku. Aku keenakan dong. Jadi bisa hemat uang jajan juga. Kalau ditraktir siapa yang nolak.
Sebagai gantinya ia meminjamkan laptopnya pada ku selama seminggu. Tapi ingat, tidak Cuma-Cuma. Dia mau memfalisitasi semuanya termasuk print, asal tugas dia juga aku selesaikan. Intinya dia terima beres. Aku pun tidak keberatan.
Hal ini berlansung hingga kami kuliah. Jadi sebenarnya persahabatan kami tidaklah pesahabatan yang murni. Tapi lebih seperti kerja sama. Saling menguntungkan juga. Karena itu kami berdua yakin, diantara kami tidak ada perasaan khusus.
Tapi sekarang anak itu kemana? Aku juga kepikiran. Apa aku samperin ke rumahnya ya? Atau aku coba hubungi teman se kantornya? Atau hubungi pacarnya saja? Atau aku hubungi orangtua nya?
Hadeuh, kok kesan nya aku seperti istri yang kehilangan suami nya ya?
Udahlah. Sekarang aku lanjut bekerja dulu. Kalau sampai nanti malan ini anak masih juga tidak ada kabarnya, akan aku hubungi orang-orang diatas.
***
Saat ini aku sedang di kantor bersama rekan-rekan tercintaku. Kami sudah berbaikan kembali setelah masalah foto di group itu. Mereka meminta maaf pada ku, eh bukan, mereka menyogok ku dengan berbagai makanan.
Aku yang lemah jika sudah melihat makanan terhidang di meja ini, lansung mau berbicara dan berbaikan dengan mereka. Terutama Bang Andi. Sekarang kami sudah kembali bekerja sambil bercanda dan bergosip ria. Kalian mau tau siapa yang kami gosipkan?
###
Pada mau tau nggak?
Reader 1 : Mauuuuu
Reader 2 : Nggak. Gossip dosa tau
Otor : Bingung aku. Aku mau menggosip, eh aku juga tau itu dosa.
Hidup itu pilihan guys. Apa yang akan otor pilih, sile baca di next part ya.